BEI dan KSEI Memperbarui Daftar Saham dengan Konsentrasi Kepemilikan Tinggi

oleh -130 Dilihat
oleh
BEI dan KSEI Memperbarui Daftar Saham dengan Konsentrasi Kepemilikan Tinggi

Jakarta | Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) kembali memperbarui daftar saham yang berstatus high shareholding concentration (HSC). Pembaruan ini memuat informasi terbaru mengenai emiten yang tercantum dalam daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Dalam pembaruan kali ini, terdapat 10 emiten yang disebut masuk ke dalam daftar saham HSC. Daftar tersebut berlaku per Selasa, 13 Oktober 2026.

Pembaruan daftar oleh BEI dan KSEI menandai adanya penyampaian informasi terbaru mengenai saham berstatus HSC pada Oktober 2026. Sebanyak 10 emiten tercatat dalam daftar yang diperbarui tersebut. Penyebutan jumlah ini menjadi bagian utama dari informasi pembaruan, sementara tanggal berlakunya ditetapkan pada Selasa, 13 Oktober 2026. Dengan demikian, daftar saham HSC yang berlaku pada tanggal tersebut mencakup 10 emiten.

Informasi ini menegaskan bahwa BEI dan KSEI telah kembali memperbarui daftar saham HSC. Pembaruan itu berlaku mulai atau per Selasa, 13 Oktober 2026, dan mencantumkan 10 emiten. Daftar saham berstatus high shareholding concentration tersebut menjadi pembaruan yang disampaikan untuk periode Oktober 2026. Oleh karena itu, jumlah emiten dan tanggal pemberlakuan merupakan dua informasi penting dalam daftar terbaru yang diumumkan oleh BEI bersama KSEI.

PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk dengan kode saham SSMS menjadi salah satu emiten yang baru masuk dalam daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC). Informasi tersebut tercantum dalam pengumuman Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai pembaruan daftar saham yang memiliki tingkat konsentrasi kepemilikan tertentu.

Berdasarkan pengumuman BEI, kepemilikan saham SSMS tercatat terkonsentrasi sebesar 95,79% per 1 Oktober 2026. Angka tersebut menjadi data yang dicantumkan dalam daftar HSC untuk menunjukkan tingkat konsentrasi kepemilikan saham perusahaan pada tanggal pembaruan tersebut.

Dengan pencatatan itu, nama PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS muncul dalam pembaruan daftar emiten yang disampaikan oleh BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Daftar tersebut memuat informasi mengenai emiten yang memenuhi kriteria konsentrasi kepemilikan berdasarkan data yang tersedia pada periode pelaporan.

Posisi SSMS dalam daftar HSC didasarkan pada persentase kepemilikan yang diumumkan, yakni 95,79% per 1 Oktober 2026. Penyebutan nama perusahaan dan kode saham tersebut menjadi bagian dari informasi resmi dalam pembaruan daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Dengan demikian, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk tercatat sebagai salah satu emiten yang baru ditambahkan ke dalam daftar HSC pada pembaruan tersebut.

Informasi mengenai SSMS disampaikan bersama pembaruan daftar oleh BEI dan KSEI. Data yang digunakan merujuk pada tanggal pencatatan 1 Oktober 2026, sementara angka konsentrasi kepemilikannya tetap tercatat sebesar 95,79%. Nama emiten, kode saham, persentase, dan tanggal tersebut merupakan rincian utama yang tercantum dalam pengumuman terkait daftar HSC.

Data yang diperbarui oleh Bursa Efek Indonesia dan Kustodian Sentral Efek Indonesia menunjukkan adanya tingkat konsentrasi kepemilikan yang sangat tinggi pada PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Informasi tersebut menggambarkan akumulasi kepemilikan saham oleh sejumlah pemegang saham, dengan perhitungan yang mencakup saham dalam bentuk warkat maupun tanpa warkat. Karena itu, angka yang tercantum merepresentasikan kepemilikan agregat, bukan kepemilikan satu pihak secara individual.

Pada SMMT, sejumlah pemegang saham secara agregat menguasai 97,12% dari total saham perseroan. Persentase tersebut dihitung dengan memperhitungkan saham yang tercatat dalam bentuk warkat dan saham tanpa warkat. Dengan porsi mendekati keseluruhan saham yang diterbitkan, data ini menunjukkan bahwa kepemilikan SMMT terkonsentrasi pada kelompok pemegang saham tertentu. Sisa saham berada di luar kelompok yang tercakup dalam perhitungan agregat tersebut.

Sementara itu, pada TBIG, sejumlah pemegang saham secara agregat menguasai 96,62% dari total saham perseroan. Sama seperti pada SMMT, angka ini mencakup saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat. Dengan demikian, persentase tersebut menunjukkan akumulasi kepemilikan dari sejumlah pemegang saham berdasarkan data yang dihimpun, bukan angka yang menggambarkan kepemilikan satu pemegang saham saja. Tingkat konsentrasi TBIG juga memperlihatkan bahwa sebagian besar saham berada dalam penguasaan kelompok pemegang saham yang teridentifikasi.

Perbedaan utama kedua emiten terletak pada besaran kepemilikan agregatnya. SMMT mencatat konsentrasi sebesar 97,12%, sedangkan TBIG sebesar 96,62%. Selisih 0,50 poin persentase tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi kepemilikan SMMT sedikit lebih tinggi daripada TBIG. Namun, keduanya sama-sama memiliki proporsi kepemilikan agregat yang sangat besar. Data ini perlu dibaca sesuai cakupannya, yakni berdasarkan gabungan kepemilikan dalam warkat dan tanpa warkat serta melibatkan sejumlah pemegang saham.

Materi sumber mencantumkan sejumlah emiten yang termasuk dalam daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Nama dan kode saham yang tersedia adalah PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS), PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), dan PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA). Keempat perusahaan tersebut tercantum sebagai bagian dari pembaruan daftar yang disampaikan dalam materi terkait.

Daftar tersebut juga memuat PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI), PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA), serta PT Akasha Wira International Tbk (ADES). Dengan demikian, terdapat delapan nama emiten dan kode saham yang dapat diidentifikasi secara langsung dari bahan sumber. Penyebutan nama perusahaan beserta kode sahamnya penting untuk membedakan setiap emiten dalam daftar, mengingat masing-masing memiliki bidang usaha dan struktur pemegang saham yang berbeda.

Materi menyebutkan bahwa keseluruhan daftar berisi 10 saham. Namun, bahan yang tersedia hanya memuat delapan nama emiten, yaitu SSMS, BMAS, TBIG, CITA, PSAB, BALI, MAYA, dan ADES. Oleh karena itu, dua nama atau kode saham lainnya tidak dapat ditentukan berdasarkan informasi yang ada dan tidak boleh ditebak maupun ditambahkan. Pembatasan ini diperlukan agar penyajian tetap sesuai dengan sumber serta tidak menimbulkan informasi yang keliru mengenai emiten yang tercatat dalam daftar.

Delapan emiten tersebut merujuk pada status kepemilikan saham dengan konsentrasi tinggi per 13 Oktober 2026. Status dan tanggal tersebut menjadi konteks penting dalam memahami daftar, karena informasi kepemilikan dapat berubah seiring pembaruan data, transaksi pasar, atau penyesuaian administrasi yang dilakukan oleh lembaga terkait.

Baca juga: Kepemilikan Saham MTEL Terkonsentrasi, 95,58 Persen Dikuasai Sejumlah Pemegang Saham