Dua Penulis Raih Penghargaan IKAPI Awards 2026 lewat Karya untuk Pembaca Beragam

oleh -33 Dilihat
oleh
Dua Penulis Raih Penghargaan IKAPI Awards 2026 lewat Karya untuk Pembaca Beragam

Jakarta | Dua penulis Indonesia meraih penghargaan IKAPI Awards 2026 melalui karya yang menyasar pembaca dengan karakter dan kebutuhan berbeda. Brian Khrisna memperoleh kategori Writer of the Year, sedangkan M. Sutandi meraih Children’s Book of the Year berkat bukunya, Whispers of the Shadow, Three Tales of Wonder (Self-Discovery Season).

Penghargaan tersebut diserahkan dalam pembukaan Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada 5 Oktober 2026. Momen itu menjadi bagian penting dari perhelatan perbukuan nasional yang mempertemukan penerbit, penulis, pegiat literasi, serta masyarakat pembaca dari berbagai latar belakang.

Brian Khrisna dan M. Sutandi sama-sama berkarya di bawah naungan Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo). Pengakuan yang diterima keduanya menunjukkan bahwa penerbitan buku dapat menghadirkan karya dengan pendekatan yang beragam, baik melalui penulisan yang merepresentasikan pengalaman pembaca dewasa maupun cerita yang mengajak anak dan keluarga menjelajahi imajinasi.

IKAPI Awards merupakan bentuk apresiasi Ikatan Penerbit Indonesia kepada penulis dan pelaku industri perbukuan yang berkontribusi terhadap perkembangan literasi. Penghargaan ini diberikan untuk menyoroti karya serta kiprah yang memperkaya pengalaman membaca melalui ide, imajinasi, dan gagasan. Pencapaian Brian dan M. Sutandi sekaligus mencerminkan pentingnya menghadirkan bacaan yang mampu menjangkau kebutuhan pembaca secara luas. Melalui kategori Writer of the Year dan Children’s Book of the Year, IKAPI Awards 2026 memberikan perhatian pada dua jalur kreatif yang saling melengkapi dalam ekosistem literasi. Karya-karya tersebut diharapkan tidak hanya memperoleh apresiasi industri, tetapi juga mendorong minat baca, memperluas percakapan tentang buku, dan memperkuat peran penulis Indonesia dalam menghasilkan bacaan berkualitas.

Brian Khrisna dikenal sebagai salah satu penulis yang berkiprah di ranah sastra populer Indonesia. Melalui karya-karyanya, ia mengangkat kehidupan sehari-hari, hubungan antarmanusia, serta refleksi diri yang dekat dengan pengalaman pembaca. Tema-tema tersebut membuat cerita yang dihadirkannya terasa akrab, karena berangkat dari berbagai perasaan dan situasi yang dapat dikenali dalam kehidupan. Kedekatan dengan pengalaman pembaca menjadi bagian penting dari perjalanan kreatifnya dalam menulis.

Perjalanan kepenulisan Brian dimulai pada 2016 melalui buku Merayakan Kehilangan. Setelah itu, ia melanjutkan produktivitasnya dengan menerbitkan sejumlah karya, yaitu Kudasai pada 2019, Sisi Tergelap Surga pada 2023, Bandung Menjelang Pagi pada 2024, 23:59 pada 2025, dan Setelah Melompat Aku Ingin Hidup pada 2026. Rangkaian buku tersebut memperlihatkan kesinambungan kiprahnya dalam menghadirkan cerita yang berpusat pada pengalaman manusia, relasi, serta perenungan personal.

Atas penghargaan yang diterimanya, Brian menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada IKAPI, IIBF, Grasindo, serta para pembaca. Baginya, penghargaan tersebut bukan sekadar pengakuan atas karya yang telah dihasilkan, melainkan juga pemicu untuk terus berkarya. Dukungan tersebut mendorongnya untuk menghadirkan lebih banyak cerita yang dekat di hati pembaca. Sikap itu mencerminkan komitmennya untuk mempertahankan hubungan karya sastra populer dan pengalaman pembaca, sekaligus melanjutkan perjalanan kepenulisannya melalui cerita-cerita yang menyentuh kehidupan sehari-hari, hubungan antarmanusia, dan refleksi diri.

M. Sutandi meraih penghargaan Children’s Book of the Year melalui karyanya, Whispers of the Shadow, Three Tales of Wonder (Self-Discovery Season). Penghargaan tersebut menjadi pengakuan terhadap kontribusinya dalam menghadirkan bacaan anak yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak pembaca muda memahami pengalaman batin dan nilai-nilai kehidupan. Karya ini menempatkan perjalanan menemukan jati diri sebagai gagasan utama yang disampaikan dengan bahasa yang dekat dengan dunia anak.

Buku tersebut memuat tiga cerita yang saling melengkapi dalam mengajak anak mengenali diri sendiri. Setiap kisah menghadirkan tokoh dan pengalaman berbeda, sehingga pembaca dapat mengeksplorasi pertanyaan tentang perasaan, pilihan, keberanian, serta hubungan dengan orang lain. Melalui tema self-discovery atau penemuan jati diri, anak didorong untuk memahami bahwa proses bertumbuh berlangsung secara bertahap dan setiap pengalaman dapat memberikan pelajaran bermakna.

Pendekatan Sutandi dalam menyusun cerita turut dipengaruhi latar belakangnya di bidang psikologi dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ia lulus sebagai mahasiswa terbaik pada 2015. Pengetahuan dan pengalaman akademik tersebut mendukung upayanya menghadirkan karakter serta konflik yang relevan dengan perkembangan emosi anak. Nilai kehidupan disampaikan secara reflektif, tanpa menghilangkan unsur petualangan dan rasa ingin tahu yang penting dalam bacaan anak.

Pengalaman membaca juga diperkuat dengan ilustrasi berwarna yang membantu anak memahami suasana, tokoh, dan rangkaian peristiwa dalam cerita. Visual tersebut membuka ruang bagi pembaca untuk mengeksplorasi kisah secara lebih interaktif, sekaligus memperkaya imajinasi mereka. Sutandi berharap bukunya dapat menjadi jendela pengetahuan, ruang imajinasi, dan pemantik kecintaan membaca sejak dini. Ia juga ingin terus mengembangkan bacaan yang memadukan hiburan dengan pengenalan nilai-nilai kehidupan, sehingga anak dapat menikmati cerita sambil membangun pemahaman tentang diri dan lingkungan.

Karya kedua penulis memperluas pengalaman membaca melalui pendekatan yang beragam terhadap kehidupan manusia. Keberagaman tersebut terlihat dari pilihan tema, karakter, serta persoalan yang dihadirkan dalam cerita. Buku tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang untuk mengenali perasaan, memahami pengalaman orang lain, dan melihat persoalan sehari-hari dari sudut pandang yang berbeda. Dalam konteks itu, karya Brian juga memperlihatkan perhatian pada isu batin dan perjalanan personal yang dekat dengan pembaca.

Brian dikenal melalui novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati (2025), yang meraih predikat mega best seller dan tengah bersiap diadaptasi ke layar lebar. Novel tersebut mengangkat pergulatan seseorang ketika menghadapi depresi dan harapan terasa semakin menjauh. Ceritanya menyentuh luka masa lalu, perasaan terasing, serta tantangan menemukan alasan untuk terus menjalani hidup. Persoalan itu disampaikan melalui perjalanan tokoh yang berhadapan dengan berbagai keadaan, termasuk kesulitan memahami dirinya sendiri dan menempatkan pengalaman pahit dalam kehidupan yang terus bergerak.

Di tengah perjalanan tersebut, cerita menghadirkan pertemuan tak terduga, kata-kata yang menguatkan, serta hal-hal sederhana yang menjadi bagian penting dalam proses tokohnya menemukan ruang bagi harapan baru. Unsur-unsur itu membuat pengalaman tokoh tidak berdiri sebagai persoalan yang terpisah, melainkan berkembang melalui relasi, percakapan, dan momen sehari-hari. Bersama karya penulis lainnya, novel Brian menunjukkan bagaimana bacaan dapat menyentuh pengalaman manusia dalam bentuk yang berbeda. Peran Grasindo dalam menghadirkan bacaan bertema beragam turut memperkaya khazanah literasi Indonesia, dengan menyediakan karya yang membuka ruang bagi pembaca untuk berjumpa dengan beragam gagasan, emosi, dan pengalaman hidup.