Tiga Orang Tewas Saat Pemadaman Karhutla di Bromo

oleh -786 Dilihat
oleh
Tiga Orang Tewas Saat Pemadaman Karhutla di Bromo

Kabupaten Probolinggo | Tiga orang meninggal dunia dan tiga lainnya mengalami luka bakar saat tim gabungan berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Peristiwa itu terjadi pada Kamis, 15 Oktober 2026, sekitar pukul 13.30 WIB, di area Mentigen dan Pusung Lingker, Kecamatan Sukapura. Enam orang dilaporkan terjebak kobaran api ketika membantu penanganan kebakaran yang meluas di kawasan tersebut.

Para korban berasal dari beberapa latar belakang, sehingga tidak tepat menyebut seluruhnya sebagai petugas pemadam atau anggota tim resmi. Mereka yang berada di lokasi mencakup sekuriti hotel dan relawan, selain pihak yang terlibat dalam upaya penanganan kebakaran. Saat api bergerak dan kondisi di lapangan berubah, keenam orang itu terperangkap di tengah kobaran. Tiga orang tidak berhasil diselamatkan, sedangkan tiga lainnya mengalami luka bakar dan memerlukan penanganan medis. Informasi mengenai kejadian ini menegaskan risiko yang dihadapi siapa pun yang berada dekat dengan titik kebakaran, baik dalam kapasitas pekerjaan maupun sebagai relawan.

Lokasi kejadian berada di kawasan Mentigen dan Pusung Lingker, wilayah Sukapura yang termasuk dalam TNBTS. Pada saat kebakaran berlangsung, upaya pemadaman dilakukan oleh tim gabungan, sementara para korban turut membantu penanganan api. Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan pemadaman di kawasan hutan dan lahan dapat berubah berbahaya dalam waktu singkat, terutama ketika kobaran mengepung orang yang berada di lapangan. Untuk itu, identifikasi korban dan kondisi mereka menjadi bagian penting dari penanganan setelah insiden. Fakta yang diketahui sejauh ini mencakup waktu dan lokasi kejadian, jumlah korban meninggal serta luka-luka, dan bahwa mereka terjebak ketika membantu. Peristiwa tragis ini terjadi di tengah upaya mengendalikan kebakaran di kawasan taman nasional, dengan dampak langsung terhadap enam orang yang berada di lokasi tersebut.

Pranata Humas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Endrip Wahyutama, menyampaikan bahwa tiga orang meninggal dunia saat penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Bromo. Salah satu korban adalah Sukaris, berusia 55 tahun, yang bekerja sebagai operator layanan operasional pada Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Balai Besar TNBTS. Dua korban lainnya merupakan petugas keamanan atau sekuriti hotel, yakni Wisnu Yuda Pratama, 25 tahun, dan Sefriel Ardiansyah, 19 tahun. Keterangan tersebut mengidentifikasi para korban berdasarkan nama, usia, serta pekerjaan mereka.

Selain tiga orang yang meninggal, terdapat tiga orang yang mengalami luka bakar dalam peristiwa tersebut. Mereka adalah Hendra Rony Wagiyanata, berusia 25 tahun, yang merupakan petugas TNBTS; Munawi, relawan Masyarakat Mitra Polhut TNBTS; serta Suraji, sekuriti hotel. Data itu disampaikan Endrip dalam keterangannya mengenai para korban. Dengan demikian, korban luka berasal dari unsur petugas taman nasional, relawan yang bermitra dengan polisi kehutanan, dan petugas keamanan hotel. Informasi mengenai identitas dan peran para korban membantu menjelaskan pihak-pihak yang terdampak ketika upaya pemadaman berlangsung.

Endrip juga menjelaskan bahwa para korban luka telah dievakuasi dari lokasi dan dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tongas. Rujukan dilakukan agar mereka memperoleh perawatan medis secara intensif. Keterangan yang disampaikan mencakup langkah penanganan terhadap korban yang mengalami luka bakar, tetapi tidak merinci kondisi terbaru masing-masing pasien. Informasi mengenai usia, pekerjaan, dan fasilitas kesehatan tujuan menjadi bagian dari laporan awal tentang dampak kebakaran di Bromo. Identitas korban meninggal maupun korban luka disampaikan oleh pihak Balai Besar TNBTS melalui pranata humasnya, Endrip Wahyutama. Sementara itu, para korban luka mendapatkan penanganan lanjutan di rumah sakit setelah proses evakuasi dari area kejadian. Keterangan tersebut membedakan tiga orang yang meninggal dari tiga orang yang mengalami luka bakar dan dirujuk untuk perawatan intensif.

Titik api di kawasan Gunung Bromo terdeteksi sejak pagi. Setelah menerima informasi tersebut, tim gabungan bergerak untuk menangani kebakaran dan berupaya mengendalikan penyebarannya. Namun, pekerjaan pemadaman berlangsung dalam kondisi yang sulit. Angin yang bergerak kencang, cuaca kemarau, serta medan tebing yang terjal membuat akses menuju sejumlah titik api menjadi terbatas dan menyulitkan petugas di lapangan.

Dalam situasi itu, api dilaporkan membesar dan mengepung orang-orang yang sedang berada di kawasan tersebut. Kepala BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, mengatakan pihaknya menerima laporan dari Camat Sukapura mengenai enam orang yang terjebak api di area tebing Gunung Bromo. Informasi itu menjadi dasar koordinasi penanganan dan upaya untuk menjangkau mereka di tengah kondisi yang berbahaya.

Oemar juga menyampaikan bahwa salah satu korban yang selamat mengalami luka bakar dengan tingkat lebih dari 50 persen. Korban direncanakan dirujuk ke Surabaya agar dapat memperoleh penanganan lanjutan. Kondisi tersebut menggambarkan beratnya dampak yang dialami orang-orang yang terjebak, sekaligus menunjukkan risiko tinggi yang dihadapi dalam kejadian kebakaran di kawasan dengan akses dan kondisi alam yang menantang.

Upaya pemadaman tidak hanya menghadapi api yang masih menyala, tetapi juga titik-titik yang kembali muncul setelah sempat dipadamkan. Kemunculan ulang api membuat pengendalian lebih rumit karena petugas harus memperhatikan perkembangan di beberapa lokasi, sementara angin dapat mendorong api bergerak dan meluas. Medan tebing turut membatasi ruang gerak serta menyulitkan proses mencapai titik yang perlu ditangani.

Kombinasi kondisi kemarau, angin kencang, lereng yang terjal, dan api yang kembali muncul memperpanjang tantangan pemadaman. Dalam keadaan seperti itu, perkembangan kebakaran dapat berubah dengan cepat dan membahayakan siapa pun yang berada di sekitarnya. Tim gabungan harus bekerja di tengah keterbatasan akses sekaligus memperhatikan keselamatan orang-orang di lapangan. Rangkaian keadaan tersebut menjelaskan bagaimana upaya penanganan berlangsung sulit, tanpa perlu menyimpulkan penyebab awal kebakaran yang belum dipastikan.

Satreskrim Polres Probolinggo berada di lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) setelah tiga orang meninggal saat pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Bromo. Kehadiran petugas tersebut merupakan bagian dari penanganan peristiwa sekaligus upaya mengumpulkan keterangan dan informasi yang diperlukan. Olah TKP dilakukan agar kondisi di lokasi dapat diteliti dan berbagai hal yang berkaitan dengan kejadian dapat dicatat untuk mendukung proses penyelidikan.

Polisi masih mendalami kronologi pasti peristiwa tersebut. Rangkaian kejadian, termasuk bagaimana kebakaran berkembang dan bagaimana insiden yang menewaskan tiga orang itu berlangsung, perlu ditelusuri berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan serta keterangan yang dihimpun. Karena proses itu masih berjalan, belum ada kesimpulan yang dapat disampaikan mengenai penyebab maupun detail pasti kejadian. Penyelidikan diharapkan dapat memberi gambaran yang lebih jelas setelah seluruh informasi yang relevan diperiksa oleh petugas.

Di tengah penanganan peristiwa, BPBD Kabupaten Probolinggo mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran di sekitar kawasan konservasi. Imbauan ini mengingatkan pengunjung agar berhati-hati terhadap tindakan yang dapat menimbulkan api atau memicu titik panas, terutama ketika berada di lingkungan hutan dan lahan yang rentan terbakar. Masyarakat juga diharapkan memperhatikan kondisi sekitar dan segera menyampaikan informasi kepada petugas apabila melihat tanda-tanda kebakaran, sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Imbauan tersebut disampaikan sebagai langkah kewaspadaan, bukan sebagai pernyataan mengenai larangan resmi atas kegiatan tertentu. Pengunjung tetap perlu mengikuti informasi dan arahan yang disampaikan pihak berwenang di kawasan, serta mempertimbangkan risiko kebakaran dalam setiap aktivitas.

Baca juga: Uji Beban Data Center dan Risiko Gangguan Listrik: Fakta di Balik Isu Pemadaman Batam | Kepala BNPB Akan Cocokkan Data Satelit untuk Memastikan Luas Karhutla | Kasum TNI Pimpin Rakor Penanganan Karhutla dan Teknologi Modifikasi Cuaca