Asap Karhutla Tekan Kualitas Udara di Sejumlah Wilayah Indonesia

oleh -667 Dilihat
oleh
Asap Karhutla Tekan Kualitas Udara di Sejumlah Wilayah Indonesia

Palembang | Pemantauan kualitas udara pada Jumat pagi, 16 Oktober 2026, menunjukkan kondisi yang sangat buruk di sejumlah wilayah Sumatra. Berdasarkan data IQAir dan BMKG yang diakses pukul 06.00 WIB, Palembang dan Jambi tercatat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk dalam pemantauan tersebut. Keduanya berada pada kategori berbahaya, sehingga paparan udara luar ruangan dapat menimbulkan risiko kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan gangguan pernapasan atau penyakit jantung.

Di Palembang, indeks kualitas udara AQI US tercatat mencapai 699. Angka yang sangat tinggi ini menandakan bahwa udara saat pemantauan berlangsung dipenuhi polutan dan tidak aman untuk dihirup dalam waktu lama. Warga disarankan membatasi kegiatan di luar ruangan, menutup pintu dan jendela bila kondisi di dalam rumah lebih baik, serta menggunakan penyaring udara atau masker yang sesuai ketika harus bepergian. Aktivitas fisik berat di luar juga sebaiknya dihindari, karena peningkatan laju napas dapat menambah jumlah polutan yang masuk ke paru-paru.

Situasi di Jambi juga mengkhawatirkan. Konsentrasi polutan partikulat halus PM2.5 dilaporkan mencapai 88,8 kali nilai panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Prakiraan menunjukkan indeks Palembang berpotensi turun menjelang siang, tetapi penurunan tersebut belum berarti pemulihan menuju kategori yang lebih aman. Dalam sepekan ke depan, belum tampak tanda bahwa kualitas udara akan membaik secara berarti. Di Jambi, kondisi berbahaya diperkirakan bertahan hingga siang, sebelum indeks turun ke kategori tidak sehat sekitar pukul 14.00 WIB. Kategori itu diprakirakan bertahan sepanjang hari, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan meskipun angka pemantauan menurun. Perubahan indeks dapat dipantau berkala melalui sumber resmi, karena kondisi cuaca, arah angin, dan sebaran asap dapat memengaruhi tingkat paparan dari waktu ke waktu.

Kualitas udara yang memburuk di sejumlah wilayah Indonesia terjadi saat kebakaran hutan dan lahan masih berlangsung. Asap dari titik api dapat menyebar dan menambah partikel pencemar di udara, sehingga warga di sekitar area terdampak perlu memperhatikan informasi kualitas udara serta imbauan dari pihak berwenang. Situasi ini tidak selalu seragam: tingkat pencemaran dapat berbeda antardaerah dan berubah mengikuti kondisi kebakaran maupun cuaca. Karena itu, gambaran kualitas udara perlu dibaca bersama perkembangan penanganan karhutla di lapangan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memasukkan Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan sebagai provinsi prioritas penanganan kebakaran hutan dan lahan. Penetapan prioritas tersebut menunjukkan bahwa upaya pengendalian karhutla di wilayah-wilayah itu menjadi perhatian dalam respons bencana. Kebakaran yang masih terjadi dapat menghasilkan asap dan berkontribusi terhadap penurunan kualitas udara, terutama ketika asap berada di dekat permukiman atau terbawa ke kawasan lain. Namun, kondisi setiap provinsi dan kota tidak dapat dianggap sama, sebab paparan bergantung pada lokasi sumber, persebaran asap, serta keadaan atmosfer pada waktu tertentu.

BMKG Sumatera Selatan menyatakan peningkatan karhutla di sejumlah daerah turut memperburuk kualitas udara di provinsi tersebut. Keterangan ini mengaitkan perkembangan kebakaran dengan kondisi udara yang terpantau, tetapi tidak berarti bahwa seluruh pencemaran di setiap kota dapat dipastikan berasal dari karhutla. Angka Indeks Kualitas Udara (AQI) merupakan indikator tingkat pencemaran berdasarkan pengukuran yang tersedia; angka itu sendiri tidak cukup untuk mengidentifikasi sumber polutan secara pasti di tiap lokasi. Penentuan sumber memerlukan informasi lain, seperti data pemantauan polutan, kondisi cuaca, arah angin, serta catatan kebakaran di sekitar wilayah pengukuran. Oleh sebab itu, AQI berguna sebagai petunjuk kondisi udara, bukan bukti tunggal penyebabnya. Mengikuti pembaruan resmi dari BNPB, BMKG, dan instansi terkait membantu masyarakat memahami situasi sekaligus membedakan informasi pengukuran dari kesimpulan mengenai sumber polusi.Dampak asap kebakaran hutan dan lahan tidak hanya dirasakan di satu wilayah. Sejumlah kota di Kalimantan dan Sumatra juga mencatat kualitas udara yang berada pada tingkat tidak sehat, meski perkiraan perubahan indeks sepanjang hari berbeda-beda. Data AQI US menunjukkan kondisi yang perlu dicermati, terutama oleh kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan. Perbedaan angka antarkota juga menegaskan bahwa paparan asap dan partikel di udara dapat berubah menurut waktu serta kondisi setempat.

Di Pangkalan Bun, AQI US tercatat 187, sementara Pekanbaru berada pada angka 161. Kedua nilai tersebut termasuk kategori tidak sehat. Prakiraan menunjukkan kualitas udara di kedua wilayah lebih banyak bertahan pada kategori tidak sehat atau tidak sehat bagi kelompok sensitif. Dengan demikian, perbaikan yang berarti belum tentu berlangsung dalam waktu dekat. Warga sebaiknya memperhatikan pembaruan indeks, sebab kondisi aktual dapat berubah, dan mengurangi paparan di luar ruangan ketika udara memburuk. Aktivitas berat di luar ruangan juga dapat meningkatkan jumlah udara tercemar yang terhirup, sehingga perlu disesuaikan dengan perkembangan kualitas udara.

Pontianak mencatat AQI US 191, yang juga masuk kategori tidak sehat. Menurut prakiraan, indeks diperkirakan turun sementara ke kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif sekitar pukul 18.00 WIB. Namun, penurunan itu tidak diprediksi bertahan sepanjang malam: kualitas udara diperkirakan kembali memburuk setelahnya. Pola ini menunjukkan bahwa satu waktu dengan kondisi sedikit lebih baik tidak selalu menandakan asap telah mereda. Pemantauan berkala tetap penting, khususnya bagi warga yang berencana bepergian atau beraktivitas di luar rumah pada malam hari.

Di Balikpapan, AQI US pada pukul 06.00 WIB mencapai 158, atau berada dalam kategori tidak sehat. Indeks diperkirakan turun ke kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif sekitar pukul 08.00 WIB, kemudian membaik hingga kategori sedang pada malam hari. Kondisi kategori sedang diprakirakan bertahan sampai akhir pekan. Meski proyeksi Balikpapan lebih baik dibandingkan kota-kota lain dalam pemantauan ini, perubahan sepanjang hari tetap perlu diperhatikan. Secara keseluruhan, angka-angka tersebut memperlihatkan variasi kondisi udara antardaerah dan waktu. Prakiraan dapat membantu warga merencanakan kegiatan, tetapi bukan jaminan bahwa kualitas udara akan selalu sesuai prediksi. Mengikuti informasi terbaru dan membatasi paparan saat indeks meningkat merupakan langkah yang relevan selama asap masih memengaruhi sejumlah wilayah.

Penurunan indeks kualitas udara di sejumlah wilayah dapat menjadi perkembangan yang positif, tetapi tidak otomatis berarti udara telah aman untuk dihirup. Angka indeks menggambarkan kondisi pada lokasi dan waktu tertentu, sehingga nilainya dapat berubah seiring pergerakan asap, cuaca, serta tingkat pencemaran. Selain itu, kualitas udara di satu kawasan belum tentu mewakili kondisi di kawasan lain, bahkan ketika keduanya berada dalam wilayah yang berdekatan. Karena itu, perubahan angka perlu dipahami bersama kategori kesehatannya dan informasi setempat, bukan hanya dibandingkan dengan pembacaan sebelumnya.

Selama kualitas udara masih dikategorikan tidak sehat atau tidak sehat bagi kelompok sensitif, paparan polutan tetap dapat menimbulkan risiko. Partikel halus dan bahan pencemar dari asap kebakaran hutan dan lahan dapat masuk ke saluran pernapasan, sementara paparan berulang atau berlangsung lama berpotensi memperburuk keluhan kesehatan. Risiko tersebut perlu diperhatikan sekalipun indeks menunjukkan perbaikan, sebab perbaikan belum tentu telah membawa konsentrasi polutan ke tingkat yang aman. Kepekaan setiap orang juga berbeda, sehingga dampak paparan dapat dirasakan lebih berat oleh orang tertentu.

Anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan, seperti asma, termasuk kelompok yang perlu memberi perhatian khusus pada perubahan kualitas udara.

Baca juga: Gempa M 4,1 Berpusat di Darat, Sejumlah Wilayah Bogor dan Sukabumi Terdampak | Kabut Asap Pekat Selimuti Batam, Kualitas Udara Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat | Asap Karhutla Terdeteksi di Atmosfer Jakarta, BMKG Minta Warga