Peta Kesenjangan Gender di Dunia Kerja: Sektor Perawatan Teratas, Infrastruktur Terbawah

oleh -103 Dilihat
oleh
Peta Kesenjangan Gender di Dunia Kerja: Sektor Perawatan Teratas, Infrastruktur Terbawah

Jakarta | Pemeringkatan dalam Global Gender Gap Report 2026 dari World Economic Forum (WEF) membandingkan 18 industri berdasarkan proporsi pekerja perempuan. Angka yang disajikan menunjukkan bagian tenaga kerja perempuan di masing-masing industri yang tercakup dalam analisis. Dengan demikian, pembaca dapat melihat perbedaan komposisi gender antarsektor, misalnya sektor yang memiliki porsi pekerja perempuan relatif lebih besar dibandingkan sektor lain.

Data tersebut bersumber dari LinkedIn dan mencakup 61 negara, dengan cakupan data hingga Juni 2026. WEF menghitung rata-rata industri tidak tertimbang: nilai dari industri yang dianalisis dirata-ratakan tanpa memberikan bobot tambahan berdasarkan ukuran tenaga kerja atau jumlah anggotanya. Karena itu, hasilnya perlu dipahami sebagai gambaran lintas negara berdasarkan data yang tersedia, bukan sebagai hitungan total seluruh pekerja di dunia. Perubahan cakupan data atau komposisi negara juga dapat memengaruhi gambaran yang terlihat.

Penting untuk membedakan proporsi perempuan dalam suatu industri dari ukuran kesetaraan gender di dalam industri tersebut. Pemeringkatan ini tidak menunjukkan apakah perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama, menerima upah setara, atau menghadapi hambatan karier yang serupa. Ia juga tidak menguraikan komposisi pada setiap pekerjaan, jenjang senioritas, atau tingkat pengambilan keputusan. Sebuah industri dapat memiliki banyak pekerja perempuan secara keseluruhan, tetapi perempuan tetap kurang terwakili pada jabatan tertentu. Sebaliknya, proporsi keseluruhan yang lebih rendah tidak menjelaskan sendiri bagaimana akses dan kondisi kerja terbagi di berbagai peran.

Angka-angka ini juga tidak boleh dibaca sebagai gambaran khusus Indonesia. Sumber menyajikan hasilnya sebagai pola lintas negara, sehingga pemeringkatan tidak mengukur secara langsung proporsi pekerja perempuan di setiap industri di Indonesia. Untuk memahami kondisi nasional, diperlukan data Indonesia yang terpisah dan sesuai dengan definisi serta cakupan yang jelas. Dengan batasan tersebut, pemeringkatan WEF berguna sebagai titik awal untuk membandingkan representasi perempuan antarsektor, mengidentifikasi bidang yang patut ditelaah lebih lanjut, dan mengajukan pertanyaan tentang faktor yang membentuk komposisi tenaga kerja. Namun, hasilnya bukan penilaian menyeluruh tentang kesetaraan di tempat kerja.

Sektor kesehatan dan layanan perawatan menempati posisi teratas dalam pemeringkatan proporsi pekerja perempuan, dengan angka mencapai 60%. Posisi ini menunjukkan kuatnya keterlibatan perempuan dalam pekerjaan yang berhubungan langsung dengan kesehatan, kesejahteraan, dan kebutuhan perawatan masyarakat. Setelahnya, sektor pendidikan mencatat proporsi perempuan sebesar 54%, layanan konsumen 52%, serta pemerintahan dan sektor publik 51%. Keempat sektor tersebut berada di atas separuh tenaga kerjanya, sehingga menjadi bidang-bidang yang paling banyak diisi perempuan dalam pemetaan ini.

Tingginya representasi di kesehatan dan pendidikan perlu dibaca bersama latar pendidikan dan pola kerja yang telah terbentuk dalam jangka panjang. Pilihan studi, jalur kualifikasi profesional, serta pembagian pekerjaan yang berkembang dari generasi ke generasi turut memengaruhi siapa yang masuk ke bidang-bidang tersebut. Karena itu, angka yang tinggi tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seluruh jenjang pekerjaan telah setara. Komposisi pekerja dapat berbeda menurut jenis profesi, tingkat senioritas, akses pada posisi pengambil keputusan, dan peluang untuk berkembang di dalam organisasi.

Secara global, perempuan semakin banyak melampaui laki-laki pada jenjang pendidikan tinggi, khususnya dalam bidang-bidang tertentu. Perkembangan ini memperluas jalur menuju profesi yang mensyaratkan pendidikan dan pelatihan lanjutan. Association of American Medical Colleges juga mencatat kemajuan perempuan dalam pendidikan kedokteran dan profesi dokter. Namun, kemajuan pada tahap pendidikan dan partisipasi kerja belum sepenuhnya menghapus kesenjangan dalam kepemimpinan maupun jenjang karier. Perempuan masih dapat menghadapi hambatan untuk mencapai posisi senior, memperoleh kesempatan promosi yang sebanding, atau menduduki peran dengan kewenangan lebih besar. Dengan demikian, proporsi pekerja perempuan yang tinggi merupakan salah satu ukuran penting, tetapi bukan satu-satunya penanda kesetaraan. Penilaian yang lebih lengkap perlu melihat pula distribusi perempuan di berbagai tingkat jabatan, kondisi kerja, dan akses terhadap peluang pengembangan profesional di setiap sektor tersebut secara berkelanjutan.Di sektor yang dibandingkan, infrastruktur menempati posisi terbawah dalam hal keterwakilan perempuan. Hanya 24% pekerja di sektor ini adalah perempuan, sehingga sekitar satu dari empat pekerja merupakan perempuan. Angka tersebut menunjukkan kesenjangan yang nyata dibandingkan sektor kesehatan dan layanan perawatan, yang memiliki proporsi pekerja perempuan tertinggi dalam pemetaan. Selisih keduanya mencapai 36 poin persentase: jika proporsi perempuan di infrastruktur sebesar 24%, maka sektor kesehatan dan layanan perawatan mencapai 60%.

Perbedaan ini menggambarkan bahwa peluang dan komposisi tenaga kerja belum tersebar merata di seluruh bidang. Sektor yang berhubungan dengan perawatan memiliki partisipasi perempuan jauh lebih besar, sementara infrastruktur masih didominasi laki-laki. Kontras tersebut bukan sekadar perbedaan angka, tetapi juga menunjukkan bagaimana pola pekerjaan berdasarkan gender dapat bertahan di sektor-sektor tertentu. Namun, proporsi perempuan yang lebih rendah tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebabnya; faktor seperti akses terhadap pelatihan, proses perekrutan, kondisi kerja, dan persepsi mengenai jenis pekerjaan perlu ditelaah secara terpisah.

Infrastruktur bukan satu-satunya bidang yang masih sangat didominasi pekerja laki-laki. Pertambangan, manufaktur, dan transportasi juga termasuk dalam kelompok sektor dengan ketimpangan serupa. Karena angka khusus untuk ketiga sektor tersebut tidak tersedia dalam bahan, perbandingan kuantitatif lebih lanjut tidak dapat dipastikan. Meski demikian, penyebutan sektor-sektor itu memperlihatkan bahwa konsentrasi tenaga kerja laki-laki mencakup berbagai bidang, bukan hanya pekerjaan infrastruktur.

Dengan demikian, posisi terbawah infrastruktur perlu dibaca sebagai bagian dari gambaran kesenjangan yang lebih luas. Selisih 36 poin persentase dengan kesehatan dan layanan perawatan menegaskan besarnya kontras antarsektor, sekaligus memberi dasar untuk membahas keterwakilan perempuan secara lebih terarah. Data ini membantu menunjukkan di mana kesenjangan paling terlihat, tanpa menyederhanakan penyebabnya atau menganggap seluruh sektor memiliki situasi yang sama. Upaya memperluas partisipasi dapat diarahkan pada akses, perekrutan, dan lingkungan kerja yang inklusif, sambil tetap mempertimbangkan karakteristik tiap bidang serta kebutuhan tenaga kerjanya.Kesenjangan gender di pekerjaan teknis lapangan tidak hanya berawal dari jumlah perempuan yang direkrut. Jalur masuk ke banyak profesi, seperti pertambangan, konstruksi, dan pemeliharaan infrastruktur, masih bertumpu pada pola magang tradisional serta jaringan informal yang sejak lama didominasi laki-laki. Jika informasi lowongan, pelatihan, dan pengalaman kerja awal lebih mudah dijangkau melalui jaringan tersebut, calon pekerja perempuan dapat menghadapi hambatan sebelum proses perekrutan dimulai. Persyaratan pengalaman yang dibentuk dari jalur karier lama juga berisiko mengabaikan keterampilan yang diperoleh melalui pendidikan atau pengalaman alternatif.

Stereotip mengenai pekerjaan teknis turut membatasi pilihan dan perkembangan karier. Anggapan bahwa pekerjaan lapangan membutuhkan kekuatan fisik atau lebih cocok bagi laki-laki dapat memengaruhi keputusan perekrut, pembagian tugas, dan cara kemampuan pekerja dinilai. Setelah diterima, perempuan mungkin ditempatkan pada peran yang kurang memberi akses terhadap proyek penting atau pengalaman yang dibutuhkan untuk promosi. Studi McKinsey menemukan bahwa perempuan di sektor pertambangan melaporkan terbatasnya peluang promosi dan budaya kerja yang eksklusif. Temuan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan perempuan di tempat kerja belum tentu disertai akses setara terhadap kemajuan karier dan lingkungan yang mendukung.

Budaya tempat kerja menjadi faktor penting karena kebijakan perekrutan saja tidak dapat mengatasi pengalaman sehari-hari yang membuat pekerja merasa terpinggirkan. Norma komunikasi, kegiatan sosial yang tidak inklusif, kurangnya teladan perempuan dalam posisi senior, serta respons yang lemah terhadap perilaku diskriminatif dapat memengaruhi retensi.

Baca juga: Koster Soroti Infrastruktur Bali di Tengah Pertumbuhan Pariwisata | Pemkot Tangsel Jamin Biaya Perawatan Korban Ledakan Cimanggis, Dua Pasien Luka Berat Disiapkan untuk Dirujuk