Lamongan Bidik Produksi Padi 2026 Melampaui Capaian Tahun Lalu

oleh -123 Dilihat
oleh
Lamongan Bidik Produksi Padi 2026 Melampaui Capaian Tahun Lalu

Kabupaten Lamongan | Pemerintah Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, optimistis produksi padi pada 2026 dapat melampaui capaian tahun sebelumnya. Optimisme tersebut didasarkan pada perkembangan produksi yang telah tercatat hingga pertengahan Oktober serta peluang penambahan hasil dari musim tanam berikutnya. Pada 2025, produksi padi Lamongan mencapai sekitar 1,335 juta ton. Angka itu menjadi tolok ukur bagi pemerintah daerah dalam melihat potensi produksi tahun ini, sekaligus menunjukkan besarnya kontribusi sektor pertanian bagi daerah. Dengan hasil yang sudah terkumpul dan kegiatan tanam yang masih berlanjut, capaian 2026 dinilai masih berpeluang meningkat.

Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menyampaikan bahwa produksi padi hingga pertengahan Oktober telah mencapai sekitar 1,2 juta ton. Capaian tersebut menunjukkan bahwa hasil produksi tahun ini telah mendekati angka yang dicatat pada 2025, meskipun penghitungan untuk keseluruhan tahun belum berakhir. Yuhronur menilai masih terdapat kesempatan bagi produksi untuk bertambah karena petani masih akan menjalani musim tanam berikutnya. Dengan demikian, angka sementara tersebut belum menggambarkan hasil final yang akan diperoleh Lamongan sepanjang 2026. Perkembangan produksi selanjutnya akan bergantung pada hasil panen dari periode tanam yang masih tersisa.

Adanya musim tanam berikutnya menjadi salah satu alasan pemerintah daerah tetap melihat peluang untuk melewati capaian tahun lalu. Jika hasil panen dari periode tersebut terealisasi, jumlah produksi dapat bertambah dari sekitar 1,2 juta ton yang telah dicapai hingga pertengahan Oktober. Namun, besaran akhir produksi tetap menunggu hasil panen dan pencatatan pada akhir tahun. Pemerintah Kabupaten Lamongan menyampaikan optimisme itu dengan merujuk pada capaian sementara dan kesempatan produksi yang masih terbuka, bukan sebagai angka akhir yang sudah dipastikan. Perbandingan dengan produksi 2025, sekitar 1,335 juta ton, akan memperlihatkan apakah target melampaui capaian sebelumnya dapat terwujud setelah seluruh panen 2026 dihitung. Karena itu, hasil akhir produksi padi Lamongan baru dapat diketahui setelah rangkaian musim tanam dan panen tahun ini selesai.

Modernisasi pertanian di Lamongan turut diarahkan melalui pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) pada berbagai tahapan, mulai dari pengolahan lahan dan penanaman hingga pemeliharaan tanaman serta panen. Penggunaan peralatan yang sesuai dapat membantu pekerjaan berlangsung lebih cepat dan teratur dibandingkan jika seluruh proses dilakukan secara manual. Dalam kegiatan budidaya, dukungan alsintan berpotensi meringankan beban kerja petani dan membantu mereka menyelesaikan pekerjaan pada waktu yang lebih tepat, termasuk saat jadwal tanam perlu diselaraskan dengan kondisi lahan dan ketersediaan air.

Pada tahap panen, mekanisasi dapat mempercepat penanganan tanaman dan membantu mengurangi waktu pematangan padi dengan pengumpulan hasil. Kecepatan dan ketepatan kerja penting karena keterlambatan atau penanganan yang kurang baik dapat membuat sebagian gabah tercecer atau rusak. Dengan peralatan yang tersedia dan digunakan secara tepat, kehilangan hasil panen dapat ditekan, sehingga lebih banyak hasil budidaya berpeluang terselamatkan. Manfaat tersebut juga bergantung pada keterampilan operator, kesiapan mesin, kondisi lahan, serta pengaturan penggunaan agar alat dapat dimanfaatkan secara efektif oleh petani.

Dukungan alsintan menjadi salah satu unsur yang dapat menunjang produktivitas dan target produksi padi Lamongan pada 2026. Namun, mekanisasi bukan satu-satunya penentu kenaikan produksi. Hasil juga dipengaruhi oleh kualitas benih, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, ketersediaan air, kondisi cuaca, serta pendampingan kepada petani. Karena itu, penggunaan mesin perlu berjalan bersama perbaikan praktik budidaya dan layanan pertanian yang memadai. Perencanaan distribusi, pemeliharaan, dan akses petani terhadap alat juga penting agar manfaatnya tidak berhenti pada percepatan pekerjaan, tetapi mendukung proses produksi secara berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, modernisasi diharapkan membantu petani bekerja lebih efisien sekaligus mengelola potensi hasil panen dengan lebih baik.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyalurkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada kelompok tani di Desa Kedali, Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan. Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas petani dan mendukung peningkatan produksi pangan. Sepanjang 2026, pemerintah provinsi menyalurkan 341 unit alsintan ke berbagai daerah di Jawa Timur. Lamongan menerima empat unit combine harvester berukuran besar, disertai peralatan pendukung lainnya yang dapat dimanfaatkan kelompok tani sesuai kebutuhan di lapangan.

Combine harvester membantu menggabungkan beberapa tahapan panen, sehingga pekerjaan dapat dilakukan lebih cepat dibandingkan cara manual. Berdasarkan keterangan yang disampaikan, panen padi di lahan seluas satu hektare yang biasanya membutuhkan sekitar tiga hari dengan tenaga manual dapat diselesaikan dalam waktu satu hingga dua jam menggunakan mesin tersebut. Perbedaan waktu ini memberi peluang bagi petani untuk menangani lahan lebih luas dalam periode panen yang terbatas. Pemanfaatan mesin juga membantu mengurangi kehilangan hasil. Jika kehilangan saat panen secara manual berada pada kisaran 9–11 persen, penggunaan combine harvester dapat menekannya menjadi sekitar 1–2 persen. Hasil yang terselamatkan tersebut penting bagi petani karena dapat menambah gabah yang masuk ke proses pengeringan dan penyimpanan.

Meski demikian, dampak alsintan akan bergantung pada pengelolaan dan akses penggunaannya. Kelompok tani perlu mengatur jadwal pemakaian, memastikan operator memahami prosedur kerja, serta menjaga kondisi mesin melalui perawatan berkala. Pendampingan dan pengaturan layanan antarpengguna dapat membantu bantuan dimanfaatkan secara merata, terutama ketika beberapa wilayah memasuki masa panen bersamaan. Khofifah menekankan bahwa penguatan pertanian perlu dilakukan dari hulu hingga hilir. Upaya itu mencakup dukungan produksi, penggunaan teknologi, penanganan hasil, hingga penguatan rantai pasok. Menurutnya, pendekatan menyeluruh diperlukan untuk menjaga ketahanan pangan di tengah ketidakpastian iklim dan dinamika pangan global. Dengan dukungan alat, keterampilan, dan tata kelola yang baik, petani Lamongan diharapkan dapat bekerja lebih efisien sekaligus menjaga kualitas dan kuantitas hasil panen.

Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menyampaikan bahwa harga gabah di tingkat petani saat ini berada pada kisaran Rp8.600 hingga Rp8.800 per kilogram. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan harga pembelian pemerintah (HPP), yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram. Perbedaan ini menunjukkan bahwa gabah petani Lamongan dapat terserap dengan harga yang menguntungkan, sekaligus memberi dorongan bagi petani untuk mempertahankan produktivitas dan kualitas hasil panen.

Meski demikian, harga pasar dapat berubah mengikuti kondisi panen, pasokan, dan permintaan. Karena itu, kepastian penyerapan serta pemantauan harga tetap menjadi bagian penting dalam menjaga manfaat ekonomi bagi petani. Pemerintah daerah juga perlu memastikan informasi harga dapat diakses secara memadai, sehingga petani memiliki gambaran saat menentukan waktu penjualan. Keterangan mengenai harga gabah tersebut menjadi salah satu konteks dalam upaya Lamongan meningkatkan produksi padi pada 2026, tanpa mengabaikan keberlanjutan pendapatan petani.

Di samping padi, Pemerintah Kabupaten Lamongan mengembangkan komoditas lain, termasuk jagung dan tebu. Pengembangan beragam tanaman diharapkan memperluas pilihan usaha tani serta mendukung pemanfaatan lahan sesuai potensi wilayah. Salah satu langkah yang dijalankan ialah program bongkar ratoon tebu, yaitu pembaruan tanaman tebu lama untuk mendukung peningkatan produktivitas. Program ini turut diarahkan untuk membantu pencapaian swasembada gula nasional, dengan memperkuat produksi tebu di daerah.

Pelaksanaan bongkar ratoon tebu di Lamongan telah mencapai sekitar 1.200 hektare. Capaian tersebut melampaui target awal seluas 1.100 hektare. Perluasan kegiatan ini memperlihatkan dukungan daerah terhadap agenda penguatan komoditas gula, sekaligus melengkapi fokus pada produksi padi dan jagung.

Baca juga: Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Cara Capaian Program Disampaikan kepada Publik | TIIF 2026 di Jakarta Bidik Kesepakatan Investasi Teknologi | Trenggono: Produksi Perikanan Cukupi Kebutuhan, Salmon Masih Diimpor