Aksi Greenpeace di Bundaran HI Soroti Beban Krisis Iklim bagi Warga

oleh -115 Dilihat
oleh
Aksi Greenpeace di Bundaran HI Soroti Beban Krisis Iklim bagi Warga

Jakarta | Greenpeace Indonesia membentangkan dua spanduk berukuran besar di Patung Selamat Datang, kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa pagi, 20 Oktober 2026. Aksi tersebut menempatkan pesan mengenai krisis iklim dan beban kehidupan warga di salah satu persimpangan utama ibu kota. Pada sekitar pukul 08.30 WIB, spanduk-spanduk itu terlihat telah terlipat, sementara sejumlah petugas gabungan bersiaga di sekitar lokasi. Lalu lintas di kawasan Bundaran HI terpantau padat, dengan kendaraan terus melintas di sekitar monumen dan area persimpangan.

Kedua spanduk dipasang dengan arah hadap berbeda sehingga pesannya dapat terlihat dari sisi yang berlainan. Spanduk pertama menghadap ke utara, menuju Istana Merdeka. Tulisan yang tercantum berbunyi, “Tangani krisis iklim, turunkan biaya hidup”. Pesan tersebut menghubungkan penanganan perubahan iklim dengan persoalan biaya hidup, yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Sementara itu, spanduk kedua menghadap ke selatan Bundaran HI. Pada spanduk itu tertulis, “Bencana makin parah, hidup makin susah, apa kerja pemerintah?”

Penempatan pesan di Patung Selamat Datang membuat aksi berlangsung di ruang publik yang ramai dan mudah terlihat pengguna jalan. Namun, saat kondisi sekitar dicatat pada pukul 08.30 WIB, kedua spanduk sudah tampak terlipat, bukan terbentang penuh. Petugas gabungan tetap berada di kawasan tersebut, sedangkan kepadatan lalu lintas menjadi bagian dari situasi pagi di pusat Jakarta. Rangkaian keadaan itu menggambarkan suasana di lokasi ketika aksi Greenpeace Indonesia berlangsung: pesan pada spanduk menyoroti krisis iklim, bencana, dan biaya hidup, sementara perhatian juga tertuju pada pengamanan serta arus kendaraan di Bundaran HI. Arah hadap yang berbeda memastikan masing-masing tulisan diarahkan ke sisi utara dan selatan kawasan, sesuai dengan posisi spanduk di sekitar Patung Selamat Datang.

Melalui aksi di Bundaran HI, Greenpeace menyoroti bagaimana krisis iklim semakin membebani kehidupan masyarakat. Dampak perubahan iklim tidak hanya hadir sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga dapat terasa dalam aktivitas sehari-hari dan memengaruhi kondisi warga. Pesan yang disampaikan melalui spanduk dalam aksi tersebut menegaskan fokus itu: krisis iklim membawa beban nyata bagi masyarakat. Dengan menempatkan isu tersebut di ruang publik, Greenpeace berupaya mengarahkan perhatian pada pengalaman warga yang menghadapi konsekuensi krisis iklim, sekaligus menunjukkan bahwa persoalan ini berkaitan erat dengan keselamatan dan kesejahteraan mereka.

Pesan pada spanduk menjadi bagian penting dari penyampaian aksi karena merangkum kekhawatiran Greenpeace tentang beban yang kian dirasakan warga. Penekanannya bukan semata pada perubahan iklim sebagai istilah atau isu jangka panjang, melainkan pada dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Melalui pesan itu, organisasi tersebut mengingatkan bahwa krisis iklim dipandang memiliki konsekuensi yang mengancam keselamatan dan kesejahteraan warga. Aksi di Bundaran HI pun membawa perhatian pada keterkaitan krisis iklim dan kondisi hidup masyarakat, serta mendorong agar dampak tersebut tidak diabaikan dalam pembahasan publik.

Atas dasar kekhawatiran tersebut, Greenpeace mendesak pemerintah agar lebih serius menangani krisis iklim. Desakan itu disampaikan karena dampaknya dinilai semakin memperberat kehidupan masyarakat dan berpotensi mengancam keselamatan serta kesejahteraan warga. Pesan aksi dan spanduknya saling menguatkan: beban krisis iklim yang dirasakan masyarakat menjadi alasan untuk menempatkan penanganan isu ini sebagai perhatian penting. Dengan demikian, aksi tersebut menekankan perlunya keseriusan pemerintah dalam menghadapi krisis iklim, sejalan dengan sorotan Greenpeace terhadap dampaknya bagi warga. Fokusnya tetap pada hubungan krisis iklim, beban kehidupan masyarakat, dan perlindungan keselamatan serta kesejahteraan warga.

Jeanny Sirait, juru kampanye keadilan iklim Greenpeace Indonesia, menyampaikan bahwa krisis iklim semakin memengaruhi kualitas hidup masyarakat. Dampaknya tidak dirasakan secara merata. Kelompok pekerja yang berada dalam kondisi ekonomi rentan menanggung beban paling berat karena perubahan lingkungan dapat langsung mengganggu keselamatan, kesehatan, dan kemampuan mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika sumber penghidupan terganggu, ruang untuk menghadapi kerugian atau memulihkan kondisi juga cenderung lebih terbatas. Karena itu, dampak krisis iklim tidak hanya berkaitan dengan perubahan cuaca, tetapi juga menyentuh kehidupan sosial dan ekonomi warga.

Cuaca ekstrem dan bencana ekologis, sebagaimana dipaparkan Jeanny, mengancam keselamatan serta kesehatan masyarakat. Pada saat yang sama, kejadian tersebut dapat menghambat kegiatan kerja dan merusak sumber penghidupan, sehingga pendapatan pekerja ikut tertekan. Bagi orang yang bergantung pada pekerjaan harian atau memiliki kondisi ekonomi yang terbatas, gangguan aktivitas dapat segera mengurangi pemasukan. Beban itu dapat bertambah ketika harga pangan meningkat, sementara pendapatan tidak cukup untuk mengimbangi kenaikan biaya. Kombinasi gangguan kesehatan, hilangnya kesempatan bekerja, dan kebutuhan pokok yang semakin mahal membuat dampak krisis terasa berlapis, terutama bagi kelompok yang paling sedikit memiliki perlindungan ekonomi.

Kabut asap berkepanjangan menjadi salah satu contoh dampak krisis ekologis yang dapat mengganggu kehidupan warga. Paparan asap berpotensi mengganggu kesehatan, sementara kondisi tersebut juga bisa membatasi aktivitas sehari-hari dan mempersulit masyarakat menjalankan pekerjaan. Jika kegiatan ekonomi tersendat, pekerja dapat kehilangan waktu kerja maupun pendapatan, padahal kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi. Dengan demikian, persoalan kabut asap tidak berhenti pada kualitas udara; dampaknya dapat menjalar ke kesehatan, rutinitas, dan kestabilan ekonomi. Penjelasan Jeanny menegaskan bahwa krisis iklim dan ekologis memperbesar tekanan yang telah dihadapi pekerja rentan, sehingga dampaknya terhadap kualitas hidup perlu dipahami sebagai persoalan keselamatan, penghidupan, dan kemampuan mencukupi kebutuhan dasar.

Di tengah dampak krisis iklim yang kian terasa, warga juga harus menghadapi tekanan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Kenaikan biaya hidup dapat mempersempit ruang bagi rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan, sementara ketidakpastian pekerjaan menambah kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi ke depan. Situasi ini menjadi semakin berat ketika gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) turut mengancam sumber penghasilan masyarakat.

Jeanny menilai keadaan tersebut berbanding terbalik dengan sejumlah janji yang disampaikan pemerintahan Prabowo-Gibran. Pemerintah, lain, menjanjikan penciptaan lapangan kerja, ketahanan pangan dan energi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun, bagi warga yang berhadapan dengan biaya hidup yang meningkat dan pekerjaan yang tidak pasti, janji-janji itu berhadapan dengan persoalan konkret yang mereka alami sekarang.

Tekanan ekonomi dan krisis iklim juga tidak berlangsung sebagai persoalan yang terpisah dalam kehidupan sehari-hari. Ketika warga harus mengatur pengeluaran di tengah situasi yang tidak menentu, dampak krisis iklim menambah lapisan beban yang perlu dihadapi. Dalam konteks itu, tuntutan agar pemerintah menghadirkan solusi menjadi bagian penting dari sorotan aksi Greenpeace di Bundaran HI.

Jeanny mengaitkan persoalan tersebut dengan temuan riset terbaru Greenpeace. Menurutnya, temuan itu menunjukkan bahwa pemerintah gagal menyediakan solusi atas dampak krisis iklim yang semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pernyataan tersebut menempatkan pengalaman warga sebagai ukuran penting untuk melihat apakah kebijakan dan janji pemerintah menjawab kebutuhan mereka.

Sorotan terhadap biaya hidup, ketidakpastian pekerjaan, dan janji pemerintah memperlihatkan beratnya tantangan yang dihadapi masyarakat. Warga tidak hanya mengharapkan pernyataan mengenai lapangan kerja, ketahanan pangan dan energi, serta kesejahteraan, tetapi juga solusi yang menjawab dampak krisis iklim yang mereka rasakan. Dalam pandangan Jeanny, riset terbaru Greenpeace memperkuat kritik bahwa solusi semacam itu belum tersedia. Ia menyampaikan penilaian tersebut sebagai gambaran mengenai jarak janji pemerintahan dan kenyataan yang dihadapi warga, tanpa mengabaikan bahwa tekanan ekonomi dan dampak iklim hadir dalam keseharian mereka.

Baca juga: Krisis Air di Medalkrisna: Warga Bekasi Bergantung pada Sumur Pompa Tua | Aksi di Istana Negara Berpotensi Padatkan Lalu Lintas, Polda Metro Jaya Imbau Warga Hindari Monas | Uluran Tangan Babinsa, Hadirkan Semangat bagi Warga Desa Binaan