Jakarta | Mahasiswa Universitas Trisakti mulai berkumpul di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, pada Kamis sore, 29 Oktober 2026. Kedatangan mereka berlangsung secara bertahap, dengan massa yang datang mencapai ratusan mahasiswa. Mereka terlihat bergerombol menggunakan angkutan kota untuk menuju area tersebut. Selain itu, sejumlah mahasiswa tiba dengan berkonvoi menggunakan sepeda motor. Pergerakan dari beberapa kelompok itu membuat kawasan di sekitar Patung Kuda menjadi titik berkumpul bagi para peserta aksi pada sore hari.
Rombongan yang datang melalui angkutan kota bergerak bersama menuju lokasi, sementara konvoi sepeda motor juga mengarah ke kawasan yang sama. Pola kedatangan tersebut menunjukkan bahwa para mahasiswa menempuh perjalanan secara berkelompok, baik dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Jumlah massa yang mencapai ratusan menjadi gambaran skala kehadiran mahasiswa Trisakti, tanpa merinci angka pasti. Mereka berkumpul di ruang publik di pusat Jakarta, tempat akses jalan kemudian dibatasi oleh polisi.
Kehadiran mahasiswa di kawasan Patung Kuda menjadi inti perkembangan situasi pada Kamis sore itu. Berdasarkan keterangan mengenai kedatangan massa, mahasiswa mulai merapat ke lokasi dalam kelompok-kelompok, dengan sebagian menggunakan angkutan kota dan sebagian lain berkonvoi sepeda motor. Tidak ada rincian lebih lanjut mengenai waktu kedatangan tiap rombongan atau jalur yang mereka tempuh. Namun, jumlah peserta yang mencapai ratusan menandai berkumpulnya massa dalam skala cukup besar di kawasan tersebut. Situasi ini berlangsung bersamaan dengan pembatasan akses jalan oleh polisi, sehingga pergerakan di sekitar lokasi perlu mengikuti pengaturan petugas. Informasi yang tersedia berfokus pada cara mahasiswa tiba dan titik berkumpul mereka, tanpa memuat rincian lain mengenai agenda atau tuntutan aksi. Dengan demikian, gambaran utama peristiwa pada sore itu adalah kedatangan mahasiswa Universitas Trisakti secara berkelompok ke Patung Kuda, baik dengan angkutan kota maupun sepeda motor, serta pembatasan akses jalan di sekitar kawasan oleh aparat kepolisian.
Sejumlah mahasiswa Trisakti yang mengikuti aksi membawa bendera hitam dengan tulisan, “Bismillah, dengan nama Tuhan, ini adalah kegelapan,” serta siluet Prabowo-Gibran. Bendera tersebut tampak sebagai salah satu atribut yang dibawa peserta di tengah berlangsungnya mobilisasi massa. Tulisan dan gambar pada kain itu dapat dikenali sebagai bagian dari tampilan bendera, tanpa perlu ditafsirkan lebih jauh mengenai maksud atau pesan simboliknya. Keberadaan atribut tersebut menjadi salah satu unsur yang terlihat saat para mahasiswa bergerak bersama menuju lokasi aksi.
Pergerakan peserta mengarah ke kawasan Patung Kuda, yang berada tidak jauh dari Istana Negara. Area sekitar Patung Kuda menjadi tujuan massa untuk berkumpul dan menggelar aksi. Dalam perjalanan menuju kawasan itu, peserta membawa berbagai perlengkapan aksi, termasuk bendera hitam tersebut. Informasi mengenai atribut dan arah pergerakan ini menggambarkan hal-hal yang tampak pada rombongan mahasiswa, tanpa menyimpulkan alasan mereka memilih atribut tertentu ataupun tujuan politik di baliknya. Rombongan bergerak menuju area aksi yang telah dituju, sementara bendera dengan tulisan dan siluet tersebut turut terlihat di peserta.
Kawasan Patung Kuda memiliki kedekatan lokasi dengan Istana Negara, sehingga akses menuju area tersebut menjadi bagian dari situasi yang berlangsung selama massa bergerak. Polisi membatasi akses jalan di sekitar kawasan aksi. Pembatasan itu memengaruhi jalur yang dapat dilalui kendaraan maupun peserta, dan menjadi keadaan yang menyertai pergerakan mahasiswa menuju titik berkumpul. Keterangan tentang pengaturan akses jalan ini tidak mengubah gambaran utama mengenai atribut yang dibawa dan arah tujuan massa. Para mahasiswa tetap terlihat bergerak menuju area aksi di sekitar Patung Kuda, sedangkan bendera hitam bertuliskan “Bismillah, dengan nama Tuhan, ini adalah kegelapan,” berikut siluet Prabowo-Gibran, menjadi bagian dari atribut yang dibawa sejumlah peserta. Uraian ini mencatat tampilan bendera dan lokasi yang dituju sebagai fakta visual serta geografis, tanpa memberikan penilaian atas pesan yang mungkin dilekatkan pada simbol atau tulisan tersebut. Dengan demikian, perhatian pada bagian ini tetap tertuju pada apa yang dibawa peserta dan ke mana mereka bergerak.Saat massa mahasiswa Trisakti bergerak menuju kawasan Patung Kuda, pengamanan telah disiapkan di sekitar lokasi. Polisi tampak bersiaga ketika rombongan tiba, sementara akses ke Jalan Medan Merdeka Selatan dibatasi. Penjagaan tersebut menjadi bagian dari situasi yang terlihat di area tujuan aksi, dengan perhatian tertuju pada jalur yang mengarah ke Monumen Nasional. Kondisi ini menunjukkan bahwa aparat telah menempatkan pengamanan sebelum massa memasuki kawasan tersebut.
Akses menuju Jalan Medan Merdeka Selatan, ke arah Monumen Nasional, diblokade oleh polisi. Pembatasan itu terlihat pada jalur yang menghubungkan kawasan Patung Kuda dengan area sekitar Monas. Dengan adanya blokade, akses menuju ruas jalan tersebut tidak terbuka bagi pergerakan massa sebagaimana jalur biasa. Informasi yang tersedia menggambarkan keberadaan pembatasan jalan dan kesiagaan polisi, tanpa merinci tujuan khusus dari tindakan itu ataupun perubahan yang terjadi pada arus kendaraan.
Di sekitar lokasi, sejumlah kendaraan Brimob juga telah disiapkan. Kendaraan tersebut terlihat sebagai bagian dari perangkat pengamanan yang berada di area ketika massa tiba. Selain kendaraan, plang pembatas jalan berwarna hitam turut disiapkan di sekitar lokasi. Kehadiran kendaraan dan plang itu melengkapi pengamanan di dekat akses yang diblokade, sementara polisi tetap bersiaga di area tersebut. Tidak ada rincian mengenai jumlah kendaraan maupun personel yang dapat dipastikan dari informasi ini.
Situasi di sekitar Patung Kuda dengan demikian ditandai oleh kesiapan aparat, pembatasan akses menuju Jalan Medan Merdeka Selatan, serta penempatan sejumlah sarana pengamanan. Jalur yang mengarah ke Monumen Nasional menjadi bagian yang diblokade, sedangkan kendaraan Brimob dan plang pembatas berwarna hitam berada di sekitar lokasi. Rincian ini menggambarkan kondisi pengamanan saat massa mahasiswa Trisakti tiba, tanpa menambahkan keterangan mengenai alasan pemblokadean ataupun dampaknya terhadap lalu lintas.
Dalam aksi menuju Patung Kuda, mahasiswa menyampaikan seruan yang disebut sebagai Tri Tuntutan Rakyat. Isi tuntutan tersebut mencakup pemulihan di berbagai bidang, pemberantasan inkompetensi pejabat negara, serta penghapusan rangkap jabatan pejabat publik. Rumusan yang disampaikan menghubungkan persoalan ekonomi, ekologi, politik, pendidikan, dan kesehatan sebagai bagian dari kebutuhan pemulihan nasional. Dengan demikian, tuntutan mahasiswa tidak hanya menyoroti satu kebijakan atau sektor, tetapi mencakup sejumlah bidang yang mereka anggap perlu dibenahi. Seruan itu menjadi pokok aspirasi yang dibawa massa dalam aksi, di tengah pembatasan akses jalan oleh polisi di sekitar lokasi.
Pemulihan ekonomi, ekologi, politik, pendidikan, dan kesehatan nasional disebut sebagai bagian dari tuntutan. Namun, keterangan yang tersedia tidak merinci program, ukuran keberhasilan, ataupun kebijakan tertentu yang diminta untuk setiap bidang tersebut. Karena itu, tuntutan ini dapat dipahami sebagai seruan luas agar kondisi nasional dipulihkan, tanpa menambahkan rincian yang tidak tercantum dalam sumber. Pemberantasan inkompetensi pejabat negara juga disebut secara langsung. Seruan tersebut menempatkan kemampuan pejabat dalam menjalankan tanggung jawabnya sebagai persoalan yang disoroti oleh mahasiswa. Sumber tidak menjabarkan kriteria inkompetensi atau langkah khusus untuk menanganinya, sehingga hal-hal itu tidak dapat diasumsikan sebagai bagian dari rumusan tuntutan.
Selain itu, mahasiswa menyerukan penghapusan rangkap jabatan pejabat publik. Tuntutan ini menjadi salah satu unsur yang disebut bersama agenda pemulihan dan pemberantasan inkompetensi. Supremasi sipil juga muncul sebagai isu yang disuarakan massa. Akan tetapi, informasi yang tersedia tidak merinci tuntutan khusus atau rumusan kebijakan terkait supremasi sipil.
Baca juga: Pemerintah Buka Ruang Aspirasi, Mahasiswa Diajak Jaga Aksi 28 Oktober Tetap Damai dan Tertib | Aksi Mahasiswa di Bundaran HI: Salam Tiga Jari dan Spanduk Tuntutan | Respons Pemerintah atas Aksi Mahasiswa: Penanganan Karhutla dan Angka Pertumbuhan Ekonomi



































