IFRC ke-8 di Timika Dorong Keselamatan dan Kesiapsiagaan di Papua Tengah

oleh -61 Dilihat
oleh
IFRC ke-8 di Timika Dorong Keselamatan dan Kesiapsiagaan di Papua Tengah

Jakarta | Indonesian Fire and Rescue Competition (IFRC) ke-8 berlangsung di Timika, Papua Tengah, pada 24–31 Oktober 2026. Ajang ini mempertemukan personel tanggap darurat untuk berkompetisi sekaligus menguji keterampilan dalam menghadapi beragam situasi penyelamatan. Penyelenggaraan di Timika menempatkan kesiapsiagaan dan keselamatan sebagai perhatian penting, terutama bagi wilayah dengan kegiatan industri dan lingkungan kerja yang memiliki risiko beragam. Melalui latihan dan tantangan terstruktur, peserta dapat mengukur kemampuan teknis, koordinasi, serta ketepatan mengambil keputusan saat keadaan darurat.

Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, menyebut kegiatan tersebut berperan memperkuat budaya keselamatan di wilayahnya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada PT Freeport Indonesia yang menjadi tuan rumah. Dukungan perusahaan dalam penyelenggaraan kompetisi dinilai membantu mendorong perhatian terhadap kesiapan menghadapi insiden, baik di lingkungan kerja maupun dalam konteks tanggap darurat yang lebih luas. Kehadiran peserta dari berbagai daerah turut membuka ruang untuk berbagi pengalaman dan praktik penanganan keadaan darurat, sekaligus mempererat kerja sama antartim.

Kompetisi dan tantangan fire rescue dalam IFRC ke-8 diikuti 17 tim yang berasal dari berbagai perusahaan di Indonesia. Para peserta mengikuti rangkaian kegiatan untuk menguji keterampilan penyelamatan, respons terhadap kondisi darurat, dan kerja sama tim. IFRC diselenggarakan oleh Perhimpunan Tanggap Darurat Bidang Pertambangan dan Energi Indonesia (Pertapindo), organisasi yang menghimpun perhatian pada kesiapsiagaan tanggap darurat di sektor pertambangan dan energi. PT Freeport Indonesia kembali menjadi tuan rumah setelah sebelumnya menggelar kompetisi serupa pada 1996 dan 2005. Riwayat tersebut menandai kesinambungan keterlibatan perusahaan dalam kegiatan ini, sekaligus menempatkan Timika sebagai lokasi penting bagi pertemuan praktisi fire rescue. Dengan melibatkan puluhan personel dan berbagai perusahaan, kompetisi ini menjadi sarana untuk mengasah kemampuan, membangun jejaring profesional, serta mendorong penerapan budaya keselamatan secara konsisten di Papua Tengah dan sektor terkait di Indonesia.

Meki mendorong masyarakat Papua Tengah, khususnya warga Mimika, untuk memanfaatkan IFRC ke-8 di Timika sebagai kesempatan belajar mengenai pentingnya keselamatan. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya memperlihatkan kesiapan tim penyelamat, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memahami langkah-langkah yang dapat membantu melindungi diri saat menghadapi berbagai situasi. Pengetahuan tentang keselamatan perlu dikenalkan sejak dini agar dapat menjadi bekal dalam kehidupan sehari-hari maupun ketika muncul tantangan yang tidak terduga.

Salah satu kegiatan yang mempertemukan peserta IFRC dengan generasi muda adalah edukasi Safety Goes to School. Dalam kegiatan tersebut, para peserta mengunjungi sekolah dan berbagi pengetahuan mengenai keselamatan kepada lebih dari 1.000 pelajar SMP dan SMA di Mimika. Melalui pendekatan langsung di lingkungan sekolah, para pelajar dapat mengenal pesan-pesan keselamatan secara lebih dekat. Kegiatan ini juga memberi kesempatan untuk bertanya dan memperoleh wawasan dari orang-orang yang terlibat dalam kesiapsiagaan serta upaya penyelamatan.

Selain menerima edukasi, para pelajar berkesempatan menyaksikan keterampilan dan kesiapsiagaan tim penyelamat. Pengalaman tersebut dapat membantu mereka memahami bahwa respons terhadap keadaan darurat memerlukan pengetahuan, latihan, koordinasi, dan tindakan yang tepat. Meki menilai, kesempatan melihat kemampuan tim secara langsung memberikan wawasan yang bermanfaat bagi pelajar, sekaligus menjadi pembelajaran untuk menghadapi tantangan pada masa mendatang. Dengan demikian, kegiatan ini tidak berhenti pada penyampaian informasi, tetapi turut memperlihatkan penerapan kesiapsiagaan dalam situasi nyata.

Meki menegaskan bahwa edukasi keselamatan penting bagi para pelajar dan masa depan mereka. Pemahaman yang diperoleh di sekolah dapat dibagikan kepada keluarga maupun lingkungan sekitar, sehingga pesan keselamatan menjangkau lebih banyak orang. Ia berharap masyarakat Mimika, terutama generasi muda, mengambil manfaat dari rangkaian IFRC dan menjadikan pengetahuan tersebut sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari. Membentuk budaya keselamatan membutuhkan perhatian serta partisipasi bersama, dan pembelajaran sejak usia sekolah dapat menjadi langkah awal yang berarti bagi Papua Tengah.

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas memandang IFRC 2026 sebagai ruang penting untuk mempertemukan pengalaman, pengetahuan, dan keahlian yang tumbuh dari praktik di Papua. Mengusung tema “Tumbuh Bersama Papua, Berkarya untuk Indonesia”, forum ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang pertemuan, tetapi juga sarana berbagi pembelajaran tentang keselamatan dan penanganan keadaan darurat. Berbagai kemampuan yang dikembangkan di Papua dapat menjadi bekal untuk memperkuat kapasitas tanggap darurat di berbagai wilayah Indonesia.

Menurut Tony, pengalaman menghadapi beragam tantangan di lapangan memiliki nilai yang dapat dibagikan kepada pihak lain. Pertukaran tersebut memungkinkan peserta memahami pendekatan yang telah diterapkan, sekaligus menyerap gagasan baru yang relevan dengan kondisi masing-masing daerah. Dengan demikian, pengetahuan tidak berhenti sebagai pengalaman lokal, melainkan dapat mendukung peningkatan kesiapan yang lebih luas. IFRC menjadi kesempatan untuk menghubungkan pelaku, memperluas wawasan, dan mendorong penerapan pembelajaran secara tepat dalam konteks yang berbeda.

Tony juga mengajak seluruh pihak untuk memperkuat jejaring, mengasah kemampuan, dan membangun kesiapsiagaan secara bersama-sama. Jejaring yang kuat membantu para pemangku kepentingan mengenali peran masing-masing serta membuka jalur komunikasi ketika keadaan darurat terjadi. Sementara itu, peningkatan kemampuan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar setiap unsur dapat bertindak dengan terarah, memahami prosedur, dan mendukung kebutuhan penanganan di lapangan. Kesiapsiagaan, dalam pandangan ini, bukan hanya urusan satu lembaga, melainkan tanggung jawab bersama.

Penanganan keadaan darurat memerlukan koordinasi perusahaan, TNI, Polri, Basarnas, BPBD, dan instansi terkait lainnya. Masing-masing memiliki mandat, sumber daya, serta keahlian yang dapat saling melengkapi. Kerja sama yang terencana membantu menghindari tumpang tindih, mempercepat penyampaian informasi, dan mendukung respons yang lebih efektif ketika keselamatan masyarakat maupun pekerja terancam. Karena itu, dialog lintas sektor dan latihan bersama menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman operasional yang selaras.

Melalui IFRC 2026 di Timika, kolaborasi tersebut diharapkan semakin kokoh dan menghasilkan manfaat yang melampaui forum. Berbagi pengalaman dari Papua dapat memperkaya kapasitas nasional, sedangkan kemitraan yang terbangun dapat menjadi landasan untuk menghadapi risiko secara lebih siap. Pesan Tony menegaskan bahwa kesiapsiagaan tumbuh ketika berbagai pihak bersedia belajar, menjaga komunikasi, dan bekerja dalam satu tujuan: melindungi keselamatan serta memperkuat kemampuan tanggap darurat di Indonesia.

Tony mengingatkan bahwa kesiapsiagaan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan merespons keadaan darurat, tetapi juga oleh kewaspadaan terhadap risiko yang dapat berkembang sebelum insiden terjadi. Salah satu hal yang perlu dicermati ialah potensi perubahan cuaca yang dipengaruhi fenomena El Niño. Kondisi tersebut dapat membawa cuaca lebih kering dan suhu lebih tinggi, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran. Risiko ini perlu diperhitungkan dalam perencanaan kerja, terutama di wilayah dan area operasional yang rentan terhadap kekeringan maupun sumber pemicu api.

Peringatan tersebut menjadi pengingat bagi perusahaan dan setiap individu untuk memahami bahaya di lingkungan masing-masing, mengikuti prosedur pencegahan, serta melaporkan kondisi yang berpotensi membahayakan. Langkah sederhana, seperti memastikan kesiapan sarana pemadam, menjaga area kerja tetap aman, dan mengetahui jalur evakuasi, dapat mendukung upaya perlindungan bersama. Tony menegaskan bahwa keselamatan merupakan nilai mendasar yang harus dijunjung oleh setiap perusahaan maupun individu. Karena itu, aspek keselamatan perlu hadir dalam pengambilan keputusan dan kegiatan operasional sehari-hari, bukan hanya ketika latihan atau keadaan darurat berlangsung.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, turut menyoroti pentingnya peningkatan kompetensi personel fire and rescue.

Baca juga: Rupiah Tertekan di Tengah Konflik Timur Tengah dan Lonjakan Harga Minyak | Keselamatan Pemain Jadi Pertimbangan PSSI atas Laga Indonesia di Yordania