Capaian Pengadaan Beras Bulog Tembus 4,11 Juta Ton, Momentum Penguatan Stok Pangan di Maluku

oleh -81 Dilihat
oleh
Capaian Pengadaan Beras Bulog Tembus 4,11 Juta Ton, Momentum Penguatan Stok Pangan di Maluku

AMBON, MALUKU — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Perum Bulog mencatat realisasi pengadaan gabah dan beras dalam negeri sebesar 4.115.014 ton setara beras hingga 8 Oktober 2026. Capaian tersebut telah melampaui target pemerintah yang ditetapkan sebesar 4 juta ton. Dengan demikian, realisasi pengadaan Bulog mencapai 102,88 persen dari target yang telah ditentukan.

Angka 4.115.014 ton setara beras tersebut disebut sebagai capaian tertinggi dalam sejarah Bulog. Realisasi ini mencerminkan pelaksanaan pengadaan gabah dan beras dari dalam negeri sesuai dengan penugasan yang diberikan kepada Perum Bulog. Pengadaan menjadi bagian dari pelaksanaan public service obligation (PSO) yang dijalankan oleh perusahaan.

Dalam kerangka PSO, pengadaan beras dalam negeri berkaitan dengan upaya menjaga ketahanan pangan nasional. Data hingga 8 Oktober 2026 menunjukkan bahwa pelaksanaan pengadaan telah melewati sasaran pemerintah, dengan selisih realisasi sebesar 115.014 ton dari target 4 juta ton. Persentase pencapaian sebesar 102,88 persen menjadi dasar pencatatan capaian tersebut sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah Bulog.

Realisasi pengadaan gabah dan beras ini menjadi inti capaian Bulog dalam menjalankan penugasan pengadaan pangan dari sumber domestik. Perhitungan volume dinyatakan dalam satuan setara beras, sehingga angka yang dilaporkan mencakup hasil pengadaan gabah dan beras dalam negeri setelah dikonversikan ke ukuran tersebut. Sampai tanggal pelaporan, total pengadaan telah mencapai 4.115.014 ton setara beras dan berada di atas target pemerintah sebesar 4 juta ton.

Capaian pengadaan beras Perum Bulog yang menembus 4,11 juta ton disyukuri melalui kegiatan tasyakuran di kompleks pergudangan Bulog Nusaniwe, Ambon, Provinsi Maluku. Kegiatan tersebut menjadi penanda penting atas keberhasilan penguatan cadangan pangan sekaligus momentum untuk mempererat koordinasi pemerintah, lembaga legislatif, dan berbagai pihak yang terlibat dalam tata kelola pangan nasional.

Tasyakuran berlangsung bersamaan dengan kunjungan kerja reses Komisi IV DPR RI pada masa persidangan I tahun sidang 2026–2027. Rombongan dipimpin Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto bersama jajaran anggota komisi. Kehadiran para wakil rakyat tersebut mencerminkan perhatian terhadap pelaksanaan pengadaan, penyimpanan, serta penyaluran beras, khususnya dalam mendukung ketersediaan pangan di wilayah kepulauan seperti Maluku.

Acara itu turut dihadiri Wakil Direktur Utama Perum Bulog Mayor Jenderal TNI (Purn.) dr. Marga Taufiq, S.H., M.H., Direktur Operasi Perum Bulog Andi Afdal Abdullah, serta perwakilan Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional. Para mitra kerja Komisi IV DPR RI juga hadir dalam kegiatan tersebut. Keterlibatan berbagai unsur ini memperlihatkan bahwa pencapaian pengadaan beras merupakan hasil kerja bersama yang membutuhkan dukungan kebijakan, operasional, dan pengawasan secara berkelanjutan.

Selain menjadi ungkapan syukur, kegiatan di Ambon menegaskan pentingnya sinergi para pemangku kepentingan dalam mengelola cadangan pangan. Stok yang memadai diharapkan mampu memperkuat kesiapan pemerintah menghadapi kebutuhan masyarakat, menjaga stabilitas pasokan dan harga, serta merespons potensi gangguan distribusi. Dari Maluku, kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkokoh ketahanan pangan nasional melalui pengelolaan beras yang terencana, terukur, dan berkelanjutan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan peninjauan langsung stok beras di kompleks pergudangan Bulog Nusaniwe. Peninjauan tersebut menjadi bagian dari agenda untuk melihat kondisi cadangan pangan secara nyata, sekaligus memperoleh gambaran mengenai pengelolaan beras yang berada dalam tanggung jawab Bulog di wilayah Maluku. Rombongan Komisi IV DPR RI hadir untuk mengamati proses pengelolaan dan keadaan fasilitas penyimpanan yang digunakan untuk menampung cadangan beras.

Dalam kegiatan itu, rombongan meninjau kesiapan pengelolaan cadangan beras, termasuk kondisi ruang penyimpanan, penataan komoditas, serta pemeliharaan stok di lingkungan pergudangan. Pemeriksaan lapangan juga mencakup ketersediaan pasokan beras yang dikelola untuk mendukung kebutuhan pangan masyarakat. Peninjauan secara langsung memberikan ruang bagi para pihak untuk melihat aktivitas pergudangan dan kondisi beras yang tersimpan, sesuai dengan fungsi Bulog dalam mengelola cadangan pangan pemerintah.

Stok beras yang dikelola Bulog Kantor Wilayah Maluku dan Maluku Utara tercatat sebanyak 24.400 ton. Jumlah tersebut berada dalam pengelolaan wilayah kerja yang mencakup kawasan kepulauan dengan karakter geografis dan kebutuhan pangan yang beragam. Keberadaan stok itu menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan pasokan pangan di Maluku dan Maluku Utara. Pengelolaan cadangan beras melalui fasilitas pergudangan Bulog Nusaniwe turut menjadi perhatian dalam peninjauan, karena ketersediaan dan kondisi penyimpanan merupakan unsur yang berkaitan dengan kesiapan cadangan pangan di wilayah tersebut. Data stok 24.400 ton menjadi gambaran mengenai cadangan beras yang saat ini dikelola oleh Bulog Kantor Wilayah Maluku dan Maluku Utara, tanpa mengubah fokus peninjauan pada kondisi pengelolaan, penyimpanan, serta ketersediaan pasokan bagi kebutuhan pangan masyarakat.

Siti Hediati Soeharto menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran Perum Bulog atas kerja keras yang berhasil membawa capaian pengadaan beras ke tingkat tertinggi sepanjang sejarah, yakni lebih dari 4 juta ton. Menurutnya, pencapaian tersebut menunjukkan adanya kerja bersama yang kuat dalam memperkuat penyerapan produksi petani dalam negeri. Kinerja itu juga menjadi gambaran bahwa hasil panen petani memperoleh dukungan melalui pengadaan nasional yang terarah dan berkelanjutan.

Ia berharap keberhasilan tersebut dapat dipertahankan pada masa mendatang serta memberikan manfaat yang dirasakan secara langsung oleh petani dan masyarakat Indonesia. Penyerapan beras dalam jumlah besar tidak hanya penting untuk menjaga ketersediaan cadangan pangan, tetapi juga membantu menciptakan kepastian bagi petani dalam menyalurkan hasil produksi. Karena itu, capaian pengadaan perlu diikuti dengan pengelolaan stok yang baik, terukur, dan mampu menjawab kebutuhan di berbagai daerah.

Siti juga menekankan bahwa besarnya pengadaan beras secara nasional harus berjalan seiring dengan pemerataan stok ke seluruh wilayah Indonesia, termasuk kawasan kepulauan seperti Maluku. Kunjungan kerja tersebut dilakukan untuk memastikan ketersediaan beras, menjaga kualitasnya, serta memastikan stok siap memenuhi kebutuhan masyarakat. Selain jumlah dan mutu, kesiapan distribusi daerah menjadi hal penting agar cadangan pangan dapat bergerak secara tepat waktu, terutama menuju wilayah yang memiliki tantangan geografis dan akses transportasi.

Pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan pengadaan harus berlanjut hingga tahap pengelolaan dan penyaluran. Dengan koordinasi yang kuat Bulog, pemerintah daerah, dan pihak terkait, stok beras diharapkan dapat dikelola secara efektif serta menjangkau masyarakat secara merata. Marga Taufiq menyatakan bahwa pencapaian lebih dari 4 juta ton merupakan tonggak bersejarah dan bukti keseriusan Bulog dalam menjalankan amanah pemerintah.