Dua Saudara Belum Ditemukan, Ayah Bertahan Menunggu di Pelabuhan Trisakti

oleh -52 Dilihat
oleh
Dua Saudara Belum Ditemukan, Ayah Bertahan Menunggu di Pelabuhan Trisakti

Kabupaten Tanah Laut | Sumarno masih menunggu kabar mengenai dua anaknya, Rian Andi Kurniawan (34) dan Marlina Nurlita Sari (23), yang belum ditemukan setelah KMP Virgo Transport 8 tenggelam di perairan Masalembo, Laut Jawa. Sejak mengetahui kecelakaan tersebut pada siang hari, 13 September 2026, ia bertahan di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin. Di tengah upaya pencarian dan ketidakpastian tentang nasib kedua anaknya, pelabuhan menjadi tempat yang terus ia datangi untuk menanti informasi terbaru. Ia belum bersedia meninggalkan lokasi itu, sebab berharap kabar yang ditunggu segera datang.

Setiap hari, Sumarno berada di sekitar terminal penumpang Pelabuhan Trisakti. Pada waktu-waktu tertentu, ia berdiri di ujung dermaga, menghadap Sungai Barito, sambil berdoa. Dari sana, ia terus menunggu, meski belum ada kepastian mengenai keberadaan Rian dan Marlina. Penantiannya berlangsung dalam suasana yang berat: ia hanya dapat berharap dan mengikuti kabar tentang pencarian. Ketika rasa lelah datang, Sumarno beristirahat di kursi yang berada di teras terminal. Setelah itu, ia kembali berada di area pelabuhan, melanjutkan penantian yang belum memiliki batas waktu.

Sumarno menyatakan ingin melihat kedua anaknya kembali, apa pun kondisi mereka. Harapan itu membuatnya tetap bertahan di Pelabuhan Trisakti, meski menunggu di sana tentu menguras tenaga dan perasaan. Ia tidak berhasil dibujuk untuk pulang, dan memilih terus berada dekat dermaga sambil menanti kabar. Bagi Sumarno, pulang tanpa mengetahui nasib Rian dan Marlina bukan pilihan yang mudah. Karena itu, ia tetap menjalani hari-harinya di terminal dan sesekali menuju ujung dermaga untuk berdoa. Di tengah ketidakpastian setelah tenggelamnya kapal, penantian seorang ayah tersebut berlanjut, disertai harapan agar kedua anaknya dapat ditemukan.

KMP Virgo Transport 8 tenggelam pada dini hari 13 September 2026 di perairan Masalembo. Kapal tersebut sedang berlayar dari Surabaya, Jawa Timur, menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dengan membawa 243 orang serta 89 kendaraan. Peristiwa itu meninggalkan banyak keluarga yang menanti kabar mengenai anggota keluarga mereka, termasuk keluarga yang menunggu di Pelabuhan Trisakti. Data korban yang tercatat hingga 20 Oktober 2026 menunjukkan skala kecelakaan tersebut, sekaligus menggambarkan bahwa masih ada puluhan orang yang belum diketahui keberadaannya.

Menurut data terakhir pada tanggal tersebut, sebanyak 108 orang dinyatakan selamat, 82 orang meninggal dunia, dan 53 orang belum ditemukan. Ketiga kelompok itu mencakup seluruh 243 orang yang berada di kapal. Angka-angka tersebut merupakan catatan berdasarkan informasi yang tersedia hingga 20 Oktober 2026; karena itu, status pencarian dalam uraian ini merujuk pada data tersebut dan tidak menyatakan adanya perkembangan setelah tanggal itu. Data jumlah korban juga perlu dibedakan dari jumlah kendaraan yang dibawa kapal, yang tercatat sebanyak 89 unit.

Lokasi ditemukannya korban tidak hanya terbatas pada kapal. Sebagian korban ditemukan di dalam kapal, sementara sebagian lainnya terbawa arus dan terdampar di pantai Kalimantan Tengah. Informasi ini menunjukkan bahwa pencarian dan pendataan berkaitan dengan wilayah perairan serta garis pantai, tanpa mengubah catatan jumlah korban yang telah disampaikan. Rian dan Marlina termasuk dalam 53 orang yang belum ditemukan menurut data terakhir tersebut. Dengan demikian, kabar tentang keberadaan keduanya belum dapat dipastikan berdasarkan informasi yang tersedia. Keluarga yang menunggu tetap berhadapan dengan ketidakpastian, sementara angka resmi menjadi rujukan untuk memahami kondisi korban dan pencarian kapal hingga batas waktu pendataan yang disebutkan.

Rian dan Marlina adalah dua anak Sumarno yang berasal dari Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Keduanya memiliki pekerjaan dan keseharian masing-masing sebelum perjalanan yang membawa mereka pulang dari Solo. Rian, sebagai anak sulung, bekerja sebagai tenaga teknik di PLN di Muara Teweh, Kalimantan Tengah. Sementara itu, Marlina bekerja di Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tanah Laut. Ia belum menikah. Informasi tentang latar belakang mereka memberi gambaran mengenai kehidupan kedua saudara tersebut sebelum kabar kecelakaan membuat keluarga menanti kepulangan mereka.

Sebelum kecelakaan, Rian dan Marlina berada di Solo, Jawa Tengah, untuk berlibur di rumah istri Rian yang tinggal di kota itu. Perjalanan ke Solo tersebut menjadi konteks keberadaan mereka di Jawa Tengah sebelum mereka berada dalam perjalanan pulang. Rian datang bersama adiknya, Marlina, sedangkan pekerjaan Rian berada di Muara Teweh dan pekerjaan Marlina di Kabupaten Tanah Laut. Dengan demikian, keduanya memiliki tujuan dan rutinitas yang berkaitan dengan daerah tempat mereka bekerja dan tinggal, meskipun saat itu sedang berada jauh dari Kalimantan Selatan.

Latar kehidupan ini penting untuk memahami bahwa kedua saudara tersebut bukan sekadar nama dalam kabar kecelakaan. Rian menjalani pekerjaan teknis di lingkungan PLN, sementara Marlina bekerja pada instansi pemerintah daerah yang menangani urusan pemuda dan olahraga. Mereka sama-sama berasal dari Tanah Laut, meski pekerjaan Rian berada di Muara Teweh. Liburan di rumah istri Rian di Solo menjadi bagian dari perjalanan mereka sebelum kembali. Rincian tersebut menjelaskan siapa Rian dan Marlina serta alasan mereka berada di Solo, tanpa menambahkan keterangan lain mengenai perjalanan atau kronologi kecelakaan. Bagi Sumarno, kedua anaknya adalah keluarga yang sedang dinantikan, dengan kehidupan sehari-hari dan pekerjaan masing-masing yang berpusat di Kalimantan.

Keputusan dua bersaudara itu menempuh perjalanan laut berkaitan dengan kendaraan yang mereka bawa. Menurut Sumarno, anak-anaknya biasanya bepergian ke Pulau Jawa menggunakan pesawat. Namun, untuk perjalanan kali ini, mereka memilih kapal laut karena membawa mobil. Kendaraan tersebut menjadi alasan praktis di balik pilihan moda transportasi, sekaligus bagian dari rencana perjalanan mereka untuk kembali ke Banjarmasin.

Perjalanan itu juga terkait dengan tujuan keluarga. Kedua bersaudara tersebut hendak pulang ke Banjarmasin sambil membawa mobil, kemudian berencana membelikan sepeda motor untuk adik bungsu mereka. Adik mereka masih duduk di bangku SMA dan tinggal bersama orang tua di Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut. Rencana tersebut membuat kepulangan mereka bukan sekadar perjalanan kembali, tetapi juga mencakup keinginan membawa kendaraan bagi anggota keluarga yang masih bersekolah.

Dalam penuturan Sumarno, kebiasaan menggunakan pesawat saat bepergian ke Pulau Jawa berbeda dari pilihan yang diambil kedua anaknya kali ini. Membawa mobil membuat perjalanan dengan kapal laut menjadi pilihan mereka. Informasi mengenai rencana pulang dan sepeda motor untuk adik bungsu itu menjadi bagian dari hal yang diketahui keluarga tentang perjalanan mereka, sebelum keduanya belum ditemukan. Sumarno tetap bertahan menunggu di Pelabuhan Trisakti, berharap memperoleh kabar mengenai anak-anaknya. Pilihan kapal yang mereka ambil karena membawa mobil kini melekat pada perjalanan yang seharusnya mengantar mereka kembali ke Banjarmasin, sementara sang ayah terus menanti di pelabuhan.

Baca juga: Jasad Perempuan Ditemukan di Pantai Krakal, Polisi Lakukan Identifikasi | Identitas Pengemudi Taksi Online yang Ditemukan di Asahan Terungkap