Kabupaten Deli Serdang | Sebanyak 32 santri dan santriwati Pondok Pesantren Mazilah Darussalam dibawa ke tiga rumah sakit setelah diduga mengalami keracunan. Mereka dilaporkan mengalami gangguan kesehatan usai mengikuti rangkaian peringatan Hari Santri Nasional di Kantor Bupati Deli Serdang, Kamis, 22 Oktober 2026. Hingga kini, penyebab keluhan tersebut belum dipastikan.
Peristiwa ini menjadi perhatian karena sejumlah peserta kegiatan harus mendapatkan penanganan medis setelah acara berlangsung. Para santri yang terdampak kemudian dibawa ke fasilitas kesehatan agar kondisi mereka dapat diperiksa dan ditangani oleh tenaga medis. Mereka dirawat di tiga rumah sakit, sementara informasi mengenai kondisi masing-masing pasien belum dijelaskan secara terperinci.
Dugaan keracunan masih merupakan kemungkinan awal, bukan kesimpulan mengenai penyebab gangguan kesehatan yang dialami para santri. Informasi yang tersedia belum menerangkan faktor pemicu, termasuk apakah keluhan berkaitan dengan makanan atau minuman yang dikonsumsi, maupun hal lain selama kegiatan. Karena itu, penyebabnya perlu menunggu pemeriksaan dan keterangan lebih lanjut dari pihak terkait.
Rangkaian peringatan Hari Santri Nasional tersebut berlangsung di Kantor Bupati Deli Serdang pada Kamis, 22 Oktober 2026. Para santri Pondok Pesantren Mazilah Darussalam mengikuti kegiatan itu sebelum sejumlah peserta mengeluhkan kondisi kesehatan. Hubungan waktu acara dan munculnya keluhan menjadi bagian dari informasi awal, tetapi belum dengan sendirinya membuktikan adanya hubungan sebab akibat.
Perkembangan penanganan para santri serta hasil penelusuran penyebab kejadian masih perlu dikonfirmasi melalui informasi resmi. Jumlah pasien yang dirawat tercatat sebanyak 32 orang, dan mereka tersebar di tiga rumah sakit. Penjelasan lebih lanjut mengenai gejala, waktu mulai keluhan, serta hasil pemeriksaan medis akan membantu memberikan gambaran yang lebih utuh tentang peristiwa tersebut.
Pimpinan pesantren, Ustaz Fahrul Yusuf, menjelaskan bahwa rombongan berangkat menuju lokasi peringatan Hari Santri sekitar pukul 06.00 WIB. Keberangkatan dilakukan bersama para peserta yang mewakili sekitar 70 pondok pesantren. Rombongan tersebut mengikuti kegiatan peringatan yang diselenggarakan di wilayah Kabupaten Deli Serdang. Menurut Fahrul, perjalanan dan rangkaian acara pada awalnya berjalan sebagaimana mestinya, tanpa kendala yang ia ketahui.
Peserta mengikuti kegiatan sejak pagi hingga waktu makan siang. Fahrul menyebut suasana acara berlangsung lancar sebelum para santri menerima makanan yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Deli Serdang. Makan siang itu dibagikan sekitar pukul 12.00 WIB kepada peserta yang hadir, termasuk para santri dari rombongan pesantren. Keterangan tersebut menggambarkan urutan kegiatan yang dialami rombongan sebelum dugaan gangguan kesehatan dilaporkan.
Fahrul mengatakan para santri tidak merasakan kejanggalan ketika makanan dibagikan maupun saat menyantapnya. Pada saat itu, menurut keterangannya, tidak ada hal yang secara langsung membuat peserta curiga terhadap hidangan tersebut. Para peserta kemudian melanjutkan kegiatan sesuai kondisi acara. Penjelasan ini merupakan keterangan dari pimpinan pesantren mengenai pengalaman rombongannya selama mengikuti peringatan Hari Santri, bukan hasil pemeriksaan atas makanan atau penyebab yang mungkin berkaitan dengan kondisi para santri.
Informasi mengenai waktu keberangkatan, jumlah perwakilan pesantren, serta penyediaan makan siang menjadi bagian penting dari kronologi yang disampaikan Fahrul. Rombongan berangkat sekitar enam jam sebelum makanan dibagikan, dan kegiatan disebut masih berlangsung lancar sampai waktu istirahat makan. Karena para santri tidak melaporkan kejanggalan saat hidangan dikonsumsi, keterangan tersebut belum dengan sendirinya menjelaskan kapan keluhan mulai muncul atau apa penyebabnya. Hal-hal itu memerlukan informasi lanjutan dari pihak terkait.
Dengan demikian, menurut Fahrul, rangkaian acara hingga makan siang berjalan normal dari sudut pandang rombongan pesantren. Makanan yang kemudian menjadi perhatian dalam dugaan keracunan itu berasal dari penyediaan pemerintah kabupaten dan dibagikan kepada peserta sekitar pukul 12.00 WIB. Kronologi awal ini memberi konteks mengenai kegiatan para santri sebelum mereka dilaporkan mengalami gangguan kesehatan dan mendapat perawatan di sejumlah rumah sakit.
Keluhan sejumlah santri mulai terasa sekitar waktu Magrib pada hari yang sama setelah peringatan Hari Santri. Beberapa di mereka menyampaikan mengalami mulas dan rasa tidak nyaman pada tubuh. Gejala tersebut menjadi tanda awal yang kemudian diperhatikan oleh pengurus, meski keterangan yang tersedia belum menjelaskan jumlah santri yang pertama kali mengeluh, tingkat keparahan setiap keluhan, ataupun apakah seluruhnya mengalami gejala serupa. Belum ada pula informasi mengenai penyebab pasti kondisi tersebut. Karena itu, kejadian ini masih disebut sebagai dugaan keracunan, bukan kepastian medis. Urutan waktu keluhan dan penanganan menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana kondisi puluhan santri diketahui dan ditindaklanjuti.
Menjelang pagi Jumat, 23 Oktober 2026, pengurus menyadari tidak ada santri yang datang untuk mengikuti salat Subuh berjemaah. Situasi itu mendorong mereka memeriksa kamar-kamar asrama. Di sana, mereka mendapati puluhan santri dalam keadaan lemas. Pemeriksaan tersebut membuat pengurus mengetahui bahwa kondisi yang semula ditandai keluhan mulas dan rasa tidak nyaman telah berdampak pada lebih banyak penghuni. Keterangan yang ada tidak merinci apakah para santri sempat memperoleh pertolongan di asrama sebelum dibawa keluar, maupun apakah ada keluhan lain yang muncul sepanjang malam. Namun, temuan pada pagi hari itu menjadi dasar bagi pengurus untuk segera mencari bantuan kesehatan.
Fahrul bersama para guru kemudian membawa para santri ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan. Karena jumlah yang perlu ditangani cukup banyak, sebanyak 32 santri dan santriwati dirawat di Rumah Sakit Madani serta dua rumah sakit lain di kawasan Saentis. Pembagian pasien ke beberapa rumah sakit memungkinkan mereka memperoleh penanganan di fasilitas yang tersedia, meski informasi mengenai kondisi masing-masing pasien, jenis tindakan medis, dan lama perawatan belum dijelaskan. Data yang tersedia juga belum memastikan kaitan makanan yang dikonsumsi dan munculnya gejala. Dengan demikian, langkah yang tercatat sejauh ini adalah membawa para santri yang lemas ke rumah sakit, sementara penyebab dan perkembangan kesehatan mereka memerlukan keterangan lebih lanjut.
Untuk mengetahui apakah keluhan hanya terjadi di pesantrennya, Fahrul mencari informasi melalui grup WhatsApp para pengurus pesantren. Dari percakapan tersebut, ia menerima laporan bahwa sejumlah pengurus lain juga mendapati anak didik mereka mengalami keluhan serupa setelah menyantap hidangan yang dibagikan dalam acara peringatan Hari Santri yang sama. Informasi itu membuat dugaan adanya kaitan makanan acara dan kondisi para santri menjadi perhatian, meski laporan yang beredar di pengurus belum dapat diperlakukan sebagai hasil penyelidikan resmi. Keluhan dari lebih dari satu pesantren juga mendorong pihak terkait untuk menelusuri jenis makanan yang dikonsumsi serta waktu munculnya gejala. Fahrul menyampaikan informasi tersebut sebagai laporan yang ia terima, bukan sebagai kesimpulan mengenai penyebab sakit.
Di hidangan yang disorot, Fahrul mencurigai lauk ikan nila yang disajikan kepada para santri. Ia mengatakan ikan tersebut tampak berlendir dan mengeluarkan sedikit bau yang tidak sedap. Kondisi itu menimbulkan pertanyaan mengenai kelayakan makanan, terutama karena beberapa anak dilaporkan sakit setelah menyantap hidangan dari acara yang sama. Namun, penampilan atau bau lauk yang dirasakan seseorang tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa ikan tersebut menjadi sumber keracunan. Belum ada hasil pemeriksaan yang menghubungkan secara pasti hidangan tertentu dengan gejala para santri. Karena itu, kecurigaan terhadap ikan nila perlu dibedakan dari temuan medis dan bukti laboratorium. Penentuan penyebab memerlukan pemeriksaan terhadap pasien serta sampel makanan, dan tidak seharusnya disimpulkan hanya dari kesaksian tentang kondisi lauk.
Pihak pesantren menyatakan kepastian mengenai penyebab kejadian.
Baca juga: Lonjakan Eksploitasi PHP2Shell Picu Peringatan Keamanan bagi Pengelola Server | Perselisihan Renovasi Berujung Pembacokan di Cakung, Dua Pria Dirawat | Prabowo Tegaskan Komitmen Perkuat Dukungan Pesantren di Hari Santri Nasional 2026



































