Harga Cabai dan Sayuran Melonjak, Belanja Warga di Pasar Senen Menyusut

oleh -64 Dilihat
oleh
Harga Cabai dan Sayuran Melonjak, Belanja Warga di Pasar Senen Menyusut

Jakarta | Kenaikan harga sejumlah bahan pangan mulai dirasakan oleh pedagang dan pelanggan di Pasar Senen, Jakarta. Berdasarkan pengamatan pada Senin, 12 Oktober 2026, harga cabai dan berbagai jenis sayuran tercatat lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelumnya. Perubahan tersebut langsung memengaruhi aktivitas jual beli di area pasar, terutama karena bahan pangan tersebut merupakan kebutuhan yang rutin dicari masyarakat.

Sejumlah pelanggan terlihat mengurangi jumlah belanja ketika memilih cabai dan sayuran. Jika sebelumnya mereka dapat membeli dalam jumlah yang lebih banyak, kini sebagian memilih menyesuaikan pembelian dengan uang yang tersedia. Ada pula pelanggan yang membatasi pilihan bahan pangan atau hanya membeli kebutuhan paling utama. Perubahan pola belanja ini menunjukkan bahwa kenaikan harga mulai memengaruhi keputusan konsumen di tingkat pasar tradisional.

Bagi pedagang, berkurangnya jumlah belanja pelanggan turut menekan penjualan harian. Mereka tetap menyediakan cabai dan sayuran untuk memenuhi kebutuhan pembeli, tetapi perputaran barang menjadi lebih bergantung pada kemampuan masyarakat dalam berbelanja. Ketika pelanggan membeli lebih sedikit, nilai transaksi pun cenderung menurun meskipun kebutuhan terhadap bahan pangan tersebut tetap ada.

Situasi di Pasar Senen memperlihatkan hubungan langsung perubahan harga dan aktivitas perdagangan. Pedagang harus menghadapi pelanggan yang lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran, sementara pelanggan berusaha mempertahankan kebutuhan dapur dengan jumlah pembelian yang lebih terbatas. Kenaikan harga cabai serta sayuran tidak hanya terasa pada label harga, tetapi juga terlihat dari menyusutnya belanja warga dan meningkatnya tekanan terhadap aktivitas pedagang pada Senin, 12 Oktober 2026.

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional mencatat harga rata-rata cabai rawit merah sebesar Rp132.850 per kilogram pada Senin (12/10). Pada hari yang sama, harga rata-rata cabai merah keriting tercatat Rp112.450 per kilogram. Angka tersebut menggambarkan rata-rata harga pangan yang dihimpun secara nasional, sehingga tidak secara khusus menunjukkan harga pada satu pasar atau lapak tertentu.

Di Pasar Senen, Iwan, pedagang sayur, menyebutkan harga cabai rawit merah yang dijualnya berada di angka Rp95.000 per kilogram. Sementara itu, cabai merah keriting dipasarkan dengan harga Rp85.000 per kilogram. Harga di lapak tersebut lebih rendah dibandingkan angka rata-rata yang tercatat dalam data nasional.

Untuk cabai rawit merah, terdapat selisih Rp37.850 per kilogram harga rata-rata nasional sebesar Rp132.850 dan harga yang disebutkan Iwan sebesar Rp95.000. Adapun pada cabai merah keriting, selisihnya mencapai Rp27.450 per kilogram, yakni harga rata-rata nasional Rp112.450 dan harga di lapak Pasar Senen Rp85.000.

Perbandingan ini menunjukkan dua jenis pencatatan harga yang berbeda. Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional merupakan rata-rata dari pemantauan di berbagai wilayah, sedangkan harga yang disampaikan Iwan merujuk pada harga jual di lapaknya di Pasar Senen. Karena cakupan datanya berbeda, angka nasional dan harga di pasar setempat ditampilkan sebagai informasi yang tidak sama.

Menurut Iwan, kenaikan harga di Pasar Senen tidak hanya terjadi pada cabai. Sejumlah sayuran lain yang biasa dibeli warga juga mengalami peningkatan harga dalam beberapa waktu terakhir. Komoditas tersebut lain timun, caisim, daun bawang, tomat, dan buncis. Perubahan harga ini membuat pembeli perlu menyesuaikan jumlah belanja, terutama mereka yang memiliki anggaran terbatas dan membeli kebutuhan dapur untuk konsumsi harian.

Buncis menjadi salah satu sayuran yang kenaikannya cukup terasa. Iwan menyebutkan, harga buncis sebelumnya berada di kisaran Rp20.000 per kilogram. Kini, harganya telah meningkat menjadi sekitar Rp30.000 hingga Rp35.000 per kilogram, bergantung pada kualitas barang. Buncis dengan kondisi lebih segar dan ukuran yang sesuai biasanya dijual pada kisaran harga tertinggi. Kenaikan tersebut turut memengaruhi pilihan pembeli, yang sebagian mulai mengurangi jumlah pembelian atau beralih ke sayuran lain dengan harga lebih terjangkau.

Harga tomat di lapak Iwan juga telah berada di atas Rp20.000 per kilogram. Selain itu, timun, caisim, dan daun bawang ikut mengalami penyesuaian harga meskipun besar kenaikannya dapat berbeda sesuai pasokan dan mutu. Di tengah kenaikan berbagai sayuran tersebut, harga bawang disebut masih relatif stabil dan cenderung lebih murah. Kondisi ini membuat bawang menjadi salah satu komoditas yang masih lebih mudah dijangkau oleh pembeli. Perbedaan harga antarkomoditas tersebut turut menentukan isi belanja warga di Pasar Senen, karena pembeli kini lebih selektif dalam memilih sayuran yang akan dibawa pulang.

Kenaikan harga cabai dan berbagai sayuran di Pasar Senen mulai mengubah kebiasaan belanja warga. Pembeli yang sebelumnya terbiasa membeli satu kilogram kini memilih mengurangi jumlahnya menjadi setengah kilogram. Pengurangan tersebut dilakukan agar pengeluaran tetap sesuai dengan kemampuan, terutama ketika harga sejumlah kebutuhan dapur meningkat dalam waktu bersamaan.

Perubahan serupa juga terlihat pada pelanggan yang biasanya membeli dalam jumlah lebih banyak. Pembelian dua kilogram, misalnya, kini turun menjadi satu kilogram. Sebagian warga bahkan lebih dahulu menanyakan harga sebelum menentukan barang yang akan dibeli. Mereka berusaha menyesuaikan menu harian, memilih sayuran yang lebih terjangkau, atau menunda pembelian bahan tertentu apabila harganya dianggap terlalu tinggi.

Bagi pedagang, perubahan kuantitas belanja ini menjadi tantangan yang tidak mudah. Meskipun pembeli tetap datang, jumlah barang yang dibawa pulang semakin sedikit sehingga penjualan ikut terpengaruh. Perputaran dagangan menjadi lebih lambat, sementara pedagang tetap harus menghadapi biaya pengadaan, transportasi, dan kebutuhan operasional lainnya. Kondisi tersebut membuat pendapatan harian sulit dipastikan, terutama ketika harga komoditas berubah dan daya beli pelanggan menurun.

Pedagang harus berupaya mempertahankan pelanggan dengan menyediakan pilihan sesuai anggaran, tanpa mengabaikan kualitas barang. Namun, ruang untuk menurunkan harga juga terbatas karena harga dari pemasok masih tinggi. Iwan menggambarkan tekanan yang dirasakan pedagang dalam situasi tersebut. Menurutnya, berjualan saat ini terasa “pahit”, karena pembeli mengurangi belanja sementara biaya dan harga barang tetap membebani. Keadaan itu menunjukkan bahwa lonjakan harga tidak hanya berdampak pada konsumen, tetapi juga langsung menekan keberlangsungan usaha pedagang pasar.

Baca juga: Harga Sejumlah Bahan Pangan Naik pada Awal Pekan, Cabai Rawit Merah Capai Rp132.850 per Kilogram | Belanja Pegawai Pemerintah Tembus Rp287,7 Triliun hingga September 2026 | Ekspor Emas Menyusut, Hanya Lima Perusahaan yang Tercatat hingga September 2026