JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) melemah pada perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026. Berdasarkan informasi yang tercantum pada laman resmi logammulia.com, harga perak Antam berada di level Rp39.900. Posisi tersebut menunjukkan adanya penurunan dibandingkan harga pada perdagangan sebelumnya.
Pada perdagangan sebelumnya, harga perak Antam tercatat sebesar Rp40.000. Dengan demikian, harga pada Jumat ini berkurang Rp100 menjadi Rp39.900. Perubahan tersebut menandai pelemahan harga perak Antam dalam perdagangan yang berlangsung pada 9 Oktober 2026.
Pergerakan harga perak Antam tersebut berlangsung berlawanan dengan arah pergerakan harga perak dunia pada periode yang sama. Ketika harga perak Antam mengalami penurunan, harga perak dunia justru bergerak berbeda. Perbedaan arah ini menunjukkan bahwa perubahan harga perak Antam pada perdagangan tersebut tidak sejalan dengan pergerakan pasar perak global.
Perbedaan serupa juga terlihat jika dibandingkan dengan pergerakan harga emas Antam. Pada periode yang sama, harga perak Antam melemah, sementara harga emas Antam bergerak berlawanan. Dengan catatan harga Rp39.900, perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026, memperlihatkan adanya pelemahan pada harga perak Antam meskipun pergerakan harga perak dunia dan emas Antam berada pada arah yang berbeda.
Data dari logammulia.com mencatat bahwa selisih harga pada perdagangan sebelumnya dan harga terbaru mencapai Rp100. Harga perak Antam turun dari Rp40.000 menjadi Rp39.900. Informasi tersebut menjadi dasar untuk melihat perubahan harga perak Antam pada perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026, serta perbedaannya dengan pergerakan harga perak dunia dan emas Antam pada periode yang sama.
Antam menawarkan beberapa pilihan produk perak yang dapat dibedakan berdasarkan bentuk, ukuran, dan kadar kemurniannya. Produk tersebut mencakup perak batangan dalam dua pilihan ukuran serta perak butiran murni. Informasi ini penting bagi calon pembeli karena ukuran produk berpengaruh langsung terhadap nilai pembelian. Dengan mengetahui jenis dan bobotnya, pembaca dapat membandingkan pilihan perak secara lebih mudah sesuai kebutuhan dan anggaran yang tersedia.
Perak batangan Antam tersedia dalam ukuran 250 gram dengan harga Rp10.500.000. Produk ini menjadi pilihan bagi pembeli yang menginginkan kepemilikan perak dalam bobot menengah. Sementara itu, perak batangan berukuran 500 gram ditawarkan seharga Rp20.075.000. Karena memiliki bobot dua kali lebih besar, produk 500 gram membutuhkan dana pembelian yang lebih tinggi dan dapat dipertimbangkan oleh pembeli yang ingin memperoleh persediaan perak dalam jumlah lebih banyak. Perbedaan ukuran tersebut membuat harga kedua produk tidak sama.
Selain perak batangan, Antam juga menyediakan perak butiran murni dengan kadar 99,95 persen. Produk ini berbeda dari perak batangan karena bentuknya berupa butiran, sehingga dapat digunakan untuk kebutuhan tertentu, termasuk bahan pengolahan atau keperluan industri dan kerajinan. Berdasarkan informasi yang tersedia, harga yang tercantum secara khusus adalah perak batangan 250 gram sebesar Rp10.500.000 dan perak batangan 500 gram sebesar Rp20.075.000. Harga perak butiran murni tidak disebutkan dalam data tersebut. Dengan demikian, pembaca dapat membedakan pilihan berdasarkan bentuk, kadar, ukuran, serta harga yang tersedia.
Pergerakan harga perak dunia menunjukkan penguatan pada perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026. Berdasarkan data Trading Economics, harga perak naik 1,59 persen menjadi US$60,11 per ons. Level tersebut tetap bertahan di atas US$59 per ons, meskipun kenaikan harian itu belum cukup untuk menghapus tekanan yang membayangi kinerja sepanjang pekan. Secara mingguan, harga perak masih berada dalam jalur penurunan, sehingga penguatan terbaru belum sepenuhnya mencerminkan perubahan tren yang berkelanjutan.
Investor masih mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah serta prospek kebijakan moneter Federal Reserve. Kedua faktor tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi sentimen pasar, pergerakan dolar Amerika Serikat, dan permintaan terhadap aset logam mulia. Ketidakpastian geopolitik biasanya mendorong minat terhadap aset lindung nilai, tetapi ekspektasi terhadap arah suku bunga The Fed dapat meningkatkan volatilitas apabila pelaku pasar mengubah perkiraan mengenai biaya pinjaman dan kekuatan dolar.
Di pasar energi, harga minyak melandai setelah Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat sedang melakukan diskusi produktif dengan Iran. Ia juga mengatakan Washington tidak akan menyerang negara tersebut sebelum pemilihan paruh waktu. Pernyataan itu meredakan sebagian kekhawatiran mengenai kemungkinan gangguan pasokan minyak akibat eskalasi konflik. Namun, perkembangan tersebut berlangsung bersamaan dengan meningkatnya serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan energi global. Selain itu, badai mengganggu produksi minyak lepas pantai Amerika Serikat di Teluk Meksiko. Rangkaian kondisi itu membuat pasar tetap berhadapan dengan ketidakpastian pasokan, meskipun sinyal diplomatik dari Washington menahan kenaikan harga minyak. Kombinasi faktor geopolitik, energi, dan kebijakan moneter tersebut terus membentuk arah perdagangan perak dunia, yang menguat pada hari ini tetapi masih menghadapi tekanan mingguan.
Pasar keuangan masih mencermati arah kebijakan Federal Reserve karena keputusan suku bunga akan menentukan pergerakan dolar Amerika Serikat, imbal hasil obligasi, serta minat investor terhadap logam mulia. Berdasarkan ekspektasi pasar, peluang Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada bulan tersebut berada di sekitar 82 persen. Namun, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember juga mencapai sekitar 81 persen. Perbedaan ekspektasi ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih menilai kebijakan moneter dapat berubah mengikuti perkembangan inflasi dan kondisi perekonomian.
Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, Alberto Musalem, menyampaikan bahwa suku bunga mungkin perlu dinaikkan dalam enam hingga sembilan bulan ke depan untuk membantu mengembalikan inflasi ke target 2 persen. Sementara itu, Gubernur Federal Reserve Christopher Waller melihat kemungkinan adanya kenaikan tambahan, meskipun bank sentral masih memiliki fleksibilitas dalam menentukan kecepatannya. Pernyataan tersebut memperkuat pandangan bahwa keputusan berikutnya akan sangat bergantung pada data inflasi, pasar tenaga kerja, dan aktivitas ekonomi.
Perkembangan harga emas dunia turut mencerminkan pengaruh ekspektasi tersebut. Harga emas spot naik 0,3 persen menjadi US$4.123,42 per ons, sedangkan kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Desember meningkat 0,4 persen menjadi US$4.157. Meski demikian, penguatan dolar Amerika Serikat dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah membatasi penguatan emas. Suku bunga yang lebih tinggi mengurangi daya tarik emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil berkala.
Notulen rapat Federal Reserve juga memperlihatkan adanya perbedaan pandangan di para pembuat kebijakan mengenai alasan dan kebutuhan kenaikan suku bunga. Arah kebijakan yang belum pasti dapat membuat pasar emas bergerak lebih fluktuatif, termasuk memengaruhi sentimen terhadap harga perak Antam. Selain faktor moneter, investor tetap memantau risiko terhadap kapal tanker di Selat Hormuz sebagai bagian dari latar geopolitik yang berpotensi memengaruhi harga energi, inflasi, serta keputusan bank sentral.







