KKP Siapkan Budidaya Mini RAS di 40 Ribu Desa, Bidik Produksi 1,2 Juta Ton Ikan

oleh -185 Dilihat
oleh
KKP Siapkan Budidaya Mini RAS di 40 Ribu Desa, Bidik Produksi 1,2 Juta Ton Ikan

Jakarta | Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyiapkan pengembangan budidaya ikan berbasis sistem mini recirculating aquaculture system atau mini RAS di berbagai desa. Rencana ini menjadi salah satu langkah untuk memperluas produksi ikan budidaya sekaligus mendekatkan sumber pangan bergizi kepada masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, kegiatan budidaya diharapkan dapat tumbuh di tingkat lokal dan memberi dukungan nyata bagi ketersediaan protein ikan.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyebut program mini RAS sebagai bagian dari implementasi visi Presiden Prabowo Subianto. Visi itu menempatkan pemenuhan kebutuhan protein dan gizi masyarakat sebagai salah satu perhatian, dengan ikan hasil budidaya sebagai sumber pangan yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Karena itu, program ini tidak semata diarahkan untuk menambah jumlah produksi, tetapi juga untuk memperkuat akses masyarakat terhadap ikan.

Mini RAS menggunakan prinsip resirkulasi, yakni air dalam wadah budidaya dikelola dan digunakan kembali melalui rangkaian pengolahan. Sistem berskala mini memungkinkan kegiatan budidaya ditempatkan lebih dekat dengan permukiman dan pelaku usaha lokal. Penerapannya tetap memerlukan pengelolaan yang baik, termasuk pemantauan kualitas air, pemilihan komoditas, ketersediaan pakan, serta keterampilan operator. Pendampingan dan kesiapan sarana menjadi faktor penting agar unit yang dibangun dapat beroperasi secara konsisten.

Pengembangan di desa juga berpotensi membuka ruang bagi keterlibatan kelompok masyarakat, pembudidaya, dan pelaku usaha setempat. Jika produksi berjalan teratur, ikan dapat dimanfaatkan untuk konsumsi keluarga maupun dipasarkan, sehingga manfaat program dapat menjangkau aspek gizi dan ekonomi. Namun, capaian tersebut bergantung pada kesesuaian desain dengan kondisi desa serta dukungan operasional setelah fasilitas tersedia.

Dengan menyiapkan budidaya mini RAS, KKP berupaya memperkuat industri kelautan dan perikanan nasional dari basis produksi yang lebih tersebar. Agenda pemenuhan gizi melalui ikan budidaya dapat berjalan seiring dengan pengembangan kapasitas masyarakat dan rantai pasok lokal. Rencana ini menjadi bagian dari upaya membangun sektor perikanan yang produktif, sekaligus mendukung ketersediaan pangan bagi masyarakat di berbagai wilayah.

Pengembangan budidaya mini RAS disiapkan dengan merujuk pada pembelajaran dari studi banding teknologi recirculating aquaculture system (RAS) berkelanjutan. Kunjungan untuk mempelajari penerapan teknologi tersebut dilakukan ke Jepang, China, dan sejumlah negara di Eropa. Hasil peninjauan itu menjadi dasar dalam menyusun pendekatan yang akan digunakan untuk program di desa. RAS memanfaatkan sirkulasi air dalam sistem budidaya, sehingga pengelolaan teknologi dan keberlanjutan menjadi perhatian dalam rancangan program. Melalui mini RAS, pemerintah menyiapkan model budidaya yang dapat dikembangkan pada skala desa, dengan target produksi yang telah ditetapkan.

Sasaran program ini adalah penerapan budidaya mini RAS di 40.000 desa hingga 2029. Target tersebut menggambarkan skala pengembangan yang direncanakan, sekaligus menempatkan desa sebagai titik pelaksanaan budidaya ikan. Pada setiap titik desa, sasaran produksi disebut mencapai 30 ton ikan. Jika target produksi itu diterapkan di seluruh desa yang menjadi sasaran, akumulasi produksinya dapat mencapai 1,2 juta ton. Angka tersebut merupakan sasaran yang ingin dicapai melalui pengembangan program, bukan keterangan bahwa seluruh produksi telah terealisasi. Capaian akhirnya akan bergantung pada pelaksanaan program di masing-masing desa.

Jenis ikan yang disebut dalam rencana budidaya meliputi nila, lele, dan kerapu. Pilihan komoditas ini memberi gambaran mengenai ragam ikan yang dapat dibudidayakan melalui skema mini RAS, tanpa mengubah target produksi per titik desa. Rencana tersebut menghubungkan hasil studi teknologi di luar negeri dengan sasaran produksi dalam negeri: penerapan di 40.000 desa, target 30 ton pada setiap titik, serta potensi total 1,2 juta ton hingga 2029. Pengembangan mini RAS dengan demikian disusun sebagai salah satu upaya memperluas kegiatan budidaya ikan di tingkat desa. Rincian lokasi maupun jadwal pelaksanaan tidak disebutkan dalam sasaran yang disampaikan.

Program budidaya mini RAS yang disiapkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di 40 ribu desa diarahkan untuk memperkuat produksi ikan sekaligus mengembangkan kegiatan ekonomi di tingkat lokal. Dalam proyeksi program, kapasitas produksi dapat mencapai 1,2 juta ton ikan per tahun. Angka tersebut menggambarkan skala potensi yang dituju ketika budidaya tersebar di banyak desa dan menjadi bagian dari upaya memperluas usaha perikanan. Pencapaian target akan bergantung pada pelaksanaan program serta pengembangan berbagai unsur pendukungnya.

Selain produksi, program ini diproyeksikan menciptakan hingga 80 ribu lapangan kerja. Peluang tersebut berkaitan dengan tumbuhnya kegiatan budidaya dan rantai usaha yang menyertainya di wilayah desa. Target penciptaan kerja itu menunjukkan bahwa manfaat program tidak hanya dinilai dari jumlah ikan yang dihasilkan, tetapi juga dari potensi kegiatan ekonomi dan kesempatan kerja bagi masyarakat. Namun, besaran tersebut merupakan sasaran program, bukan jaminan bahwa seluruh pekerjaan akan tersedia secara serentak atau merata di setiap desa.

Pengembangan industri bibit menjadi bagian penting dari rencana untuk mendukung kebutuhan budidaya dalam skala luas. Industri tersebut ditargetkan mampu memproduksi hingga 15 miliar ekor bibit ikan. Ketersediaan bibit dalam jumlah besar dapat menjadi salah satu unsur penopang kegiatan pembesaran ikan, seiring dengan perluasan lokasi budidaya. Program ini juga mencakup pengembangan industri pakan ikan sebagai bagian dari ekosistem pendukung. Informasi mengenai target produksi pakan maupun mekanisme pengembangannya tidak dirinci, sehingga tidak dapat disamakan dengan sasaran produksi bibit yang telah disebutkan.

Dengan demikian, proyeksi 1,2 juta ton ikan per tahun berada dalam satu kerangka pengembangan yang mencakup produksi, bibit, pakan, dan penciptaan lapangan kerja. Berbagai sasaran tersebut saling terkait dalam rencana memperluas budidaya mini RAS di desa. Pelaksanaan dan perkembangan tiap unsur akan menjadi faktor penting dalam menilai capaian program dari waktu ke waktu, termasuk sejauh mana target produksi dan kesempatan kerja dapat diwujudkan.

Rencana Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengembangkan budidaya mini recirculating aquaculture system (RAS) di puluhan ribu desa merupakan bagian dari agenda yang lebih luas untuk memperkuat sektor kelautan dan perikanan. Pengembangan budidaya berbasis desa diarahkan untuk meningkatkan produksi ikan dan memperluas akses masyarakat terhadap sumber protein. Pada saat yang sama, KKP mendorong pembenahan infrastruktur serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar kegiatan perikanan dapat berkembang dari hulu hingga hilir.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah pembangunan empat pelabuhan perikanan modern bertaraf internasional. Fasilitas tersebut diharapkan dapat mulai beroperasi pada akhir 2028. Modernisasi pelabuhan ditujukan untuk menaikkan kelas industri penangkapan ikan, industri pengolahan, dan awak kapal perikanan. Pelabuhan yang lebih modern diharapkan mampu mendukung kegiatan perikanan yang lebih tertata, memperkuat rantai pasok, serta membuka peluang peningkatan nilai hasil tangkapan melalui pengolahan.

Penguatan infrastruktur itu memiliki kaitan dengan upaya memperbesar kontribusi sektor kelautan dan perikanan terhadap pertumbuhan ekonomi. Peningkatan produktivitas dan mutu hasil perikanan diharapkan dapat memperluas manfaat ekonomi bagi pelaku usaha, termasuk awak kapal. Perbaikan kesejahteraan awak kapal menjadi salah satu perhatian, seiring kebutuhan untuk membangun industri yang lebih kompetitif dan berkelanjutan. Ketersediaan ikan yang memadai juga mendukung pemenuhan kebutuhan protein masyarakat, baik melalui hasil tangkapan maupun produksi budidaya seperti yang direncanakan melalui mini RAS.

Selain infrastruktur, KKP menyiapkan penguatan pendidikan vokasi. Sebanyak 11 politeknik vokasi binaan KKP digabungkan menjadi Ocean Institute of Indonesia (OII), atau Institut Kelautan Indonesia. Konsolidasi ini menjadi upaya mendukung penyediaan sumber daya manusia terampil di bidang kelautan dan perikanan.

Baca juga: Cadangan Beras Pemerintah Capai 4,8 Juta Ton, Produksi Petani Jadi Penopang | IUP Operasi Produksi Tambang Emas Kristalin Ekalestari di Nabire Dicabut | Geo Dipa Siapkan Pembiayaan Ekspansi Panas Bumi Menuju 1 GW