Jakarta | Hubungan persahabatan sekaligus kerja Ayu Ting Ting dan Krizna Fahrezi, mantan penata rambut sang penyanyi, dikabarkan memburuk setelah muncul persoalan pembayaran endorsement. Isu tersebut menjadi perhatian karena keduanya sebelumnya pernah bekerja bersama, sementara hubungan profesional mereka juga disebut berjalan dalam lingkup pertemanan. Pokok persoalan yang disampaikan Krizna berkaitan dengan honor dari kerja sama komersial yang melibatkan Ayu. Dalam pengakuannya, ia menyebut mengambil uang yang seharusnya diterima Ayu tanpa sepengetahuan penyanyi tersebut. Pernyataan itu disampaikan Krizna saat berbincang dalam Ratu Meta Podcast.
Dalam podcast tersebut, Krizna mengungkap nilai honor yang menjadi persoalan mencapai total Rp150 juta. Ia menjelaskan bahwa uang itu berasal dari pekerjaan endorsement, yakni kerja sama promosi komersial yang berkaitan dengan Ayu. Pengakuan ini menempatkan persoalan pembayaran sebagai isu utama di balik memburuknya hubungan mereka. Namun, informasi mengenai kejadian tersebut dalam konteks ini bersumber dari cerita Krizna di podcast, sehingga perlu dipahami sebagai klaim yang ia sampaikan. Rincian tentang proses kerja sama, alur pembayaran, maupun waktu terjadinya peristiwa tidak dijabarkan lebih lanjut dalam keterangan yang menjadi dasar pembahasan ini.
Nilai Rp150 juta yang disebutkan membuat pengakuan itu mendapat perhatian, terlebih karena honor tersebut, menurut cerita Krizna, semestinya diterima Ayu. Pernyataan bahwa ia mengambilnya tanpa memberi tahu Ayu juga menunjukkan adanya persoalan kepercayaan yang terkait dengan hubungan kerja mereka. Meski demikian, pengungkapan dalam podcast belum dengan sendirinya menjelaskan seluruh sudut pandang pihak-pihak yang terlibat. Karena itu, inti kabar yang dapat disampaikan secara hati-hati ialah bahwa Krizna mengakui pengambilan honor endorsement senilai total Rp150 juta tanpa sepengetahuan Ayu, dan ia menceritakan hal tersebut dalam Ratu Meta Podcast. Persoalan itu kemudian dikaitkan dengan keretakan hubungan Ayu dan mantan penata rambutnya, baik sebagai rekan kerja maupun sahabat.
Menurut pengakuan Krizna Fahrezi, persoalan honor endorsement Ayu Ting Ting berawal pada 2024, ketika Ayu menerima tawaran kerja sama dari sebuah brand. Tawaran tersebut berkaitan dengan pekerjaan promosi yang seharusnya dijalankan Ayu sebagai bagian dari kesepakatan. Namun, sebelum Ayu melaksanakan kewajiban kerja sama itu, Krizna mengaku telah mengambil uang pembayaran yang diberikan untuk endorsement tersebut. Pengakuan ini menjadi pokok kronologi yang disampaikan Krizna mengenai honor bernilai Rp150 juta.
Krizna menyatakan bahwa Ayu tidak mengetahui tindakannya mengambil uang pembayaran tersebut. Dengan demikian, menurut versinya, Ayu menerima tawaran kerja sama tanpa mengetahui bahwa pembayaran dari brand lebih dahulu diambil oleh Krizna, sebelum pekerjaan promosi dilakukan. Pernyataan itu menggambarkan perbedaan keterlibatan Ayu dalam tawaran endorsement dan tindakan yang disebut dilakukan Krizna terhadap uangnya. Uraian tersebut merupakan keterangan Krizna, dan tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh proses komunikasi maupun kesepakatan pihak-pihak terkait.
Dalam menjelaskan persoalan ini, Krizna menggambarkannya sebagai urusan dirinya dan pihak brand. Ia tidak menyebut bahwa Ayu mengetahui pengambilan uang tersebut, sementara kewajiban endorsement Ayu belum dijalankan. Karena itu, pengakuannya menempatkan tindakan mengambil pembayaran sebagai hal yang terjadi sebelum pelaksanaan kerja sama, bukan sebagai bagian dari pekerjaan promosi yang telah selesai. Kronologi yang disampaikan juga tidak memuat keterangan tambahan mengenai identitas brand, bentuk kampanye, atau lokasi kejadian, sehingga hal-hal tersebut tidak dapat dipastikan dari pengakuan ini. Pada tahap ini, informasi yang dapat disampaikan terbatas pada urutan peristiwa menurut Krizna: tawaran datang pada 2024, pembayaran tersedia untuk endorsement, lalu ia mengaku mengambil uang itu sebelum Ayu memenuhi kewajiban kerja sama. Ia juga menyatakan Ayu tidak mengetahui tindakannya dan menyebut perkara tersebut sebagai urusan dirinya dengan pihak brand. Penjelasan ini memberi gambaran awal tentang klaim Krizna, tanpa menambahkan rincian yang tidak disampaikan dalam sumber keterangan tersebut.
Krizna Fahrezi mengaku pada awalnya tidak berniat membiarkan uang yang telah diambil itu menjadi kerugian bagi Ayu Ting Ting. Ia menyebut memiliki rencana untuk menggantinya, dengan mengandalkan penghasilan dari pekerjaan atau proyek lain yang menggunakan jasanya. Dalam bayangannya, pemasukan dari kesempatan tersebut dapat dipakai untuk menutup kekurangan secara bertahap, sehingga persoalan itu tidak terus berlarut.
Namun, rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Penghasilan yang ia harapkan dari pekerjaan lain ternyata tidak cukup untuk menyelesaikan kewajiban itu sebagaimana dibayangkan. Alih-alih segera mengembalikan dana, jumlah uang yang diambil justru bertambah. Krizna mengakui nilainya kemudian mencapai Rp150 juta, angka yang menunjukkan bahwa persoalan tersebut berkembang jauh dari niat awalnya untuk mengganti uang.
Keadaan itu membuat upaya menutup kekurangan melalui proyek lain tidak lagi menjadi solusi yang dapat diandalkan. Setiap penundaan dan bertambahnya jumlah yang harus diganti memperbesar beban persoalan. Pengakuan Krizna juga memperlihatkan jarak rencana yang ia susun dengan dampak nyata tindakannya. Niat untuk mengembalikan uang tidak menghapus kenyataan bahwa dana tersebut telah digunakan dan belum diganti ketika jumlahnya terus meningkat.
Dampaknya tidak berhenti pada urusan keuangan. Persoalan itu turut memengaruhi hubungan profesional Krizna dengan Ayu, yang sebelumnya telah memberikan kepercayaan kepadanya. Di saat yang sama, hubungan pertemanan mereka juga terdampak karena masalah tersebut menyentuh kepercayaan pribadi, bukan semata urusan pekerjaan. Ketika dana yang berkaitan dengan pekerjaan tidak dikelola sebagaimana mestinya, hubungan kerja dan kedekatan personal dapat sama-sama mengalami keretakan.
Krizna menyadari bahwa tindakannya telah merugikan Ayu. Ia juga memahami bahwa kepercayaan yang diberikan kepadanya telah rusak, terutama karena persoalan tersebut tidak segera diselesaikan dan jumlah uang yang diambil mencapai Rp150 juta. Pengakuan mengenai rencana penggantian melalui pekerjaan lain menjelaskan harapan yang ia miliki, tetapi tidak mengubah akibat yang harus dihadapi. Bagi Ayu, kerugian finansial dan hilangnya kepercayaan menjadi dampak nyata dari masalah tersebut, sementara bagi Krizna, pengakuan itu menandai kesadaran atas tanggung jawab dan konsekuensi tindakannya.
Setelah memahami dampak dari perbuatannya, Krizna Fahrezi berupaya menemui Ayu Ting Ting secara langsung. Ia ingin menyampaikan sendiri apa yang telah terjadi, bukan hanya membiarkan kabar tersebut beredar tanpa penjelasan darinya. Dalam pertemuan itu, Krizna menceritakan kejadian yang berkaitan dengan persoalan endorsement dan honor yang menjadi perhatian publik. Ia juga mengakui bahwa tindakannya merupakan kesalahan. Langkah untuk datang dan berbicara langsung tersebut, menurut pengakuannya, menjadi cara untuk menghadapi akibat dari perbuatannya serta menjelaskan situasi kepada pihak yang terdampak. Krizna tidak hanya menyampaikan penjelasan, tetapi juga menyatakan penyesalan atas kejadian itu kepada Ayu.
Krizna kemudian meminta maaf kepada Ayu dan keluarganya. Permintaan maaf tersebut disampaikan sebagai pengakuan bahwa tindakannya telah menimbulkan persoalan dan membuat pihak lain merasa dirugikan atau kecewa. Ia mengungkapkan bahwa Ayu merasa marah sekaligus kecewa ketika mengetahui kejadian tersebut. Reaksi itu, sebagaimana diceritakan Krizna, berkaitan dengan persoalan yang dibicarakan dan tidak serta-merta hilang hanya karena dirinya telah meminta maaf. Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa Krizna memahami adanya konsekuensi personal dari tindakannya, terutama karena hubungan kerja dan kepercayaan telah ikut tersentuh. Namun, keterangan yang tersedia tidak menjelaskan lebih jauh bagaimana Ayu menanggapi permintaan maaf itu setelah pertemuan tersebut.
Sebagai bentuk tanggung jawab, Krizna juga sempat menawarkan diri untuk tetap bekerja sebagai penata rambut Ayu selama satu tahun tanpa menerima bayaran. Tawaran itu, menurut pengakuannya, diajukan sebagai upaya untuk menunjukkan kesungguhan dalam bertanggung jawab atas kesalahan yang telah dilakukan.
Baca juga: Presiden Prabowo Ingatkan Atlet Jangan Cepat Puas, Bonus Bukan Hadiah Tapi Pengakuan Negara



































