Rencana Sekolah Tahfidz Puan Maharani Disiapkan PDI Perjuangan di Malang

oleh -57 Dilihat
oleh
Rencana Sekolah Tahfidz Puan Maharani Disiapkan PDI Perjuangan di Malang

MALANG, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Rencana pembangunan Sekolah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani disiapkan oleh PDI Perjuangan di Kabupaten Malang. Gagasan tersebut disampaikan Said Abdullah, Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur sekaligus Ketua DPP PDI Perjuangan, dalam rangkaian kegiatan konsolidasi internal partai dan bakti sosial. Agenda itu berlangsung di kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang dan diikuti oleh jajaran pengurus serta kader partai.

Penyampaian rencana sekolah tahfidz tersebut menjadi salah satu pokok perhatian dalam kegiatan yang menggabungkan penguatan organisasi dengan kepedulian sosial. Melalui pembangunan lembaga pendidikan berbasis Al-Qur’an, partai membawa gagasan mengenai ruang pembelajaran yang mendukung penguatan nilai keagamaan. Nama Puan Maharani digunakan dalam rencana sekolah tersebut, sehingga gagasan ini sekaligus menandai perhatian terhadap pengembangan pendidikan Islam di wilayah Malang.

Rencana itu dibawa dalam tajuk “Pertalian Cinta DPD PDI Perjuangan Jawa Timur”. Tema tersebut memaknai cinta bukan sekadar perasaan, melainkan sesuatu yang diwujudkan melalui pengabdian dan tindakan nyata bagi masyarakat. Dalam konteks agenda di Kabupaten Malang, pengabdian itu tercermin melalui konsolidasi kader, pelaksanaan bakti sosial, serta penyampaian rencana pendirian Sekolah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani. Gagasan tersebut menjadi bagian dari arah kegiatan partai yang berupaya menghubungkan kerja politik dengan kontribusi sosial dan pendidikan. Meskipun masih berupa rencana, penyampaiannya menunjukkan adanya perhatian untuk menghadirkan fasilitas pembelajaran yang dapat mendukung kegiatan menghafal dan memahami Al-Qur’an. Informasi mengenai gagasan tersebut disampaikan langsung dalam forum internal, sehingga menjadi pembuka bagi pembahasan lebih lanjut mengenai bentuk, lokasi, serta tahapan realisasinya di Malang.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Didik Gatot Subroto, yang akrab disapa Sam Didik, memandang rencana pembangunan sekolah tahfidz Puan Maharani sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi penerus yang memiliki karakter kuat. Menurutnya, lembaga tersebut tidak seharusnya dipahami hanya sebagai tempat untuk menghafal Al-Qur’an atau memperoleh pendidikan keagamaan. Sekolah tahfidz diharapkan menjadi ruang pembinaan yang menghubungkan proses belajar, pembentukan kepribadian, dan penguatan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Sam Didik menekankan bahwa pendidikan Al-Qur’an memiliki peran penting dalam membentuk moral generasi muda. Kemampuan menghafal ayat-ayat suci perlu disertai pemahaman terhadap pesan yang terkandung di dalamnya serta penerapan akhlak mulia dalam hubungan sosial. Dengan demikian, para peserta didik tidak hanya memiliki kecakapan akademik, tetapi juga mampu menunjukkan sikap disiplin, jujur, bertanggung jawab, dan peduli terhadap lingkungan. Nilai-nilai tersebut dinilai menjadi bekal penting bagi anak-anak ketika mereka kelak mengambil peran di tengah masyarakat.

Ia berpandangan, pembangunan masa depan harus berjalan seiring kecerdasan berpikir, kecintaan terhadap Al-Qur’an, akhlak mulia, dan fondasi spiritual yang kuat. Kecerdasan tanpa arah moral dapat kehilangan tujuan, sedangkan pemahaman keagamaan yang tidak diiringi kemampuan berpikir kritis juga berisiko kurang mampu menjawab tantangan zaman. Karena itu, sekolah tahfidz diproyeksikan sebagai sarana untuk mengembangkan manusia secara utuh, dengan keseimbangan pengetahuan, keyakinan, dan perilaku. Melalui pendekatan tersebut, lembaga ini diharapkan melahirkan generasi yang berprestasi, berintegritas, serta mampu memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Abdul Qodir, yang akrab disapa Adeng, menjelaskan bahwa rencana pembangunan sekolah tahfidz merupakan upaya menerjemahkan gagasan Said Abdullah agar partai memiliki Sekolah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani. Gagasan tersebut tidak berhenti sebagai wacana internal, melainkan diarahkan menjadi program yang dapat diwujudkan secara konkret dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Rencana itu sekaligus mencerminkan perhatian terhadap pendidikan keagamaan, pembentukan karakter, serta penguatan nilai-nilai moral bagi generasi muda.

Menurut Adeng, pemikiran Said Abdullah mengenai sekolah tahfidz perlu dipandang sebagai amanah yang harus dijaga dan diwujudkan. Amanah tersebut bukan sekadar tanggung jawab administratif untuk membangun sebuah lembaga pendidikan, tetapi juga kewajiban moral untuk memastikan gagasan yang telah disampaikan mampu menghadirkan dampak sosial. Karena itu, proses persiapan pembangunan di Malang diharapkan dilakukan dengan kesungguhan, perencanaan yang matang, dan orientasi pada kebutuhan warga. Keberadaan sekolah tersebut nantinya diharapkan membuka ruang belajar Al-Qur’an yang terarah, sekaligus mendukung tumbuhnya lingkungan pendidikan yang berlandaskan nilai keagamaan.

Penjelasan Adeng juga menegaskan pandangan bahwa politik pengabdian tidak semata-mata berkaitan dengan perebutan atau pengelolaan kekuasaan. Politik seharusnya menjadi sarana untuk menerjemahkan gagasan, ideologi, dan nilai ke dalam tindakan nyata dalam kehidupan rakyat. Dalam kerangka itu, pembangunan Sekolah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani diposisikan sebagai bentuk pengabdian yang dapat dirasakan secara langsung, terutama oleh masyarakat yang membutuhkan akses pendidikan keagamaan. Gagasan politik memperoleh maknanya ketika mampu menjawab persoalan sosial, memperkuat kapasitas masyarakat, dan menghadirkan manfaat yang berkelanjutan. Dengan demikian, rencana sekolah tahfidz di Malang tidak hanya mencerminkan agenda kelembagaan, tetapi juga usaha menjadikan nilai perjuangan partai hadir dalam bentuk pelayanan publik dan pemberdayaan warga.

Rencana pembangunan sekolah tahfidz Puan Maharani di Malang dinilai memiliki makna yang berkaitan dengan arah pengabdian kepada masyarakat. Gagasan tersebut tidak semata-mata dipandang sebagai rencana pembangunan lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai bagian dari perhatian terhadap penguatan nilai keagamaan dan pembentukan generasi. Karena itu, semangat yang menyertai rencana tersebut ditempatkan dalam kerangka nilai yang ditekankan oleh PDI Perjuangan.

Arah tersebut selaras dengan pesan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengenai pentingnya membumikan Pancasila dalam kehidupan masyarakat. Nilai Pancasila dipahami bukan hanya sebagai dasar negara, melainkan juga sebagai pedoman yang perlu hadir dalam berbagai bentuk pengabdian. Dalam konteks ini, keberadaan sekolah tahfidz dipandang dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang berlandaskan nilai dan memberi perhatian terhadap kebutuhan masyarakat.

Selain membumikan Pancasila, semangat itu juga berkaitan dengan upaya merawat gotong royong. Gotong royong menunjukkan pentingnya kebersamaan dalam menjalankan tanggung jawab sosial, termasuk dalam mendukung pendidikan dan pembinaan generasi. Nilai lainnya ialah menjadikan politik sebagai jalan pengabdian kepada rakyat. Dengan landasan tersebut, rencana sekolah tahfidz Puan Maharani ditempatkan sebagai gagasan yang mencerminkan perhatian terhadap rakyat dan pendidikan. Ketiga nilai itu—membumikan Pancasila, merawat gotong royong, serta menjadikan politik sebagai jalan pengabdian kepada rakyat—menjadi bingkai yang menghubungkan rencana tersebut dengan arah perjuangan partai.