Ritual-ritual ini telah berlangsung secara turun-temurun, menjaga kisah-kisah kuno tetap hidup di tengah modernitas

oleh -59 Dilihat
oleh
Ritual-ritual ini telah berlangsung secara turun-temurun, menjaga kisah-kisah kuno tetap hidup di tengah modernitas

MALANG, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Tradisi Gunung Kombang di pesisir selatan Kabupaten Malang menawarkan perpaduan unik warisan budaya yang kaya mitos dan ritual spiritual, sekaligus menjadi daya tarik wisata alam yang memukau. Ritual-ritual ini telah berlangsung secara turun-temurun, menjaga kisah-kisah kuno tetap hidup di tengah modernitas. Simak informasi sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, Jumat (9/10/2026).

Data lain dalam laporan menunjukkan Upacara adat ini biasanya dilakukan setiap tanggal 13 hingga 14 Maulud (Rabiul Awal), bulan ketiga dalam kalender Hijriyah. Melansir laman UPT Perpustakaan Universitas Negeri Malang (UM), masyarakat setempat terus melaksanakan upacara Labuhan Gunung Kombang karena tradisi ini dinilai masih memiliki fungsi dan makna dalam kehidupan sehari-hari. Bagi pengunjung yang ingin menyaksikan langsung Tradisi Labuhan, waktu terbaik adalah sekitar tanggal 13 hingga 14 Maulud (Rabiul Awal) dalam kalender Hijriyah.

Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Inti dari tradisi Gunung Kombang adalah Petilasan Putri Kadita, sebuah area pertapaan dengan segala mitos yang mengelilinginya, serta upacara adat Labuhan yang menjadi wujud syukur dan tolak balak. Selain nilai spiritualnya, Gunung Kombang juga menyuguhkan keindahan alam yang mempesona, mulai dari hamparan pasir putih hingga panorama matahari terbenam yang magis. Petilasan Putri Kadita menjadi pusat perhatian spiritual di Gunung Kombang, sebuah bukit karang di Pantai Ngliyep. Area ini bukanlah makam kuno, melainkan petilasan yang dalam tradisi Jawa dimaknai sebagai lokasi persinggahan, tempat bertapa, atau area terjadinya peristiwa penting di masa lampau. Banyak peziarah datang ke sini untuk memohon ketenangan batin, keberkahan usaha, dan kelancaran rezeki.

Berpusat di sebuah bukit karang di Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, tradisi ini telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat setempat. Tradisi Labuhan Gunung Kombang menjadi salah satu warisan budaya yang dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat dan menjadi salah satu daya tarik wisata budaya yang sangat penting bagi masyarakat Kabupaten Malang. Gunung Kombang berada di Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Labuhan adalah upacara adat warga Desa Kedungsalam sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan rahmat-Nya. Hingga kini tradisi ini telah berlangsung sebanyak 116 kali dan menjadi salah satu aset wisata budaya Kabupaten Malang. Masyarakat setempat meyakini bahwa Gunung Kombang merupakan salah satu titik utama tempat Putri Kadita menjalani tirakat berat, sebelum kisahnya berkembang dan dikaitkan dengan sosok legendaris Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan. Bahkan, konon Gunung Kombang di Pantai Ngliyep ini menjadi tempat pertapaan Nyi Roro Kidul sebelum ia menjadi Penguasa Pantai Selatan. Sementara melansir unggahan Instagram @disparbudkabmalang dan @matic.kabmalang, tradisi Labuhan Gunung Kombang dilaksanakan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan rahmat-Nya. Di dalamnya terkandung banyak lambang yang menjadi pesan simbolik, yakni nilai-nilai budaya luhur warisan leluhur yang ingin terus disampaikan kepada generasi penerusnya. Seiring perkembangan zaman, penyelenggaraan upacara ini memang mengalami perubahan. Namun perubahan tersebut hanya menyentuh teknis pelaksanaannya, sedangkan makna dan tujuannya tetap sama. Labuhan tetap menjadi ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rahmat yang dilimpahkan-Nya. Selain itu, upacara ini juga menjadi wujud pelestarian tradisi oleh masyarakat setempat. Gunung Kombang, yang sebenarnya adalah sebuah bukit karang besar menjorok ke laut, terletak di sebelah timur Pantai Ngliyep dan dapat dijangkau melalui jembatan kayu. Meskipun disebut "gunung", ketinggiannya tidak terlalu mencolok sehingga lebih tepat disebut bukit. Area ini menawarkan hamparan pasir putih yang lembut dan pepohonan rindang. Selain itu, Gunung Kombang dikenal sebagai salah satu spot terbaik untuk menikmati panorama matahari terbenam (sunset) yang magis, dengan pemandangan laut lepas dan langit jingga keemasan saat senja. Ombak di Pantai Ngliyep cenderung cukup tenang, namun pengunjung tetap diimbau untuk berhati-hati. Di sekitar tebing dan karang Gunung Kombang, ombak besar yang menggulung kuat dan menghantam dinding karang menciptakan atraksi spektakuler berupa semburan air tinggi dan suara gemuruh dramatis. Di sisi lain pantai, terdapat Bukit Cinta yang dibalut mitos lokal, konon pasangan kekasih yang berhasil menaikinya hingga ke puncak akan berjodoh. Secara umum, musim kemarau (Mei hingga Oktober) menjadi pilihan yang baik untuk kunjungan wisata pantai di Malang Selatan karena cuaca yang cerah. Waktu kunjungan sebaiknya disesuaikan dengan tujuan Anda. Hormati adat setempat, berpakaian sopan, dan ikuti arahan warga saat berada di area petilasan. Jaga kebersihan, jangan meninggalkan sampah, dan tetap berhati-hati di jalur bukit karang yang bisa licin. Jika ingin mengabadikan prosesi Labuhan, sebaiknya minta izin lebih dulu kepada panitia atau warga. Lokasinya di sebelah timur Pantai Ngliyep dan dapat dijangkau melalui jembatan kayu. Meski disebut “gunung”, wujudnya sebenarnya bukit karang besar yang menjorok ke laut. Upacara ini juga menjadi bentuk pelestarian tradisi persembahan kepada Mbok Nyai Ratu Mas, penguasa laut selatan yang dimitoskan masyarakat setempat. Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6