Surutnya Bendungan Karian Menampakkan Kembali Permukiman yang Terendam

oleh -266 Dilihat
oleh
Surutnya Bendungan Karian Menampakkan Kembali Permukiman yang Terendam

Kabupaten Lebak | Kekeringan panjang yang dikaitkan dengan fenomena El NiƱo membuat permukaan air Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten, turun drastis. Berkurangnya hujan dan aliran air yang masuk ke waduk turut menekan elevasi bendungan, sehingga bagian-bagian yang sebelumnya berada di bawah genangan mulai terlihat. Perubahan ini bukan sekadar penanda menyusutnya cadangan air, tetapi juga membuka kembali jejak kehidupan warga yang dahulu tinggal di kawasan tersebut. Ketika pembangunan waduk berlangsung, permukiman dan lahan di area genangan ditinggalkan dan kemudian tertutup air. Kini, susutnya debit air memperlihatkan kembali sisa-sisa kawasan yang telah lama tenggelam, menghadirkan pemandangan yang menghubungkan kondisi kekeringan saat ini dengan perubahan besar yang dialami masyarakat setempat.

Salah satu lokasi yang kembali terlihat adalah Kampung Somang, yang dahulu dikenal sebagai kawasan padat penduduk. Rumah-rumah dan bangunan yang muncul dari permukaan waduk menjadi pengingat bahwa kawasan itu pernah menjadi tempat warga bermukim, beraktivitas, dan membangun kehidupan sehari-hari. Ketika air tinggi, jejak kampung tersebut tersembunyi di dasar bendungan. Namun, saat elevasi turun, bentuk permukiman lama kembali terbaca di hamparan tanah yang mengering. Pemandangan ini dapat menimbulkan kesan kuat bagi warga yang mengenal sejarah kawasan, sekaligus memperlihatkan dampak langsung perubahan muka air terhadap lanskap di sekitar waduk. Bagian-bagian yang muncul tidak serta-merta menunjukkan kondisi bangunan yang utuh; banyak struktur telah rusak atau tergerus selama terendam.

Keadaan serupa juga terlihat di Kampung Karian, Kampung Susukan, dan Kampung Cibolang, yang wilayahnya ikut tergenang saat waduk dibangun. Pada Juli 2026, air yang terus surut menampakkan deretan rumah dari permukiman lama. Sebagian besar bangunan hanya menyisakan dinding, sementara bagian lain telah hilang atau tertutup endapan. Sisa-sisa tersebut membentuk gambaran nyata tentang kampung-kampung yang pernah ada sebelum kawasan berubah menjadi waduk. Kemunculannya sekaligus menjadi pengingat bahwa kekeringan membawa konsekuensi berlapis: ketersediaan air perlu diperhatikan, sementara dasar waduk yang terbuka mengungkap kembali sejarah pemindahan permukiman. Kondisi ini dapat berubah lagi apabila hujan dan pasokan air meningkat, sehingga bangunan-bangunan tersebut kembali tertutup genangan.

Pengosongan Kampung Somang dimulai pada 2023, sebagai bagian dari persiapan penggenangan kawasan untuk pembangunan Bendungan Karian. Rumah-rumah dan bangunan lain ditinggalkan ketika permukiman itu harus memberi tempat bagi waduk. Namun, proses tersebut tidak berarti seluruh bangunan dihancurkan. Sejumlah struktur masih tersisa, sehingga ketika permukaan air surut, jejak kehidupan lama dapat kembali terlihat. Dinding rumah tanpa atap berdiri di kawasan yang kini terhubung dengan waduk. Sisa-sisa itu memperlihatkan perubahan besar yang dialami kampung, sekaligus memberi gambaran tentang permukiman yang pernah dihuni sebelum penggenangan. Di bangunan yang tersisa, satu tempat ibadah tampak menonjol karena bentuknya masih relatif utuh.

Keadaan Somang berbeda dari Kampung Karian, yang telah dikosongkan lebih dahulu, sejak 2021. Menjelang kawasan Karian ditenggelamkan, warga sempat mengambil kembali bagian-bagian rumah yang masih dapat digunakan. Genteng, kaca, serta kayu fondasi termasuk bahan bangunan yang dibawa keluar sebelum air menutup permukiman. Pengambilan bahan tersebut menjadi bagian dari upaya warga menyelamatkan sesuatu dari rumah yang harus ditinggalkan. Di Somang, sebaliknya, tidak semua bangunan dibongkar hingga habis. Perbedaan ini membuat sisa permukiman di kedua kawasan memiliki tampilan yang tidak sama. Di Somang, beberapa dinding rumah masih terlihat tanpa atap, sedangkan bangunan masjid tetap berdiri dengan kubah biru dan struktur menaranya yang terlihat jelas.

Masjid tersebut adalah Masjid Al Mujahidin. Maman, warga yang dahulu tinggal tepat di samping masjid, mengatakan bangunan itu didirikan oleh Abuya dan disebut telah ada sejak zaman Belanda. Menurut penuturannya, masjid itu kemudian direnovasi sekitar 15 tahun sebelum ia bercerita. Keterangan Maman memberi konteks pada bangunan yang kini tampak mencolok di tengah sisa-sisa rumah Somang. Kubah biru dan menara masih menjadi penanda masjid, meskipun permukiman di sekitarnya telah dikosongkan untuk penggenangan. Berdirinya masjid tersebut juga membedakannya dari banyak rumah yang kini hanya menyisakan dinding. Saat air surut dan bekas kampung terlihat kembali, bangunan itu menghubungkan lanskap yang berubah dengan ingatan warga tentang kehidupan sebelum waduk mengisi kawasan tersebut.

Pada akhir 2024 hingga awal 2025, kawasan Kampung Somang menjadi salah satu lokasi pengambilan gambar film horor Jembatan Shiratal Mustaqim. Permukiman di sekitar danau bendungan itu dipilih sebagai latar produksi sebelum air bendungan kemudian surut akibat kekeringan. Kondisi kawasan pada masa syuting masih memperlihatkan perubahan akibat genangan: sebagian rumah warga telah mulai terendam, sementara bagian lain di sekitarnya masih dapat digunakan untuk kegiatan produksi. Keadaan tersebut membuat lokasi menghadirkan suasana yang berkaitan erat dengan cerita film, sekaligus menggambarkan kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar bendungan.

Maman menjelaskan bahwa ketinggian air sempat disurutkan sedikit untuk memenuhi kebutuhan pengambilan gambar. Pengaturan itu dilakukan agar proses syuting dapat berlangsung di kawasan yang sesuai dengan kebutuhan adegan. Penyurutan tersebut, menurut keterangan Maman, terbatas dan berkaitan dengan keperluan produksi film. Hal itu berbeda dari surutnya air bendungan yang terlihat kemudian, ketika kekeringan menyebabkan permukaan air menurun dan sejumlah kawasan yang sebelumnya tertutup genangan kembali tampak. Dengan demikian, kegiatan syuting berlangsung pada masa ketika air masih menggenangi sebagian permukiman, dan bukan setelah kawasan tersebut sepenuhnya terbuka akibat kondisi kering.

Produksi film ini juga melibatkan masyarakat yang tinggal di sekitar danau, termasuk warga Kecamatan Sajira. Mereka diberdayakan untuk berperan sebagai pemeran figuran maupun membantu sebagai anggota tim teknis lapangan. Keterlibatan tersebut memberi warga kesempatan mengambil bagian langsung dalam berbagai tahapan produksi, bukan hanya menyaksikan kegiatan syuting dari luar lokasi. Kehadiran kru dan warga di kawasan itu mempertemukan aktivitas perfilman dengan kehidupan masyarakat setempat. Bagi penduduk sekitar, pengalaman tersebut berlangsung di tengah perubahan lingkungan yang sudah mereka hadapi, ketika sebagian rumah mulai terendam dan permukaan air bendungan masih menjadi bagian dari lanskap Kampung Somang. Setelah musim kering membuat air menyusut, kawasan yang pernah menjadi lokasi produksi itu kembali terlihat dalam kondisi berbeda, dengan permukiman yang sebelumnya tertutup air muncul lagi.Pembangunan Bendungan Karian merupakan bagian dari upaya memperkuat penyediaan air baku dan pengelolaan sumber daya air di kawasan barat Pulau Jawa. Proyek ini mulai dikerjakan pada 2015 dan kemudian diresmikan oleh Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, pada Januari 2024. Bendungan tersebut tercantum dalam Proyek Strategis Nasional, dengan anggaran pembangunan sekitar Rp2,2 triliun. Kehadirannya dirancang untuk menopang kebutuhan air masyarakat di Provinsi Banten, DKI Jakarta, serta sebagian wilayah Jawa Barat, sekaligus mendukung berbagai kebutuhan lain yang bergantung pada ketersediaan air.

Bendungan Karian memiliki kapasitas tampung hingga 315 juta meter kubik, dengan luas genangan mencapai 1.773 hektare. Untuk merealisasikan proyek berskala besar tersebut, pemerintah melakukan pembebasan lahan seluas 2.266,44 hektare. Proses ini melibatkan perubahan besar bagi masyarakat dan fasilitas yang sebelumnya berada di area pembangunan. Sejumlah permukiman, lahan, tempat ibadah, fasilitas pendidikan, serta lokasi pemakaman harus dipindahkan agar kawasan bendungan dapat dibangun dan beroperasi sesuai perencanaan.

Secara keseluruhan, sebanyak 37 fasilitas umum dipindahkan.

Baca juga: Saat Air Bendungan Karian Surut, Permukiman Lama Kembali Terlihat | Kampung Somang Kembali Terlihat Saat Air Bendungan Karian Menyusut | Kampung Somang Kembali Terlihat Saat Waduk Karian Mengering