Jakarta | Survei nasional Parameter Politik Indonesia (PPI) bertajuk “Evaluasi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran” mencatat Prabowo Subianto berada di posisi teratas dalam simulasi pertama pemilihan presiden. Elektabilitas Prabowo mencapai 31,6 persen. Pada simulasi yang sama, Dedi Mulyadi meraih 11,4 persen, menempatkannya di atas Anies Baswedan yang memperoleh 10,1 persen. PPI merilis hasil survei tersebut pada Minggu, 12 Oktober 2026. Angka-angka ini menunjukkan pilihan responden dalam skenario pemilihan yang dibayangkan saat survei dilakukan, bukan hasil pemilu ataupun kepastian mengenai siapa yang akan maju sebagai calon presiden.
Selisih Dedi dan Anies tercatat sebesar 1,3 poin persentase. Meski berbeda, keduanya berada pada kisaran elektabilitas yang berdekatan dalam simulasi tersebut. Sementara itu, Prabowo unggul cukup jauh dari kedua nama itu, dengan jarak 20,2 poin dari Dedi dan 21,5 poin dari Anies. Perbandingan ini memberi gambaran tentang posisi masing-masing tokoh berdasarkan jawaban responden, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan alasan di balik pilihan mereka. Hasil survei juga perlu dibaca sesuai konteks pertanyaan, daftar nama yang diuji, serta waktu pengumpulan data.
Posisi Dedi di atas Anies menjadi salah satu temuan yang menonjol dalam simulasi pertama PPI. Namun, satu hasil simulasi tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa peta persaingan telah menetap atau mencerminkan tren jangka panjang. Elektabilitas dapat berubah seiring perkembangan isu, kinerja pemerintahan, aktivitas politik, dan dinamika pencalonan. Karena itu, angka 11,4 persen untuk Dedi dan 10,1 persen untuk Anies sebaiknya dipahami sebagai potret opini publik pada periode survei, bukan ramalan hasil kontestasi mendatang. Pembacaan yang lebih menyeluruh memerlukan informasi metodologi, margin of error, ukuran sampel, dan perbandingan dengan survei lain yang dilakukan pada waktu berbeda.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), Adi Prayitno, menjelaskan bahwa survei tersebut menguji tiga simulasi calon presiden. Pengujian dilakukan untuk mengetahui pilihan responden dalam beberapa skenario pencalonan yang disusun oleh lembaga. Hasil pada setiap simulasi menggambarkan jawaban peserta survei terhadap susunan pilihan yang diajukan, bukan keputusan pemilih yang sudah pasti berlaku dalam pemilihan mendatang. Karena itu, angka dukungan perlu dibaca dengan memperhatikan konteks simulasi yang digunakan.
Dalam pengumpulan data, PPI melibatkan 1.200 responden yang tersebar di 38 provinsi. Cakupan tersebut menjadi dasar lembaga untuk memetakan jawaban dari berbagai wilayah di Indonesia. Adi menyebut margin of error survei tercatat sebesar 2,83 persen. Margin of error merupakan ukuran tingkat ketidakpastian statistik pada hasil survei, sehingga angka yang diperoleh tidak dapat dianggap sebagai gambaran tanpa kemungkinan selisih. Informasi mengenai jumlah responden, cakupan wilayah, dan batas kesalahan penting untuk disertakan ketika menilai temuan survei.
Pertanyaan yang diajukan kepada responden, sebagaimana disampaikan Adi, adalah, “Siapa yang akan dipilih jika pilpres dilaksanakan saat itu?” Rumusan tersebut meminta peserta menyatakan pilihan mereka apabila pemilihan presiden berlangsung pada waktu survei dilakukan. Dengan demikian, jawaban mencerminkan preferensi responden pada saat pengumpulan data dan dalam skenario yang disodorkan. Dalam salah satu simulasi, Dedi Mulyadi tercatat mengungguli Anies. Temuan itu merujuk pada perbandingan dalam simulasi tersebut, sementara PPI juga menguji dua simulasi calon presiden lainnya. Penjelasan mengenai desain pertanyaan dan metode membantu pembaca memahami batas interpretasi hasil, serta membedakan kecenderungan dalam survei dari hasil pemilihan resmi. Survei ini tidak dengan sendirinya menentukan siapa yang akan terpilih; hasilnya merupakan potret jawaban responden berdasarkan metode dan waktu pelaksanaan yang digunakan lembaga.
Dalam simulasi yang dikerucutkan menjadi 17 nama ketua umum partai politik, Prabowo Subianto memperoleh elektabilitas sebesar 34 persen. Angka tersebut menempatkannya pada posisi teratas di nama-nama yang diuji dalam skenario ini. Anies Baswedan berada di urutan kedua dengan elektabilitas 19,4 persen. Hasil ini menggambarkan pilihan responden dalam simulasi dengan daftar 17 nama tersebut, sebagaimana disampaikan dalam survei PPI. Angka-angka ini merujuk pada skenario khusus itu dan perlu dibaca sesuai cakupan nama yang ditampilkan, bukan sebagai hasil dari simulasi lain dalam survei yang sama.
Di bawah Prabowo dan Anies, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mencatat elektabilitas 11,1 persen. Gibran Rakabuming Raka berada sangat dekat, dengan angka 10,9 persen. Selisih keduanya adalah 0,2 poin persentase. Dengan demikian, urutan pada bagian ini menempatkan AHY di posisi ketiga dan Gibran di posisi keempat, sementara jarak angka yang tercatat di mereka relatif kecil. Penyebutan posisi dan persentase tersebut mengacu pada hasil yang dilaporkan untuk simulasi 17 nama; angka itu tidak dengan sendirinya menjelaskan alasan responden memilih masing-masing tokoh.
Secara numerik, elektabilitas Prabowo terpaut 14,6 poin persentase dari Anies dalam simulasi ini. Anies, pada gilirannya, tercatat 8,3 poin persentase di atas AHY, sedangkan selisih AHY dan Gibran hanya 0,2 poin persentase. Perbandingan aritmetis ini membantu menggambarkan jarak angka yang dilaporkan tanpa menyatakan bahwa dukungan terhadap tokoh mana pun sedang naik atau turun. Hasil survei tersebut sebaiknya dipahami sebagai potret jawaban responden pada skenario yang diuji. Untuk membaca keseluruhan temuan, konteks simulasi dan angka kandidat lain dalam daftar 17 nama juga dapat diperhatikan apabila tersedia dalam laporan survei.
Dalam salah satu simulasi yang memuat lima nama, Prabowo memperoleh angka 40,5 persen. Anies berada pada angka 17,7 persen, sedangkan AHY tercatat 14 persen. Gibran mendapatkan 12,2 persen dan Pramono Anung memperoleh 3,9 persen. Kelima angka tersebut merupakan hasil yang dicantumkan untuk masing-masing nama dalam simulasi tersebut.
Urutan angka dalam simulasi itu dimulai dari Prabowo dengan 40,5 persen, diikuti Anies dengan 17,7 persen. Berikutnya, AHY tercatat memperoleh 14 persen dan Gibran memperoleh 12,2 persen. Pramono Anung berada pada angka 3,9 persen. Penyebutan hasil ini merujuk pada lima nama yang termasuk dalam simulasi, tanpa memasukkan nama lain.
Jika disajikan dalam satu daftar, hasilnya adalah Prabowo 40,5 persen, Anies 17,7 persen, AHY 14 persen, Gibran 12,2 persen, dan Pramono Anung 3,9 persen. Angka tersebut menggambarkan persentase yang tercatat bagi setiap nama dalam simulasi lima nama. Penyajiannya tidak mengubah nilai yang dilaporkan maupun menambahkan perhitungan lain terhadap hasil tersebut.
Simulasi lima nama itu merupakan salah satu bagian dari survei PPI. Hasilnya memuat persentase untuk kelima nama sebagaimana tercantum, yakni 40,5 persen untuk Prabowo, 17,7 persen untuk Anies, 14 persen untuk AHY, 12,2 persen untuk Gibran, serta 3,9 persen untuk Pramono Anung. Angka-angka tersebut disampaikan sebagai hasil simulasi.
Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka pada 26 September hingga 6 Oktober 2026. Respondennya adalah warga berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah. Dengan demikian, periode pelaksanaan survei berlangsung selama rentang tanggal tersebut, sementara kriteria responden mencakup warga yang memenuhi salah satu dari dua ketentuan usia dan status perkawinan yang disebutkan.
Baca juga: Survei PPI: Dedi Mulyadi Unggul dalam Simulasi Cawapres 2029 | Peta Elektabilitas Capres dalam Tiga Simulasi Survei PPI | Prabowo Memimpin Simulasi Elektabilitas Capres, KDM dan Anies Menyusul



































