MANADO, SULAWESI UTARA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, World Coconut Day 2026 resmi dibuka di Courtyard by Marriott Manado, Sulawesi Utara, pada Kamis, 8 Oktober 2026. Pembukaan kegiatan tersebut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, yang menyampaikan sambutan dalam agenda internasional mengenai komoditas kelapa. Kehadiran Zulkifli Hasan menandai perhatian pemerintah terhadap peran kelapa dalam agenda pangan Indonesia sekaligus perkembangan industri kelapa di tingkat dunia.
World Coconut Day 2026 mengusung tema “Coconut in Times of Uncertainty: Securing Food, Energy, and Livelihoods” atau kelapa di tengah ketidakpastian untuk menjamin pangan, energi, dan penghidupan. Tema tersebut menempatkan kelapa sebagai komoditas yang berkaitan dengan berbagai kebutuhan penting, terutama dalam menghadapi kondisi yang penuh ketidakpastian. Melalui tema itu, kegiatan diarahkan untuk memperkuat kolaborasi berbagai pihak serta mendorong dampak nyata bagi pengembangan industri kelapa dunia.
Dalam sambutannya, Zulkifli Hasan menyampaikan pesan terkait pentingnya kerja sama dalam mengembangkan potensi kelapa. Forum tersebut juga menjadi ruang untuk menyambut delegasi dari negara-negara anggota International Coconut Community (ICC). Kehadiran para delegasi memperkuat dimensi internasional World Coconut Day 2026 dan membuka kesempatan bagi negara-negara anggota untuk membangun kolaborasi dalam menjawab tantangan yang dihadapi sektor kelapa.
Penyelenggaraan kegiatan di Manado menunjukkan bahwa pembahasan mengenai kelapa tidak hanya berfokus pada satu negara, tetapi mencakup kepentingan bersama negara-negara anggota ICC. Dengan tema yang menekankan pangan, energi, dan penghidupan, World Coconut Day 2026 diarahkan untuk menghasilkan kerja sama yang dapat memberi manfaat nyata bagi pengembangan industri kelapa serta masyarakat yang bergantung pada komoditas tersebut.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menilai kelapa merupakan salah satu komoditas yang sangat strategis bagi agenda pangan Indonesia. Penilaian tersebut tidak hanya didasarkan pada perannya sebagai hasil perkebunan, tetapi juga pada peluang pengembangan produk turunannya. Kelapa dapat diolah melalui berbagai tahapan sehingga menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi petani, pelaku usaha, dan perekonomian nasional. Karena itu, penguatan sektor kelapa dipandang perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari perkebunan hingga pengolahan hasil.
Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa perkebunan kelapa dan hilirisasi produk kelapa memperoleh perhatian khusus dari Presiden. Hilirisasi kelapa juga disebut berulang kali menjadi topik pembahasan dalam rapat terbatas yang dipimpin langsung oleh Presiden. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kelapa ditempatkan sebagai bagian penting dalam pembahasan kebijakan pangan dan penguatan komoditas nasional. Perhatian pada aspek hilir diharapkan mendorong pemanfaatan kelapa tidak berhenti pada penjualan hasil primer, melainkan berkembang menjadi produk olahan dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Menurut Zulkifli, nilai ekonomi kelapa saat ini dinilai lebih tinggi dibandingkan sejumlah komoditas perkebunan lainnya. Ia juga menyebutkan bahwa sejumlah penghasil sawit menilai kelapa kini lebih menguntungkan dan memiliki nilai yang jauh lebih tinggi daripada hasil perkebunan lain. Pandangan tersebut memperlihatkan adanya perubahan penilaian terhadap prospek kelapa di tengah meningkatnya perhatian pada pengolahan dan pemanfaatan seluruh bagian komoditas tersebut. Dengan posisi strategis serta peluang nilai tambah yang besar, kelapa menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian dalam upaya memperkuat sektor pangan, perkebunan, dan industri pengolahan Indonesia.
Zulkifli Hasan menyampaikan adanya perubahan kelembagaan dalam pengelolaan dana perkebunan yang berkaitan dengan komoditas kelapa. Tugas yang sebelumnya dikenal melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) disebut tidak lagi hanya berada dalam pengelolaan kementerian yang membidangi urusan ekonomi. Dalam penjelasan tersebut, tugas itu diarahkan untuk berpindah ke Kementerian Koordinator Bidang Pangan.
Perpindahan tersebut menjadi bagian dari penataan kelembagaan pemerintah dalam mendukung agenda pangan nasional. Namun, Zulkifli menegaskan bahwa prosesnya masih menunggu harmonisasi. Dengan demikian, status perpindahan tugas tersebut belum dapat dipahami sebagai penetapan akhir mengenai seluruh mekanisme pengelolaan dana atau pembentukan struktur kelembagaan baru. Harmonisasi diperlukan agar kewenangan dan pelaksanaan tugas antarlembaga dapat diselaraskan sesuai ketentuan yang berlaku.
Penyebutan BPDPKS dalam konteks ini merujuk pada tugas pengelolaan dana perkebunan yang sebelumnya dikenal publik melalui lembaga tersebut. Sumber yang disampaikan tidak merinci perubahan teknis, bentuk organisasi, maupun jadwal penerapan setelah proses perpindahan. Karena itu, informasi yang dapat ditegaskan pada tahap ini terbatas pada adanya arah pemindahan tugas dari kementerian yang membidangi ekonomi ke Kementerian Koordinator Bidang Pangan, dengan proses harmonisasi yang masih berjalan.
Dalam kesempatan yang sama, Zulkifli Hasan menekankan bahwa kelapa akan menjadi salah satu komoditas utama yang dikembangkan. Pernyataan ini menempatkan kelapa sebagai bagian penting dalam agenda pangan Indonesia, sekaligus menunjukkan perhatian pemerintah terhadap penguatan posisi komoditas tersebut. Meski demikian, penjelasan itu belum memuat rincian mengenai program, instrumen pendanaan, atau langkah teknis pengembangannya. Fokus kebijakan yang disampaikan masih berada pada pengalihan tugas secara kelembagaan dan tahapan harmonisasi yang perlu diselesaikan.
Zulkifli Hasan menyampaikan apresiasi kepada International Coconut Community (ICC) atas penyelenggaraan perayaan World Coconut Day tahun ini. Penghargaan tersebut disampaikan dalam forum yang mempertemukan delegasi dari negara-negara anggota ICC, sekaligus menjadi ruang untuk membahas kedudukan kelapa dalam berbagai aspek kehidupan. Selain sebagai komoditas pertanian, kelapa dipandang memiliki keterkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan, pengembangan sumber energi, dan keberlanjutan penghidupan masyarakat.
Dalam forum tersebut, pembahasan mengenai kelapa mencerminkan pentingnya kerja sama antarnegara dalam memperkuat perhatian terhadap komoditas yang memiliki nilai strategis. Pertukaran pandangan di para delegasi menempatkan kelapa dalam konteks yang lebih luas, yakni sebagai bagian dari agenda pertanian, pangan, energi, serta kesejahteraan masyarakat. Perspektif ini sejalan dengan penekanan bahwa pembangunan sektor pertanian tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga ketahanan dan ketersediaan pangan.
Melalui pernyataannya, Zulkifli Hasan kembali menegaskan bahwa pertanian dan pangan dikukuhkan sebagai prioritas utama pembangunan nasional Indonesia. Penegasan itu menunjukkan posisi kedua sektor tersebut sebagai fondasi penting dalam arah pembangunan negara. Karena itu, forum yang diselenggarakan ICC tidak hanya menjadi momentum untuk memperingati World Coconut Day, tetapi juga mempertemukan perhatian internasional dengan prioritas pembangunan Indonesia. Apresiasi kepada ICC menutup rangkaian pesan tersebut dengan penekanan pada arti penting pertemuan negara-negara anggota dalam membahas peran kelapa bagi pangan, energi, dan penghidupan masyarakat.







