108 Cekungan Migas Belum Dieksplorasi, Potensi Pasokan Minyak Indonesia Masih Terbuka

oleh -143 Dilihat
oleh
108 Cekungan Migas Belum Dieksplorasi, Potensi Pasokan Minyak Indonesia Masih Terbuka

Jakarta | Pertamina Hulu Energi (PHE) mencatat bahwa Indonesia memiliki 128 cekungan minyak dan gas bumi yang menyimpan potensi sumber daya migas. Namun, kegiatan operator hulu migas baru dilakukan di 20 cekungan. Dengan demikian, sebanyak 108 cekungan lainnya belum tersentuh kegiatan eksplorasi. Data tersebut menggambarkan masih luasnya wilayah yang belum menjadi sasaran kegiatan pencarian dan pengembangan sumber daya migas.

Direktur Keuangan PHE, Bayu Kusuma Dewanto, menyampaikan catatan tersebut dalam konferensi pers Forum Ekonomi Hulu Migas 2026 di Jakarta, Selasa, 20 Oktober 2026. Ia menegaskan bahwa sebagian besar potensi sumber daya di cekungan-cekungan yang belum dikerjakan itu masih menunggu untuk dikembangkan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dari keseluruhan 128 cekungan, bagian yang telah digarap operator sejauh ini masih terbatas pada 20 cekungan.

Perbandingan jumlah cekungan yang telah dikerjakan dan yang belum dieksplorasi menjadi pokok catatan PHE mengenai potensi migas Indonesia. Sebanyak 108 cekungan yang belum tersentuh kegiatan eksplorasi merupakan bagian terbesar dari total cekungan yang disebutkan. Sementara itu, 20 cekungan lainnya telah masuk dalam kegiatan operator hulu migas. PHE menyampaikan angka-angka itu sebagai gambaran mengenai kondisi kegiatan eksplorasi di berbagai cekungan migas nasional.

Catatan tersebut juga menempatkan potensi sumber daya minyak dan gas bumi Indonesia dalam konteks kegiatan hulu migas yang masih berlangsung. Sebagian besar cekungan belum memperoleh kegiatan eksplorasi, sedangkan pengembangan potensi di dalamnya masih menunggu untuk dilakukan. Bayu menyampaikan penegasan itu dalam forum pers, tanpa mengubah perbandingan jumlah cekungan yang telah dikerjakan dengan yang belum dieksplorasi. Informasi PHE tersebut berfokus pada jumlah cekungan, tingkat kegiatan eksplorasi yang telah dilakukan, serta besarnya bagian yang belum tersentuh. Dari total 128 cekungan migas, 20 telah dikerjakan operator hulu migas dan 108 lainnya belum tersentuh eksplorasi. PHE menegaskan bahwa sebagian besar potensi sumber daya tersebut masih menunggu untuk dikembangkan.

Kebutuhan minyak mentah Indonesia yang mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari menunjukkan besarnya tuntutan terhadap pasokan energi nasional. Minyak digunakan sebagai bahan baku untuk menghasilkan beragam produk, mulai dari bahan bakar transportasi hingga bahan baku industri. Sementara itu, produksi minyak dalam negeri berada di kisaran 600 ribu barel per hari. Perbedaan angka tersebut menggambarkan kesenjangan yang cukup besar konsumsi dan produksi, sehingga sebagian kebutuhan harus dipenuhi melalui impor. Ketergantungan pada pasokan luar negeri membuat upaya menjaga ketersediaan minyak dan mengelola risiko perubahan harga global menjadi perhatian penting bagi pemerintah serta pelaku industri hulu migas.

Dalam konteks itu, keberadaan 108 cekungan migas yang belum dieksplorasi atau belum dikembangkan secara optimal menarik perhatian. Cekungan merupakan wilayah geologi yang berpotensi menyimpan hidrokarbon, tetapi potensi geologis tidak otomatis berarti cadangan minyak yang dapat diproduksi secara komersial. Diperlukan survei, pengeboran, analisis data, serta penilaian keekonomian untuk mengetahui kandungan dan kelayakan tiap wilayah. Tahapan tersebut dapat memerlukan waktu, investasi besar, dan teknologi yang sesuai dengan kondisi setempat. Karena itu, angka cekungan yang belum digarap lebih tepat dipahami sebagai peluang untuk diteliti, bukan sebagai jaminan bahwa seluruh wilayah akan menghasilkan minyak dalam jumlah tertentu.

Pengembangan potensi di cekungan-cekungan tersebut dipandang sebagai salah satu kunci untuk memperkuat pasokan domestik dan, jika hasil eksplorasi mendukung, membantu mempersempit jarak kebutuhan dan produksi. Namun, kontribusinya bergantung pada keberhasilan menemukan sumber daya, keputusan investasi, kesiapan infrastruktur, serta waktu yang dibutuhkan untuk membawa lapangan ke tahap produksi. Tidak semua temuan akan segera menghasilkan volume besar, dan sebagian proyek mungkin tidak layak dikembangkan. Oleh sebab itu, eksplorasi perlu berjalan bersama upaya lain, seperti meningkatkan produktivitas lapangan yang sudah beroperasi dan mendorong efisiensi penggunaan energi. Pendekatan beragam ini dapat mendukung ketahanan pasokan tanpa mengasumsikan bahwa cekungan yang belum dieksplorasi pasti mampu memenuhi seluruh kebutuhan minyak Indonesia.

Pengembangan cekungan migas yang belum pernah dieksplorasi atau wilayah greenfield menghadirkan peluang sekaligus tantangan besar. Potensi sumber daya yang belum diketahui dapat membuka ruang bagi tambahan pasokan minyak Indonesia, tetapi peluang tersebut tidak serta-merta dapat diwujudkan dalam waktu singkat. Berbeda dengan wilayah yang telah memiliki kegiatan eksplorasi, greenfield memerlukan tahap awal yang panjang sebelum prospek dapat dipastikan. Karena itu, pengembangan kawasan baru menuntut komitmen investasi yang besar, kesabaran, dan kesinambungan langkah dari para pihak yang terlibat.

Menurut Bayu, eksplorasi yang dimulai saat ini baru berpotensi menghasilkan first oil dalam lima hingga tujuh tahun. Rentang tersebut menunjukkan jarak waktu dimulainya kegiatan dan kemungkinan hadirnya produksi pertama. Perkiraan itu juga menegaskan bahwa upaya memperkuat pasokan minyak melalui eksplorasi baru bukan solusi yang dapat memberikan hasil segera. Keputusan yang diambil sekarang berhubungan dengan manfaat yang mungkin baru terlihat beberapa tahun kemudian, sehingga perencanaan perlu mempertimbangkan horizon waktu yang panjang.

Lamanya proses turut membuat risiko berlangsung lebih lama. Selama menunggu kepastian potensi dan kemungkinan produksi, investasi serta perhatian harus dipertahankan dalam jangka panjang, sementara hasil akhirnya belum terjamin. Dengan demikian, eksplorasi greenfield bukan hanya membutuhkan dana yang besar pada awal kegiatan, tetapi juga kesiapan menghadapi ketidakpastian sepanjang perjalanan. Risiko tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari upaya mencari sumber daya baru, bukan sebagai alasan untuk mengabaikan potensi yang mungkin dimiliki cekungan-cekungan tersebut.

Bayu mengingatkan bahwa upaya ini tidak mudah dan tidak murah. Pesan tersebut penting dalam melihat besarnya jumlah cekungan yang belum dieksplorasi: angka potensi yang luas tidak otomatis berarti minyak dapat segera diproduksikan. Diperlukan proses yang panjang dan investasi yang tidak kecil sebelum peluang di wilayah greenfield dapat memberi kontribusi nyata. Karena itu, pengembangan cekungan baru perlu ditempatkan dalam strategi jangka panjang. Harapan terhadap pasokan tambahan tetap terbuka, tetapi perlu disertai pemahaman realistis mengenai waktu, biaya, dan risiko yang menyertai eksplorasi.

Besarnya potensi cekungan migas yang belum dieksplorasi perlu diikuti dukungan investasi berkelanjutan dari kontraktor hulu migas. Eksplorasi dan pengembangan membutuhkan pembiayaan jangka panjang, mulai dari survei awal hingga pengeboran untuk memastikan keberadaan serta ukuran cadangan. Tanpa investasi yang konsisten, peluang dari wilayah-wilayah tersebut berisiko tidak berkembang menjadi pasokan yang dapat dimanfaatkan. Karena itu, kepastian kegiatan usaha dan komitmen modal menjadi bagian penting dalam upaya membuka potensi sumber daya migas Indonesia.

Nilai investasi hulu migas tercatat mencapai US$15 miliar pada tahun lalu, atau setara sekitar Rp269,66 triliun dengan asumsi kurs Rp17.977 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan sekaligus skala pendanaan yang terlibat dalam kegiatan sektor hulu. Investasi diperlukan untuk menjaga kegiatan produksi yang sudah berjalan, serta mendukung eksplorasi dan pengembangan lapangan baru. Keberlanjutan aliran modal juga penting karena hasil eksplorasi tidak selalu dapat diperoleh dalam waktu singkat dan setiap wilayah memiliki kondisi geologi serta tingkat risiko yang berbeda.

Pengembangan potensi cekungan menuntut sinergi investasi dan ketersediaan peluang cadangan. Investasi yang memadai dapat membantu kegiatan eksplorasi berlangsung lebih luas, sementara temuan cadangan yang besar dapat memperkuat dasar bagi pengembangan produksi dan pasokan energi. Hubungan tersebut menjadi relevan bagi Indonesia, terutama ketika kebutuhan energi terus berkembang dan ketahanan pasokan menjadi perhatian jangka panjang.

Baca juga: Dialog Terbuka Kapolresta Tuban dan Mahasiswa Soroti Masalah Keamanan hingga Pelecehan Seksual | CNG sebagai Alternatif LPG: Pasokan, Keamanan, dan Harga Jadi Sorotan | Kebutuhan Listrik Pusat Data Membesar, Pemerintah Siapkan Pasokan dan Lokasi Baru