Jakarta | Pada perdagangan saham Kamis, 22 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memperlihatkan perubahan arah yang mencolok pada pertengahan sesi pertama. Pada pukul 09.56 WIB, indeks tercatat di level 5.381,43, menguat 53,07 poin atau sekitar 1%. Posisi positif itu muncul setelah IHSG sempat merosot hingga 2% saat pembukaan perdagangan. Peralihan dari penurunan tajam menuju penguatan menjadi inti perkembangan pasar pada pagi tersebut. Angka pada pukul 09.56 WIB menggambarkan kondisi indeks pada satu titik waktu, sementara penurunan di awal sesi menunjukkan bahwa pergerakan sebelumnya berlangsung berlawanan arah. Karena itu, perubahan intrasesi ini penting dicermati sebagai perkembangan terkini, tanpa menganggap bahwa pergerakan pagi itu telah mencerminkan arah indeks untuk keseluruhan hari.
Urutan pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan pada awal perdagangan tidak bertahan hingga pertengahan sesi pertama. IHSG yang sempat berada dalam penurunan hingga 2% kemudian bergerak naik dan kembali ke zona penguatan. Pada saat data pukul 09.56 WIB dicatat, indeks telah berada 53,07 poin di atas posisi acuannya, dengan level 5.381,43. Dengan demikian, perubahan arah terjadi dalam rentang awal perdagangan, ketika kondisi pasar masih dapat bergerak dan angka indeks dapat berubah. Informasi ini menyajikan perbandingan tekanan saat pembukaan dan posisi yang lebih tinggi kurang dari satu jam setelah sesi dimulai. Namun, data yang tersedia dalam perkembangan ini tidak menetapkan pemicu tertentu bagi pemulihan tersebut. Pergerakan angka indeks dapat disampaikan secara faktual tanpa menyimpulkan sebab yang belum terkonfirmasi.
Perubahan dari penurunan hingga penguatan juga menegaskan pentingnya memperhatikan waktu pencatatan dalam membaca kondisi pasar. Mengutip hanya penurunan saat pembukaan tidak akan menggambarkan posisi IHSG pada pukul 09.56 WIB, sedangkan menyebut penguatan tanpa konteks awal sesi akan menghilangkan besarnya perubahan arah. Kedua titik informasi itu memberi gambaran lebih lengkap mengenai dinamika perdagangan pagi: indeks sempat terkoreksi tajam, lalu pulih ke posisi positif. Meski demikian, level 5.381,43 merupakan catatan pada waktu tertentu, bukan angka penutupan atau kepastian mengenai pergerakan selanjutnya. Investor dan pembaca dapat mencermati pembaruan berikutnya untuk mengetahui apakah penguatan bertahan, berubah, atau kembali melemah selama perdagangan berlangsung. Untuk saat ini, fakta utamanya adalah IHSG naik 1% setelah sempat turun hingga 2% pada pembukaan.
Data Refinitiv menunjukkan bahwa mayoritas saham yang menjadi penopang IHSG pada pertengahan sesi pertama berasal dari perusahaan milik negara. Sejumlah saham perbankan, telekomunikasi, dan pertambangan BUMN masuk dalam daftar kontributor penguatan indeks, mencerminkan peran emiten berkapitalisasi besar terhadap pergerakan pasar. Saham-saham tersebut lain Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Telkom Indonesia (TLKM), Bank Negara Indonesia (BBNI), serta Aneka Tambang (ANTM). Kinerja saham-saham ini turut menjadi sorotan ketika IHSG berbalik menguat setelah bergerak dalam tekanan pada awal perdagangan.
BMRI, BBRI, dan BBNI merupakan saham perbankan yang memiliki bobot signifikan di pasar, sementara TLKM mewakili sektor telekomunikasi dan ANTM bergerak di sektor pertambangan. Kehadiran nama-nama tersebut dalam jajaran penopang indeks memperlihatkan bahwa penguatan pada sesi itu tidak hanya berkaitan dengan satu sektor. Namun, kontribusi setiap saham terhadap IHSG dapat berubah mengikuti pergerakan harga dan bobotnya. Data Refinitiv memberikan gambaran mengenai saham yang mendukung indeks pada waktu pengamatan, bukan penjelasan tunggal atas seluruh faktor yang memengaruhi pasar.
Pergerakan ini berlangsung bertepatan dengan sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia yang menjalankan atau menyiapkan program pembelian kembali saham untuk periode Oktober hingga Desember 2026. Informasi mengenai buyback menjadi perhatian pelaku pasar karena program tersebut dapat berpengaruh terhadap jumlah saham beredar dan strategi pengelolaan modal perusahaan. Meski demikian, kesamaan waktu pelaksanaan atau persiapan buyback dan penguatan sejumlah saham BUMN tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa buyback menjadi penyebab langsung kenaikan IHSG. Pergerakan indeks tetap dipengaruhi berbagai faktor, termasuk permintaan investor, kondisi sektoral, sentimen pasar, serta perubahan harga saham berkapitalisasi besar. Karena itu, kedua perkembangan tersebut sebaiknya dicermati sebagai konteks pasar yang berlangsung bersamaan, dengan data kontribusi saham dan pengumuman resmi emiten sebagai rujukan masing-masing. Pemantauan lanjutan diperlukan untuk melihat apakah penguatan saham-saham tersebut bertahan hingga penutupan perdagangan dan bagaimana program buyback berkembang sepanjang periode yang diumumkan.
Bank Mandiri mengalokasikan dana sebesar Rp1,17 triliun untuk melaksanakan program pembelian kembali saham atau buyback. Berdasarkan informasi yang tersedia, periode program tersebut dimulai pada 30 April 2026 dan dijadwalkan berakhir pada 29 April 2027. Rentang pelaksanaan yang berlangsung sekitar satu tahun ini menjadi batas waktu bagi perseroan untuk menjalankan rencana sesuai alokasi yang telah disiapkan. Nilai Rp1,17 triliun menunjukkan besaran dana yang dialokasikan, bukan keterangan mengenai jumlah saham yang telah dibeli. Karena itu, nilai alokasi perlu dibedakan dari realisasi transaksi yang mungkin berlangsung selama periode buyback. Rincian ini menempatkan Bank Mandiri di emiten yang menjalankan program pembelian kembali dalam rentang waktu tersebut.
BNI memiliki alokasi buyback sebesar Rp627 miliar. Periode pelaksanaan program ini berlangsung mulai 27 Juli hingga 26 Oktober 2026. Dengan demikian, jangka waktu yang dicantumkan untuk BNI lebih singkat dibandingkan periode program Bank Mandiri yang membentang selama sekitar satu tahun. Informasi alokasi dan jadwal tersebut memberikan gambaran mengenai besaran dana yang disediakan serta rentang waktu pelaksanaan, tanpa merinci jumlah saham yang dibeli atau nilai transaksi yang telah terealisasi. Perbedaan dana yang dialokasikan dan penggunaan aktualnya penting diperhatikan ketika membaca perkembangan program. Data yang tersedia untuk BNI dalam konteks ini terbatas pada nilai alokasi dan tanggal pelaksanaan, sehingga tidak perlu diasumsikan sebagai gambaran lengkap mengenai hasil buyback.
Telkom menyiapkan percepatan program buyback dengan nilai maksimal Rp4 triliun. Program tersebut memperoleh persetujuan dalam RUPST pada 8 Juni 2026, dengan periode pelaksanaan yang berlangsung dari 9 Juni 2026 hingga 8 Juni 2027. Informasi mengenai sisa dana memberi gambaran lebih lanjut tentang pelaksanaannya: per 19 Oktober 2026, alokasi buyback Telkom yang belum digunakan masih lebih dari Rp3 triliun. Angka sisa ini merupakan posisi pada tanggal tersebut, bukan nilai yang berlaku untuk seluruh periode program. Dengan memperhatikan batas maksimal Rp4 triliun, persetujuan RUPST, jadwal, dan sisa alokasi, pembaca dapat membedakan rencana yang disetujui dan dana yang telah terealisasi dalam transaksi pembelian saham.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyebut penurunan harga saham pada Jumat, 16 Oktober 2026, sebagai peluang investasi jangka panjang. Ia menyatakan Danantara siap masuk ketika koreksi pasar menghadirkan kesempatan yang dinilai menarik. Pernyataan tersebut memberi sinyal bahwa lembaga itu terbuka untuk mengambil posisi di pasar saham, termasuk ketika harga sedang melemah. Namun, kesiapan untuk berinvestasi tidak serta-merta berarti keputusan pembelian telah ditetapkan. Investor masih perlu membedakan pandangan mengenai peluang dari langkah transaksi yang konkret, terlebih karena informasi tentang sasaran investasi dan pelaksanaannya belum disampaikan secara terperinci oleh Danantara.
Sikap terbuka itu diperkuat oleh pernyataan COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, pada Senin, 19 Oktober 2026. Dony menyampaikan bahwa Danantara membuka peluang menambah kepemilikan saham BUMN apabila saham yang bersangkutan dinilai bagus. Pernyataan ini menempatkan kualitas dan prospek perusahaan sebagai pertimbangan, bukan sekadar penurunan harga.
Baca juga: Tata Ruang dan Ketahanan Infrastruktur Jadi Sorotan di Tengah Risiko Bencana | OJK Lanjutkan Pembenahan Pasar Modal di Tengah Sorotan MSCI | Sorotan Ombudsman atas Keselamatan Pelayaran di Tengah Kebakaran KMP Batumandi



































