Kabut Karhutla Picu Kualitas Udara Berbahaya dan Ratusan Ribu Kasus ISPA

oleh -117 Dilihat
oleh
Kabut Karhutla Picu Kualitas Udara Berbahaya dan Ratusan Ribu Kasus ISPA

Kota Palangka Raya | Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa kualitas udara di sejumlah daerah masih mengkhawatirkan setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pencemaran udara dapat meningkatkan paparan masyarakat terhadap partikel dan zat pencemar yang berasal dari asap kebakaran. Penilaian yang disampaikan Kemenkes merujuk pada Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), sebagai dasar untuk menggambarkan tingkat pencemaran dan kondisi udara di wilayah yang dipantau.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, dr. Then Suyanti, menyampaikan data mengenai kondisi tersebut dalam konferensi pers BNPB tentang perkembangan bencana di Indonesia pada Kamis, 22 Oktober 2026. Dalam pemaparan itu, ISPU menjadi acuan untuk menjelaskan kualitas udara yang masih perlu diwaspadai. Dengan demikian, informasi yang disampaikan bertumpu pada indikator pencemaran udara tersebut, bukan pada penilaian yang terpisah dari data pemantauan.

ISPU membantu menyajikan kondisi kualitas udara dalam bentuk informasi yang dapat dipahami publik. Nilai dan kategori indeks dapat digunakan untuk menunjukkan tingkat pencemaran, sehingga masyarakat maupun pihak terkait memperoleh gambaran mengenai keadaan udara yang dilaporkan. Dalam konteks karhutla, pemantauan ini penting untuk mengenali perubahan kualitas udara dan menyampaikan kondisi yang berpotensi berkaitan dengan paparan asap. Namun, rincian data yang disampaikan dalam konferensi pers tetap menjadi rujukan utama untuk memahami laporan Kemenkes.

Pernyataan Kemenkes tersebut menegaskan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kebakaran di lahan, tetapi juga dengan kondisi udara yang dihirup masyarakat. Ketika kualitas udara masih mengkhawatirkan, pemantauan dan penyampaian informasi berbasis ISPU menjadi bagian penting dalam respons terhadap dampak bencana. Data yang dikemukakan dr. Then Suyanti memberikan gambaran mengenai perhatian pemerintah terhadap keadaan udara di sejumlah daerah terdampak, sekaligus menempatkan indikator pencemaran sebagai landasan untuk membaca situasi.

Laporan itu juga memberi konteks bagi pembahasan risiko kesehatan yang dapat menyertai paparan asap. Informasi kualitas udara dapat membantu publik memahami tingkat pencemaran yang dilaporkan, sementara pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk mengikuti perubahan kondisi. Kemenkes menyampaikan bahwa sejumlah daerah masih menghadapi kualitas udara yang mengkhawatirkan setelah karhutla, berdasarkan ISPU. Pemaparan tersebut disampaikan dalam konferensi pers BNPB pada tanggal yang disebutkan, tanpa mengubah dasar penilaian yang digunakan maupun memperluas cakupan informasi di luar data yang dipaparkan.

Di Kalimantan Tengah, dampak kabut karhutla tercermin pada luasnya wilayah yang mencatat kualitas udara dalam kategori berbahaya. Tujuh kabupaten/kota di provinsi ini dilaporkan berada pada tingkat tersebut, sehingga kondisi tidak hanya terpusat di satu kawasan. Palangka Raya mencatat indeks tertinggi, yakni 1.297. Angka ini menempatkan ibu kota provinsi itu sebagai wilayah dengan tingkat pencemaran paling tinggi di daerah yang disebutkan.

Selain Palangka Raya, indeks yang sangat tinggi juga tercatat di beberapa kabupaten. Murung Raya memiliki nilai 722, sementara Barito Selatan mencatat 555. Keduanya termasuk dalam kategori berbahaya, sejalan dengan kondisi di wilayah lain di Kalimantan Tengah. Perbedaan angka antardaerah menunjukkan bahwa tingkat pencemaran yang terukur tidak seragam, meskipun sejumlah kabupaten dan kota sama-sama menghadapi kondisi udara yang mengkhawatirkan.

Di Sumatra Selatan, tiga wilayah masuk kategori berbahaya, yaitu Kota Palembang, Kota Prabumulih, dan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Palembang mencatat indeks 552. Nilai tersebut menempatkan kota ini dalam kelompok daerah yang mengalami pencemaran udara berat, sementara Prabumulih dan PALI juga tercatat berada pada kategori yang sama. Data tersebut memperlihatkan bahwa kondisi berbahaya meliputi lebih dari satu pusat permukiman dan wilayah kabupaten di provinsi tersebut.

Sementara itu, di Jambi, Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tebo dilaporkan masuk kategori berbahaya. Nilai indeks yang disebutkan dalam sumber untuk wilayah tersebut adalah 341. Angka itu dicatat tanpa penjelasan apakah berlaku secara terpisah bagi masing-masing kabupaten atau merupakan nilai gabungan, sehingga tidak dapat dipastikan pembagiannya. Meski demikian, penyebutan kedua kabupaten menandakan bahwa kualitas udara di kawasan tersebut juga perlu diperhatikan. Secara keseluruhan, data dari Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, dan Jambi menggambarkan persebaran kondisi udara berbahaya di beberapa wilayah Sumatra dan Kalimantan. Perbedaan indeks antarlokasi menjadi gambaran kondisi yang dilaporkan pada masing-masing daerah, bukan dasar untuk menyimpulkan pola kesehatan atau penyebab tambahan di luar informasi yang tersedia.

Suyanti memperingatkan bahwa paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Asap tersebut bukan sekadar kabut yang mengurangi jarak pandang, melainkan campuran berbagai polutan yang dapat terhirup atau bersentuhan dengan tubuh. Salah satu kandungan yang perlu diperhatikan ialah partikel halus PM2,5. Ukurannya yang sangat kecil membuat partikel ini menjadi bagian penting dari risiko paparan asap. Selain PM2,5, asap karhutla juga dapat mengandung karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan berbagai senyawa organik lainnya. Kombinasi polutan tersebut menjadikan kualitas udara terdampak karhutla sebagai persoalan kesehatan, bukan hanya masalah lingkungan.

Dampak yang disebutkan mencakup gangguan pada mata dan kulit, serta dampak sistemik. Artinya, perhatian terhadap paparan tidak terbatas pada bagian tubuh yang bersentuhan langsung dengan asap. Polutan yang terhirup dapat berkaitan dengan pengaruh yang lebih luas terhadap tubuh, meskipun jenis atau rincian dampak sistemik tidak dijabarkan di sini. Karena itu, paparan karhutla patut dipandang sebagai risiko kesehatan yang dapat melibatkan lebih dari satu aspek kesehatan. Tingkat dan bentuk dampaknya dapat berbeda pada setiap orang, sementara campuran partikel dan gas di dalam asap menjadi salah satu hal yang mendasari kekhawatiran tersebut.

Sejumlah kelompok memerlukan perhatian khusus ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla. Anak-anak dan lansia termasuk kelompok yang perlu dicermati, demikian pula ibu hamil. Perhatian juga perlu diberikan kepada orang yang memiliki asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), karena mereka sudah memiliki kondisi kesehatan terkait pernapasan. Pekerja luar ruangan turut menjadi kelompok yang perlu diperhatikan dalam konteks ini. Paparan terhadap asap dapat menjadi bagian dari lingkungan kerja mereka saat kebakaran berlangsung. Daftar tersebut menunjukkan bahwa risiko karhutla tidak terbatas pada satu kelompok usia atau kondisi tertentu. Peringatan Suyanti menegaskan pentingnya memahami kandungan asap dan kemungkinan dampaknya, termasuk gangguan pada mata dan kulit maupun pengaruh sistemik, terutama bagi kelompok-kelompok yang disebutkan.

Data kumulatif infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencapai 333.470 kasus untuk periode 18 Agustus hingga 21 Oktober 2026. Angka tersebut menggambarkan jumlah kasus yang dihimpun selama rentang waktu itu berdasarkan tren ISPA di tujuh wilayah karhutla. Selain jumlah kumulatif, laporan juga mencatat 4.522 kasus harian. Dengan demikian, angka harian dan angka kumulatif memiliki cakupan waktu berbeda dan perlu dibaca sesuai keterangannya.

Rincian kelompok usia menunjukkan 75.172 kasus terjadi pada anak-anak berusia di bawah lima tahun. Sementara itu, kelompok berusia di atas lima tahun mencatat 258.298 kasus. Kedua angka kelompok usia tersebut jika dijumlahkan sesuai dengan total kumulatif, yakni 333.470 kasus. Penyajian rincian ini memberi gambaran mengenai pembagian kasus menurut kategori usia yang digunakan dalam data, tanpa mengubah cakupan periode pelaporan.

Catatan tersebut merujuk pada tren ISPA di tujuh wilayah yang terdampak karhutla. Informasi yang tersedia tidak merinci nama wilayah, jumlah kasus per wilayah, maupun perubahan angka dari hari ke hari.

Baca juga: Kualitas Udara Jakarta Masih Tidak Sehat, Diperkirakan Membaik Menjelang Siang | TNI Tambah Dukungan Bahan dan Laksanakan Penyemaian untuk Penanganan Karhutla di Kalimantan | Cek Kesehatan Jadi Bekal Personel Karhutla Batang Hari Sebelum ke Lapangan