Megawati Dorong Anak Muda Satukan Kecerdasan, Keteguhan, dan Kepedulian

oleh -132 Dilihat
oleh
Megawati Dorong Anak Muda Satukan Kecerdasan, Keteguhan, dan Kepedulian

Jakarta | Dalam tayangan video pada puncak Merah Muda Fest 2026, Minggu (25/10), di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Megawati Soekarnoputri menyampaikan pesan kepada kaum muda mengenai bekal menghadapi masa depan Indonesia. Sebagai Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, ia menekankan bahwa kemajuan bangsa tidak cukup ditopang oleh kecerdasan akademik atau kemampuan mengikuti perkembangan zaman. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tetap penting, tetapi harus berjalan bersama karakter yang kokoh. Pesan tersebut mengajak generasi muda memandang keberhasilan secara utuh: bukan hanya soal pengetahuan dan keterampilan, melainkan juga tentang sikap ketika menghadapi pilihan, tekanan, serta tanggung jawab sebagai warga negara.

Megawati mengingatkan bahwa kepintaran saja tidak otomatis membuat seseorang mampu mengambil sikap dengan teguh. Dalam pesannya, ia menyebut bahwa banyak orang pintar memiliki hati yang goyah, tidak teguh, dan tidak berani. Pernyataan itu menyoroti perbedaan kemampuan memahami persoalan dan keberanian untuk bertindak berdasarkan nilai yang diyakini. Bagi anak muda, kecerdasan dapat membantu membaca tantangan dan menemukan solusi, sementara keteguhan diperlukan agar keputusan tidak mudah berubah karena tekanan atau kepentingan sesaat. Keberanian, pada gilirannya, menjadi unsur penting untuk menyampaikan sikap dan menjalankan tanggung jawab, termasuk ketika pilihan yang dihadapi tidak mudah.

Pesan tersebut menempatkan pembentukan karakter sebagai bagian penting dari persiapan generasi muda, berdampingan dengan pendidikan dan penguasaan teknologi. Anak muda diharapkan tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi juga menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab dan mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat. Keteguhan membantu menjaga arah, sedangkan kepedulian mendorong ilmu dan kemampuan digunakan untuk kepentingan bersama. Dengan menggabungkan kecerdasan, karakter kuat, keberanian, dan perhatian kepada sesama, generasi muda dapat berkontribusi lebih bermakna bagi Indonesia. Inti pesannya ialah bahwa masa depan bangsa memerlukan insan yang tidak hanya mampu berpikir, tetapi juga memiliki prinsip dan kesediaan untuk bertindak secara bertanggung jawab.

Megawati memandang kualitas sumber daya manusia secara utuh, bukan semata-mata dari nilai akademis, penguasaan ilmu pengetahuan, atau kemampuan menggunakan teknologi. Kecerdasan memang penting untuk memahami perubahan dan menciptakan solusi, tetapi kemampuan tersebut perlu disertai keteguhan hati serta integritas. Tanpa landasan moral, pengetahuan dan kemajuan teknologi dapat kehilangan arah, bahkan berisiko digunakan tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi sesama. Karena itu, anak muda perlu membangun karakter seiring dengan mengembangkan kompetensi. Sikap jujur, tanggung jawab, dan kesediaan memegang prinsip menjadi bekal agar mereka mampu mengambil keputusan dengan matang ketika menghadapi tekanan maupun kepentingan yang beragam.

Keteguhan tersebut, dalam pandangan Megawati, perlu berpijak pada nilai-nilai Pancasila. Pancasila bukan hanya dasar negara yang dipelajari di ruang kelas, melainkan pedoman untuk menerapkan keadilan, kemanusiaan, persatuan, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah perubahan sosial yang cepat, nilai-nilai itu membantu generasi muda menilai persoalan secara jernih dan mempertimbangkan kepentingan masyarakat luas. Mereka diharapkan tidak mudah mengubah sikap demi keuntungan sesaat, tetapi tetap terbuka terhadap perbedaan dan berani mempertahankan prinsip yang benar. Dengan begitu, kecerdasan dapat diterjemahkan menjadi tindakan yang bermanfaat dan kemajuan tidak meninggalkan nilai kemanusiaan.

Megawati juga menyerukan agar anak muda berani menyuarakan kebenaran dan melawan ketidakadilan. Keberanian itu tidak harus diwujudkan melalui tindakan besar; ia dapat dimulai dengan bersikap jujur, menolak diskriminasi, menyampaikan kritik secara bertanggung jawab, serta tidak membiarkan perlakuan semena-mena dianggap biasa. Konsistensi menjadi hal penting, terutama ketika membela masyarakat lemah dan orang-orang yang membutuhkan bantuan. Kepedulian perlu hadir sebagai tindakan nyata, bukan sekadar ungkapan, dengan mendengarkan kebutuhan mereka dan ikut mencari jalan keluar. Ketika kecerdasan dipadukan dengan integritas dan keberpihakan kepada sesama, generasi muda dapat menghadapi tantangan zaman sekaligus menjaga agar pembangunan memberi manfaat yang lebih adil bagi rakyat.

Pesan Megawati menempatkan kemajuan teknologi sebagai peluang yang perlu diimbangi tanggung jawab etis. Generasi muda dituntut bukan hanya mampu memahami ilmu pengetahuan dan menggunakan perangkat digital, tetapi juga mempertimbangkan dampak dari setiap keputusan. Kecakapan teknis dapat membantu menyelesaikan persoalan, mempercepat pekerjaan, dan membuka akses terhadap informasi. Namun, kemampuan itu akan kehilangan arah apabila tidak disertai kebijaksanaan, kepedulian, serta pemahaman tentang akibatnya bagi orang lain dan masyarakat.

Dalam kehidupan yang semakin dipengaruhi teknologi, nilai kemanusiaan menjadi pegangan penting. Inovasi seharusnya mendukung kesejahteraan, bukan mengabaikan martabat manusia, memperlebar ketimpangan, atau mendorong tindakan yang merugikan. Karena itu, anak muda perlu membiasakan diri menilai informasi secara kritis, menjaga etika saat berkomunikasi, dan menghormati privasi serta hak sesama. Sikap tersebut membantu memastikan bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari kecanggihan alat, melainkan juga dari manfaat dan keadilan yang dihasilkannya.

Ajakan untuk menyatukan kecerdasan dan kebijaksanaan juga berkaitan dengan keberanian bertindak. Keberanian diperlukan agar generasi penerus tidak sekadar mengetahui masalah, tetapi bersedia mengambil peran untuk mengatasinya. Meski demikian, tindakan yang tegas tetap perlu disertai tanggung jawab moral: memahami konsekuensi, bersedia mempertanggungjawabkan pilihan, dan tidak mengorbankan prinsip demi hasil cepat. Keteguhan seperti ini memungkinkan seseorang tetap berpegang pada nilai ketika menghadapi tekanan atau perubahan.

Dengan demikian, kemampuan intelektual saja belum cukup untuk membentuk generasi yang siap menghadapi tantangan. Pengetahuan dapat menunjukkan cara melakukan sesuatu, tetapi nilai etika membantu menentukan apakah tindakan itu patut dilakukan dan untuk kepentingan siapa. Perpaduan kecerdasan, keteguhan, dan kepedulian membentuk dasar bagi keputusan yang matang. Generasi muda yang menguasai teknologi sekaligus memahami tanggung jawabnya dapat berkontribusi secara lebih bermakna, menjaga kepentingan bersama, serta menghadapi perubahan tanpa kehilangan orientasi kemanusiaan.

Pidato Megawati tentang pentingnya anak muda menyatukan kecerdasan, keteguhan, dan kepedulian disampaikan dalam konteks puncak Merah Muda Fest 2026. Kegiatan yang diselenggarakan PDI Perjuangan itu menjadi bagian dari peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98. Dengan demikian, pesan kepada generasi muda hadir di tengah momentum yang mengangkat kembali arti persatuan dan komitmen kebangsaan, sebagaimana tercermin dalam ikrar para pemuda pada 1928.

Penempatan pidato pada puncak acara memberi konteks bagi pesan tersebut: peringatan Sumpah Pemuda bukan sekadar mengenang peristiwa sejarah, melainkan juga ruang untuk membicarakan tanggung jawab generasi masa kini. Seruan agar kecerdasan berjalan bersama keteguhan dan kepedulian menyoroti dimensi yang saling melengkapi. Pengetahuan dan kemampuan, misalnya, dapat diarahkan untuk menghadapi tantangan bersama, sementara keteguhan membantu anak muda menjaga komitmen dan kepedulian mendorong mereka memahami kebutuhan masyarakat. Ketiganya menjadi nilai yang relevan dalam membangun kehidupan publik yang lebih baik.

Rangkaian peringatan sebelumnya juga mencakup kunjungan ke Museum Sumpah Pemuda di Jakarta Pusat pada Minggu (25/10) sore WIB. Dalam kunjungan tersebut, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung hadir bersama anggota Komisi X DPR RI Denny Cagur. Kehadiran mereka berkaitan dengan agenda kunjungan museum dalam rangkaian peringatan, dan tidak berarti keduanya hadir pada sesi pidato Megawati. Pembedaan ini penting agar setiap agenda dipahami sesuai konteksnya.

Kunjungan ke museum menghadirkan kesempatan untuk menengok kembali jejak sejarah yang melatari peringatan, sedangkan puncak Merah Muda Fest menjadi panggung bagi penyampaian pesan kepada anak muda. Kedua kegiatan itu berada dalam rangkaian peringatan yang sama, tetapi merupakan agenda berbeda. Konteks tersebut membantu pembaca melihat hubungan penghormatan terhadap sejarah dan pembicaraan tentang peran generasi penerus tanpa mencampuradukkan peserta maupun waktu kegiatannya.

Baca juga: Megawati: Kecerdasan Perlu Disertai Keteguhan dan Keberpihakan kepada Rakyat | Megawati Dorong Anak Muda Kuasai Iptek dan Berpegang pada Pancasila | Megawati Ajak Generasi Muda Berani Membela Rakyat dan Menguasai Teknologi