Lonjakan Produksi Kendaraan Membuka Ruang Besar bagi Industri Aftermarket Indonesia

oleh -111 Dilihat
oleh
Lonjakan Produksi Kendaraan Membuka Ruang Besar bagi Industri Aftermarket Indonesia

TANGERANG, BANTEN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Meningkatnya produksi kendaraan di Indonesia dinilai membuka peluang yang semakin besar bagi pertumbuhan industri aftermarket otomotif nasional. Bertambahnya jumlah kendaraan yang diproduksi tidak hanya memperkuat aktivitas manufaktur, tetapi juga menciptakan basis konsumen yang lebih luas bagi berbagai layanan dan produk pendukung kendaraan. Peluang tersebut mencakup jasa modifikasi, penyediaan komponen pengganti, aksesori, perlengkapan perawatan, hingga solusi peningkatan performa dan kenyamanan berkendara.

Pandangan itu disampaikan Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian, Setia Diarta, saat membuka pameran IMX 2026 di ICE BSD, Tangerang, pada Jumat (9/10). Menurutnya, pertumbuhan produksi kendaraan nasional memiliki keterkaitan langsung dengan perkembangan ekosistem industri yang berada di sekitarnya. Semakin banyak kendaraan beredar, semakin beragam pula kebutuhan pemilik kendaraan terhadap produk dan layanan setelah pembelian.

Kondisi ini memberikan ruang bagi pelaku usaha aftermarket untuk mengembangkan penawaran yang sesuai dengan perubahan selera konsumen. Pemilik kendaraan tidak hanya mencari suku cadang ketika terjadi kerusakan, tetapi juga mempertimbangkan personalisasi tampilan, peningkatan fungsi, efisiensi, serta penggunaan komponen dengan kualitas yang lebih baik. Perkembangan tersebut dapat mendorong munculnya inovasi, memperluas pasar usaha kecil dan menengah, sekaligus meningkatkan permintaan terhadap tenaga kerja dengan keterampilan teknis.

Potensi itu juga memperlihatkan pentingnya hubungan yang kuat produsen kendaraan, industri komponen, bengkel, rumah modifikasi, distributor, dan komunitas otomotif. Kolaborasi antarpelaku dapat membantu memastikan ketersediaan produk, menjaga standar keamanan, serta meningkatkan daya saing komponen buatan dalam negeri. Dengan demikian, lonjakan produksi kendaraan tidak berhenti pada peningkatan penjualan unit baru, tetapi turut menjadi penggerak bagi rantai nilai aftermarket yang lebih luas dan berkelanjutan di Indonesia.

Menurut Setia Diarta, industri aftermarket otomotif Indonesia memiliki nilai ekonomi yang sangat besar. Nilai pasar sektor ini diperkirakan telah melampaui Rp70 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa kegiatan usaha setelah kendaraan diproduksi dan dipasarkan memiliki skala yang penting dalam ekosistem otomotif nasional. Aftermarket mencakup berbagai kebutuhan dan layanan yang berkaitan dengan kendaraan, termasuk produk modifikasi, pengerjaan khusus, serta komponen dan jasa pendukung yang digunakan oleh pemilik kendaraan.

Potensi tersebut diperkirakan masih akan berkembang dalam beberapa tahun mendatang. Pasar aftermarket otomotif Indonesia diproyeksikan tumbuh sekitar 5–6,5 persen per tahun hingga 2032. Proyeksi ini memperlihatkan adanya ruang pertumbuhan yang berkelanjutan bagi sektor tersebut. Pertumbuhan tahunan itu juga menegaskan bahwa aftermarket tidak hanya bergantung pada aktivitas penjualan kendaraan baru, tetapi memiliki dinamika usaha dan kebutuhan pasar tersendiri.

Bagi modifikator, builder, dan pelaku usaha terkait, besarnya nilai pasar serta proyeksi pertumbuhan tersebut menjadi peluang yang nyata. Modifikator dan builder memiliki ruang untuk mengembangkan layanan, produk, serta karya yang menjawab kebutuhan pengguna kendaraan. Pada saat yang sama, pelaku usaha pendukung dapat mengambil bagian melalui penyediaan komponen, perlengkapan, jasa pengerjaan, maupun layanan lain yang berkaitan dengan industri modifikasi dan aftermarket.

Dengan nilai pasar lebih dari Rp70 triliun dan proyeksi pertumbuhan hingga 2032, aftermarket dapat dipandang sebagai ruang usaha yang memiliki prospek berkelanjutan. Sektor ini bukan sekadar pelengkap bagi industri kendaraan, melainkan bagian penting dari ekosistem otomotif dengan potensi ekonomi yang besar. Keterangan Setia Diarta memperkuat gambaran bahwa peningkatan aktivitas di bidang modifikasi dan layanan pendukung dapat membuka kesempatan bagi semakin banyak pelaku usaha untuk berpartisipasi dalam pasar aftermarket Indonesia.

Peningkatan produksi kendaraan membuka peluang yang lebih luas bagi pelaku usaha di sektor aftermarket Indonesia. Industri kecil dan menengah (IKM), modifikator, serta produsen komponen lokal termasuk kelompok yang berpotensi memperoleh manfaat dari pertumbuhan tersebut. Bertambahnya jumlah kendaraan menciptakan pasar yang semakin besar untuk berbagai kebutuhan pendukung, sehingga pelaku usaha memiliki ruang untuk memperluas kegiatan dan jangkauan usahanya secara bertahap.

IKM dapat memanfaatkan perkembangan ini sebagai peluang untuk memperkuat keberadaan mereka dalam ekosistem otomotif. Demikian pula, produsen komponen lokal berkesempatan mengambil bagian dalam pasar yang terus berkembang. Besarnya potensi pasar memberikan dasar bagi pelaku usaha untuk mengembangkan kapasitas dan memperluas usaha, tanpa terbatas pada permintaan dari segmen yang sudah ada. Perkembangan tersebut juga menegaskan pentingnya keterlibatan pelaku lokal dalam membangun industri aftermarket yang lebih beragam.

Modifikator juga memiliki posisi penting dalam pertumbuhan ekosistem ini. Aktivitas modifikasi tidak semata-mata berkaitan dengan hobi, melainkan mencakup kreativitas, penyediaan jasa, dan aktivitas industri yang dapat menghasilkan nilai tambah ekonomi. Pandangan ini disampaikan Setia Diarta, yang melihat ekosistem modifikasi sebagai bagian dari kegiatan ekonomi dengan cakupan lebih luas daripada sekadar kegemaran terhadap kendaraan.

Pemahaman tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan pasar aftermarket dapat memberi ruang bagi beragam pelaku untuk berkembang sesuai bidangnya. Kreativitas modifikator, kemampuan IKM, dan keberadaan produsen komponen lokal saling melengkapi dalam merespons kebutuhan pasar. Dengan demikian, lonjakan produksi kendaraan tidak hanya memperbesar jumlah produk di pasar, tetapi juga memperluas peluang bagi usaha yang terhubung dengan layanan, komponen, serta aktivitas industri pendukung otomotif di Indonesia.

Data kinerja industri yang disampaikan Setia Diarta menunjukkan bahwa perkembangan sektor manufaktur nasional berlangsung dalam skala yang relevan bagi rantai usaha otomotif. Pada triwulan II 2026, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,3 persen dan memberikan kontribusi hampir 17 persen terhadap produk domestik bruto. Angka tersebut menempatkan industri pengolahan sebagai salah satu penopang penting aktivitas ekonomi, sekaligus mencerminkan kapasitas produksi yang terus berkembang.

Di sektor kendaraan roda empat, produksi nasional tercatat mencapai 859.000 unit. Capaian itu menunjukkan pertumbuhan sekitar 13,4 persen dibandingkan periode sebelumnya. Pada saat yang sama, penjualan kendaraan roda empat di pasar domestik meningkat 20,1 persen. Rangkaian data tersebut memperlihatkan adanya perkembangan pada sisi produksi dan permintaan, sehingga kinerja industri otomotif nasional dapat dibaca sebagai bagian dari penguatan aktivitas manufaktur dan pasar kendaraan di dalam negeri.

Perkembangan produksi serta penjualan itu juga menjadi konteks bagi keberadaan berbagai sektor pendukung otomotif. Ketika volume kendaraan yang diproduksi dan dipasarkan bertambah, kebutuhan yang berkaitan dengan pemeliharaan, penyediaan komponen, aksesori, layanan teknis, serta modifikasi berada dalam ekosistem yang sama. Data tersebut tidak secara otomatis menentukan besaran peluang bagi setiap pelaku usaha, tetapi memberikan dasar faktual untuk melihat terbukanya ruang bagi industri aftermarket dan sektor modifikasi. Dengan demikian, pertumbuhan industri pengolahan nonmigas, peningkatan produksi kendaraan roda empat, dan kenaikan penjualan domestik menjadi rangkaian fakta yang memperlihatkan perkembangan industri otomotif nasional serta keterkaitannya dengan sektor-sektor pendukung.