El Nino Menguat Cepat, WMO Peringatkan Ancaman Rekor Suhu dan Cuaca Ekstrem

oleh -83 Dilihat
oleh
El Nino Menguat Cepat, WMO Peringatkan Ancaman Rekor Suhu dan Cuaca Ekstrem

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa El Nino kini menguat dengan cepat dan berpotensi menjadi salah satu episode terkuat yang tercatat setidaknya sejak 1950. Perkembangan ini menjadi perhatian karena berlangsung ketika suhu global secara keseluruhan terus meningkat, sehingga dapat memperbesar tekanan terhadap masyarakat, ekosistem, serta sektor-sektor yang bergantung pada kondisi cuaca yang stabil.

Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo mengatakan pada Jumat, 9 Oktober 2026, bahwa El Nino telah terbentuk dengan kuat dan mengalami penguatan yang cepat. Menurut peringatan tersebut, perubahan pola atmosfer dan laut yang menyertai fenomena ini dapat meningkatkan risiko panas ekstrem di sejumlah kawasan. Dampaknya juga berpotensi mencakup kekeringan berkepanjangan di wilayah tertentu serta hujan lebat dan banjir di wilayah lainnya.

El Nino merupakan fenomena iklim alami yang ditandai oleh pemanasan anomali suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik tropis. Fenomena ini dapat mengubah pola sirkulasi atmosfer dan memengaruhi cuaca di berbagai belahan dunia. Namun, pengaruhnya tidak seragam. Beberapa daerah mungkin mengalami suhu yang lebih tinggi dan curah hujan yang menurun, sementara daerah lain menghadapi peningkatan hujan, badai, atau risiko banjir.

WMO menekankan bahwa peringatannya menggambarkan peningkatan risiko, bukan kepastian bahwa seluruh dampak tersebut akan terjadi di setiap wilayah. Intensitas dan waktu pengaruh El Nino dapat berbeda menurut lokasi serta dipengaruhi oleh kondisi laut dan atmosfer lainnya. Pemerintah, layanan kebencanaan, dan masyarakat tetap perlu memantau pembaruan prakiraan, memperkuat kesiapsiagaan menghadapi panas dan kekeringan, serta menyiapkan langkah antisipasi terhadap hujan ekstrem dan banjir. Perhatian khusus diperlukan karena latar belakang pemanasan global dapat membuat kejadian suhu tinggi menjadi lebih berbahaya bagi kesehatan dan ketahanan infrastruktur.

Laporan Global Seasonal Climate Update atau Iklim Musiman Global Terkini dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menunjukkan bahwa El Nino telah menguat secara cepat. Perubahan ini terlihat dari meningkatnya suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik tropis, disertai perubahan pola atmosfer yang biasanya menyertai fenomena tersebut. Kondisi itu memperkuat keyakinan para ahli bahwa El Nino sedang berkembang dan berpotensi memengaruhi pola cuaca di berbagai kawasan.

Berdasarkan pembaruan WMO, peluang El Nino untuk terus berlangsung hingga Februari 2027 diperkirakan mendekati 100 persen. Angka tersebut menunjukkan tingkat kepastian yang sangat tinggi dibandingkan perkiraan musiman biasa. Meskipun intensitas fenomena masih dapat berubah akibat dinamika laut dan atmosfer, badan meteorologi Perserikatan Bangsa-Bangsa itu menilai fase El Nino akan bertahan selama beberapa bulan ke depan, bukan hanya menjadi anomali sementara.

Perkembangan terkuat diperkirakan terjadi menjelang akhir 2026. Model prakiraan WMO memproyeksikan puncak El Nino berlangsung sekitar Desember 2026, ketika pemanasan permukaan laut dan pengaruh atmosfernya kemungkinan mencapai tingkat maksimum. Periode tersebut dapat menjadi fase paling penting untuk memantau dampaknya terhadap suhu udara, curah hujan, kekeringan, serta kejadian cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.

Setelah mencapai puncak, El Nino diperkirakan mulai melemah secara bertahap, tetapi belum segera berakhir. Pengaruhnya diproyeksikan tetap terasa setidaknya sampai Februari 2027, sesuai dengan cakupan waktu laporan terbaru WMO. Dengan demikian, urutan perkembangannya menunjukkan pola yang jelas: penguatan yang telah berlangsung, puncak sekitar Desember 2026, lalu keberlanjutan fenomena hingga awal 2027. Durasi tersebut membuat pemerintah, sektor pertanian, pengelola sumber daya air, dan masyarakat perlu menggunakan informasi iklim sebagai dasar antisipasi.

Proyeksi terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menunjukkan potensi penguatan El Nino yang sangat cepat di wilayah Nino 3,4. Kawasan ini berada di Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur, sehingga perubahan suhunya menjadi salah satu indikator penting untuk menilai perkembangan fenomena iklim tersebut. Anomali suhu permukaan laut di wilayah ini diperkirakan meningkat jauh di atas rata-rata normal dalam beberapa bulan mendatang.

Untuk periode Oktober hingga Desember 2026, WMO memperkirakan suhu rata-rata permukaan laut di Nino 3,4 dapat mencapai sekitar 3,7 derajat Celsius di atas normal. Besaran anomali itu menunjukkan pemanasan laut yang luar biasa kuat. Apabila proyeksi tersebut terwujud, nilainya berpotensi menjadi yang tertinggi sejak pencatatan pengukuran dimulai, sekaligus menandai salah satu episode El Nino paling intens yang pernah diamati.

Perkiraan tersebut juga jauh melampaui rekor sebelumnya. Pada periode November 2015 hingga Januari 2016, anomali suhu permukaan laut di wilayah yang sama tercatat sekitar 2,6 derajat Celsius di atas normal. Angka itu selama ini menjadi patokan penting untuk menggambarkan puncak penguatan El Nino. Proyeksi sebesar 3,7 derajat Celsius berarti terdapat selisih sekitar 1,1 derajat Celsius dibandingkan rekor tersebut.

Jika kondisi itu benar-benar terjadi, penguatan El Nino kali ini tidak hanya memecahkan rekor lama, tetapi juga dapat memperbesar risiko dampak iklim di berbagai kawasan. Suhu laut yang sangat tinggi di Pasifik berpotensi memengaruhi pola hujan, meningkatkan peluang kekeringan di sejumlah wilayah, serta memicu cuaca ekstrem di tempat lain. Namun, proyeksi ini tetap perlu dipantau melalui pembaruan data atmosfer dan laut secara berkala, karena intensitas fenomena dapat berubah mengikuti perkembangan sistem iklim global.

Penguatan El Nino tidak hanya tercermin dari kenaikan suhu udara dan suhu permukaan laut di atas rata-rata. Fenomena ini juga dapat mengubah sirkulasi atmosfer serta distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia. Perubahan tersebut berpotensi menggeser musim hujan, memperpanjang periode kering, atau menghasilkan hujan dengan intensitas lebih tinggi dalam waktu singkat. Karena itu, dampak El Nino perlu dipahami sebagai perubahan pola cuaca global yang dapat memperbesar risiko bencana hidrometeorologi.

Sejumlah wilayah diperkirakan mengalami kondisi yang lebih basah dari biasanya. Kawasan tersebut mencakup Tanduk Besar Afrika, sebagian Asia Tengah dan Asia Timur, serta bagian utara Semenanjung Arab. Kondisi lebih basah juga berpeluang terjadi di sebagian Amerika Utara dan wilayah tenggara Amerika Selatan. Peningkatan curah hujan di kawasan-kawasan ini tidak selalu berarti manfaat bagi sektor pertanian, terutama apabila hujan turun secara tidak merata atau disertai intensitas ekstrem. Hujan lebat dapat memicu banjir, longsor, erosi, serta gangguan terhadap transportasi dan infrastruktur.

Di sisi lain, anak benua India diprediksi menghadapi kondisi yang lebih kering, bersama bagian selatan Amerika Tengah, sebagian Karibia, dan wilayah barat laut Amerika Selatan. Penurunan curah hujan di daerah-daerah tersebut dapat mengurangi ketersediaan air untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan pembangkit listrik. Kekeringan yang berlangsung lebih lama juga dapat meningkatkan tekanan terhadap ketahanan pangan, memperburuk degradasi lahan, serta meningkatkan risiko kebakaran vegetasi.

Perbedaan pola curah hujan ini menunjukkan bahwa El Nino tidak menimbulkan dampak yang seragam. Sebagian wilayah dapat menghadapi kekeringan dan defisit air, sedangkan wilayah lain berhadapan dengan hujan berlebih, banjir, dan longsor. Pemantauan cuaca, pengelolaan sumber daya air, serta kesiapan sistem peringatan dini menjadi penting untuk mengurangi potensi kerugian ketika pola atmosfer tersebut berkembang.