Banjir Padang Masih Menggenangi Wilayah, Ratusan Warga Mengungsi dan Akses Kuranji Terputus

oleh -83 Dilihat
oleh
Menurutnya proses evakuasi diprioritaskan bagi kelompok rentan seperti anak kecil, perempuan hamil, lanjut usia, dan yang mengalami sakit

Padang | Banjir masih menggenangi sejumlah wilayah di Kota Padang, Sumatera Barat, hingga Minggu, 11 Oktober 2026. Kondisi tersebut menyebabkan sedikitnya 672 jiwa harus mengungsi. Selain berdampak pada warga, banjir juga merendam sekitar 120 rumah sehingga aktivitas masyarakat di lokasi terdampak terganggu.

Bencana ini melanda tiga kecamatan dan enam kelurahan di Kota Padang. Warga yang terdampak terpaksa meninggalkan rumah dan mengungsi untuk mendapatkan tempat yang lebih aman selama genangan belum surut. Jumlah pengungsi tersebut menunjukkan bahwa banjir masih menjadi persoalan yang perlu ditangani, terutama bagi masyarakat yang rumahnya berada di wilayah terdampak.

Akses jalan di kawasan Kuranji juga terputus akibat banjir. Kondisi ini menghambat pergerakan warga dan akses menuju wilayah tersebut. Terputusnya jalur itu menjadi salah satu dampak penting dari banjir yang masih berlangsung, karena mobilitas masyarakat di kawasan Kuranji tidak dapat berjalan seperti biasa.

Hingga Minggu, genangan masih belum surut dan warga terdampak masih berada dalam situasi pengungsian. Banjir yang mencakup tiga kecamatan dan enam kelurahan tersebut berdampak pada ratusan rumah serta ratusan jiwa. Penanganan terhadap warga terdampak dan akses yang terputus menjadi bagian penting dalam menghadapi kondisi banjir di Kota Padang.

Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Sumatera Barat pada Minggu pukul 03.34 WIB, banjir masih berdampak terhadap permukiman warga di sejumlah kawasan. Laporan sementara mencatat sebanyak 120 rumah terdampak. Dari jumlah tersebut, satu rumah mengalami rusak berat, sedangkan empat rumah lainnya mengalami rusak sedang. Kondisi kerusakan ini menjadi perhatian karena genangan masih menghambat aktivitas warga dan meningkatkan kebutuhan terhadap penanganan darurat.

Selain kerusakan bangunan, ratusan warga harus meninggalkan rumah untuk mencari tempat yang lebih aman. Pusdalops BPBD Sumatera Barat mencatat 367 jiwa mengungsi di tenda pengungsian Lapau Munggu dan rumah-rumah warga di sekitar lokasi. Pengungsian dengan jumlah terbesar berikutnya berada di Mushalla Ar Ridwan, Kampung Tangah, yang menampung 250 jiwa. Sementara itu, sebanyak 55 jiwa berada di Warung Jembatan Guo.

Persebaran pengungsi tersebut menunjukkan bahwa penanganan dilakukan melalui beberapa titik perlindungan, menyesuaikan kondisi wilayah dan ketersediaan tempat yang dapat digunakan. Tenda pengungsian, rumah warga, mushalla, serta tempat usaha sementara berfungsi sebagai lokasi perlindungan bagi masyarakat yang terdampak. Kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, layanan kesehatan, selimut, dan perlengkapan bagi kelompok rentan perlu terus dipantau selama proses evakuasi berlangsung.

BPBD dan unsur terkait masih melakukan pendataan serta pemantauan di lapangan. Angka 120 rumah terdampak dan jumlah pengungsi di tiga lokasi tersebut merupakan data berdasarkan laporan pada Minggu dini hari, sehingga masih dapat berubah mengikuti perkembangan situasi. Masyarakat di wilayah yang masih tergenang diimbau tetap mengikuti arahan petugas, menghindari arus deras, dan segera melapor apabila membutuhkan evakuasi atau bantuan darurat.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Padang dipicu hujan berintensitas tinggi pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Curah hujan yang meningkat dalam waktu cukup lama menyebabkan aliran air meluap dan menggenangi permukiman, ruas jalan, serta fasilitas umum. Kondisi tersebut membuat aktivitas warga terganggu dan mendorong sebagian masyarakat meninggalkan rumah untuk mencari tempat yang lebih aman.

Salah satu kendala utama dalam penanganan bencana berada di sekitar PDAM Daerah Guo, Kecamatan Kuranji. Jalan di lokasi itu terputus akibat genangan dan kondisi badan jalan yang tidak dapat dilalui, sehingga petugas mengalami kesulitan menjangkau sejumlah wilayah terdampak. Keterbatasan akses tersebut turut memperlambat proses pemantauan, evakuasi, serta penyaluran bantuan kepada warga yang masih bertahan di kawasan tergenang. Petugas perlu menyesuaikan rute dan menggunakan sarana yang memungkinkan untuk mencapai lokasi-lokasi yang terisolasi.

BNPB mencatat, luasnya area terdampak dan banyaknya akses yang terendam menjadi tantangan tersendiri bagi tim gabungan di lapangan. Penanganan tidak hanya memerlukan evakuasi warga, tetapi juga pemutakhiran data mengenai ketinggian air, kondisi permukiman, serta kebutuhan para pengungsi. Sejumlah jalur yang belum dapat dilewati menyebabkan mobilitas personel dan peralatan menjadi terbatas. Karena itu, koordinasi BNPB, pemerintah daerah, petugas penyelamat, dan unsur terkait terus diperlukan agar bantuan dapat disalurkan secara bertahap, sekaligus memastikan keselamatan warga di wilayah yang masih menghadapi genangan.

Penanganan terhadap warga yang mengungsi dilakukan dengan menyalurkan bantuan darurat untuk memenuhi kebutuhan dasar selama berada di tempat pengungsian. Bantuan tersebut diberikan sebagai dukungan bagi masyarakat yang terdampak banjir dan harus meninggalkan rumahnya karena kondisi lingkungan yang belum memungkinkan untuk kembali beraktivitas secara normal.

Sejumlah kebutuhan pangan disalurkan kepada para pengungsi, lain makanan siap santap dan mi instan. Bantuan makanan juga mencakup makanan anak agar kebutuhan konsumsi kelompok usia tersebut tetap diperhatikan. Penyaluran berbagai jenis bahan pangan ini diharapkan dapat membantu warga memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah situasi bencana.

Selain makanan, bantuan yang diberikan mencakup paket kebutuhan keluarga, selimut, pakaian anak, dan kasur. Perlengkapan tersebut ditujukan untuk mendukung kebutuhan pengungsi selama berada di lokasi penampungan, terutama kebutuhan istirahat, perlindungan dari udara dingin, serta keperluan anak-anak. Paket kebutuhan keluarga juga menjadi bagian dari bantuan untuk membantu warga menghadapi kondisi darurat secara lebih layak.

Penyaluran bantuan dilakukan sebagai bagian dari langkah penanganan bagi masyarakat yang terdampak dan mengungsi akibat banjir. Berton mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir dan tanah longsor, terutama ketika hujan berintensitas tinggi berlangsung dalam waktu lama. Warga diminta memperhatikan kondisi lingkungan sekitar serta tetap terhadap perubahan keadaan yang dapat menimbulkan risiko keselamatan.

Baca juga: Ratusan Petugas Amankan Rumah Warga yang Mengungsi akibat Banjir Padang | Banjir Rendam Sejumlah Wilayah Padang, Evakuasi Warga Masih Berlangsung | Banjir Melanda Tiga Kecamatan di Padang, Ratusan Warga Dievakuasi