Radja Nainggolan Ungkap Pilihan Klub Indonesia dan Bayaran Besarnya di Bhayangkara FC

oleh -483 Dilihat
oleh
Radja Nainggolan Ungkap Pilihan Klub Indonesia dan Bayaran Besarnya di Bhayangkara FC

Jakarta | Radja Nainggolan mengungkapkan bahwa sejak awal keputusannya untuk berkarier di Indonesia tidak ditujukan kepada Bhayangkara FC. Dalam wawancara dengan media Belanda, mantan gelandang tim nasional Belgia itu menyebut Persija Jakarta dan Bali United sebagai dua klub yang paling ingin dibelanya. Pengakuan tersebut memperjelas bahwa ketertarikan awal Radja terhadap sepak bola Indonesia sudah mengarah pada dua nama tersebut, bukan kepada klub yang kemudian menjadi tempatnya bermain.

Persija Jakarta dan Bali United memiliki daya tarik tersendiri bagi Radja. Persija dikenal sebagai salah satu klub dengan basis pendukung terbesar di Indonesia, sedangkan Bali United memiliki reputasi kuat dan fasilitas yang kompetitif. Karena itu, ketika membicarakan kemungkinan bermain di Tanah Air, Radja sejak awal hanya menyebut kedua klub tersebut. Ia tidak mengubah pernyataannya dengan memasukkan Bhayangkara FC sebagai pilihan pertama atau klub yang sejak awal menjadi incarannya.

Meski demikian, perjalanan Radja di Indonesia akhirnya mengarah ke Bhayangkara FC. Setelah memperoleh tawaran untuk bermain di Indonesia, ia memutuskan menerima kesempatan tersebut dan bergabung dengan klub itu. Tawaran tersebut menjadi faktor penting yang membuatnya tetap merealisasikan rencana bermain di kompetisi Indonesia, meskipun klub pilihannya pada tahap awal adalah Persija atau Bali United. Dengan demikian, kepindahannya ke Bhayangkara FC merupakan hasil dari tawaran yang datang, bukan karena klub tersebut menjadi tujuan utama sejak awal.

Pernyataan Radja memberikan gambaran mengenai proses di balik kedatangannya ke Indonesia. Ia memang memiliki preferensi terhadap Persija Jakarta dan Bali United, tetapi peluang profesional yang tersedia akhirnya membawanya ke Bhayangkara FC. Pengakuan itu juga menunjukkan bahwa pilihan klub dan keputusan untuk bermain di Indonesia merupakan dua hal yang berbeda. Klub yang diinginkan sejak awal belum tentu menjadi klub yang berhasil merekrutnya ketika tawaran resmi datang.

Kedekatan Radja Nainggolan dengan sepak bola Indonesia bermula ketika kariernya di Eropa berada dalam fase yang tidak menentu. Setelah membela SPAL di Serie B Italia, ia sempat berencana mengakhiri perjalanan sebagai pesepak bola profesional pada 2023. Pada masa tersebut, Radja merasa perlu mempertimbangkan kembali arah hidupnya setelah bertahun-tahun berkompetisi di level tertinggi, termasuk memperkuat sejumlah klub besar di Italia. Keputusan untuk berhenti bermain tampak semakin mungkin sebelum sebuah undangan dari Indonesia mengubah rencananya.

Erick Thohir menjadi sosok penting dalam awal hubungan tersebut. Sebelum menjabat sebagai kepala federasi sepak bola Indonesia, Erick pernah menjadi presiden Inter Milan, klub yang memiliki kedekatan dengan perjalanan karier Radja. Dalam persiapan Piala Dunia U-17 2023, Erick mengundang Radja untuk hadir sebagai duta turnamen. Undangan itu tidak hanya memperkenalkan Radja kepada atmosfer sepak bola Indonesia, tetapi juga memberinya kesempatan melihat secara langsung kehidupan sosial dan perkembangan olahraga di tanah air.

Selama kurang lebih dua minggu, Radja menjalani rangkaian kegiatan di beberapa kota, yakni Jakarta, Bandung, Solo, dan Surabaya. Perjalanan tersebut membuatnya dapat berinteraksi dengan masyarakat, menghadiri agenda sepak bola, serta merasakan sambutan publik di berbagai daerah. Ia terkesan oleh keramahan masyarakat Indonesia yang dinilainya terbuka dan hangat. Pengalaman itu perlahan membangun ketertarikannya terhadap Indonesia, bukan sekadar sebagai tempat kunjungan, melainkan sebagai lingkungan yang mungkin menjadi bagian dari kelanjutan kariernya.

Setelah masa kunjungan tersebut berakhir, Radja kemudian menerima sebuah telepon yang menanyakan kesediaannya bermain di Indonesia. Tawaran itu datang ketika rencana pensiun masih menjadi pertimbangannya. Pengalaman selama berada di Indonesia membuat pertanyaan tersebut tidak terasa asing. Sebaliknya, hubungan yang telah terbentuk melalui peran sebagai duta Piala Dunia U-17 dan interaksinya dengan masyarakat menjadi landasan penting bagi keputusan Radja untuk membuka peluang melanjutkan karier di kompetisi Indonesia.

Radja Nainggolan mengakui bahwa Bhayangkara FC bukan tujuan pertamanya ketika memutuskan menerima tantangan bermain di Indonesia. Namun, peluang tersebut tetap dipilih setelah klub menawarkan kesepakatan yang dinilai menarik, baik dari sisi pengalaman maupun finansial. Bagi pemain yang memiliki pengalaman panjang di kompetisi Eropa itu, kepindahan tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal suasana sepak bola dan kehidupan yang berbeda dari yang selama ini dijalaninya di Italia.

Dalam kesepakatan tersebut, Radja ditempatkan di Bhayangkara FC selama setengah tahun atau enam bulan. Durasi singkat itu tidak mengurangi nilai kontrak yang diterimanya. Berdasarkan sumber yang dikutip, ia memperoleh bayaran sebesar 400.000 euro. Nilai tersebut disebut setara dengan sekitar Rp8 miliar, meskipun jumlah dalam rupiah dapat berubah mengikuti kurs euro terhadap rupiah.

Besaran penghasilan itu juga menjadi salah satu aspek yang membuat keputusan Radja semakin mudah diterima. Secara terbatas, pendapatan yang diperolehnya bersama Bhayangkara FC disebut lebih besar dibandingkan bayaran yang ia terima ketika membela SPAL di Italia. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa tawaran dari klub Indonesia memiliki daya tarik ekonomi yang cukup kuat, terutama untuk kontrak dengan masa kerja hanya enam bulan.

Radja turut menyoroti perbedaan biaya hidup Indonesia dan Italia. Menurut keterangannya, penghasilan yang diterima di Indonesia membuat kebutuhan sehari-hari terasa lebih menguntungkan dibandingkan saat ia tinggal di Italia. Ia memberikan contoh sederhana melalui harga makanan. Seporsi besar nasi goreng di Indonesia, menurut sumber tersebut, dapat diperoleh dengan biaya sekitar dua euro atau kurang lebih Rp40 ribu.

Contoh itu menggambarkan bahwa nilai uang yang diterimanya tidak hanya terlihat dari nominal kontrak, tetapi juga dari daya belinya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, meski Bhayangkara FC bukan pilihan awal, tawaran enam bulan tersebut menghadirkan kombinasi pengalaman baru, kompensasi besar, dan biaya hidup yang dinilai lebih ringan.

Masa Radja Nainggolan bersama Bhayangkara FC berakhir setelah klub tersebut terdegradasi pada akhir musim. Kedatangannya ke Indonesia sempat menjadi salah satu perhatian utama dalam perjalanan kompetisi, terutama karena rekam jejaknya di sepak bola Eropa. Namun, kebersamaan itu berlangsung singkat dan tidak berlanjut ke musim berikutnya. Setelah Bhayangkara FC turun kasta, Radja meninggalkan klub tersebut dan kembali melanjutkan kariernya di Eropa.

Destinasi berikutnya adalah Lokeren-Temse, klub yang berkompetisi di kasta kedua Liga Belgia. Kepindahan itu menandai kembalinya Radja ke lingkungan sepak bola Belgia, negara yang memiliki kaitan kuat dengan perjalanan awal kariernya. Di Lokeren-Temse, ia kembali tercatat sebagai bagian dari kompetisi domestik Belgia setelah sebelumnya menjalani periode singkat di Indonesia bersama Bhayangkara FC. Urutan tersebut menjadi catatan penting dalam perkembangan kariernya setelah meninggalkan sepak bola Indonesia.

Pada musim ini, Radja membela klub kasta kedua Belgia lainnya, Patro Eisden. Dengan demikian, rangkaian kariernya setelah Bhayangkara FC berlangsung melalui tiga tahap utama: meninggalkan klub Indonesia tersebut setelah terdegradasi, bergabung dengan Lokeren-Temse, kemudian memperkuat Patro Eisden. Perjalanan itu menunjukkan bahwa kiprahnya berlanjut di kompetisi Belgia setelah masa singkatnya di Indonesia. Catatan mengenai klub-klub yang dibelanya tersebut mengikuti perkembangan karier Radja sebagaimana disebutkan, tanpa mengubah urutan perpindahan yang telah terjadi.

Baca juga: Penyesalan Radja Nainggolan atas Pilihan Internasional yang Tak Terwujud | Gol Penyelamat Samuel Otusanya Angkat Arema FC Saat Menjamu Bhayangkara | Arema FC Bangkit di Babak Kedua, Bhayangkara Presisi Lampung FC Akui Efektivitas Lawan