Pameran Hutan di MRT Bundaran HI Buka Akses Pengetahuan Museum bagi Warga Jakarta

oleh -104 Dilihat
oleh
Pameran Hutan di MRT Bundaran HI Buka Akses Pengetahuan Museum bagi Warga Jakarta

Jakarta | Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan pameran bertajuk “Hutan dan Peradaban: Dari Ekosistem Kehidupan Menuju Masa Depan” di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta Pusat. Kehadiran pameran ini membawa isu kehutanan dan kebudayaan ke tengah ruang publik yang setiap hari digunakan oleh warga. Para pengguna MRT dapat menemukan informasi mengenai hutan dalam perjalanan mereka, tanpa harus terlebih dahulu mendatangi gedung museum atau ruang pamer konvensional.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta untuk mendekatkan museum dan pengetahuan kebudayaan kepada masyarakat. Stasiun MRT dipilih sebagai ruang interaksi karena memiliki arus pengunjung yang beragam dan berlangsung secara rutin. Dengan menempatkan materi edukasi di lokasi yang mudah dijangkau, informasi tentang hutan dapat diakses oleh lebih banyak kalangan, termasuk warga yang mungkin belum memiliki kesempatan untuk mengunjungi museum.

Pameran ini sekaligus memperluas pemahaman mengenai hubungan hutan, kehidupan manusia, dan perkembangan peradaban. Hutan tidak hanya ditempatkan sebagai bentang alam yang jauh dari kehidupan perkotaan, tetapi juga sebagai bagian dari pengetahuan, kebudayaan, serta pengalaman masyarakat. Penyajiannya di ruang publik memungkinkan topik tersebut hadir dalam konteks keseharian warga Jakarta dan mendorong perhatian terhadap arti penting lingkungan.

Sekretaris Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Retno Setiowati menyampaikan bahwa hutan perlu dipahami bukan hanya sebagai alam yang harus dilindungi. Menurutnya, hutan juga merupakan bagian dari kehidupan dan masa depan manusia. Pandangan ini menempatkan pameran sebagai sarana untuk membangun kesadaran yang lebih luas, yaitu bahwa pelestarian hutan berkaitan dengan keberlanjutan kehidupan, pembentukan kebudayaan, dan arah masa depan bersama. Melalui kegiatan tersebut, pengetahuan museum dapat hadir lebih dekat, terbuka, dan relevan bagi warga Jakarta.

Pameran hutan di area MRT Bundaran HI diselenggarakan melalui kolaborasi dengan Museum Kehutanan dan Asosiasi Museum Indonesia DKI Jakarta “Paramita Jaya”. Kehadiran kedua lembaga tersebut memperkuat fungsi pameran sebagai ruang edukasi publik yang memperkenalkan pengetahuan museum secara lebih dekat kepada warga. Pameran dibuka sejak hari penyelenggaraan dan dapat dikunjungi hingga 18 Oktober 2026, sehingga masyarakat memiliki kesempatan untuk menikmati materi secara langsung di tengah aktivitas perjalanan dan mobilitas kota.

Ragam koleksi yang ditampilkan menggambarkan hutan sebagai ekosistem sekaligus sumber pengetahuan dan pemanfaatan. Pengunjung dapat melihat koleksi kayu, informasi mengenai flora dan fauna, perlengkapan kehutanan, serta berbagai hasil hutan. Materi tersebut membantu menjelaskan karakter bahan, fungsi peralatan, dan hubungan sumber daya alam dengan kehidupan sehari-hari. Penyajian koleksi tidak hanya menekankan nilai benda, tetapi juga proses, lingkungan, dan pengetahuan yang menyertainya.

Pengalaman kunjungan dilengkapi sejumlah unsur interaktif. Layar sentuh dan LED interaktif memungkinkan pengunjung mengakses informasi secara mandiri melalui tampilan visual yang dinamis. Beberapa objek dapat disentuh dan diamati dari dekat, sehingga pemahaman tidak berhenti pada membaca keterangan. Permainan mencocokkan turut mengajak pengunjung menghubungkan jenis koleksi, asal, atau manfaatnya. Sementara itu, aroma station memberikan pengalaman sensorik melalui ragam aroma yang berkaitan dengan hasil hutan, membuat informasi terasa lebih nyata dan mudah diingat.

Panel interpretasi, ilustrasi, dan materi visual menempatkan setiap koleksi dalam konteks yang lebih luas. Hutan ditampilkan sebagai bagian yang berhubungan langsung dengan pangan, bahan, udara, budaya, dan keberlangsungan hidup manusia. Penjelasan tersebut juga mengaitkan hutan dengan Jakarta sebagai kota, termasuk kebutuhan warga terhadap lingkungan yang sehat dan berkelanjutan. Dengan pendekatan ini, pameran menjembatani pengetahuan kehutanan, pengalaman museum, dan realitas perkotaan secara komunikatif.

Pemilihan Stasiun MRT Bundaran HI sebagai lokasi pameran didasarkan pada upaya membawa museum dan pengetahuan kebudayaan lebih dekat kepada masyarakat. Sebagai salah satu titik yang ramai dilalui warga, stasiun ini memiliki jangkauan publik yang luas dan memungkinkan informasi mengenai hutan hadir di tengah aktivitas sehari-hari. Pameran tidak hanya ditujukan kepada pengunjung museum, tetapi juga kepada masyarakat yang mungkin sedang bepergian, bekerja, atau menjalankan kegiatan lain di kawasan pusat Jakarta.

Penempatan pameran di ruang publik menunjukkan bahwa stasiun dapat berfungsi lebih dari sekadar area transit. Ruang tersebut dapat menjadi tempat pembelajaran kebudayaan yang terbuka, mudah diakses, dan berhubungan langsung dengan kehidupan warga. Melalui pameran, pengetahuan museum dihadirkan dalam lingkungan yang akrab bagi masyarakat, sehingga proses mengenal kebudayaan dan lingkungan tidak terbatas pada gedung museum. Langkah ini menjadi bagian dari upaya Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta untuk memperluas akses publik terhadap informasi serta pengalaman edukatif.

Retno Setiowati berharap pameran ini dapat menumbuhkan kesadaran warga, khususnya masyarakat Jakarta, mengenai pentingnya hubungan yang harmonis manusia dan alam. Kesadaran tersebut berkaitan dengan kepedulian terhadap kualitas udara dan keberadaan ruang hijau di kota. Hutan, dalam konteks pameran, menjadi pintu untuk memahami keterkaitan lingkungan alam dan kehidupan perkotaan. Dengan menghadirkan pembelajaran di ruang yang digunakan bersama, pameran ini mendorong perhatian terhadap kualitas lingkungan sebagai bagian dari usaha bersama untuk mewujudkan kota yang sehat dan berkualitas.

Kepala Bidang Pengelolaan Data dan Informasi Kementerian Kehutanan, Nuke Mutikania, menyampaikan bahwa pameran hutan di MRT Bundaran HI berfungsi sebagai jembatan informasi lembaga pemerintah dan masyarakat. Penyelenggaraan yang bertepatan dengan peringatan Hari Museum Indonesia itu menghadirkan data serta dokumentasi visual yang dihimpun Kementerian Kehutanan. Materi tersebut dirancang agar informasi mengenai hutan, pengelolaannya, dan berbagai tantangan pelestarian dapat diakses warga secara lebih dekat, terbuka, dan mudah dipahami.

Melalui pameran ini, Kementerian Kehutanan berupaya memberikan edukasi publik sekaligus memperkuat literasi masyarakat mengenai isu kehutanan. Pengetahuan yang disajikan tidak berhenti pada pengenalan jenis hutan atau kekayaan hayati, tetapi juga menjelaskan hubungan kondisi hutan dan kehidupan sehari-hari. Pemahaman tersebut penting agar kebijakan kehutanan tidak dipandang sebagai sesuatu yang jauh dari kepentingan warga. Dengan informasi yang berbasis data dan disampaikan melalui visual yang komunikatif, masyarakat diharapkan mampu memahami alasan, tujuan, serta dampak berbagai kebijakan dalam menjaga keberlanjutan hutan.

Hutan bukan sekadar hamparan pegunungan hijau yang tampak indah dari kejauhan. Ekosistem ini merupakan fondasi, benteng, dan penopang peradaban karena menyediakan pasokan air, udara segar, serta berbagai manfaat yang menopang kehidupan. Karena itu, peningkatan kesadaran publik perlu dilakukan melalui ruang-ruang pembelajaran yang mudah dijangkau, termasuk museum dan area publik seperti stasiun MRT. Kementerian Kehutanan berharap tema pameran tersebut dapat menginspirasi generasi muda untuk mengenali nilai strategis hutan dan mengambil peran dalam menjaga kelestariannya, baik melalui perilaku sehari-hari maupun keterlibatan dalam upaya perlindungan lingkungan.

Baca juga: Pramono Tegaskan Komitmen Jakarta Inklusif melalui Pendidikan dan Kesempatan bagi Penyandang Disabilitas | Pertemuan Dradjad Wibowo dan Kepala BPS Dijadwalkan Berlangsung di Jakarta | Banjir Bandang di Padang Merendam Rumah dan Memutus Akses Warga