Penguatan Ekosistem Operasional Dinilai Penting bagi Masa Depan Layanan Kesehatan Indonesia

oleh -66 Dilihat
oleh
Penguatan Ekosistem Operasional Dinilai Penting bagi Masa Depan Layanan Kesehatan Indonesia

Jakarta | Penguatan fasilitas dan layanan kesehatan memerlukan perhatian yang seimbang kualitas klinis, kesiapan operasional, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan. Dalam Health Summit 2026, Yohanes Jeffry Johary, Managing Director OCS Indonesia sekaligus President of Indonesia Chapter of IFMA, menyampaikan bahwa pengembangan industri kesehatan perlu ditopang investasi berkelanjutan pada teknologi dan inovasi. Investasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan peralatan medis, tetapi juga mencakup sistem digital, infrastruktur pendukung, keamanan, efisiensi energi, serta solusi yang mampu meningkatkan pengalaman pasien dan tenaga kesehatan.

Menurutnya, manajemen fasilitas memiliki peran penting dalam mengoordinasikan berbagai fungsi yang menopang kegiatan rumah sakit. Peran ini mencakup pengelolaan gedung, utilitas, kebersihan, keselamatan, keamanan, hingga kesinambungan layanan. Koordinasi yang efektif membutuhkan kerja sama erat dengan pimpinan klinis dan unit-unit spesialis agar keputusan operasional selaras dengan kebutuhan medis. Dengan pendekatan terpadu, rumah sakit dapat mengurangi potensi gangguan, mempercepat respons terhadap kebutuhan, dan memastikan setiap ruang maupun layanan siap digunakan secara optimal.

Setiap perjalanan pasien, mulai dari kedatangan, proses pemeriksaan, perawatan, hingga kepulangan, bergantung pada ekosistem operasional rumah sakit. Karena itu, kekuatan ekosistem tersebut perlu dipertimbangkan sebagai salah satu ukuran kesiapan layanan kesehatan, bukan sekadar pelengkap bagi layanan klinis. Fasilitas yang terkelola baik dapat membantu menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan konsisten bagi pasien serta profesional kesehatan.

Penguatan ekosistem operasional juga berpotensi meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan nasional. Apabila kualitas fasilitas, teknologi, dan pengalaman pasien terus berkembang, masyarakat Indonesia dapat semakin terdorong untuk mempertimbangkan berobat di dalam negeri dibandingkan mencari layanan ke luar negeri. Hal itu bukan kepastian, melainkan peluang yang dapat dibangun melalui investasi terarah, kolaborasi lintas fungsi, dan komitmen jangka panjang terhadap mutu layanan.

Sekitar dua tahun sebelumnya, OCS Indonesia mulai mengembangkan konsep regenerative facility management sebagai respons terhadap kebutuhan pengelolaan fasilitas yang semakin kompleks. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada pemeliharaan aset atau efisiensi operasional, tetapi memandang fasilitas sebagai bagian dari ekosistem yang saling terhubung. Di dalamnya terdapat manusia, tempat kerja, masyarakat, dan lingkungan yang secara bersama-sama memengaruhi keberlanjutan layanan. Karena itu, setiap keputusan operasional perlu mempertimbangkan dampaknya dalam jangka panjang, baik terhadap pengguna fasilitas maupun lingkungan di sekitarnya.

Konsep tersebut dirancang sebagai pendekatan terpadu dan antisipatif. Artinya, pengelolaan fasilitas tidak berhenti pada penyelesaian masalah setelah terjadi, melainkan berupaya mengenali risiko, kebutuhan, serta peluang perbaikan sejak awal. Tujuan utamanya adalah menciptakan nilai jangka panjang melalui lingkungan yang lebih sehat, produktif, inklusif, dan berkelanjutan. Pada saat yang sama, pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan organisasi, meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, serta membangun kesiapan menghadapi tantangan masa depan, termasuk perubahan teknologi, kondisi sosial, dan tekanan lingkungan.

Dalam proses pengembangannya, OCS Indonesia melakukan sejumlah uji coba penting untuk menguji relevansi dan penerapan konsep tersebut dalam konteks operasional. Hasilnya memperoleh pengakuan dari IFMA global dan kemudian masuk ke dalam perpustakaan pengetahuan IFMA. Pengakuan ini menjadi validasi bahwa regenerative facility management memiliki nilai dan relevansi bagi perkembangan praktik pengelolaan fasilitas secara internasional. Mulai tahun ini, OCS Indonesia berupaya memperluas penerapannya melalui penguatan kapasitas, penyempurnaan praktik, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Perluasan tersebut diharapkan mendorong terbentuknya sistem operasional yang lebih tangguh, adaptif, dan mampu menghasilkan manfaat berkelanjutan bagi organisasi serta masyarakat.

Menurut Yohanes, regenerative facility management dapat dipahami sebagai pendekatan yang menghubungkan berbagai tanggung jawab dalam pengelolaan fasilitas melalui kerangka operasional yang terpadu dan antisipatif. Pengelolaan tersebut tidak berhenti pada pemeliharaan aset atau penyelesaian gangguan ketika masalah muncul, tetapi mencakup kemampuan membaca kebutuhan, mengurangi risiko, serta menciptakan perbaikan berkelanjutan. Dalam konteks layanan kesehatan, setiap keputusan operasional dapat memengaruhi keselamatan pasien, kenyamanan tenaga kesehatan, efisiensi biaya, dan kesinambungan pelayanan.

Kredibilitas pendekatan ini karenanya tidak cukup diukur dari konsep atau narasi yang menyertainya. Ukurannya terlihat pada keputusan yang diambil dan perubahan yang dapat dibuktikan secara bertahap. Indikatornya dapat berupa keandalan utilitas, ketepatan respons terhadap gangguan, penggunaan sumber daya yang lebih efisien, hingga peningkatan kualitas lingkungan perawatan. Proses evaluasi yang konsisten membantu organisasi memastikan bahwa setiap pembaruan benar-benar menghasilkan nilai, bukan sekadar menambah kompleksitas sistem.

Perspektif tersebut relevan ketika industri kesehatan membahas kemajuan farmasi dan inovasi alat kesehatan. Penemuan obat, teknologi diagnostik, atau perangkat medis baru memang memperluas kemampuan klinis, tetapi manfaatnya bergantung pada sistem yang menopangnya. Infrastruktur yang andal, tenaga kerja dengan kompetensi sesuai, prosedur yang jelas, serta tata kelola yang disiplin diperlukan agar kemampuan baru dapat diterapkan secara aman dan konsisten. Tanpa dukungan itu, inovasi berisiko tidak mencapai dampak yang diharapkan atau hanya tersedia secara terbatas.

Pembagian peran yang disampaikan Yohanes menegaskan hubungan tersebut: kebijakan menentukan arah, inovasi memperluas kemampuan, sedangkan ekosistem operasional memastikan layanan tetap berjalan. Ketiganya perlu dirancang sebagai satu kesatuan, bukan sebagai agenda yang berdiri sendiri. Rumah sakit masa depan bukan hanya harus semakin canggih, tetapi juga memperkuat seluruh infrastruktur, sumber daya manusia, proses, dan tata kelola yang menjaga keberlangsungan pelayanan. Dengan fondasi tersebut, kemajuan teknologi dapat diterjemahkan menjadi manfaat yang stabil, terukur, dan berkelanjutan bagi pasien maupun tenaga kesehatan.

Menurut Yohanes, rumah sakit yang ingin mencoba pendekatan penguatan ekosistem operasional dapat memulainya melalui penerapan selama 90 hari. Periode tersebut ditempatkan sebagai bagian dari program perbaikan jangka panjang, bukan sebagai kegiatan yang berdiri sendiri. Karena itu, penerapan awal perlu memiliki kerangka yang jelas agar rumah sakit dapat memahami kondisi yang hendak diperbaiki, pihak yang terlibat, serta cara menilai perkembangan selama proses berlangsung.

Pilar pertama adalah menetapkan kondisi dasar atau baseline. Rumah sakit perlu memiliki gambaran mengenai keadaan operasional sebelum pendekatan diterapkan. Baseline menjadi titik awal untuk memahami posisi organisasi dan memberikan dasar pembanding dalam melihat perubahan. Penetapan kondisi dasar juga membantu memastikan bahwa pembahasan perbaikan berangkat dari keadaan yang dipahami bersama.

Pilar kedua adalah memilih persoalan operasional yang menjadi prioritas. Tidak seluruh persoalan harus ditangani pada waktu yang sama. Rumah sakit perlu menentukan masalah operasional yang akan menjadi perhatian dalam penerapan awal tersebut. Pemilihan prioritas membuat upaya perbaikan memiliki fokus dan membantu organisasi mengarahkan perhatian pada persoalan yang telah disepakati.

Pilar ketiga adalah menentukan pihak yang bertanggung jawab. Kejelasan tanggung jawab diperlukan agar pelaksanaan tidak berhenti pada kesepakatan umum. Pihak yang ditetapkan memiliki peran dalam mengawal penerapan pendekatan dan memastikan persoalan yang dipilih tetap menjadi perhatian selama proses berjalan. Penentuan tanggung jawab juga memperjelas keterlibatan setiap pihak dalam upaya perbaikan.

Pilar keempat adalah menyepakati metode untuk mengukur kemajuan. Rumah sakit perlu memiliki kesepakatan mengenai cara perkembangan penerapan akan dinilai. Metode tersebut menjadi acuan bersama untuk melihat kemajuan dari kondisi awal menuju perubahan yang diupayakan. Keempat langkah ini merupakan kerangka awal penerapan pendekatan selama 90 hari, bukan rincian keseluruhan program perbaikan jangka panjang.

Baca juga: Impor Beras Dinilai Mengalihkan Manfaat Ekonomi dari Petani Indonesia | Rupiah Berbalik Tertekan di Tengah Penguatan Dolar dan Gejolak Global | Kesaksian Gatot Mengungkap Permintaan Setoran Operasional Rp200 Juta Tiap Bulan