JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, PT PP (Persero) Tbk atau PTPP mencatat perolehan kontrak baru senilai Rp9,3 triliun hingga Agustus 2026. Capaian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas bisnis perseroan tetap berjalan positif di tengah kebutuhan perusahaan untuk menjaga kualitas pertumbuhan. Perolehan kontrak itu mencakup berbagai pekerjaan yang mendukung portofolio PTPP, sekaligus memperkuat posisi perseroan sebagai salah satu pelaku utama di industri konstruksi nasional.
Sekretaris Perusahaan PTPP Joko Raharjo menyampaikan bahwa pencapaian tersebut merupakan bagian dari strategi perseroan untuk memperkuat bisnis inti. Menurutnya, perusahaan tidak semata-mata mengejar jumlah kontrak yang besar, tetapi juga menerapkan pendekatan selektif dalam menentukan proyek yang akan diambil. Setiap peluang dievaluasi dengan mempertimbangkan kualitas kontrak, profil risiko, serta potensi kontribusinya terhadap kinerja perusahaan.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena pertumbuhan nilai kontrak tidak selalu sejalan dengan peningkatan kinerja apabila proyek memiliki risiko tinggi atau tingkat keuntungan yang terbatas. Dengan selektivitas itu, PTPP dapat mengalokasikan sumber daya secara lebih terukur, menjaga arus kas, serta meningkatkan peluang terciptanya hasil usaha yang sehat. Evaluasi terhadap calon proyek juga membantu perseroan mengantisipasi risiko pelaksanaan, perubahan biaya, dan kondisi pasar.
Strategi back to core yang dijalankan PTPP mencerminkan upaya mengarahkan kembali portofolio perseroan pada bisnis inti konstruksi. Fokus tersebut diharapkan membuat pengelolaan proyek lebih efektif dan memperkuat keahlian yang telah menjadi dasar operasional perusahaan. Dengan menempatkan kualitas dan kesinambungan sebagai pertimbangan utama, perolehan kontrak baru tidak hanya dipandang sebagai pencapaian nilai, tetapi juga sebagai fondasi untuk menjaga pertumbuhan PTPP agar tetap sehat, terukur, dan berkelanjutan.
Komposisi kontrak baru PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk atau PTPP hingga Agustus 2026 menunjukkan bahwa proyek yang didanai pemerintah menjadi sumber utama perolehan pekerjaan perseroan. Segmen tersebut menyumbang 66 persen dari total kontrak baru yang berhasil dikantongi. Porsi ini menjadi yang terbesar dibandingkan sumber pendanaan lainnya, sehingga memperlihatkan kuatnya peran proyek pemerintah dalam menopang pertumbuhan kontrak PTPP sepanjang periode berjalan.
Besarnya kontribusi proyek pemerintah mencerminkan posisi perseroan dalam mengerjakan berbagai pembangunan yang berkaitan dengan kebutuhan publik dan agenda infrastruktur nasional. Pendanaan pemerintah juga menjadi elemen penting dalam portofolio PTPP, terutama ketika perseroan berupaya menjaga kesinambungan proyek di tengah dinamika industri konstruksi. Dominasi tersebut menandakan bahwa perolehan kontrak hingga Agustus 2026 masih sangat dipengaruhi oleh realisasi proyek dari sektor pemerintahan.
Di luar proyek pemerintah, sumber kontrak PTPP juga berasal dari sektor swasta dan perusahaan milik negara. Proyek swasta memberikan kontribusi sebesar 18 persen, sedangkan proyek BUMN menyumbang 16 persen. Kedua segmen ini tetap menjadi bagian dari portofolio pekerjaan perseroan, meskipun porsinya berada di bawah proyek yang didanai pemerintah.
Komposisi tersebut memperlihatkan struktur perolehan kontrak yang relatif beragam, tetapi tetap didominasi oleh sumber pendanaan pemerintah. Kontribusi dari sektor swasta menunjukkan adanya ruang bagi PTPP untuk memperoleh pekerjaan dari pelaku usaha di luar pemerintahan. Sementara itu, porsi proyek BUMN menegaskan keberlanjutan kerja sama perseroan dalam lingkungan korporasi milik negara. Dengan demikian, hingga Agustus 2026, proyek pemerintah menjadi penopang utama kontrak baru PTPP, sedangkan segmen swasta dan BUMN berfungsi sebagai pelengkap yang turut memperkaya basis pekerjaan perseroan.
Sebaran kontrak baru PT PP (PTPP) hingga Agustus 2026 menunjukkan kontribusi terbesar berasal dari sektor jalan dan jembatan. Bidang ini menyumbang 38 persen dari total kontrak baru yang dikantongi perseroan, sehingga menjadi lini dengan porsi paling dominan dalam komposisi bisnis tersebut. Kontrak pada sektor ini mencakup pekerjaan yang berkaitan dengan pembangunan atau pengerjaan jalan dan jembatan sesuai portofolio usaha konstruksi PTPP.
Setelah jalan dan jembatan, sektor gedung memberikan kontribusi sebesar 18 persen. Posisi berikutnya ditempati sektor smelter dan pertambangan dengan porsi 16 persen. Kedua sektor tersebut menjadi bagian penting dalam sebaran kontrak baru berdasarkan bidang usaha, dengan nilai kontribusi yang berada di bawah jalan dan jembatan, tetapi lebih besar dibandingkan sektor-sektor lainnya.
Sektor rumah sakit dan bandara masing-masing menyumbang 8 persen. Selanjutnya, infrastruktur air berkontribusi sebesar 6 persen terhadap keseluruhan kontrak baru. Porsi berikutnya berasal dari sektor sekolah sebesar 3 persen, pelabuhan sebesar 2 persen, serta sumber daya air sebesar 1 persen. Urutan tersebut memperlihatkan distribusi kontrak baru PTPP dari kontribusi terbesar hingga terkecil, mulai dari jalan dan jembatan, gedung, smelter dan pertambangan, rumah sakit serta bandara, infrastruktur air, sekolah, pelabuhan, hingga sumber daya air.
Perolehan kontrak baru PTPP pada Agustus 2026 memperkuat kinerja perseroan di sektor infrastruktur dan transportasi. Salah satu proyek yang berhasil diamankan adalah pembangunan Jalan Hauling Batubara Stage III dengan nilai kontrak Rp970 miliar. Proyek ini mendukung kebutuhan konektivitas dalam kegiatan angkutan batubara, sekaligus memperluas portofolio PTPP pada pembangunan infrastruktur pendukung sektor energi.
Selain itu, PTPP memperoleh pekerjaan pembangunan halte Bus Rapid Transit (BRT) Metropolitan Mebidang di Medan senilai Rp538,5 miliar. Pembangunan tersebut menjadi bagian dari upaya pengembangan transportasi publik di kawasan metropolitan Medan, Binjai, dan Deli Serdang. Perseroan juga mencatat proyek lanjutan Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta sebagai bagian dari kontrak yang diperoleh pada periode tersebut. Nilai kontrak untuk proyek lanjutan ini belum disampaikan.
Direktur Utama PTPP Joko Raharjo menyampaikan bahwa perseroan akan mengoptimalkan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki untuk memperoleh proyek di berbagai sektor. Strategi tersebut dijalankan dengan tetap menjaga kualitas pekerjaan serta menerapkan disiplin manajemen risiko. Pendekatan ini dinilai penting untuk mendukung pertumbuhan kontrak secara berkelanjutan, terutama ketika persaingan dalam industri konstruksi dan infrastruktur semakin ketat.
Pada Desember 2025, perusahaan menargetkan perolehan kontrak baru sepanjang 2026 mencapai Rp23,5 triliun. Target tersebut menjadi acuan bagi PTPP dalam memperluas peluang usaha, baik melalui proyek pemerintah maupun sektor swasta. Di sisi lain, konsolidasi BUMN karya turut menjadi konteks perkembangan industri. Pada 2 Oktober 2026, Danantara menyatakan akan memprioritaskan proses penggabungan PTPP, Adhi Karya, Brantas Abipraya, dan Nindya Karya. Proses tersebut berpotensi memengaruhi peta bisnis dan koordinasi perusahaan karya negara, meski pelaksanaannya tetap bergantung pada tahapan serta keputusan resmi berikutnya.


