Strategi Pertamina Menjaga Ketahanan Energi Sambil Menekan Emisi

oleh -74 Dilihat
oleh
Strategi Pertamina Menjaga Ketahanan Energi Sambil Menekan Emisi

KOTA BATAM, KEPULAUAN RIAU — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Peralihan menuju sistem energi rendah karbon perlu dijalankan dengan tetap menjaga keandalan pasokan dan keterjangkauan energi bagi masyarakat. Bagi Pertamina, kebutuhan energi saat ini tidak dapat ditunda hanya karena proses dekarbonisasi sedang berlangsung. Masyarakat dan kegiatan ekonomi tetap memerlukan bahan bakar, listrik, serta berbagai produk energi yang tersedia secara berkesinambungan. Karena itu, pemenuhan kebutuhan energi sekarang berjalan bersamaan dengan persiapan untuk membangun sistem energi yang lebih bersih pada masa mendatang.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menempatkan keandalan pasokan sebagai fondasi dalam transisi energi. Keandalan tersebut mencakup kemampuan menyediakan energi secara konsisten, menjaga akses masyarakat, serta mempertahankan keterjangkauan di tengah perubahan teknologi dan sumber energi. Tanpa fondasi pasokan yang kuat, perubahan menuju energi rendah karbon berisiko mengganggu aktivitas masyarakat dan perekonomian. Oleh sebab itu, Pertamina terus memenuhi kebutuhan energi yang ada sembari menyiapkan teknologi, infrastruktur, dan sumber energi rendah karbon untuk menjawab kebutuhan di masa depan.

Pendekatan ini memandang keandalan dan dekarbonisasi sebagai tahapan yang saling melengkapi, bukan dua pilihan yang harus dipertentangkan. Infrastruktur dan kapasitas energi yang tersedia dapat menjadi dasar untuk memperkenalkan teknologi rendah emisi secara bertahap, sementara pengembangan energi rendah karbon dilakukan untuk memperkuat sistem dalam jangka panjang. Langkah tersebut mencakup persiapan teknologi, pembangunan infrastruktur pendukung, dan pengembangan sumber energi yang sesuai dengan kebutuhan nasional. Dengan menjalankan kedua agenda secara bersamaan, Pertamina berupaya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menyediakan dasar yang mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

Transisi energi tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi, tetapi juga dengan penyediaan listrik yang mendukung kehidupan dan kegiatan ekonomi masyarakat. Penerapan pendekatan tersebut terlihat melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Pulau Sembur di Kota Batam, Kepulauan Riau. Sebelum proyek ini hadir, wilayah tersebut mengandalkan pembangkit berbahan bakar diesel untuk memenuhi kebutuhan listrik. Ketergantungan tersebut membuat pasokan energi terpapar biaya operasional dan fluktuasi harga bahan bakar, sekaligus menghasilkan emisi dari proses pembangkitan.

PLTS Pulau Sembur dibangun dengan kapasitas 1 megawatt peak (MWp) dan dilengkapi baterai penyimpanan berkapasitas 1 megawatt hour (MWh). Kombinasi pembangkit surya dan sistem penyimpanan membantu menjaga ketersediaan listrik ketika intensitas matahari berubah atau kebutuhan meningkat. Manfaatnya dirasakan oleh lebih dari 200 rumah tangga yang memperoleh akses energi lebih bersih dan andal. Pengurangan penggunaan diesel juga berkontribusi terhadap penurunan emisi serta menciptakan sistem kelistrikan yang lebih sesuai dengan karakter wilayah kepulauan.

Dampak proyek tersebut melampaui kebutuhan rumah tangga karena listriknya terhubung langsung dengan aktivitas produktif warga. Pasokan energi digunakan untuk mengoperasikan fasilitas cold storage dan ice maker, yang berperan penting dalam menjaga kualitas hasil tangkapan nelayan setelah ikan didaratkan. Dengan pendinginan yang memadai, produk dapat bertahan lebih lama, memenuhi standar kualitas, dan memiliki peluang memperoleh nilai jual yang lebih baik. Nelayan juga dapat mengurangi kerugian akibat kerusakan hasil tangkapan serta memperluas pilihan waktu dan pasar penjualan.

Integrasi pasokan listrik terbarukan dan kebutuhan usaha menunjukkan bahwa energi bersih dapat memberikan manfaat langsung bagi kegiatan produktif dan penghidupan masyarakat. PLTS Pulau Sembur karena itu tidak sekadar menjadi infrastruktur rendah emisi, melainkan bagian dari ekosistem ekonomi lokal yang memperkuat ketahanan warga. Proyek ini dipandang sebagai model yang dapat direplikasi di wilayah kepulauan lain dengan tantangan pasokan listrik dan kebutuhan ekonomi serupa.

Pertamina memperluas pemanfaatan sumber energi alternatif dengan mengembangkan bahan bakar nabati yang berasal dari sumber daya domestik. Salah satu agenda utamanya adalah peningkatan pemanfaatan biodiesel melalui pengembangan campuran B50, yaitu bahan bakar yang mengandung 50 persen minyak sawit dan 50 persen solar. Pengembangan ini memerlukan kesiapan bahan baku, fasilitas pengolahan, standar mutu, serta penyesuaian teknologi kendaraan dan mesin. Apabila diterapkan secara bertahap dan didukung kebijakan yang tepat, B50 dapat memperbesar porsi energi terbarukan dalam sektor transportasi.

Selain biodiesel, Pertamina mengembangkan bioetanol berbasis tebu sebagai campuran bensin. Pemanfaatan tebu sebagai bahan baku menghubungkan sektor energi dengan potensi pertanian nasional, sekaligus membuka peluang peningkatan nilai tambah komoditas dalam negeri. Biodiesel dan bioetanol merupakan sumber energi alternatif karena keduanya menggantikan sebagian bahan bakar fosil dalam kegiatan transportasi. Penggunaannya dapat membantu mengurangi ketergantungan pada impor BBM, memperkuat neraca energi, dan meningkatkan ketahanan energi nasional. Dampak tersebut tetap bergantung pada ketersediaan pasokan yang berkelanjutan, efisiensi produksi, serta pengelolaan lahan dan lingkungan yang bertanggung jawab.

Langkah berikutnya ditempuh melalui pengembangan teknologi carbon capture and storage (CCS). Berbeda dari bahan bakar nabati yang menyediakan alternatif bagi sumber energi fosil, CCS berfungsi menangkap karbon dioksida dari fasilitas industri atau pembangkit sebelum emisi tersebut dilepaskan ke atmosfer. Karbon yang telah ditangkap kemudian diangkut dan disimpan dalam formasi geologis yang sesuai, dengan pemantauan untuk memastikan keamanannya dalam jangka panjang.

Pertamina menjajaki kerja sama CCS dengan Jepang, Korea, dan negara-negara ASEAN lainnya. Kolaborasi ini dapat memperluas akses terhadap teknologi, keahlian teknis, pembiayaan, serta kerangka regulasi lintas negara. Dalam strategi dekarbonisasi, CCS ditempatkan sebagai pelengkap bagi efisiensi energi dan pengembangan energi terbarukan, khususnya pada sektor yang sulit menghilangkan seluruh emisinya. Dengan demikian, diversifikasi bahan bakar dan penangkapan karbon menjalankan fungsi berbeda, tetapi saling mendukung dalam menekan emisi serta menjaga kesinambungan pasokan energi.

Dukungan pemerintah menjadi salah satu fondasi penting dalam mempercepat transisi energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM RI Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan bahwa pemerintah terus mendorong investasi di sektor-sektor strategis, termasuk energi. Dorongan tersebut dilakukan melalui penyederhanaan perizinan, pemberian kepastian berusaha, serta penyediaan berbagai fasilitas investasi yang dapat meningkatkan daya tarik Indonesia bagi investor domestik maupun global. Kebijakan ini diharapkan mempercepat pembangunan infrastruktur energi, memperluas kapasitas industri, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

Rosan juga menyoroti proyek waste-to-energy di sejumlah wilayah sebagai peluang investasi yang relevan dengan agenda keberlanjutan Indonesia. Pemanfaatan sampah sebagai sumber energi tidak hanya membantu mengurangi beban tempat pembuangan akhir, tetapi juga membuka ruang bagi penerapan teknologi rendah emisi dan pengembangan ekonomi sirkular. Dengan dukungan regulasi, pembiayaan, serta kolaborasi pemerintah dan badan usaha, proyek tersebut dapat menjadi bagian dari solusi pengelolaan sampah sekaligus memperkuat pasokan energi lokal.

Di tingkat korporasi, VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menjelaskan strategi dual growth yang menjadi arah pengembangan perusahaan. Strategi pertama ialah memperkuat bisnis minyak dan gas bumi untuk menjaga ketahanan serta keterjangkauan energi, terutama ketika kebutuhan nasional terus meningkat. Strategi kedua adalah memperbesar bisnis rendah karbon dan energi terbarukan sebagai pijakan menuju target net zero emission (NZE) 2060. Pendekatan ganda ini memungkinkan Pertamina memenuhi kebutuhan energi saat ini tanpa mengabaikan tuntutan pengurangan emisi.

Pengembangan energi terbarukan, bahan bakar nabati, dan teknologi penangkapan serta penyimpanan karbon atau carbon capture and storage (CCS) ditempatkan sebagai bagian terpadu dari upaya tersebut. Ketiganya mendukung pembentukan sistem energi rendah karbon, sembari mempertahankan keandalan pasokan dan menjawab kebutuhan energi nasional. Melalui investasi yang terarah dan diversifikasi portofolio, agenda transisi dapat berjalan secara bertahap, realistis, dan tetap selaras dengan sasaran pembangunan Indonesia.