Dua Kejadian yang Mengingatkan Orangtua untuk Mengutamakan Keselamatan Anak

oleh -133 Dilihat
oleh
Dua Kejadian yang Mengingatkan Orangtua untuk Mengutamakan Keselamatan Anak

Samarinda | Dua kejadian yang diberitakan dalam waktu berdekatan menjadi pengingat tentang pentingnya pengawasan orangtua terhadap anak. Di Samarinda, Kalimantan Timur, seorang anak berusia tiga tahun jatuh dari balkon lantai lima sebuah hotel ketika orangtuanya sedang sarapan di restoran hotel. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa situasi yang mungkin terasa rutin bagi orang dewasa tetap dapat menyisakan risiko bagi anak kecil, terutama ketika mereka berada di lingkungan yang memiliki akses ke area berbahaya. Informasi yang tersedia tidak menjelaskan lebih jauh bagaimana anak tersebut mencapai balkon atau keadaan setelah kejadian, sehingga kedua hal itu tidak dapat diasumsikan.

Beberapa hari kemudian, pendaki menemukan seorang anak berusia di bawah tiga tahun menangis sendirian di dalam tenda di kawasan Gunung Prau. Saat itu, orangtuanya melanjutkan perjalanan menuju puncak. Menurut keterangan orangtua, anak tersebut dititipkan kepada seorang teman yang berada di tenda sebelah. Namun, ketika anak terbangun, orang yang diminta menjaganya sedang tertidur. Kejadian ini berbeda dari insiden di hotel, baik dari tempat maupun situasinya. Keduanya tidak perlu disamakan untuk menunjukkan bahwa pengawasan yang tidak berlangsung aktif dapat membuat anak berada dalam keadaan rentan.

Rangkaian peristiwa tersebut menjadi konteks untuk memahami pentingnya keputusan pengasuhan yang mempertimbangkan usia, kebutuhan, dan kemampuan anak menghadapi lingkungan. Psikolog klinis Indah Sulistyorini menjelaskan bahwa keselamatan anak berkaitan erat dengan tahap perkembangan mereka. Anak yang masih sangat kecil belum mampu mengenali bahaya atau memastikan keselamatannya sendiri, sehingga orang dewasa perlu mengatur lingkungan dan memastikan ada pengawasan yang benar-benar berjalan. Menitipkan anak kepada orang lain pun memerlukan kesepakatan yang jelas serta kepastian bahwa penjaga sedang terjaga dan siap merespons. Perhatian ini bukan dimaksudkan untuk menghakimi keluarga dalam pemberitaan, melainkan untuk menyoroti prinsip umum: kebutuhan anak harus menjadi pertimbangan utama sebelum orangtua mengambil keputusan, baik saat berada di hotel maupun ketika berkegiatan di alam terbuka. Pengalaman tersebut mendorong pembahasan lebih luas mengenai bagaimana orangtua menilai risiko, memilih pengasuh, dan menyesuaikan aktivitas dengan kebutuhan keselamatan anak.Anak berusia tiga tahun belum memiliki kemampuan untuk memperkirakan akibat maupun tingkat bahaya dari tindakan yang dilakukannya. Pada usia ini, rasa ingin tahu biasanya mendorong anak untuk melihat, menyentuh, atau mendatangi hal-hal yang menarik perhatian. Namun, dorongan untuk mengeksplorasi lingkungan tersebut tidak berarti anak sudah dapat menilai apakah suatu tindakan aman. Kemampuan berpikir tentang konsekuensi masih berkembang, sehingga anak dapat bertindak tanpa memahami risiko yang mungkin menyertainya.

Indah menyampaikan pandangan tersebut melalui sambungan telepon pada Minggu (18/10/2026). Penjelasannya menekankan bahwa keterbatasan anak dalam memahami bahaya merupakan bagian dari tahap perkembangannya, bukan tanda bahwa anak sengaja mengabaikan aturan atau mampu bertanggung jawab seperti orang dewasa. Karena itu, orangtua dan orang dewasa di sekitarnya tetap memiliki peran penting untuk mengawasi, mengarahkan, serta melindungi anak dalam kegiatan sehari-hari.

Memahami tahap perkembangan anak membantu orangtua menetapkan pengawasan yang sesuai. Aktivitas sebaiknya dinilai berdasarkan kemampuan anak saat itu, bukan berdasarkan anggapan bahwa ia dapat memperkirakan risiko dengan cara berpikir orang dewasa. Instruksi sederhana mungkin dapat disampaikan, tetapi anak tetap belum tentu memahami seluruh dampak dari tindakannya atau mampu menerapkan peringatan secara konsisten. Pengawasan langsung dan lingkungan yang aman diperlukan, terutama ketika perhatian orang dewasa sedang terbagi.

Pemahaman ini relevan dengan kejadian seorang anak yang tertinggal saat orangtuanya sarapan. Anak usia tiga tahun mungkin bergerak atau tertarik pada sesuatu tanpa menyadari bahwa ia telah terpisah dari orangtuanya ataupun bahwa situasi tersebut berbahaya. Oleh sebab itu, keselamatan tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada kemampuan anak untuk mengikuti orang dewasa atau menyadari risikonya. Orangtua perlu memastikan keberadaan anak secara berkala dan mengatur kegiatan agar anak tetap dalam jangkauan pengawasan. Sikap tersebut bukan berarti membatasi rasa ingin tahu anak, melainkan memberi ruang eksplorasi dengan perlindungan yang sesuai. Dengan memahami bahwa kemampuan memperkirakan konsekuensi masih terbatas, orangtua dapat mengambil langkah pencegahan yang lebih realistis dan menghindari tuntutan yang belum sesuai dengan usia anak.

Perhatian orangtua terhadap keselamatan anak tidak hanya berkaitan dengan perlindungan fisik, tetapi juga dengan kebutuhan emosionalnya. Pada masa awal kehidupan, anak membangun kelekatan dengan orang-orang yang merawatnya. Hubungan ini membantu anak merasa aman dan menjadi dasar untuk memahami bahwa orang dewasa yang dipercaya akan hadir ketika dibutuhkan. Karena itu, kondisi anak saat terpisah dari orangtuanya perlu dipertimbangkan, bukan hanya lokasi atau bahaya yang mungkin ada di sekitarnya.

Dalam peristiwa di tenda, anak terbangun dan tidak menemukan orangtuanya. Bagi anak kecil, keadaan tersebut dapat menimbulkan ketakutan dan kecemasan. Ia belum tentu memahami bahwa orangtuanya hanya pergi sementara untuk menuju puncak dan akan kembali. Penjelasan yang dapat dipahami orang dewasa belum tentu cukup bagi anak yang baru terbangun, berada di tempat asing, atau belum mampu memahami durasi perpisahan. Pada saat itu, hilangnya sosok yang biasanya memberi rasa aman dapat terasa membingungkan.

Menurut Indah, pengalaman yang mengganggu rasa aman berpotensi memengaruhi cara anak menjalin hubungan dengan orang lain. Pengalaman tersebut juga dapat berkaitan dengan pola kelekatan yang tidak sehat di kemudian hari. Namun, dampak setiap peristiwa tidak sama bagi semua anak. Usia, pengalaman sebelumnya, situasi ketika perpisahan terjadi, serta respons orang dewasa setelahnya dapat turut berperan. Karena itu, penting untuk tidak langsung menyimpulkan dampak jangka panjang dari satu kejadian, sekaligus tetap memperhatikan reaksi dan kebutuhan anak.

Ketika hendak menitipkan anak di bawah tiga tahun, memastikan ada orang lain di dekatnya saja belum memadai. Orangtua perlu mempertimbangkan apakah anak mengenal orang tersebut dan merasa nyaman bersamanya. Anak mungkin memerlukan waktu untuk terbiasa, terutama jika pengasuh bukan sosok yang rutin ditemuinya. Kepercayaan tidak terbentuk hanya karena orangtua menjelaskan bahwa ia aman atau karena orang dewasa itu bersedia menjaga. Perkenalan bertahap, kehadiran orangtua pada awalnya, dan pengamatan terhadap respons anak dapat membantu memastikan bahwa kebutuhan emosionalnya ikut diperhatikan saat pengasuhan dialihkan.

Dua peristiwa tersebut, menurut Indah, perlu menjadi pengingat bagi pasangan muda yang memiliki anak kecil bahwa keselamatan anak tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab orangtua. Anak yang masih kecil membutuhkan pengawasan yang memadai, sehingga meninggalkannya tanpa pengawasan dapat menempatkannya dalam keadaan rentan. Pesan ini bukan semata-mata berkaitan dengan kejadian tertentu, melainkan juga dengan kesadaran akan besarnya tanggung jawab yang menyertai pengasuhan. Indah menekankan bahwa orangtua perlu menempatkan kebutuhan dan keselamatan anak sebagai prioritas, bukan menganggap pengawasan sebagai hal yang dapat diabaikan. Dengan demikian, kedua peristiwa itu dapat dipandang sebagai pelajaran mengenai pentingnya tanggung jawab dalam kehidupan keluarga.

Keputusan untuk memiliki anak, lanjut Indah, perlu disertai kesiapan untuk mengutamakan kebutuhan anak. Kesiapan tersebut mencakup kesediaan orangtua menjadikan keselamatan anak sebagai pertimbangan penting dalam menjalani peran sehari-hari. Menjadi orangtua bukan hanya keputusan untuk membentuk keluarga, tetapi juga komitmen untuk hadir dan memenuhi tanggung jawab terhadap anak yang bergantung pada mereka. Karena itu, pasangan muda perlu memahami bahwa kebutuhan anak tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga mencakup perhatian dan pengawasan yang memadai.