Jejak Pengungkapan Laboratorium Sabu di Pidie: Barang Bukti, Jaringan, dan Pengejaran Tersangka

oleh -61 Dilihat
oleh
Jejak Pengungkapan Laboratorium Sabu di Pidie: Barang Bukti, Jaringan, dan Pengejaran Tersangka

Kabupaten Pidie | Aparat gabungan dari Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Bea Cukai membongkar sebuah laboratorium narkotika rahasia di Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, Aceh, pada Jumat, 23 Oktober 2026. Pengungkapan tersebut berlangsung di dua ruko yang digunakan sebagai lokasi kegiatan produksi. Keberadaan fasilitas itu menunjukkan bahwa tempat usaha yang tampak biasa dapat dimanfaatkan untuk menyamarkan aktivitas ilegal, sehingga koordinasi lintas lembaga menjadi penting dalam menelusuri dan menangani jaringan narkotika.

Laboratorium yang ditemukan di Pidie itu disebut sebagai yang terbesar di Indonesia. Pernyataan tersebut menggambarkan skala pengungkapan dan besarnya barang bukti yang diamankan, meskipun penetapan skala tetap menjadi ranah keterangan resmi aparat. Dalam penggerebekan di lokasi, petugas mengamankan sejumlah orang yang disebut sebagai tersangka, masing-masing berinisial LJ, F, MY, AK, dan AY. Inisial-inisial itu merujuk pada orang yang diamankan dalam perkara ini; informasi yang tersedia tidak memastikan hubungan mereka dengan nama-nama lain yang mungkin disebut dalam pemberitaan terkait.

Petugas juga menemukan 20 drum berisi sabu cair serta sekitar 500 gram sabu dalam bentuk kristal. Jika dihitung bersama barang bukti lain yang tercatat dalam pengungkapan tersebut, totalnya mencapai 1,2 ton bruto. Angka bruto menunjukkan berat keseluruhan sebagaimana ditimbang, sehingga tidak serta-merta menggambarkan berat bersih zat narkotika. Temuan sabu cair dalam jumlah besar, disertai produk kristal, menjadi bagian penting dari penyidikan untuk mengungkap proses produksi dan alur peredaran.

Pengamanan lokasi dan barang bukti menjadi tahap awal untuk memastikan seluruh temuan dapat diperiksa serta didokumentasikan. Selanjutnya, penyidik perlu mendalami peran setiap tersangka, asal bahan, peralatan yang digunakan, dan kemungkinan keterlibatan pihak lain. Rincian tersebut belum dapat disimpulkan hanya dari penggerebekan, dan harus diuji melalui penyidikan serta proses hukum. Pengungkapan laboratorium di dua ruko ini menyoroti pentingnya kerja bersama Polri, BNN, dan Bea Cukai dalam menghadapi produksi narkotika berskala besar, sekaligus perlunya kehati-hatian dalam menyampaikan identitas maupun hubungan antarorang sebelum ada kepastian resmi.

Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menyampaikan bahwa dua warga negara China berinisial LJ, berusia 45 tahun, dan XM, berusia 42 tahun, ditangkap dalam operasi terkait pengungkapan laboratorium sabu di Pidie. Keterangan tersebut menempatkan keduanya sebagai bagian dari perkembangan penyidikan yang disampaikan kepada publik. Kapolri menyebut mereka didatangkan secara khusus untuk menangani aspek kimia dalam pembuatan sabu, dengan posisi yang digambarkan sebagai peracik utama.

Dalam keterangannya, Kapolri menyebut, “Keduanya didatangkan khusus sebagai ahli kimia atau peracik utama sabu.” Pernyataan itu menjelaskan dugaan fungsi yang dikaitkan aparat dengan LJ dan XM, bukan uraian mengenai rincian tugas lain. Informasi yang disampaikan juga tidak merinci bentuk keahlian mereka, proses perekrutan, ataupun hubungan keduanya dengan pihak-pihak lain. Karena itu, peran yang dapat dicatat pada tahap ini terbatas pada sebutan sebagai ahli kimia atau peracik utama, sebagaimana disampaikan Kapolri.

Menurut pemeriksaan aparat, LJ dan XM pernah berada di Aceh selama 10 hari pada Juni 2026 untuk memetakan wilayah. Setelah itu, keduanya kembali ke Malaysia. Urutan perjalanan tersebut menjadi bagian dari informasi pemeriksaan yang disampaikan dalam kaitan dengan operasi penangkapan. Keterangan yang tersedia tidak menyebutkan lokasi tertentu yang dipetakan, kegiatan rinci selama kunjungan, ataupun apa yang dilakukan setelah mereka kembali ke Malaysia. Dengan demikian, informasi mengenai keberadaan mereka di Aceh perlu dipahami sebatas durasi, waktu, tujuan pemetaan wilayah, dan kepulangan yang disebut aparat.

Penyebutan inisial dan usia kedua warga negara China itu, beserta keterangan mengenai perjalanan mereka, memberikan gambaran terbatas tentang temuan penyidik. Keterangan Kapolri juga membedakan dugaan fungsi mereka dalam perkara dari informasi perjalanan yang diperoleh melalui pemeriksaan. Sampai ada penjelasan lebih lanjut dari aparat, tidak tepat menambahkan dugaan mengenai keterlibatan lain atau menguraikan posisi mereka melampaui keterangan yang telah disampaikan. Fokus informasi publik pada bagian ini adalah penangkapan LJ dan XM, sebutan sebagai ahli kimia atau peracik utama, serta perjalanan mereka ke Aceh pada Juni 2026 sebelum kembali ke Malaysia.

Menurut kronologi yang tersedia, aparat mulai mendeteksi pergerakan jaringan narkotika yang diduga berasal dari China sejak Februari 2026. Pada tahap awal ini, pemantauan diarahkan pada aktivitas jaringan dan orang-orang yang kemudian dikaitkan dengan laboratorium sabu di Pidie. Informasi tersebut menjadi landasan bagi penelusuran lebih lanjut, meskipun rincian mengenai cara deteksi maupun langkah operasional aparat tidak dijelaskan dalam keterangan yang tersedia. Karena itu, urutan waktu perlu dibaca sebagai rangkaian temuan yang dilaporkan, bukan sebagai gambaran lengkap atas seluruh aktivitas para pihak. Identitas dan peran masing-masing orang juga tetap merujuk pada keterangan yang telah disampaikan, tanpa menambahkan asumsi di luar informasi tersebut.

Pada Juni 2026, dua orang yang disebut berinisial LJ dan XM berada di Aceh untuk memetakan wilayah. Kehadiran mereka kemudian menjadi bagian penting dalam kronologi penyelidikan karena keduanya kembali terdeteksi melakukan perjalanan pada Oktober. Pada 15 Oktober 2026, LJ dan XM diketahui terbang dari Kunming, China, menuju Kuala Lumpur, Malaysia. Di sana, mereka disebut hendak menemui seorang tersangka warga negara Indonesia berinisial B. Catatan perjalanan ini menunjukkan adanya perpindahan lintas negara yang menjadi perhatian aparat, tetapi informasi yang tersedia tidak menjelaskan rincian pertemuan, lokasi spesifik, ataupun kegiatan lain setelah perjalanan tersebut. Dengan demikian, keterkaitan mereka dengan dugaan jaringan tetap disampaikan sebagai bagian dari penyelidikan.

Perkembangan berikutnya tercatat pada 18 Oktober 2026, ketika komunikasi LJ terendus. Dalam komunikasi itu, ia dilaporkan menyampaikan kepada atasannya di China, yang masing-masing berinisial LX dan NX, bahwa produksi sabu telah dimulai. Kedua atasan tersebut kemudian memerintahkan agar proses produksi dipercepat dan barang segera dikirim. Rangkaian komunikasi ini memberi gambaran mengenai dugaan koordinasi produksi dan arahan dari pihak yang berada di luar Indonesia. Berdasarkan kronologi tersebut, laboratorium di Pidie diduga terafiliasi dengan jaringan internasional yang melibatkan sindikat asal China, Malaysia, dan Indonesia. Namun, keterangan yang ada tidak merinci tujuan pengiriman barang. Oleh sebab itu, uraian kronologi tidak dapat memastikan rute, tujuan, atau tahapan pengiriman yang belum dinyatakan oleh aparat.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dalam pengembangan kasus laboratorium sabu di Pidie, tim gabungan menggelar penggerebekan secara serentak di sebuah ruko di Kecamatan Mutiara Timur serta sejumlah titik lain di Bireuen, Aceh Utara, dan Lhokseumawe. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya aparat menelusuri keterkaitan lokasi-lokasi itu dengan kegiatan yang sedang diselidiki. Penggerebekan di beberapa wilayah sekaligus juga menunjukkan bahwa penyidik berupaya memperluas penelusuran, tidak hanya berfokus pada tempat yang diduga menjadi laboratorium. Informasi mengenai operasi tersebut menjadi dasar bagi langkah lanjutan untuk mencari orang-orang yang diduga terlibat dan mengurai peran mereka dalam jaringan.

Aparat masih memburu sejumlah pihak yang masuk dalam daftar pencarian orang atau DPO. Mereka disebut berinisial Z, ES, J, BR, dan SS, yang diduga berperan sebagai pengatur lapangan. Pengejaran terhadap para DPO itu masih berlangsung, sehingga keberadaan dan keterlibatan masing-masing belum dapat dipastikan lebih jauh berdasarkan informasi yang tersedia. Secara terpisah, aparat juga berkoordinasi dengan NC City di China untuk membantu mencari sosok berinisial LS, yang disebut sebagai pengendali utama.

Baca juga: Pengungkapan Lab Narkoba di Pidie dan Penyelundupan Ketamin di Belawan | Rudianto Lallo Dorong Pemutusan Jaringan Narkoba di Sulawesi Selatan | Pengungkapan Perdagangan Sisik Trenggiling di Bekasi: 320 Kilogram Disita Polisi