Kontaminasi silang juga dapat terjadi melalui peralatan

oleh -36 Dilihat
oleh
Kontaminasi silang juga dapat terjadi melalui peralatan

BANDUNG, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Dinas Kesehatan Kota Bandung masih melakukan investigasi untuk mencari sumber kontaminasi. Sejumlah pelanggan melaporkan mengalami keluhan seperti diare, mual, muntah, nyeri perut hingga demam setelah mengonsumsi makanan dari restoran tersebut. Kasus dugaan keracunan makanan terjadi di restoran 88 Seoul, Bandung.

Keterangan yang tercatat menyebut Menurut Dewi, penataan bahan makanan segar dan kering juga perlu diperhatikan, termasuk pemisahan dari bahan kimia seperti cairan pembersih dan sabun pencuci piring. Dewi juga menyoroti penerapan First In, First Out atau FIFO dan First Expired, First Out atau FEFO yang belum terlihat jelas di lokasi. Penerapan sistem tersebut juga perlu didukung pelabelan yang jelas, termasuk tanggal penerimaan, tanggal pembukaan atau tanggal kedaluwarsa sesuai jenis bahan.

Data lain dalam laporan menunjukkan Kemudian karena lokasinya tidak begitu luas, perlu penataan ulang," kata Dewi dikutip dari detikJabar, Rabu (7/10/2026). Belum ada pernyataan Dinkes bahwa suhu penyimpanan di 88 Seoul terbukti tidak memenuhi standar. Berikut di antaranya: Dalam satu set Baekban di 88 Seoul terdapat nasi, main dish, banchan dan sup.

Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Artinya, hingga kini belum dapat dipastikan menu maupun mikroorganisme yang menjadi penyebab kasus tersebut. Masih perlu diperbaiki pemisahan-pemisahannya. Bahan kimia yang ditempatkan berdekatan dengan pangan berisiko mencemari makanan melalui tumpahan atau cipratan. Karena itu, bahan pembersih perlu disimpan terpisah dari bahan pangan. Pemisahan bahan juga penting untuk mencegah kontaminasi silang.

Meski begitu, pemeriksaan awal Dinas Kesehatan Kota Bandung menemukan sejumlah aspek higiene dan sanitasi yang perlu diperbaiki. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Bandung Dewi Primasari mengatakan penataan bahan makanan, pemisahan bahan hingga penggunaan pelindung diri oleh penjamah makanan masih perlu diperhatikan. Daging, ayam atau seafood mentah, misalnya, dapat membawa mikroorganisme yang kemudian berpindah ke makanan siap santap apabila disimpan atau ditangani terlalu berdekatan. Kondisi lokasi yang tidak begitu luas dapat membuat pemisahan bahan menjadi lebih sulit. Penataan ruang dan alur pengolahan menjadi penting agar bahan mentah, makanan matang, bahan makanan segar, bahan kering hingga peralatan tidak saling bersinggungan. FIFO berarti bahan yang lebih dulu masuk digunakan lebih dahulu. Sementara FEFO memprioritaskan bahan dengan tanggal kedaluwarsa paling dekat untuk digunakan terlebih dahulu. Keduanya penting agar bahan tidak tersimpan terlalu lama. Pengelolaan penyimpanan juga mencakup zonasi, pemisahan bahan, pelabelan, monitoring suhu dan pencatatan. Suhu perlu dipantau karena kondisi tertentu dapat mempercepat pertumbuhan mikroorganisme. Namun, monitoring suhu menjadi salah satu aspek penting dalam pengendalian keamanan pangan, terutama untuk bahan yang mudah rusak. Dalam kasus keracunan makanan, ada berbagai kemungkinan penyebab. Main dish dapat berupa daging sapi, ayam atau seafood, sementara banchan dapat terdiri dari berbagai sayuran dan makanan fermentasi seperti kimchi. Nasi menjadi salah satu bahan yang perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan patogen Bacillus cereus. Bakteri ini mampu membentuk spora yang dapat bertahan dalam kondisi tertentu. Nasi yang sudah matang dapat menjadi media pertumbuhan Bacillus cereus apabila penanganan setelah pemasakan tidak tepat, terutama jika terlalu lama berada pada suhu yang mendukung pertumbuhan bakteri. Bacillus cereus dapat menyebabkan dua kelompok gejala, yaitu sindrom muntah dan sindrom diare. Keluhan dapat berupa mual, muntah, kram perut dan diare. Daging sapi, ayam dan udang juga memiliki risiko kontaminasi dari bahan mentah maupun selama proses penanganan. Bakteri seperti Salmonella dan E. coli dapat berpindah melalui tetesan air bahan mentah, tangan, peralatan maupun permukaan lingkungan pengolahan. Risiko juga berkaitan dengan proses pemasakan. Daging atau seafood yang tidak matang sempurna berpotensi masih mengandung mikroorganisme patogen. Karena itu, kematangan makanan perlu dipastikan, terutama untuk bahan pangan hewani. Menu fermentasi seperti kimchi juga bisa berisiko. Fermentasi memang menghasilkan kondisi lebih asam dan dapat menghambat pertumbuhan sejumlah mikroorganisme. Namun, keamanan tetap dipengaruhi kualitas bahan baku, kebersihan proses, lama fermentasi, suhu dan penyimpanan. Jika hal tersebut tidak dijaga maka yang tumbuh adalah mikroorganisme patogen. Sayuran segar juga dapat menjadi titik kontaminasi. Mikroorganisme dapat berasal dari tanah, air, tangan penjamah, peralatan maupun permukaan yang digunakan selama pengolahan. Sayuran secara alami mengandung nitrat. Dalam kondisi penyimpanan yang lembab, aktivitas mikroorganisme yang ada di sayuran dapat mengubah nitrat menjadi nitrit. Kadar nitrit yang berlebihan bisa menyebabkan darah kesulitan mengikat oksigen dan menyebabkan lemas serta sesak nafas. Kontaminasi silang juga dapat terjadi melalui peralatan. Misalnya, satu pisau digunakan untuk memotong ayam mentah kemudian digunakan untuk memotong sayuran yang akan langsung dimakan tanpa melalui proses pemasakan. Bakteri dari ayam dapat berpindah ke sayuran. Hal serupa dapat terjadi pada talenan, wadah, penjepit maupun meja pengolahan. Peralatan yang bersentuhan dengan bahan mentah perlu dicuci dan dibersihkan sebelum digunakan kembali untuk makanan siap santap. Air juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan. Air digunakan untuk memasak, mencuci bahan makanan, hingga membersihkan peralatan. Jika kualitas air tidak memenuhi persyaratan, air dapat menjadi media perpindahan mikroorganisme maupun bahan kimia ke pangan. Penjamah makanan turut menjadi salah satu titik risiko kontaminasi. Dinkes Bandung menyoroti perlunya perbaikan penggunaan pelindung diri seperti masker dan penutup rambut. Tangan penjamah makanan yang tidak bersih dapat memindahkan bakteri ke makanan. Salah satunya Staphylococcus aureus yang dapat ditemukan pada kulit dan hidung manusia. Bakteri tersebut dapat menghasilkan toksin pada makanan dalam kondisi tertentu dan menyebabkan gejala keracunan. Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, E. coli dan Salmonella adalah bakteri yang paling sering menyebabkan keracunan makanan. Sumber kontaminasi sebenarnya tetap perlu ditentukan melalui pemeriksaan laboratorium dan investigasi. Hasil tersebut nantinya dapat menjawab apakah sumbernya berasal dari bahan pangan, air, peralatan, penjamah makanan, lingkungan pengolahan atau kombinasi beberapa faktor. Kasus ini menjadi pengingat bahwa keamanan makanan tidak hanya ditentukan oleh bahan yang digunakan. Cara bahan diterima, disimpan, dipisahkan, diberi label, dipantau suhunya, diolah, dimasak hingga disajikan menjadi satu rangkaian yang menentukan keamanan pangan.