Jakarta | Kepala Badan Intelijen Keamanan (Kabaintelkam) Mabes Polri, Komjen Pol Dedy Kusuma Bakti, mengingatkan para pelajar agar menjauhi judi online, narkoba, tawuran pelajar, serta berita hoaks yang beredar di media sosial. Pesan tersebut disampaikan kepada peserta Kemah Kebangsaan di Cibubur sebagai perhatian terhadap berbagai pengaruh negatif yang dapat ditemui kalangan remaja. Ia menilai usia remaja merupakan masa yang rentan terhadap pengaruh semacam itu. Karena itu, pelajar perlu mencermati pilihan dan aktivitas yang mereka jalani, baik di lingkungan sekitar maupun ketika menggunakan media digital.
Imbauan untuk menjauh dari judi online, narkoba, dan tawuran pelajar menegaskan pentingnya sikap dalam keseharian. Dedy menyampaikan agar pelajar tidak terlibat dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Ia juga menyoroti peredaran berita hoaks di media sosial, yang perlu disikapi secara hati-hati. Bagi pelajar, pesan ini menjadi pengingat untuk tidak mudah terpengaruh oleh ajakan maupun informasi yang ditemui. Setiap bentuk pengaruh negatif tersebut disebut secara khusus dalam imbauannya, tanpa mengabaikan pentingnya perhatian terhadap perilaku dan informasi di sekitar mereka.
Dalam menyampaikan peringatan itu, Kabaintelkam menempatkan pelajar sebagai kelompok yang perlu menjaga diri dari pengaruh yang dapat mengarahkan mereka pada pilihan yang keliru. Pandangan bahwa remaja rentan menjadi alasan untuk memberikan perhatian dan pengingat secara terbuka. Pesan tersebut mencakup perilaku di dunia nyata, seperti tawuran dan penyalahgunaan narkoba, serta aktivitas di ruang digital, termasuk judi online dan paparan hoaks. Dengan demikian, pelajar di Kemah Kebangsaan Cibubur diingatkan untuk menghindari hal-hal yang disebutkan dan berhati-hati saat menerima informasi melalui media sosial. Imbauan Dedy berfokus pada kewaspadaan serta upaya menjauhi pengaruh negatif, tanpa menambahkan uraian mengenai contoh atau dampak lain yang tidak disampaikan dalam pesannya.
Imbauan Kabaintelkam yang disampaikan Dedy ditujukan kepada para pelajar yang mengikuti Kemah Kebangsaan di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur. Dengan menyampaikan pesan kepada peserta dalam forum tersebut, Dedy berbicara langsung kepada kalangan muda yang hadir sebagai bagian dari kegiatan perkemahan. Pesan itu ditempatkan dalam konteks pertemuan pelajar, sehingga dapat menjadi bahan perhatian bagi peserta selama mengikuti rangkaian kegiatan. Informasi mengenai penyampaian imbauan tersebut tidak merinci isi setiap pesan secara lebih lanjut, tetapi menegaskan siapa penerimanya dan di mana kegiatan berlangsung.
Kemah Kebangsaan tersebut digelar oleh Persatuan Intelektual Muda dan Pelajar Indonesia, yang dikenal dengan singkatan PIONIR. Penyelenggara ini menjadi pihak yang mengadakan kegiatan bagi para pelajar di lokasi perkemahan Cibubur. Penyebutan PIONIR memberi konteks tentang pihak yang berada di balik acara, sementara lokasi di Jakarta Timur menjelaskan tempat para peserta berkumpul. Dengan demikian, imbauan Dedy terkait dengan kegiatan yang memang mempertemukan pelajar dalam sebuah kemah kebangsaan, bukan pernyataan yang disampaikan tanpa kaitan dengan acara tersebut.
Keterangan mengenai pesan itu dikutip pada Kamis, 22 Oktober 2026. Tanggal tersebut merujuk pada waktu keterangan sumber dikutip, bukan penanda bahwa Kemah Kebangsaan berlangsung pada hari yang sama. Pembedaan ini penting agar waktu publikasi atau pengutipan informasi tidak disamakan dengan jadwal pelaksanaan acara. Berdasarkan keterangan yang tersedia, hal yang dapat dipastikan ialah Dedy menyampaikan imbauan kepada pelajar peserta kemah, kegiatan diselenggarakan PIONIR, dan lokasi yang disebut adalah Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur. Rincian lain mengenai tanggal pelaksanaan, susunan kegiatan, ataupun durasi acara tidak dinyatakan dalam informasi tersebut, sehingga tidak dapat dipastikan hanya dari keterangan yang dikutip itu.
Kemah Kebangsaan di Cibubur dirancang sebagai ruang pembelajaran bagi pelajar untuk menumbuhkan cinta kepada bangsa dan negara. Melalui kegiatan bersama, peserta diajak memahami bahwa nasionalisme tidak hanya diwujudkan melalui simbol atau seremonial, tetapi juga melalui sikap sehari-hari: menghormati sesama, menjaga persatuan, serta turut merawat kehidupan masyarakat yang aman dan tertib. Pengalaman berkegiatan dalam satu lingkungan juga membuka kesempatan bagi para pelajar untuk mengenal satu sama lain dan melihat keberagaman sebagai kekuatan bersama.
Aktivitas di alam terbuka menjadi bagian penting dari proses tersebut. Peserta belajar bekerja sama, mengikuti aturan, mengelola tanggung jawab, dan menyelesaikan kegiatan secara kolektif. Situasi ini mengajarkan bahwa tujuan bersama dapat dicapai apabila setiap orang disiplin, bersedia berkontribusi, dan saling menghargai. Perbedaan latar belakang, pandangan, maupun kebiasaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk terpecah; sebaliknya, sikap terbuka dan kepedulian dapat memperkuat persaudaraan. Nilai-nilai itu membantu pelajar membangun karakter yang dibutuhkan, baik di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam pesannya kepada peserta, Dedy menekankan pentingnya menanamkan cinta tanah air dan mempererat persaudaraan di kalangan generasi muda. Ia mengajak pelajar menjadi pribadi yang memiliki kepedulian terhadap masa depan bangsa, bukan hanya berfokus pada kepentingan diri sendiri. Kesadaran tersebut juga berkaitan dengan peran generasi muda dalam menjaga keamanan dan ketertiban nasional. Pelajar dapat berkontribusi dengan bersikap bertanggung jawab, menaati aturan, menjaga kerukunan, dan tidak mudah terpengaruh oleh tindakan yang merusak persatuan. Dengan demikian, kemah ini diharapkan menjadi pengalaman yang mendorong peserta membawa nilai kebangsaan ke dalam tindakan nyata setelah kegiatan berakhir.
Ketua Umum PIONIR Hanif menjelaskan bahwa Kemah Kebangsaan di Cibubur perlu dipahami bukan semata-mata sebagai kegiatan berkumpul di luar ruang belajar, melainkan sebagai sarana pembelajaran nilai kebangsaan. Melalui kegiatan kemah, peserta diharapkan memperoleh kesempatan untuk mengenal lebih dekat arti persatuan serta memahami bahwa Indonesia dibangun oleh keberagaman suku, agama, budaya, dan latar belakang. Hanif menekankan pentingnya menjaga persaudaraan antaranak bangsa, sebab perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menjauhkan diri, melainkan dapat menjadi dasar untuk saling menghormati dan bekerja bersama. Dengan demikian, pengalaman selama kemah diharapkan membuka ruang bagi pelajar untuk melihat kebangsaan sebagai tanggung jawab bersama dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Hanif, harapan PIONIR tidak berhenti pada bertambahnya pengetahuan peserta mengenai wawasan kebangsaan. Pengetahuan tersebut diharapkan menjadi landasan bagi sikap dan tindakan yang nyata. Peserta diharapkan mampu menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam interaksi dengan orang lain, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Penerapan itu dapat tercermin melalui sikap menghargai perbedaan, mengutamakan kepentingan bersama, serta menjaga hubungan yang baik dengan sesama. Hanif juga berharap semangat gotong royong tumbuh sebagai kebiasaan, bukan hanya muncul saat peserta mengikuti kegiatan kemah. Kesediaan untuk saling membantu, berbagi tanggung jawab, dan menyelesaikan persoalan bersama merupakan wujud nilai kebangsaan yang dapat dipraktikkan dalam keseharian.
Selain itu, Hanif menyampaikan bahwa toleransi perlu menjadi bagian dari cara peserta bergaul dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap toleran berarti memberi ruang kepada orang lain untuk memiliki keyakinan, pandangan, dan kebiasaan yang berbeda, tanpa mengurangi rasa hormat sebagai sesama warga bangsa. Harapan tersebut sejalan dengan pesan agar persaudaraan tetap dijaga di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia. PIONIR, melalui penjelasan Hanif, mengharapkan para pelajar membawa pulang pemahaman tentang persatuan dan menjadikannya pedoman dalam bertindak. Dengan begitu, pembelajaran di kemah tidak terbatas pada pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan, tetapi berlanjut melalui kebiasaan menghormati sesama, bergotong royong, mengamalkan Pancasila, dan memelihara toleransi dalam lingkungan masing-masing.



































