Penyeberangan Merak Berjalan Normal, Penanganan Kapal Tenggelam Disiapkan

oleh -618 Dilihat
oleh
Penyeberangan Merak Berjalan Normal, Penanganan Kapal Tenggelam Disiapkan

Jakarta | Kementerian Perhubungan bersama PT ASDP Indonesia Ferry memastikan layanan penyeberangan di Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten, tetap berjalan normal setelah KMP Batumandi tenggelam. Aktivitas pelayaran di alur penyeberangan berlangsung seperti biasa, sementara seluruh dermaga beroperasi sebagaimana mestinya. Dengan kondisi tersebut, kegiatan penyeberangan di Merak tetap dilayani tanpa perubahan yang disebutkan oleh pihak terkait. Kepastian ini disampaikan untuk memberikan informasi mengenai keadaan operasional pelabuhan setelah insiden kapal tenggelam tersebut.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Lollan Panjaitan, menyampaikan keterangan itu di Jakarta pada Kamis. Ia memastikan bahwa kejadian yang melibatkan KMP Batumandi tidak membuat aktivitas pelayaran di alur Merak berhenti. Seluruh dermaga di pelabuhan itu juga tetap beroperasi sesuai kondisi normal. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa layanan penyeberangan masih berlangsung, sementara penanganan terhadap kapal yang tenggelam disiapkan secara terpisah dari kegiatan operasional yang sedang berjalan.

Situasi operasional yang tetap normal berarti kapal-kapal masih dapat menggunakan alur pelayaran dan layanan di dermaga terus berjalan seperti biasa. Kementerian Perhubungan dan ASDP memastikan informasi mengenai layanan tersebut, sehingga pengguna jasa dapat mengetahui keadaan penyeberangan Merak setelah insiden. Tidak ada keterangan mengenai penghentian layanan ataupun perubahan operasi dalam informasi yang disampaikan. Penjelasan ini berfokus pada kondisi pelabuhan dan aktivitas pelayaran, serta tidak mengubah fakta bahwa KMP Batumandi telah tenggelam. Penanganan kapal disiapkan, sedangkan kegiatan di seluruh dermaga tetap berlangsung sebagaimana mestinya.

Ditjen Perhubungan Laut melalui KSOP Kelas I Banten mengatur alur pelayaran di sekitar lokasi kejadian agar pergerakan kapal tetap terkendali dan operasional pelabuhan tidak terganggu. Pengaturan ini menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan kapal yang melintas sekaligus memastikan akses menuju dan dari kawasan pelabuhan tetap dapat digunakan. Dalam situasi penanganan kapal tenggelam, arus lalu lintas laut perlu dipantau dengan cermat agar kegiatan penyeberangan dapat terus berlangsung secara tertib. KSOP menjalankan koordinasi dengan pihak terkait untuk menyesuaikan pemantauan dan pengaturan pelayaran dengan kondisi di lapangan, tanpa menghambat layanan yang dibutuhkan pengguna jasa.

VTS Merak terus mengawasi aktivitas kapal di sekitar lokasi kejadian. Pemantauan tersebut membantu petugas memperoleh gambaran mengenai pergerakan kapal dan kondisi alur pelayaran, sehingga informasi yang relevan dapat disampaikan untuk mendukung pengambilan langkah keselamatan. Pengawasan dilakukan sebagai bagian dari pengelolaan lalu lintas kapal di kawasan Merak, termasuk untuk memperhatikan kapal yang bergerak mendekati maupun meninggalkan area pelabuhan. Dengan pemantauan yang berkelanjutan, potensi gangguan terhadap jalur pelayaran dapat diidentifikasi dan ditangani melalui koordinasi yang sesuai. Peran VTS juga mendukung komunikasi antarpihak, sehingga pengaturan pergerakan kapal dapat berjalan secara terarah.

KSOP Kelas I Banten dan VTS Merak berkoordinasi untuk menjaga keselamatan pelayaran selama proses penanganan kapal tenggelam disiapkan. Pengaturan serta pemantauan tersebut ditujukan untuk mempertahankan akses keluar-masuk kapal dan menjaga kelancaran layanan penyeberangan. Dengan demikian, kegiatan penanganan di lokasi dapat berjalan berdampingan dengan operasional pelabuhan, sementara kapal tetap memperoleh ruang dan informasi yang diperlukan untuk berlayar dengan aman. Kelancaran layanan tidak hanya bergantung pada kondisi dermaga, tetapi juga pada keteraturan pergerakan kapal di alur. Karena itu, koordinasi dan pengawasan menjadi unsur penting dalam menjaga agar aktivitas pelabuhan tetap berjalan normal, serta memastikan keselamatan pengguna jalur laut tetap menjadi perhatian utama selama situasi ditangani.

KSOP Kelas I Banten berkoordinasi dengan Pertamina, VTS Merak, serta Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai Kelas I Tanjung Priok untuk mengantisipasi kemungkinan pencemaran minyak menyusul penanganan kapal tenggelam. Koordinasi ini menjadi bagian dari upaya kesiapsiagaan agar potensi dampak terhadap lingkungan perairan dapat ditangani secara terarah. Perhatian khusus diberikan pada perairan alur masuk Pelabuhan Merak, yang menjadi salah satu area penting dalam kegiatan penyeberangan.

Dalam langkah antisipasi tersebut, oil boom dipasang untuk menahan penyebaran minyak apabila terjadi pencemaran. Perangkat pembatas ini ditujukan agar minyak tidak mudah meluas mengikuti arus dan menjangkau area perairan yang lebih besar. Pemasangan oil boom juga menjadi langkah pencegahan untuk mengurangi risiko pencemaran di sekitar alur masuk pelabuhan, sekaligus mendukung penanganan yang lebih cepat jika minyak ditemukan di permukaan air.

Koordinasi antarpihak diperlukan agar pemantauan dan kesiapan penanganan dapat berlangsung selaras. KSOP Kelas I Banten, Pertamina, VTS Merak, dan Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai Kelas I Tanjung Priok terlibat dalam langkah antisipasi ini. Sejumlah unsur yang disebut dalam kegiatan tersebut adalah TB Rijaluta, RIB Cilegon, dan RIB Plaju. Keterlibatan unsur-unsur itu menjadi bagian dari kesiapan yang dilakukan, tanpa merinci tugas khusus masing-masing.

Upaya tersebut difokuskan pada pencegahan meluasnya dampak apabila terdapat minyak yang berpotensi mencemari perairan. Pemasangan oil boom membantu membatasi penyebaran, sementara koordinasi mendukung kesiapan para pihak dalam merespons kondisi di lapangan. Langkah antisipatif ini dilakukan dengan perhatian pada area alur masuk Pelabuhan Merak, sehingga risiko terhadap lingkungan perairan dapat diminimalkan selama penanganan kapal tenggelam berlangsung. Pemantauan dan komunikasi antarinstansi menjadi bagian penting dari upaya menjaga respons tetap terkoordinasi, khususnya di kawasan pelabuhan yang digunakan untuk aktivitas penyeberangan. Dengan demikian, penanganan potensi pencemaran minyak disiapkan bersamaan dengan upaya menjaga kondisi perairan tetap terkendali.

Kementerian Perhubungan telah berkoordinasi dengan PT ASDP Indonesia Ferry untuk menyiapkan penanganan KMP Batumandi yang tenggelam melalui operasi salvage atau pengangkatan kapal. Langkah ini merupakan bagian dari upaya menangani kapal sekaligus menjaga kondisi area perairan di sekitarnya. Namun, operasi pengangkatan belum dinyatakan dimulai. Saat ini, pembahasan mengenai rencana pelaksanaannya masih berlangsung dan sejumlah aspek teknis perlu dipastikan terlebih dahulu.

Salah satu hal yang masih dibahas adalah penunjukan perusahaan penyedia jasa salvage atau salvor. Pihak-pihak terkait perlu menyusun rencana kerja yang sesuai dengan kondisi kapal dan lokasi, serta menentukan kebutuhan peralatan dan metode yang akan digunakan. Proses persiapan tersebut dilakukan secara terkoordinasi agar tahapan penanganan dapat berjalan dengan tertib dan risiko terhadap petugas, kapal lain, maupun lingkungan perairan dapat dikendalikan.

Lollan menegaskan bahwa persiapan pengangkatan KMP Batumandi mempertimbangkan keselamatan dan keamanan sebagai prioritas. Kondisi perairan di sekitar lokasi juga menjadi pertimbangan penting sebelum metode dan tahapan kerja ditetapkan. Faktor-faktor tersebut dinilai perlu dikaji secara cermat agar pelaksanaan salvage nantinya sesuai dengan situasi di lapangan. Dengan demikian, penyusunan rencana tidak hanya berfokus pada pengangkatan kapal, tetapi juga pada perlindungan aktivitas pelayaran dan lingkungan sekitar.

Direktur Utama ASDP Heru Widodo menyatakan dukungan terhadap langkah penanganan kapal tersebut. ASDP turut melakukan pengamanan di sekitar lokasi, termasuk pemasangan buoy sebagai penanda area dan oil boom untuk membantu membatasi sebaran minyak apabila diperlukan. Perusahaan juga menyiapkan aspek pendukung bagi rencana salvage, sembari berkoordinasi dengan instansi dan pihak berwenang. Koordinasi ini mencakup penyelarasan langkah penanganan dan kebutuhan operasional di lapangan.

Heru menegaskan bahwa komunikasi dengan pihak terkait akan terus dilakukan selama persiapan berlangsung. Dukungan itu ditujukan agar penanganan KMP Batumandi dapat dilaksanakan berdasarkan rencana yang matang, dengan memperhatikan keselamatan pelayaran, keamanan lokasi, serta kondisi perairan. Penetapan jadwal dan pelaksanaan operasi tetap menunggu proses pembahasan dan kesiapan teknis bersama pihak-pihak yang terlibat.

Baca juga: Penanganan KMP Batumandi Disiapkan, Penyeberangan Merak Tetap Berjalan | Percepat Penanganan Karhutla di Palembang, Satgas OMC Semai Dry Ice dan NaCl sebanyak 5 Sorti | TNI Tambah Dukungan Bahan dan Laksanakan Penyemaian untuk Penanganan Karhutla di Kalimantan