Psikolog: Kesiapan Mental Pemuda Jadi Bagian Penting Indonesia Emas 2045

oleh -682 Dilihat
oleh
Psikolog: Kesiapan Mental Pemuda Jadi Bagian Penting Indonesia Emas 2045

Manado | Cita-cita Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki ketangguhan mental. Kesiapan menghadapi tantangan, menjaga kesejahteraan psikologis, dan terus berkembang menjadi bagian penting dalam menyiapkan pemuda untuk berkontribusi bagi masa depan bangsa. Pandangan tersebut disampaikan Hanna Monareh, psikolog klinis RSUP Prof. Dr. D. Kandou Manado, di Manado pada Kamis.

Menurut Hanna, peringatan Hari Sumpah Pemuda dapat menjadi momen untuk mengingatkan kembali pentingnya kesiapan generasi muda. Peringatan ini bukan hanya mengenang peristiwa bersejarah, tetapi juga mengajak masyarakat melihat peran pemuda dalam perjalanan Indonesia ke depan. Dalam konteks menuju 2045, perhatian pada kemampuan akademis perlu berjalan beriringan dengan perhatian pada kondisi mental dan kesiapan menghadapi perubahan.

Ketangguhan mental dapat membantu anak muda merespons tekanan dan tantangan yang hadir dalam kehidupan. Hal itu penting agar mereka mampu menjalani proses belajar, membangun relasi, serta mengambil bagian dalam lingkungan sosial dengan lebih siap. Kesiapan tersebut tidak berarti seseorang harus selalu bebas dari kesulitan, melainkan memiliki kapasitas untuk menghadapi keadaan dan mencari dukungan ketika diperlukan.

Pesan Hanna menempatkan kesehatan mental sebagai salah satu unsur yang layak diperhatikan dalam upaya menyiapkan generasi penerus. Pendidikan dan kecakapan akademis tetap memiliki peran, tetapi tidak berdiri sendiri dalam membentuk pemuda yang siap menghadapi masa depan. Lingkungan keluarga, pendidikan, dan masyarakat juga dapat menjadi bagian dari dukungan bagi perkembangan anak muda.

Menjelang satu abad kemerdekaan Indonesia, generasi muda akan menghadapi berbagai tuntutan dan perubahan. Karena itu, peringatan Sumpah Pemuda dapat dimaknai sebagai kesempatan untuk memperkuat perhatian terhadap kesiapan mereka secara menyeluruh. Dengan pemuda yang memiliki kemampuan sekaligus ketangguhan mental, cita-cita Indonesia Emas 2045 diharapkan dapat ditopang oleh generasi yang siap berperan dalam pembangunan bangsa.

Menurut Hanna, tekanan sosial di ruang digital menjadi salah satu tantangan kesehatan mental yang perlu diperhatikan ketika membahas kesiapan pemuda menghadapi masa depan. Media sosial memberi ruang untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi, tetapi paparan yang tinggi juga dapat membuat seseorang terus melihat pencapaian, penampilan, atau gaya hidup orang lain. Dari sana, perbandingan sosial dapat muncul, terutama ketika unggahan yang terlihat hanya menampilkan sisi terbaik kehidupan. Hanna memaparkan bahwa kondisi ini berpotensi memengaruhi cara pemuda menilai diri sendiri, meskipun dampaknya tidak sama bagi setiap orang. Karena itu, pengalaman di media sosial perlu dipahami secara cermat, bukan digeneralisasi sebagai pengalaman seluruh generasi muda.

Hanna juga menyebut kecemasan atau anxiety sebagai salah satu kondisi yang dapat berkaitan dengan tekanan tersebut. Dorongan untuk selalu mengikuti perkembangan, mendapatkan respons positif, atau memenuhi standar yang dibentuk lingkungan digital bisa menambah beban pikiran. Dalam penjelasannya, perbandingan dengan orang lain dapat membuat seseorang merasa tertinggal atau khawatir tentang kemampuan dan masa depannya. Ia turut menyoroti imposter syndrome, yakni perasaan tidak cukup berharga atau tidak pantas menerima keberhasilan meskipun seseorang telah meraih prestasi. Perasaan ini dapat membuat pencapaian sulit dinikmati dan mendorong keraguan terhadap kompetensi diri. Namun, Hanna menyampaikan hal-hal tersebut sebagai potensi tantangan, bukan kondisi yang pasti dialami setiap pemuda.

Tantangan lain yang dipaparkan Hanna adalah burnout, yaitu kelelahan yang dapat muncul ketika tuntutan berlangsung terus-menerus tanpa pemulihan yang memadai. Beban belajar, pekerjaan, target pribadi, dan tekanan untuk selalu produktif dapat bertumpuk dengan tuntutan sosial digital. Jika tidak dikenali, kelelahan tersebut bisa mengganggu motivasi, konsentrasi, serta kesejahteraan sehari-hari. Hanna menekankan pentingnya memahami batas diri dan memberi ruang untuk beristirahat, tanpa menganggap kebutuhan jeda sebagai tanda kegagalan. Kesadaran terhadap kecemasan, perbandingan sosial, imposter syndrome, maupun burnout dapat membantu pemuda mencari dukungan yang sesuai. Dengan perhatian yang proporsional terhadap kesehatan mental, kesiapan generasi muda untuk berkontribusi bagi Indonesia Emas 2045 dapat dibangun secara lebih berkelanjutan.

Hanna menilai kesadaran pemuda terhadap isu kesehatan mental saat ini sudah tinggi. Topik yang dahulu mungkin terasa sulit dibicarakan kini semakin dikenal dan menjadi bagian dari percakapan di kalangan anak muda. Mereka lebih terbuka untuk mengenali bahwa kondisi psikologis merupakan aspek penting dalam kehidupan, serta memahami bahwa pengalaman emosi dapat memengaruhi keseharian. Peningkatan perhatian ini menjadi perkembangan yang berarti, tetapi bukan satu-satunya ukuran kesiapan mental.

Tantangan berikutnya, menurut Hanna, adalah menerjemahkan kesadaran tersebut menjadi kemampuan nyata untuk mengelola emosi. Mengetahui istilah atau mengenali pembahasan tentang kesehatan mental belum otomatis membuat seseorang mampu menghadapi tekanan, memahami respons emosionalnya, atau memulihkan diri setelah mengalami kesulitan. Karena itu, perhatian perlu bergeser dari sekadar mengetahui isu menjadi memahami bagaimana seseorang dapat menjalani proses regulasi emosi dan pemulihan diri.

Kemampuan pemulihan diri atau coping mechanism menjadi bagian penting dari proses tersebut. Hanna menekankan perlunya pemuda memiliki kapasitas untuk menghadapi situasi yang menantang dan mengelola pengalaman emosional, bukan hanya mampu menyebutkan kondisi atau istilah tertentu. Dengan demikian, kesadaran mental dapat berhubungan dengan kesiapan menghadapi persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga membedakan pemahaman yang lebih mendalam dari sekadar paparan informasi mengenai kesehatan mental.

Hanna juga membedakan peningkatan kesadaran dari self-diagnosis. Menurutnya, tujuan dari semakin tingginya perhatian pemuda terhadap kesehatan mental bukanlah agar mereka menetapkan diagnosis sendiri. Kesadaran seharusnya dipahami sebagai pengenalan terhadap pentingnya kondisi psikologis, sementara tantangan yang dibicarakan adalah pengembangan kemampuan mengatur emosi dan melakukan pemulihan diri. Dengan pembedaan tersebut, pembahasan kesehatan mental tidak berhenti pada pelabelan, melainkan menyoroti kapasitas yang dibutuhkan pemuda.

Dalam konteks Indonesia Emas 2045, kesiapan mental pemuda tidak hanya tercermin dari seberapa akrab mereka dengan istilah kesehatan mental. Penilaian Hanna menunjukkan bahwa kesadaran yang sudah tinggi perlu disertai kemampuan untuk menghadapi dan mengelola pengalaman emosional. Peralihan dari kesadaran menuju keterampilan regulasi emosi dan coping mechanism menjadi tantangan berikutnya. Dengan begitu, isu kesehatan mental dapat dibahas secara lebih terarah, tanpa menyamakan keterbukaan terhadap topik ini dengan kemampuan mendiagnosis diri sendiri.

Ketidakpastian mengenai karier dan masa depan menjadi bagian dari tantangan yang dihadapi banyak pemuda. Perubahan dunia kerja berlangsung cepat, didorong lain oleh perkembangan teknologi, perubahan kebutuhan industri, serta munculnya jenis pekerjaan baru. Keahlian yang relevan hari ini belum tentu tetap dibutuhkan beberapa tahun mendatang. Akibatnya, sebagian anak muda merasa sulit menyusun rencana jangka panjang atau menentukan pilihan pendidikan dan pekerjaan yang dianggap paling aman.

Menurut Hanna, kondisi tersebut menuntut pemuda untuk mengembangkan fleksibilitas kognitif, yaitu kemampuan menyesuaikan cara berpikir ketika keadaan berubah dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan. Sikap ini membantu seseorang melihat bahwa perubahan tidak selalu berarti kegagalan, melainkan dapat memerlukan strategi atau arah yang berbeda. Selain itu, kontrol impuls penting agar keputusan tidak diambil semata-mata karena panik, tekanan sesaat, atau perbandingan dengan pencapaian orang lain. Dengan mengelola respons terhadap tekanan, pemuda dapat menilai pilihan secara lebih jernih dan mengurangi risiko terjerumus dalam keputusasaan ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan.

Kesiapan menghadapi masa depan juga berhubungan dengan kemampuan mengolah stres dan krisis pada masa muda, termasuk quarter-life crisis. Pada fase ini, pertanyaan tentang identitas, pekerjaan, relasi, dan tujuan hidup dapat terasa mendesak, terutama ketika kehidupan digital menghadirkan arus informasi serta gambaran keberhasilan yang bergerak cepat.

Baca juga: Ivar Jenner Nilai Laga Tandang Penting bagi Persiapan Timnas Indonesia | Tom Lembong, Ahok, dan Gustika Hatta Soroti Tantangan Pemuda dalam Peringatan Sumpah Pemuda