Survei KedaiKOPI: Wirausaha Jadi Pilihan Pemuda di Tengah Sulitnya Mencari Kerja

oleh -41 Dilihat
oleh
Survei KedaiKOPI: Wirausaha Jadi Pilihan Pemuda di Tengah Sulitnya Mencari Kerja

Jakarta | Temuan survei KedaiKOPI menunjukkan bahwa wirausaha tetap menjadi pilihan yang menarik bagi generasi muda, meskipun persaingan untuk memperoleh pekerjaan semakin ketat dan teknologi terus mengubah kebutuhan dunia kerja. Sebanyak 32,8 persen responden menyebut memiliki usaha sendiri sebagai pekerjaan impian. Angka ini menggambarkan bahwa bagi sebagian pemuda, keberhasilan tidak hanya diukur melalui pekerjaan di sektor formal, tetapi juga melalui kemampuan membangun sumber penghidupan secara mandiri.

Minat tersebut terlihat pula dari jawaban mengenai rencana membuka usaha. Sebanyak 43,9 persen responden menyatakan ingin membuka usaha, sehingga keinginan berwirausaha tampak melampaui pilihan sebagai cita-cita semata. Kedua angka itu menunjukkan adanya ketertarikan yang kuat terhadap kegiatan usaha di tengah tantangan ekonomi dan perubahan teknologi. Namun, minat tersebut tidak dengan sendirinya menjamin bahwa semua responden akan memulai bisnis. Keinginan itu tetap perlu didukung akses terhadap keterampilan, modal, informasi, serta lingkungan yang memungkinkan usaha berkembang.

Kepala Riset KedaiKOPI, Ashma Nur Afifah, menyampaikan temuan tersebut dalam diskusi peluncuran survei bertajuk “Menakar Arah Pemuda: Tantangan Ekonomi, Pekerjaan, dan Preferensi Politik Menuju 2029.” Pilihan memiliki usaha sendiri mencerminkan keinginan untuk bekerja secara mandiri dan menentukan arah pekerjaan. Pada saat yang sama, usaha yang tumbuh berpotensi membuka kesempatan kerja bagi orang lain. Dengan demikian, pilihan wirausaha dapat membawa dampak lebih luas daripada pemenuhan kebutuhan pemiliknya, meskipun besarnya dampak akan bergantung pada kemampuan usaha bertahan dan berkembang.

Survei tersebut juga mencatat pilihan pekerjaan lain, termasuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS) sebesar 5,7 persen, kreator konten sebesar 3,9 persen, dan analis data sebesar 2,4 persen. Ragam jawaban ini memperlihatkan bahwa aspirasi pemuda tidak hanya tertuju pada satu jalur karier. Ada yang memilih pekerjaan di sektor pemerintahan, profesi yang berkembang seiring media digital, maupun bidang analisis data. Di berbagai pilihan itu, tingginya minat membuka usaha menegaskan pentingnya memahami kebutuhan calon wirausaha muda, termasuk dukungan praktis agar aspirasi mereka dapat diterjemahkan menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.

Kesulitan memperoleh pekerjaan menjadi gambaran penting dalam survei KedaiKOPI. Sebanyak 74,7 persen responden menilai bahwa mencari pekerjaan saat ini masih sulit. Persepsi tersebut menunjukkan bahwa tantangan memasuki dunia kerja dirasakan luas oleh masyarakat, terutama ketika jumlah kesempatan yang tersedia dianggap belum sebanding dengan kebutuhan pencari kerja. Bagi pemuda yang baru menyelesaikan pendidikan atau sedang berusaha membangun karier, keadaan ini dapat membuat proses mencari pekerjaan semakin panjang dan penuh ketidakpastian.

Dalam survei itu, keterbatasan lapangan kerja menjadi faktor yang paling banyak disebut, dengan angka 56 persen. Selain itu, 41,3 persen responden menyoroti tingginya persaingan kerja. Hambatan lain yang turut muncul adalah batasan usia, yang dapat mempersempit pilihan bagi pelamar ketika lowongan menetapkan kriteria tertentu. Gabungan faktor tersebut memperlihatkan bahwa persoalan ketenagakerjaan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan posisi, tetapi juga dengan banyaknya orang yang bersaing untuk kesempatan yang sama serta persyaratan yang harus dipenuhi.

Ekonom Universitas Indonesia Ninasapti Triaswati juga menyoroti tantangan yang dihadapi kelompok usia muda. Ia menyampaikan bahwa meskipun pengangguran secara rata-rata turun, angka untuk usia muda naik dari 16 ke 17. Menurutnya, salah satu persoalan yang perlu diperhatikan ialah ketidaksesuaian keterampilan pencari kerja dengan kebutuhan dunia kerja. Persaingan yang ketat dan perkembangan teknologi turut mengubah tuntutan terhadap tenaga kerja, sehingga keterampilan yang dimiliki pelamar belum tentu sesuai dengan kompetensi yang dicari pemberi kerja. Kondisi ini menegaskan pentingnya peningkatan keterampilan yang relevan serta kesiapan menghadapi perubahan.

Ninasapti menyambut baik minat pemuda untuk membangun usaha sebagai salah satu pilihan di tengah sulitnya mencari pekerjaan. Wirausaha dapat membuka peluang bagi anak muda untuk menciptakan kegiatan ekonomi dan mengembangkan gagasan mereka. Namun, ia mengingatkan bahwa merintis usaha juga memiliki tantangan tersendiri: pelaku memerlukan modal serta bantuan. Karena itu, pilihan menjadi wirausaha tidak serta-merta menghapus hambatan yang mereka hadapi. Dukungan yang memadai menjadi penting agar minat tersebut dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan, bukan sekadar respons terhadap terbatasnya lowongan kerja.

Survei KedaiKOPI juga menggambarkan kekhawatiran pemuda terhadap perubahan dunia kerja akibat kecerdasan buatan (AI). Sebanyak 64,4 persen responden mencemaskan kemungkinan pekerjaan mereka pada masa mendatang tergantikan oleh teknologi tersebut. Angka ini menunjukkan bahwa perhatian mereka terutama tertuju pada dampak jangka panjang AI terhadap keberlanjutan pekerjaan. Namun, penilaian terhadap pengaruh teknologi dalam pencarian kerja saat ini berbeda. Hanya 7,1 persen yang menganggap AI sebagai hambatan ketika mencari pekerjaan. Dengan demikian, rasa khawatir mengenai perubahan pekerjaan di masa depan tidak serta-merta berarti teknologi dipandang sebagai penghalang untuk memperoleh pekerjaan sekarang. Kedua angka itu mencerminkan dimensi kekhawatiran yang berlainan.

Tekanan ekonomi turut menjadi latar penting dalam membaca pilihan kerja generasi muda. Sebanyak 60 persen responden menyatakan pendapatan mereka belum mencukupi kebutuhan sehari-hari. Di kelompok tersebut, 59 persen tergolong rentan secara finansial. Kondisi ini dapat membantu menjelaskan mengapa kepastian penghasilan dan peluang untuk memperbaiki taraf hidup menjadi pertimbangan yang menonjol ketika pemuda memikirkan pekerjaan. Data tersebut juga memperlihatkan bahwa tantangan mereka bukan hanya menemukan pekerjaan, tetapi juga memperoleh pendapatan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan rutin. Dalam situasi seperti itu, kewirausahaan maupun pekerjaan dengan prospek penghasilan lebih baik dapat terlihat sebagai pilihan yang patut dipertimbangkan, meski setiap responden menghadapi keadaan dan pertimbangan yang berbeda.

Survei mencatat 75,2 persen responden ingin bekerja di luar negeri. Keinginan ini terutama didorong oleh harapan memperoleh penghasilan lebih baik dan kesempatan membangun karier internasional. Meski demikian, minat bekerja di negara lain tidak otomatis menunjukkan keinginan untuk meninggalkan Indonesia secara permanen. Dari pemuda yang berminat bekerja di luar negeri, 77,8 persen menyatakan berniat kembali ke tanah air. Temuan tersebut memberi gambaran bahwa mobilitas internasional dapat dipandang sebagai pengalaman kerja atau langkah untuk mengembangkan karier, bukan selalu sebagai keputusan menetap. Secara keseluruhan, respons tentang AI, kecukupan pendapatan, dan pekerjaan lintas negara menunjukkan beragam pertimbangan yang membentuk aspirasi pemuda di tengah perubahan pasar kerja dan tantangan ekonomi.

Firdarainy Nurul Izzah, yang menyuarakan pandangan pemuda, menekankan bahwa kesiapan menghadapi tantangan ketenagakerjaan tidak dapat dibebankan kepada individu semata. Anak muda perlu membangun keterampilan, daya lenting, dan kesiapan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan dunia kerja. Namun, upaya tersebut perlu berjalan bersama dukungan dari ekosistem ketenagakerjaan dan industri. Perusahaan, lembaga pendidikan, pemerintah, serta pihak terkait lainnya memiliki peran dalam menciptakan hubungan yang lebih terbuka pencari kerja dan kebutuhan pasar. Menurut pandangan ini, peluang kerja yang tersedia juga diharapkan dapat diakses secara adil, sehingga latar belakang seseorang tidak menjadi penghalang yang tidak semestinya untuk berkembang.

Penekanan pada tanggung jawab bersama penting dalam membaca pilihan wirausaha di tengah kesulitan mencari pekerjaan. Keputusan untuk merintis usaha dapat menjadi salah satu cara pemuda merespons situasi, tetapi tidak berarti semua orang memiliki sumber daya atau kesempatan yang sama untuk melakukannya. Karena itu, pembahasan mengenai minat berwirausaha perlu ditempatkan bersama persoalan akses terhadap pekerjaan, pelatihan, modal, dan jaringan.

Baca juga: Wirausaha Paling Diincar Anak Muda, Survei Petakan Pilihan Kerja hingga Beda Generasi | Survei Kedaikopi Petakan Pilihan Politik dan Harapan Pemuda Menuju 2029 | PDRN Berbasis Tumbuhan Perluas Pilihan Bahan Perawatan Kulit