Jakarta | Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan bahwa transaksi Indonesia dengan negara mitra dagang menggunakan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT) terus meningkat. Nilainya diproyeksikan mencapai US miliar pada akhir 2026. Dengan asumsi kurs Rp18.147 per dolar AS, jumlah tersebut setara sekitar Rp998,08 triliun. Proyeksi ini menunjukkan besarnya aktivitas perdagangan lintas negara yang penyelesaiannya menggunakan mata uang lokal, bukan semata-mata mengandalkan dolar AS.
Perkiraan US$55 miliar itu berarti transaksi LCT diperkirakan tumbuh sekitar 120% dibandingkan nilai yang tercatat hingga akhir 2025, yakni US$25 miliar. Secara nominal, proyeksi tersebut lebih dari dua kali angka tahun sebelumnya. Perbandingan ini menggambarkan peningkatan skala penggunaan skema LCT dalam hubungan ekonomi Indonesia dengan mitra dagangnya. Meski demikian, angka untuk akhir 2026 masih berupa proyeksi, sehingga realisasi akhirnya dapat berbeda dari perkiraan.
Konversi ke rupiah memberi gambaran mengenai besarnya nilai transaksi dalam mata uang domestik, tetapi hasilnya bergantung pada kurs yang digunakan. Karena itu, angka sekitar Rp998,08 triliun merupakan padanan berdasarkan kurs Rp18.147 per dolar AS, bukan nilai rupiah tetap yang akan berlaku pada saat transaksi dilakukan. Perbedaan kurs dapat mengubah nilai konversi, sementara angka dalam dolar AS memudahkan perbandingan dengan catatan transaksi sebelumnya.
Kenaikan tersebut menempatkan LCT sebagai salah satu jalur penyelesaian transaksi perdagangan yang semakin diperhatikan. Skema ini memungkinkan para pihak bertransaksi menggunakan mata uang lokal negara yang terlibat. Proyeksi pertumbuhan yang disampaikan Destry menjadi indikator perkembangan penggunaan mekanisme tersebut, sekaligus menegaskan bahwa nilainya telah bertambah dibandingkan catatan akhir 2025. Perkembangan berikutnya akan tercermin pada realisasi transaksi sepanjang 2026 dan capaian yang diumumkan setelah periode tersebut berakhir.
Destry menyampaikan proyeksi kenaikan transaksi mata uang lokal atau local currency transaction (LCT) dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin, 26 Oktober 2026. Dalam forum tersebut, ia memperkirakan nilai transaksi LCT Indonesia dapat mencapai sekitar US$55 miliar pada akhir tahun ini. Angka itu lebih dari dua kali lipat dibandingkan nilai transaksi pada tahun sebelumnya, yang berada di kisaran US$25 miliar.
Perbandingan tersebut menunjukkan peningkatan nilai transaksi dalam penggunaan mata uang lokal untuk kegiatan lintas negara. Namun, proyeksi itu merujuk pada perkiraan hingga penghujung 2026, bukan angka realisasi yang sudah tercatat sepanjang tahun. Karena itu, nilai sekitar US$55 miliar perlu dipahami sebagai sasaran atau estimasi yang disampaikan Destry dalam forum, sementara capaian akhirnya akan bergantung pada perkembangan transaksi hingga akhir periode.
Destry juga menyebut bahwa transaksi LCT tersebut terutama berasal dari China. Keterangan itu memberikan gambaran mengenai asal utama transaksi yang ia rujuk, tetapi tidak merinci besaran kontribusi China ataupun porsi negara lain. Dengan demikian, informasi yang disampaikan dalam forum terbatas pada proyeksi nilai keseluruhan dan penjelasan bahwa transaksi terutama berasal dari China. Pernyataan tersebut tidak menyebut komposisi angka secara terperinci maupun perubahan kontribusi masing-masing mitra.
Penyampaian proyeksi di DTIIF 2026 menempatkan perkembangan transaksi mata uang lokal sebagai salah satu pokok pembahasan dalam forum investasi dan inovasi teknologi tersebut. Nilai yang diperkirakan meningkat dari sekitar US$25 miliar menjadi sekitar US$55 miliar menjadi inti pernyataan Destry pada 26 Oktober. Angka-angka itu memberi konteks mengenai skala transaksi yang diproyeksikan, sedangkan keterangan tentang China menjelaskan sumber utama transaksi sebagaimana disebutkan oleh Destry. Tidak ada rincian tambahan mengenai faktor pendorong, mekanisme transaksi, atau negara lain yang disampaikan dalam keterangan tersebut.
Destry menilai perluasan penggunaan transaksi mata uang lokal atau LCT penting karena dapat mengurangi ketergantungan pelaku transaksi pada dolar Amerika Serikat. Dalam perdagangan lintas negara, pembayaran yang dilakukan langsung menggunakan mata uang lokal dapat mengurangi kebutuhan untuk terlebih dahulu memperoleh dolar sebagai perantara. Menurut penjelasan tersebut, semakin luas pemanfaatan LCT, semakin banyak transaksi yang tidak harus bergantung pada mata uang AS. Manfaat yang disampaikan Destry ini berkaitan dengan pengelolaan kebutuhan dolar di dalam negeri, bukan dengan penghapusan seluruh penggunaan dolar dalam kegiatan ekonomi.
Pengurangan kebutuhan dolar domestik, menurut Destry, juga dapat membantu membuat nilai tukar lebih seimbang. Ketika transaksi tertentu dapat diselesaikan dalam mata uang masing-masing negara, kebutuhan untuk membeli dolar guna membayar perdagangan terkait dapat berkurang. Dengan demikian, LCT dipandang sebagai salah satu upaya untuk memperluas pilihan penyelesaian transaksi dan mengurangi tekanan permintaan terhadap dolar. Penjelasan ini merujuk pada manfaat yang ia kemukakan; hal tersebut tidak berarti LCT dengan sendirinya menjamin pergerakan nilai tukar tertentu atau menghilangkan faktor lain yang memengaruhinya.
Keterangan mengenai manfaat tersebut disampaikan dalam konteks kebutuhan menjaga keseimbangan eksternal Indonesia. Pada kuartal II-2026, defisit transaksi berjalan telah menembus 3% dari produk domestik bruto (PDB), sebagaimana disebut dalam bahan sumber. Angka itu menjadi latar yang relevan untuk memahami mengapa pengurangan kebutuhan dolar di dalam negeri mendapat perhatian. Namun, hubungan yang dapat ditegaskan di sini adalah bahwa Destry menyebut LCT berpotensi membantu mengurangi kebutuhan dolar dan mendukung nilai tukar yang lebih seimbang. Tidak perlu menarik kesimpulan tambahan bahwa LCT telah menurunkan defisit tersebut, atau bahwa defisit itu semata-mata disebabkan oleh kebutuhan dolar. Karena itu, perluasan LCT dapat dipahami sebagai bagian dari upaya yang ia pandang bermanfaat, sementara kondisi transaksi berjalan tetap harus dibaca sesuai data yang tersedia.
Hingga Agustus 2026, transaksi dalam skema Local Currency Transaction (LCT) Indonesia tercatat mencapai ekuivalen US$49,4 miliar. Angka ini merupakan realisasi kumulatif sampai bulan tersebut, bukan nilai yang telah dicapai sepanjang tahun penuh. Dibandingkan dengan realisasi sepanjang 2025 sebesar ekuivalen US$25,7 miliar, capaian itu hampir dua kali lipat. Perbandingan tersebut menunjukkan peningkatan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara, sekaligus memberi gambaran mengenai perkembangan kerja sama LCT Indonesia. Namun, kedua angka memiliki rentang waktu berbeda: data 2026 baru mencakup Januari hingga Agustus, sedangkan data 2025 mencakup satu tahun penuh. Karena itu, nilainya perlu dibaca sesuai periode pencatatan masing-masing.
Kerja sama LCT Indonesia dalam data yang disebutkan melibatkan tujuh negara mitra, yaitu China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, dan Singapura. Negara-negara tersebut membentuk jaringan transaksi yang memungkinkan pelaku usaha melakukan penyelesaian pembayaran menggunakan mata uang lokal sesuai pengaturan bilateral yang berlaku. Keberadaan mitra dari kawasan Asia dan Timur Tengah memperluas pilihan jalur pembayaran bagi kegiatan perdagangan maupun investasi. Meski demikian, angka agregat US$49,4 miliar tidak dengan sendirinya menjelaskan porsi kontribusi setiap negara, jenis transaksi, atau komposisi mata uang yang digunakan. Rincian semacam itu memerlukan data terpisah, sehingga tidak tepat menyimpulkan bahwa seluruh mitra memberikan kontribusi yang sama besar terhadap nilai keseluruhan.
Realisasi sampai Agustus juga perlu dibedakan dari proyeksi nilai transaksi LCT Indonesia yang diperkirakan mencapai US$55 miliar pada akhir 2026. Proyeksi tersebut mengacu pada perkiraan untuk keseluruhan tahun, sedangkan US$49,4 miliar adalah nilai yang sudah tercatat hingga Agustus. Selisih kedua angka itu bukan tambahan transaksi yang telah terealisasi, melainkan ruang pertumbuhan yang diperkirakan masih dapat tercapai pada sisa tahun.
Baca juga: Dari Konter Pulsa ke Empat Outlet, Usaha Rahmi Layani Transaksi Warga Dumai | Nyaris Tiba di Garis Akhir, Pelari JRF 2026 Ceritakan Pengalaman Heatstroke | Poco C95 Pro atau Redmi 17 4G: Menimbang Harga Lokal dan Spesifikasi pada Akhir 2026



































