Karangan Bunga Jadi Suara Protes atas Eskalator Mati di Stasiun Bojonggede

oleh -113 Dilihat
oleh
Karangan Bunga Jadi Suara Protes atas Eskalator Mati di Stasiun Bojonggede

Kabupaten Bogor. Saat | Eskalator yang menghubungkan area Stasiun Bojonggede dengan akses skybridge di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tidak berfungsi dan memicu keluhan dari pengguna. Kondisi ini membuat perjalanan menuju jembatan penghubung terasa kurang nyaman, terutama bagi penumpang yang perlu berpindah ant area stasiun atau melanjutkan perjalanan. Fasilitas yang semestinya membantu mobilitas tersebut kini tidak dapat digunakan, sehingga pengguna harus menyesuaikan cara mereka mencapai skybridge.

Menurut keluhan yang disampaikan warga, eskalator itu telah lama mengalami gangguan. Namun, tanpa informasi resmi yang menjelaskan rentang waktunya, awal kerusakan tidak dapat dipastikan. Yang dirasakan langsung oleh pengguna adalah hambatan dalam aktivitas sehari-hari. Penumpang yang membawa barang, bepergian bersama anak, atau memiliki keterbatasan dalam berjalan dapat menghadapi kesulitan lebih besar ketika fasilitas tersebut tidak tersedia.

Gangguan eskalator juga menjadi perhatian di media sosial. Sejumlah unggahan memperlihatkan kondisi fasilitas dan menyuarakan kekecewaan terhadap akses menuju skybridge. Bagi warga, karangan bunga yang ditempatkan di sekitar lokasi menjadi bentuk protes sekaligus cara menarik perhatian terhadap persoalan yang mereka hadapi. Aksi itu menunjukkan bahwa keluhan tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan, tetapi juga harapan agar fasilitas publik yang penting bagi pergerakan penumpang mendapat perhatian.

Skybridge berperan sebagai jalur penghubung di kawasan stasiun, sehingga akses yang mudah dan layak diperlukan untuk mendukung kegiatan penumpang. Ketika eskalator tidak beroperasi, beban untuk mencapai jalur tersebut beralih kepada pengguna, sementara kebutuhan perjalanan tetap berlangsung setiap hari. Situasi ini mendorong warga menyampaikan aspirasi secara terbuka dan meminta kondisi fasilitas diperhatikan. Respons terhadap keluhan tersebut penting agar pengguna memperoleh kejelasan mengenai penanganan akses, serta agar perjalanan di Stasiun Bojonggede dapat berlangsung lebih nyaman dan tertib. Perhatian terhadap sarana penghubung ini juga mencerminkan kebutuhan akan fasilitas stasiun yang berfungsi dan dapat diandalkan oleh beragam kalangan, baik pada jam sibuk maupun di luar waktu tersebut. Bagi pengguna, tersedianya akses yang layak merupakan bagian penting dari pelayanan transportasi publik.Di depan eskalator yang tidak beroperasi di Stasiun Bojonggede, karangan bunga tersusun sebagai pemandangan yang berbeda dari suasana lalu lintas penumpang sehari-hari. Bunga-bunga itu ditempatkan di area yang mudah terlihat, tepat di sekitar fasilitas yang berhenti bergerak. Kehadirannya menghadirkan kesan seperti ungkapan duka cita, sekaligus menyampaikan perhatian warga terhadap kondisi eskalator. Susunan bunga tersebut tidak hanya menjadi penanda visual, tetapi juga mengarahkan perhatian pada persoalan yang dirasakan pengguna stasiun. Di tengah aktivitas orang yang datang dan pergi, rangkaian itu membuat keadaan eskalator sulit diabaikan dan memberi ruang bagi pesan warga untuk dibaca.

Salah satu karangan bunga berukuran besar memuat tulisan, “Warga menyala eskalatornya mati, semangat warga terus bergerak eskalatornya kapan bergerak”. Kalimat tersebut membandingkan semangat warga yang tetap berjalan dengan eskalator yang masih tidak berfungsi. Pilihan kata dan susunan pesannya menjadikan bunga itu lebih dari sekadar pemberian seremonial: ia menjadi medium penyampaian kritik secara terbuka. Nada tulisannya menyiratkan pertanyaan mengenai kapan fasilitas tersebut akan kembali bergerak, sementara bentuk karangan bunga membawa nuansa berkabung. Perpaduan pesan yang lugas dan simbol bunga membuat kondisi di lokasi tersampaikan tanpa perlu penjelasan panjang.

Di sekitar rangkaian utama, sejumlah kertas ditempelkan dengan pesan singkat, lain “Perbaiki sekarang jangan tunggu viral” dan “Eskalator bukan hiasan”. Ada pula kertas serta buket bunga yang memuat harapan dan keluhan warga. Pesan-pesan itu menunjukkan bahwa perhatian masyarakat mencakup kebutuhan akan perbaikan, juga harapan agar fasilitas publik dapat digunakan sebagaimana mestinya. Setiap catatan menyampaikan suara dengan cara sederhana, sehingga beragam pandangan hadir berdampingan di depan eskalator. Kertas yang ditempel dan buket yang diletakkan di sana menjadi bagian dari satu tampilan yang memperlihatkan kepedulian pengguna stasiun. Bagi orang yang melintas, tulisan-tulisan itu menyajikan tuntutan dan harapan secara langsung, sementara bunga-bunga memberi suasana yang menyerupai penghormatan atas fasilitas yang belum dapat dinikmati warga.

Eskalator yang tidak berfungsi di Stasiun Bojonggede membuat perjalanan penumpang dari skybridge menuju terminal dan area Stasiun KRL menjadi lebih sulit. Pengguna tidak dapat memanfaatkan eskalator untuk menuruni atau menaiki jalur penghubung tersebut, sehingga harus mencari akses lain. Dalam kondisi ini, penumpang diarahkan melewati jalur khusus penyandang disabilitas. Jalur itu menjadi lintasan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan, meskipun bukan akses yang semestinya menjadi pilihan utama bagi seluruh pengguna skybridge.

Perubahan rute tersebut berdampak langsung pada kenyamanan dan tenaga yang diperlukan, terutama bagi penumpang lanjut usia atau mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Perjalanan terasa lebih melelahkan karena pengguna harus menempuh jarak lebih jauh dibandingkan jika eskalator tersedia dan berfungsi. Arus penumpang yang menuju terminal maupun Stasiun KRL juga perlu berbagi lintasan dengan pengguna yang memang mengandalkan jalur khusus itu. Situasi tersebut dapat menambah kesulitan saat stasiun ramai, sekaligus membuat perjalanan harian menjadi kurang praktis bagi masyarakat yang bergantung pada transportasi umum.

Tini, 64 tahun, warga Bojonggede yang setia menggunakan KRL, merasakan dampak tersebut dalam aktivitasnya. Ia mengaku kelelahan karena harus berjalan lebih jauh untuk melanjutkan perjalanan dari skybridge. Bagi Tini, kondisi ini bukan sekadar gangguan kecil, sebab akses yang lebih panjang menguras tenaga dan membuat perpindahan antarmoda terasa berat. Ia berharap eskalator dapat segera berfungsi kembali agar pengguna dapat melintas dengan lebih mudah dan perjalanan menuju terminal maupun stasiun kembali praktis. Harapan itu juga menjadi pengingat bahwa fasilitas publik perlu dirawat dan digunakan dengan semestinya. Masyarakat diajak menjaga sarana yang tersedia, mengikuti aturan penggunaan, serta tidak melakukan tindakan yang dapat merusak atau menghambat fungsi fasilitas. Dengan begitu, akses yang aman dan nyaman dapat dinikmati oleh semua penumpang, termasuk orang lanjut usia dan penyandang disabilitas, setiap hari.

Di tengah sorotan terhadap eskalator yang tidak berfungsi di Stasiun Bojonggede, petugas di lokasi menyampaikan bahwa fasilitas tersebut menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Bogor. Keterangan itu memberi informasi mengenai pihak yang menangani persoalan, sekaligus menjadi dasar untuk memahami bahwa tindak lanjut perbaikan berada dalam proses koordinasi dengan pemerintah daerah. Informasi dari petugas tersebut tidak disertai kepastian mengenai jadwal pekerjaan akan rampung maupun waktu eskalator dapat kembali digunakan oleh calon penumpang.

Petugas juga menyebut proses perbaikan telah mulai dilakukan oleh tim teknisi. Dengan demikian, pekerjaan untuk menangani eskalator yang mati sudah berjalan, tetapi tahap dan cakupan penanganannya tidak dijelaskan lebih jauh dalam keterangan yang tersedia. Tidak ada informasi yang memastikan apakah seluruh bagian eskalator telah diperiksa, berapa lama pekerjaan akan berlangsung, atau kapan hasil perbaikan dapat dinyatakan selesai. Karena itu, perkembangan ini perlu dipahami sebatas dimulainya upaya teknis.

Keberadaan teknisi yang mulai melakukan perbaikan menunjukkan adanya tindak lanjut atas gangguan fasilitas tersebut. Namun, sampai ada keterangan resmi lanjutan, belum dapat dipastikan kapan eskalator kembali beroperasi. Pengguna stasiun masih perlu memperhatikan kondisi fasilitas saat berada di area itu dan mengikuti petunjuk yang tersedia. Rencana atau perkiraan waktu pemulihan tidak dapat disimpulkan hanya dari informasi bahwa pekerjaan telah dimulai.

Pada Kamis, 29 Oktober 2026, calon penumpang melintas di samping karangan bunga di depan eskalator.

Baca juga: Perbaikan Eskalator Skybridge Bojonggede Ditargetkan Rampung Akhir November | Sopian, Kucing Stasiun Gondangdia yang Mencuri Perhatian Penumpang