Jakarta | Daniel Mananta dan Viola Maria merayakan ulang tahun pernikahan ke-15 dengan suasana yang berbeda. Untuk pertama kalinya sejak membangun keluarga, pasangan tersebut memperingati hari istimewa itu tanpa kehadiran putri sulung mereka, Mila. Sang anak kini sedang menempuh pendidikan di Jerman sehingga tidak dapat bergabung dalam perayaan keluarga tersebut secara langsung.
Keterangan mengenai perayaan itu disampaikan Daniel ketika ditemui di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Minggu, 11 Oktober 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan bahwa ulang tahun pernikahan kali ini terasa tidak sama karena Mila berada jauh dari rumah. Jarak dan kesibukan sekolah membuat putri sulung mereka harus melewatkan perayaan penting bagi kedua orang tuanya.
Kepergian Mila untuk bersekolah di Jerman menjadi perubahan baru dalam dinamika keluarga Daniel dan Viola. Selama ini, momen-momen khusus keluarga dapat dirayakan bersama anak-anak. Namun, pada peringatan 15 tahun pernikahan mereka, pasangan tersebut harus menerima kenyataan bahwa salah satu anggota keluarga berada di negara lain.
Walaupun tidak hadir secara langsung, Mila tetap menjadi bagian penting dalam perayaan tersebut. Kehadirannya dikenang melalui komunikasi dan perhatian keluarga dari jarak jauh. Bagi Daniel dan Viola, peringatan ini bukan hanya menandai perjalanan 15 tahun sebagai pasangan, tetapi juga memperlihatkan fase baru dalam kehidupan keluarga ketika anak mulai mandiri dan menempuh pendidikan di luar negeri. Perubahan itu membuat suasana perayaan terasa lebih haru, sekaligus menunjukkan dukungan mereka terhadap pilihan pendidikan Mila di Jerman.
Daniel Mananta membagikan kabar mengenai putri sulungnya, Mila, yang kini berusia 14 tahun. Dalam keterangannya, Daniel menyampaikan bahwa Mila sedang menjalani pendidikan di Jerman. Keputusan tersebut membuat sang putri harus tinggal jauh dari keluarga, sekaligus menjalani pengalaman baru di negara yang berbeda dari tempat asalnya.
Menurut Daniel, Mila telah menempuh pendidikan di Jerman selama kurang lebih satu tahun. Rentang waktu tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Mila di sana bukan sekadar kunjungan singkat, melainkan bagian dari perjalanan pendidikannya. Selama menjalani kehidupan di Jerman, Mila tentu berhadapan dengan lingkungan, kebiasaan, serta situasi yang berbeda. Namun, Daniel tidak menyampaikan rincian lebih lanjut mengenai sekolah maupun tempat tinggal putrinya.
Daniel juga mengungkapkan bahwa dirinya belum mengetahui apakah Mila akan merasa betah dan kemudian melanjutkan kehidupannya di Jerman. Pernyataan itu menunjukkan bahwa masa depan sang putri masih terbuka dan belum dapat dipastikan. Bagi Daniel, pengalaman Mila selama berada di negara tersebut akan menjadi bagian penting dalam prosesnya mengenal lingkungan baru dan menentukan kenyamanan bagi dirinya sendiri.
Meski berada berjauhan, Daniel tetap mengikuti perkembangan putrinya. Ia menyampaikan informasi mengenai pendidikan Mila dalam konteks perjalanan keluarga, terutama ketika membicarakan perayaan 15 tahun pernikahannya. Pada momen tersebut, Mila tidak dapat hadir bersama keluarga karena sedang bersekolah di Jerman. Daniel pun masih menunggu bagaimana perasaan Mila setelah menjalani kehidupan di sana, termasuk apakah ia akan memilih untuk tetap tinggal dan meneruskan kehidupannya di negara tersebut.
Daniel Mananta mengungkapkan bahwa dirinya sebelumnya tidak pernah menyangka akan mampu mengizinkan putri sulungnya bersekolah di luar negeri ketika anak tersebut baru berusia 14 tahun. Bagi Daniel, keputusan itu bukan sesuatu yang mudah diambil. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa anaknya akan menjalani kehidupan pendidikan yang jauh dari rumah dan keluarga, termasuk saat menempuh sekolah di Jerman.
Pengakuan tersebut disampaikan sebagai gambaran mengenai perasaannya sebagai orang tua dalam menentukan langkah penting bagi anak. Daniel menyadari bahwa memberikan izin untuk bersekolah di negara lain membutuhkan kesiapan, bukan hanya dari anak, tetapi juga dari dirinya sendiri. Usia putrinya yang masih 14 tahun membuat keputusan itu terasa semakin besar dan tidak sederhana.
Meski demikian, Daniel akhirnya mengizinkan putri sulungnya melanjutkan pendidikan di luar negeri. Pernyataannya menunjukkan bahwa keputusan tersebut tetap menjadi pengalaman yang penuh pertimbangan baginya. Ia tidak menutupi bahwa pada awalnya dirinya tidak yakin dapat mengambil pilihan itu, sehingga pengakuan tersebut memperlihatkan betapa beratnya proses yang harus dijalani sebelum memberikan izin.
Dalam konteks keluarga, pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan Daniel sebagai ayah. Mengizinkan anak bersekolah jauh dari rumah berarti menerima perubahan dalam keseharian keluarga, sekaligus memberikan ruang bagi anak untuk menjalani pendidikan di tempat yang berbeda. Namun, Daniel menekankan perasaannya terhadap keputusan tersebut tanpa menganggapnya sebagai hal yang mudah sejak awal. Pengakuan itu memperlihatkan bahwa keputusan menyekolahkan putrinya di luar negeri merupakan langkah yang memerlukan keberanian dan kesiapan emosional dari dirinya sebagai orang tua.
Selain faktor keluarga yang sedang menjalani pendidikan di luar negeri, Daniel Mananta menyebut alasan lain di balik pilihan Jerman sebagai tempat sekolah Mila. Menurut Daniel, keputusan tersebut juga berkaitan dengan status kewarganegaraan Viola Maria, ibunda Mila. Viola merupakan warga negara Jerman, sehingga keberadaan Mila di negara itu memberikan kemudahan tertentu dalam mengakses pendidikan. Dalam penjelasannya, Daniel menyampaikan bahwa biaya sekolah di Jerman tidak perlu ia tanggung karena Mila memiliki keterkaitan kewarganegaraan melalui ibunya.
Faktor biaya tersebut menjadi salah satu pertimbangan yang membuat pendidikan Mila di Jerman dapat berlangsung. Daniel tidak menjelaskan pilihan itu semata-mata sebagai persoalan finansial, melainkan sebagai bagian dari kesempatan yang tersedia bagi putrinya. Dengan adanya status warga negara Jerman dari Viola, Mila dapat memperoleh akses pendidikan di sana tanpa beban biaya sekolah yang harus dibayarkan oleh Daniel. Hal ini turut menjelaskan mengapa keluarga mereka memilih mempertimbangkan Jerman sebagai tempat Mila melanjutkan pendidikan.
Ketika ditanya apakah keputusan menyekolahkan putrinya di luar negeri terasa berat, Daniel menjawab pertanyaan tersebut sambil tertawa. Ia kemudian menyoroti kesempatan yang diperoleh Mila melalui pendidikan di Jerman. Bagi Daniel, kesempatan itu merupakan hal yang patut disyukuri, terlebih karena putrinya dapat belajar dan mendapatkan pengalaman di lingkungan yang berbeda. Rasa syukur tersebut menjadi penutup dari penjelasannya mengenai pilihan pendidikan Mila, termasuk faktor kewarganegaraan Viola dan biaya sekolah yang tidak perlu ia tanggung.
Baca juga: Penembakan di Sekolah Aubagne: Remaja 14 Tahun Ditangkap, Kepala Sekolah dan Guru Terluka | Baerb el Bas Mundur dari Pemerintahan Jerman Setelah Kehilangan Putri Tiri | Puluhan Demonstran Kepung Dispendik Sidoarjo, Tuntut Pengaduan Sekolah Ditangani Secara Terbuka







