Asap Tebal Hambat Operasi Lima Helikopter Pemadam Karhutla di Sumatera Selatan

oleh -114 Dilihat
oleh
Asap Tebal Hambat Operasi Lima Helikopter Pemadam Karhutla di Sumatera Selatan

Palembang | Lima helikopter water bombing yang tergabung dalam Satuan Tugas Udara Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Udara Karhutla) belum dapat menjalankan misi pemadaman di sejumlah titik di Sumatera Selatan. Armada bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tersebut saat ini berada dalam kondisi siaga di Palembang, sambil menunggu situasi cuaca dan jarak pandang memungkinkan untuk penerbangan.

Helikopter itu sebelumnya telah dijadwalkan membantu penanganan kebakaran melalui operasi pemadaman dari udara. Dengan membawa air, armada tersebut diharapkan dapat menjangkau area yang sulit didatangi melalui jalur darat serta mempercepat penanganan titik api. Namun, rencana penerbangan belum dapat dilaksanakan karena kepulan asap karhutla membuat jarak pandang di wilayah operasi menurun secara signifikan.

Kondisi tersebut menjadi kendala bagi pelaksanaan misi, terutama karena penerbangan water bombing membutuhkan visibilitas yang memadai. Asap tebal dapat menyulitkan awak dalam menentukan arah, mengenali lokasi sasaran, dan menjaga keselamatan saat helikopter melakukan manuver maupun menjatuhkan air. Oleh sebab itu, keputusan untuk menunda penerbangan diambil dengan mempertimbangkan keselamatan personel dan keamanan operasional. Kelima helikopter tetap disiagakan di Palembang dan dapat dikerahkan setelah kondisi atmosfer membaik serta penerbangan dinilai aman. Penundaan ini bukan berarti operasi pemadaman dihentikan, melainkan langkah sementara untuk menghindari risiko yang lebih besar dalam situasi jarak pandang rendah. Pemantauan terhadap perkembangan asap dan titik api terus menjadi dasar penentuan waktu keberangkatan berikutnya. Pemerintah daerah bersama unsur penanggulangan bencana juga perlu memastikan informasi mengenai kondisi lapangan tersedia secara berkala, sehingga pengerahan armada udara dapat dilakukan secara tepat dan efektif ketika kesempatan terbang kembali terbuka.

Kepala Balai Penanggulangan Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menjelaskan bahwa kondisi penerbangan lima helikopter pemadam kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan pada Selasa, 13 Oktober 2026, masih terkendala asap tebal. Pada pagi hari, seluruh helikopter sempat berada dalam kondisi siap untuk melaksanakan operasi. Namun, kesiapan tersebut belum dapat langsung dilanjutkan dengan penerbangan karena jarak pandang kembali menurun.

Penurunan jarak pandang membuat rencana penerbangan harus ditunda. Tim kemudian kembali melakukan persiapan sambil menunggu kondisi memungkinkan. Situasi tersebut menunjukkan bahwa kesiapan helikopter tidak semata-mata ditentukan oleh kondisi armada, tetapi juga oleh keadaan udara di sekitar wilayah operasi. Ketika jarak pandang sangat rendah, penerbangan menjadi berisiko sehingga pelaksanaan kegiatan pemadaman dari udara tidak dapat dipaksakan.

Ferdian menyampaikan bahwa pengoperasian water bombing tetap bergantung pada perkembangan jarak pandang. Artinya, operasi hanya dapat dilakukan apabila kondisi tersebut dinilai mendukung keselamatan penerbangan. Selama visibility masih sangat rendah, penerbangan harus ditunda dan persiapan dilakukan kembali. Keputusan itu menjadi bagian penting dalam pelaksanaan operasi, karena keselamatan penerbangan harus menjadi pertimbangan sebelum helikopter menjalankan misi pemadaman.

Dengan demikian, asap tebal dan jarak pandang yang berubah-ubah menjadi kendala utama bagi penerbangan pada hari tersebut. Helikopter yang sempat siap terbang pada pagi hari belum dapat segera beroperasi setelah visibility kembali menurun. Perkembangan jarak pandang terus menjadi dasar untuk menentukan apakah water bombing dapat dilaksanakan atau masih harus menunggu. Ferdian menegaskan bahwa keputusan pengoperasian tetap mengikuti kondisi di lapangan, khususnya tingkat jarak pandang yang menentukan aman atau tidaknya penerbangan.

Jarak pandang rendah telah menjadi kendala dalam operasi lima helikopter pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan sejak Kamis, 8 Oktober. Kondisi tersebut membuat pelaksanaan penerbangan tidak dapat berlangsung secara konsisten karena jarak pandang di sekitar lokasi kejadian terus berubah. Pada waktu tertentu, visibilitas masih memungkinkan helikopter bergerak, tetapi pada hari lainnya kondisi udara tidak cukup mendukung penerbangan.

Menurut Ferdian, perubahan visibility menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pelaksanaan operasi udara. Tim harus memantau keadaan di lapangan sebelum menentukan apakah helikopter dapat diterbangkan atau perlu menunggu. Ketika jarak pandang menurun, penerbangan tidak dapat dilakukan pada beberapa hari. Keputusan itu berkaitan langsung dengan aspek keselamatan selama helikopter melaksanakan misi pemadaman di area yang terdampak karhutla.

Upaya water bombing juga pernah dilakukan dari Bangka Belitung untuk membantu penanganan kebakaran. Namun, hasilnya belum optimal karena langit di sekitar lokasi karhutla tertutup asap tebal. Kondisi tersebut menyulitkan pandangan dari udara dan membatasi efektivitas pelaksanaan penyiraman. Dengan demikian, meskipun dukungan penerbangan telah disiapkan, pelaksanaannya tetap bergantung pada keadaan atmosfer di wilayah sasaran.

Perubahan jarak pandang di lokasi kejadian menjadi faktor penting dalam menentukan keamanan operasi udara. Setiap penerbangan perlu disesuaikan dengan kondisi yang terpantau pada saat itu, termasuk tingkat keterbukaan pandangan menuju area karhutla. Selama asap masih menutup kawasan dan visibility berubah-ubah, jadwal operasi helikopter dapat mengalami penyesuaian. Pemantauan berkelanjutan diperlukan agar keputusan penerbangan tetap mengikuti kondisi aktual di lapangan.

Meskipun lima helikopter pemadam karhutla belum dapat beroperasi sementara akibat asap tebal, penanganan kebakaran tetap dilakukan oleh Satuan Tugas Darat. Ferdian memastikan personel di lapangan terus menjalankan upaya pemadaman pada titik-titik yang terpantau mengalami kebakaran. Langkah tersebut dilakukan untuk mengendalikan api dan mencegahnya meluas, terutama di wilayah yang masih memiliki potensi penyebaran karhutla.

Wilayah yang menjadi fokus penanganan meliputi Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, dan Muara Enim. Satgas Darat mengerahkan personel serta peralatan yang tersedia untuk menjangkau lokasi kebakaran. Pemadaman dilakukan secara langsung di area terdampak, dengan menyesuaikan kondisi lapangan dan tingkat kesulitan akses menuju titik api. Pengawasan juga tetap dilakukan terhadap kawasan sekitar untuk mengantisipasi munculnya titik kebakaran lainnya.

Dalam pelaksanaannya, tim menghadapi kendala berupa medan yang berat. Kondisi lokasi yang sulit dijangkau membuat proses pemadaman membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar. Selain itu, ketersediaan air semakin terbatas karena sejumlah sungai dan kanal mulai mengering. Situasi tersebut menyulitkan petugas ketika membutuhkan pasokan air untuk memadamkan api, sehingga penanganan di lapangan harus dilakukan dengan sumber daya yang tersedia. Selama helikopter belum dapat beroperasi, Satgas Darat tetap melanjutkan pemadaman di Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, dan Muara Enim.

Baca juga: Asap Karhutla Menyelimuti Palembang Saat Suhu Sumatera Selatan Mencapai 37 Derajat Celsius | Menguji Peran Dry Ice dalam Mengurai Kabut Asap Karhutla di Sumatera Selatan | Kabut Asap Karhutla Alihkan Pembelajaran di Tiga Kabupaten Papua Selatan