Kabut Asap Mengancam Kesehatan Mata, dari Iritasi hingga Mata Kering

oleh -125 Dilihat
oleh
Kabut Asap Mengancam Kesehatan Mata, dari Iritasi hingga Mata Kering

Jakarta | Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia tidak hanya mengganggu kualitas udara dan kesehatan pernapasan. Partikel serta zat iritan yang terbawa asap juga dapat berdampak pada mata, terutama ketika seseorang terpapar dalam waktu lama atau berulang. Kondisi ini perlu diwaspadai karena mata memiliki permukaan yang langsung bersentuhan dengan lingkungan.

Paparan asap secara terus-menerus dapat memicu iritasi, yang biasanya ditandai dengan mata merah, perih, gatal, berair, atau terasa seperti kemasukan benda asing. Pada sebagian orang, paparan tersebut juga dapat menyebabkan peradangan pada permukaan mata. Jika berlangsung berkelanjutan, asap berpotensi mengganggu lapisan air mata sehingga keluhan mata kering atau dry eye menjadi lebih mudah muncul. Gejalanya dapat berupa rasa panas, tidak nyaman, sensitif terhadap cahaya, hingga penglihatan yang terasa kabur sementara.

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PP Perdami), Prof. Dr. Budu, menjelaskan bahwa asap merupakan salah satu faktor lingkungan yang dapat mengganggu kesehatan permukaan mata. Pernyataan tersebut disampaikan dalam media briefing Hari Penglihatan Sedunia 2026 yang mengusung tema “Jangan Tunggu Mata Bermasalah: Saatnya Peduli Kesehatan Mata” pada Selasa (13/10/2026).

Menurutnya, gangguan pada permukaan mata tidak hanya dipengaruhi oleh kabut asap. Debu, angin, dan perubahan kelembapan juga termasuk faktor lingkungan yang dapat memperburuk kondisi tersebut. Ketika beberapa faktor hadir secara bersamaan, lapisan pelindung mata dapat lebih cepat mengalami penguapan atau iritasi. Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak perlu memperhatikan perubahan pada mata dan membatasi paparan lingkungan yang berisiko, khususnya saat kualitas udara memburuk.

Paparan lingkungan yang berulang dapat membuat permukaan mata terus berada dalam kondisi teriritasi. Kabut asap, debu, angin, serta tingkat kelembapan tertentu merupakan faktor yang dapat mempertahankan iritasi tersebut. Jika keadaan ini berlangsung terus-menerus, mata tidak hanya mengalami gangguan sementara, tetapi juga memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami peradangan. Hubungan paparan lingkungan dan gangguan mata terlihat dari bagaimana berbagai kondisi tersebut memengaruhi keseimbangan permukaan mata.

Budu menjelaskan bahwa iritasi yang berkelanjutan dapat memicu proses peradangan. Peradangan ini bukan sekadar menimbulkan rasa tidak nyaman, melainkan juga dapat memengaruhi bagian-bagian mata yang berperan dalam menghasilkan cairan. Ketika bagian tersebut terganggu, keseimbangan kelembapan pada permukaan mata dapat ikut berubah. Dengan demikian, paparan kabut asap dan faktor lingkungan lain perlu dipahami sebagai pemicu yang dapat memengaruhi fungsi alami mata, terutama apabila iritasi terjadi berulang kali.

Selain berkaitan dengan produksi cairan, peradangan juga dapat mengganggu komponen lemak pada lapisan air mata. Lapisan air mata tersusun atas beberapa komponen yang bekerja menjaga kestabilan permukaan mata, termasuk bagian lemak yang membantu mempertahankan lapisan tersebut. Gangguan pada komponen ini dapat membuat keseimbangan lapisan air mata menjadi tidak optimal. Karena itu, iritasi akibat kabut asap, debu, angin, atau kelembapan tertentu tidak sebaiknya dipandang sebagai kondisi yang berdiri sendiri. Paparan yang menetap dapat berhubungan dengan peradangan, lalu memengaruhi unsur-unsur yang menjaga kondisi permukaan mata.

Permukaan mata dilindungi oleh lapisan air mata yang berperan penting dalam mempertahankan kelembapan. Lapisan ini tidak hanya tersusun atas cairan, tetapi juga melibatkan komponen lemak yang membantu menjaga kestabilannya. Cairan mata membasahi permukaan mata, sedangkan komponen lemak membantu mempertahankan cairan tersebut agar perlindungan dan kelembapan tetap terjaga. Keduanya bekerja sebagai bagian dari sistem pelindung alami mata.

Menurut penjelasan narasumber, gangguan pada bagian mata yang memproduksi cairan mata dan komponen lemak dapat memengaruhi kondisi lapisan pelindung tersebut. Peradangan menjadi salah satu faktor yang dapat mengganggu fungsi bagian mata itu. Ketika produksi atau peran kedua komponen tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya, keseimbangan lapisan air mata ikut terganggu. Akibatnya, permukaan mata menjadi lebih mudah kehilangan kelembapan.

Kondisi tersebut dapat membuat mata lebih rentan mengalami kekeringan atau dry eye. Dengan demikian, mata kering merupakan salah satu dampak yang disebutkan dalam sumber ketika fungsi penghasil cairan mata dan komponen lemak mengalami gangguan akibat peradangan. Mekanismenya berkaitan dengan melemahnya kemampuan lapisan air mata dalam membasahi sekaligus melindungi permukaan mata. Kabut asap dapat dikaitkan dengan pembahasan mengenai gangguan pada mata, tetapi bagian ini menekankan bahwa kekeringan terjadi melalui terganggunya sistem kelembapan dan perlindungan alami tersebut, bukan semata-mata karena berkurangnya cairan tanpa perubahan pada komponen lainnya.

Risiko terhadap kesehatan mata tidak hanya muncul ketika kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan menyelimuti suatu wilayah. Menurut Budu, berbagai jenis asap yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari juga dapat memengaruhi kondisi mata. Asap dapur, asap kendaraan di jalanan, asap rokok, serta asap dari pembakaran sampah sama-sama berpotensi membawa partikel dan zat iritan. Jika masuk atau menempel pada permukaan mata, partikel tersebut dapat menimbulkan rasa perih, mata merah, gatal, berair, dan sensasi seperti berpasir.

Selain asap, debu serta kondisi lingkungan yang menyebabkan iritasi berkepanjangan juga perlu diwaspadai. Paparan berulang dapat mengganggu lapisan air mata dan membuat mata lebih mudah kering. Pada sebagian orang, iritasi kronis berpotensi berkontribusi terhadap penyakit mata tertentu. Salah satu contohnya adalah pterigium, yaitu kondisi ketika jaringan menyerupai selaput tumbuh pada permukaan mata, biasanya dari arah sudut mata menuju bagian bening di tengah. Pterigium banyak ditemukan di negara-negara dengan lingkungan padang pasir dan paparan debu tinggi. Paparan sinar ultraviolet, angin, serta partikel di udara dapat menjadi faktor yang memperburuk pertumbuhan jaringan tersebut.

Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak mengabaikan kesehatan mata ketika kualitas udara memburuk. Budu mengimbau agar warga mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kadar polutan meningkat, menggunakan pelindung mata yang sesuai, dan tidak menggosok mata ketika terasa gatal atau perih. Menjaga kebersihan tangan, membatasi sumber asap di dalam rumah, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila keluhan menetap juga penting dilakukan. Perlindungan mata perlu berjalan bersama upaya menjaga lingkungan dan kualitas udara, sebab udara yang lebih bersih tidak hanya mengurangi gangguan pernapasan, tetapi juga membantu mempertahankan kesehatan mata dalam jangka panjang.

Baca juga: Menguji Peran Dry Ice dalam Mengurai Kabut Asap Karhutla di Sumatera Selatan | Karhutla di Kotawaringin Barat Mengancam Habitat Orangutan Tanjung Puting | Kabut Asap Karhutla Alihkan Pembelajaran di Tiga Kabupaten Papua Selatan