Kabupaten Deli Serdang | Tim SAR gabungan menemukan dua remaja perempuan yang terseret arus Sungai Tadukan Raga, Kecamatan STM Hilir, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, dalam keadaan meninggal dunia pada hari ketiga pencarian, Sabtu, 24 Oktober 2026. Penemuan tersebut mengakhiri upaya pencarian yang dilakukan setelah kedua remaja dilaporkan terseret arus di sungai itu. Setelah ditemukan, jenazah kedua korban dievakuasi dari lokasi dan diserahkan kepada keluarga.
Operasi pencarian berlangsung di kawasan Sungai Tadukan Raga, tempat insiden tersebut terjadi. Tim SAR gabungan melakukan penyisiran untuk menemukan para korban, dengan mempertimbangkan kondisi aliran sungai dan area sekitar. Pencarian berlanjut hingga hari ketiga sebelum kedua remaja berhasil ditemukan. Informasi mengenai hasil operasi kemudian menjadi penanda berakhirnya pencarian terhadap dua korban di wilayah Kecamatan STM Hilir tersebut.
Proses evakuasi dilakukan setelah tim menemukan kedua korban. Jenazah selanjutnya diserahkan kepada keluarga untuk penanganan lebih lanjut. Penyerahan itu menutup rangkaian pencarian dan evakuasi yang melibatkan tim SAR gabungan. Peristiwa ini menjadi perhatian masyarakat di Deli Serdang, khususnya di sekitar lokasi kejadian. Sungai Tadukan Raga berada di Kecamatan STM Hilir, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, dan di sanalah kedua remaja terseret arus. Hingga pencarian hari ketiga, upaya tim difokuskan pada menemukan korban, sebelum akhirnya operasi menghasilkan penemuan kedua remaja dalam keadaan meninggal dunia pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Keterangan mengenai evakuasi dan penyerahan jenazah kepada keluarga melengkapi informasi utama tentang hasil pencarian tersebut.
Penemuan kedua remaja di Sungai Tadukan Raga berlangsung dalam rentang waktu dini hari hingga pagi. Berdasarkan urutan waktunya, AF, 17 tahun, ditemukan lebih dahulu, sekitar pukul 03.30 WIB. Lokasi penemuan berada di aliran sungai, dengan jarak kira-kira satu kilometer dari titik awal kejadian. Informasi tersebut membedakan posisi AF dari lokasi awal yang menjadi acuan pencarian. Setelah korban pertama ditemukan, pencarian berlanjut untuk menemukan FE, 15 tahun, yang masih belum diketahui keberadaannya pada saat itu. Perbedaan usia dan inisial ini penting untuk menjelaskan kronologi tanpa mencampuradukkan kedua korban.
FE ditemukan pada pukul 05.55 WIB, sekitar dua jam dua puluh lima menit setelah AF ditemukan. Remaja berusia 15 tahun itu ditemukan dalam keadaan mengapung di tepi sungai. Titik penemuannya diperkirakan berjarak sekitar tujuh kilometer dari lokasi awal kejadian, ke arah utara timur laut. Dengan demikian, kedua korban ditemukan di bagian aliran yang berbeda dan pada jarak yang tidak sama dari titik awal. Keterangan mengenai arah dan jarak tersebut memberikan gambaran tentang sebaran lokasi penemuan, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan bagaimana masing-masing korban berpindah hingga ke titik tersebut.
Petunjuk dari seorang penambang pasir lokal turut membantu mengarahkan tim pencari kepada korban. Penambang itu melihat jasad di sekitar aliran sungai, lalu informasi penglihatannya menjadi petunjuk bagi tim untuk menelusuri area terkait. Peran informasi warga di sekitar sungai tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian pencarian, terutama karena lokasi yang harus diperiksa membentang jauh dari titik awal. Secara kronologis, AF ditemukan lebih dahulu pada dini hari, sementara FE ditemukan menjelang pagi di tepi sungai. Keduanya tercatat ditemukan pada waktu dan lokasi berbeda: AF sekitar satu kilometer dari titik awal, sedangkan FE sekitar tujuh kilometer ke arah utara timur laut.
Peristiwa di Sungai Tadukan Raga bermula pada Kamis, 22 Oktober 2026, sekitar pukul 18.00 WIB. Saat itu, AF dan FE tengah mandi di sungai bersama empat orang teman. Kegiatan tersebut berlangsung ketika suasana mulai memasuki waktu petang. Pada suatu kesempatan, AF dan FE berusaha menyeberangi sungai bersama seorang teman mereka. Situasi berubah ketika arus air mendadak menjadi deras. Teman yang menyeberang bersama keduanya berhasil mencapai tepian, sementara AF dan FE terseret arus. Kejadian itu membuat teman-teman mereka dan warga sekitar segera berupaya mencari kedua remaja tersebut.
Pada malam kejadian, warga melakukan pencarian secara mandiri di sekitar lokasi. Upaya awal itu dilakukan dengan menyusuri area sungai dan bantaran yang dapat dijangkau, tetapi AF dan FE belum ditemukan. Karena pencarian warga tidak membuahkan hasil, insiden tersebut kemudian dilaporkan kepada Kantor SAR Medan agar penanganan dapat dilanjutkan oleh tim yang memiliki personel serta perlengkapan pencarian dan pertolongan. Laporan itu menjadi dasar bagi petugas untuk mengoordinasikan operasi, mengumpulkan informasi mengenai lokasi kejadian, dan menentukan cara pencarian yang sesuai dengan kondisi sungai serta wilayah di sekitarnya.
Setelah menerima laporan, tim SAR melakukan pencarian melalui dua jalur, yakni perairan dan darat. Di sungai, petugas menyisir aliran menggunakan perahu karet untuk memeriksa area yang sulit dijangkau dari tepian. Pada saat yang sama, pencarian darat dilakukan dengan menyusuri bantaran sungai, termasuk bagian-bagian yang dinilai perlu diperiksa berdasarkan kondisi medan. Kedua upaya tersebut dikerjakan secara terkoordinasi, dengan pembagian tugas dan dukungan peralatan SAR. Pola pencarian ini memungkinkan petugas memeriksa area sungai sekaligus tepian secara lebih sistematis. Koordinasi juga membantu memastikan perkembangan dari setiap jalur pencarian dapat disampaikan dan ditindaklanjuti oleh tim di lapangan.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan, Hery Marantika, menyampaikan bahwa pencarian terhadap dua remaja di Sungai Tadukan Raga dilakukan secara terkoordinasi sejak laporan mengenai kejadian tersebut diterima. Upaya pencarian tidak menunggu hingga waktu berikutnya, melainkan dimulai setelah laporan masuk dan dilaksanakan sebagai operasi bersama. Kedua remaja itu kemudian ditemukan pada hari ketiga operasi pencarian. Keterangan tersebut menggambarkan rentang pelaksanaan pencarian, mulai dari diterimanya laporan hingga ditemukannya kedua korban.
Menurut Hery, koordinasi menjadi bagian dari pelaksanaan operasi sejak awal. Dengan demikian, langkah pencarian berlangsung dalam kerangka upaya yang terorganisasi setelah informasi diterima. Operasi berlanjut selama tiga hari, dan pada hari ketiga tim menemukan kedua remaja yang dicari. Pernyataan ini menegaskan bahwa pencarian berakhir setelah kedua korban ditemukan, tanpa mengubah urutan waktu yang disampaikan oleh pihak Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan. Hery menyampaikan informasi tersebut sekaligus mengingatkan masyarakat agar lebih memperhatikan keselamatan ketika berada di sekitar sungai.
Hery mengimbau masyarakat, khususnya para orang tua, untuk mengawasi anak-anak yang beraktivitas di sekitar sungai. Pengawasan diperlukan agar kegiatan anak di area tersebut tetap diperhatikan, terutama ketika mereka berada dekat aliran air. Ia juga meminta masyarakat untuk memperhatikan kondisi arus dan kedalaman sungai sebelum beraktivitas atau melintas. Kedua hal itu perlu menjadi pertimbangan karena kondisi sungai dapat menentukan aman atau tidaknya seseorang melintas. Jika keadaan tidak aman, masyarakat diingatkan agar tidak memaksakan diri menyeberang. Imbauan ini ditujukan untuk mendorong kewaspadaan, terutama bagi orang tua yang anak-anaknya berada di sekitar sungai, serta bagi siapa pun yang beraktivitas di dekat aliran air. Memperhatikan arus dan kedalaman, mengawasi anak, dan menghindari penyeberangan ketika situasi tidak aman merupakan pesan keselamatan yang disampaikan Hery setelah operasi pencarian berlangsung hingga kedua remaja ditemukan pada hari ketiga.
Baca juga: Gelombang Protes di Prancis Berakhir Ricuh, Hampir 1.000 Orang Ditangkap | Sengketa Ibadah dan Pemecatan di Apple Berakhir dengan Kompensasi Rp2,6 Miliar



































