Virtus Tekankan Fondasi Data dan Keamanan di Tengah Perkembangan AI

oleh -215 Dilihat
oleh
Virtus Tekankan Fondasi Data dan Keamanan di Tengah Perkembangan AI

Jakarta | PT Virtus Technology Indonesia menilai tata kelola data dan keamanan menjadi fondasi penting bagi perusahaan yang ingin mengantisipasi pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). Pemanfaatan AI di lingkungan bisnis semakin meluas, seiring perusahaan mencari cara untuk meningkatkan efisiensi operasional dan produktivitas. Namun, penerapan teknologi ini tidak cukup hanya berangkat dari kemampuan sistem menghasilkan jawaban atau mengotomatisasi pekerjaan. Perusahaan juga perlu memahami bagaimana data digunakan, dilindungi, dan dikelola sepanjang proses penerapan. Tanpa landasan tersebut, manfaat AI berisiko sulit dipertahankan ketika penggunaannya berkembang ke lebih banyak fungsi dan skala.

Direktur Virtus Technology Indonesia, Christian Atmaja, menyampaikan bahwa pertimbangan perusahaan saat mengadopsi AI kini mencakup lebih banyak aspek daripada kemampuan teknologinya. Perusahaan perlu memperoleh kepastian mengenai cara kerja solusi, serta memastikan hasil dan prosesnya dapat diprediksi. Skalabilitas juga menjadi perhatian, agar penerapan dapat bertumbuh mengikuti kebutuhan organisasi tanpa mengabaikan kendali. Di saat yang sama, keamanan dan tata kelola data perlu dipertimbangkan sejak awal. Rangkaian pertimbangan tersebut menunjukkan bahwa keputusan memilih AI tidak semata-mata didasarkan pada fitur, tetapi juga pada kesiapan perusahaan untuk mengoperasikan teknologi secara bertanggung jawab.

Pernyataan itu disampaikan dalam media roundtable Virtus Showcase 2026 di Jakarta pada Selasa (13/10). Dalam konteks adopsi AI yang kian meluas, perusahaan menghadapi kebutuhan untuk menyeimbangkan dorongan inovasi dengan pengelolaan risiko. Data yang menjadi masukan bagi sistem AI dapat berkaitan dengan berbagai proses bisnis, sehingga pengaturan akses, perlindungan informasi, dan tanggung jawab pengelolaan perlu mendapat perhatian. Perusahaan juga perlu menilai apakah infrastruktur dan kebijakan yang dimiliki mampu mendukung penggunaan AI secara konsisten. Dengan demikian, tata kelola data bukan sekadar persyaratan administratif, melainkan bagian dari kesiapan operasional. Pendekatan yang mencakup keamanan, prediktabilitas, dan kemampuan untuk berkembang dapat membantu organisasi menilai penerapan AI secara lebih terukur, sekaligus menjaga agar peningkatan efisiensi dan produktivitas tetap sejalan dengan kebutuhan bisnis.

Dalam pandangan Christian, hasil pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan model yang digunakan. Model dengan kemampuan tinggi tetap bekerja dalam konteks data dan sistem tertentu. Karena itu, penilaian atas kinerja AI perlu melihat lebih dari spesifikasi teknis model. Cara data dikelola serta lingkungan teknologi yang menopang sistem turut membentuk bagaimana kemampuan tersebut diterapkan dan hasil yang dapat dihasilkan. AI tidak berdiri sendiri; prosesnya bergantung pada fondasi yang menghubungkan model dengan informasi dan operasi perusahaan. Jika konteks itu kurang mendukung, kemampuan model yang canggih belum tentu tercermin dalam hasil yang sesuai harapan atau kebutuhan pengambilan keputusan bisnis.

Pesan Christian menekankan bahwa peningkatan kemampuan AI tidak otomatis menghasilkan keputusan yang lebih baik. Keputusan yang dihasilkan bergantung pula pada mutu dan kesiapan data yang menjadi masukan, serta cara sistem mengolah dan menggunakan data tersebut. Lingkungan teknologi yang menopang penerapan AI juga menjadi bagian dari kondisi yang memengaruhi hasil. Dengan demikian, perbedaan kemampuan model dan hasil nyata tidak selalu dapat dijelaskan dengan melihat model saja. Fondasi yang belum siap dapat membatasi manfaat yang diperoleh, sekalipun teknologi AI yang digunakan memiliki kemampuan semakin tinggi. Hubungan model, data, dan sistem pendukung perlu dipahami sebagai satu kesatuan dalam menilai hasil penerapan.

Pandangan tersebut membuat kesiapan sistem dan data menjadi pertimbangan penting ketika perusahaan menilai penggunaan AI. Sebelum memperluas penerapannya, perusahaan perlu memahami apakah fondasi yang tersedia mampu menopang cara AI digunakan dan keputusan yang diharapkan. Penilaian ini mencakup peran data serta lingkungan teknologi, bukan hanya kemampuan model. Dengan melihat seluruh konteks tersebut, perusahaan dapat menilai apakah peningkatan kemampuan AI beriringan dengan kesiapan fondasi yang diperlukan. Inti pesannya bukan bahwa model kurang penting, melainkan bahwa kecanggihan model saja tidak cukup untuk menjamin hasil yang lebih baik. Kinerja AI perlu dipahami dalam kaitannya dengan fondasi data dan teknologi yang mendukungnya.

Seruan sejumlah tokoh teknologi dunia agar pengembangan kecerdasan buatan (AI) diperlambat turut mengangkat perhatian pada aspek keamanan dan tata kelola. Bagi Virtus, perkembangan teknologi tidak cukup dinilai dari kemampuan baru yang ditawarkan; kesiapan organisasi untuk mengelolanya secara bertanggung jawab juga perlu menjadi pertimbangan. AI dapat membantu perusahaan bekerja lebih efisien, tetapi penerapannya perlu disertai pengendalian risiko, perlindungan data, serta pemahaman yang jelas mengenai dampaknya terhadap sistem dan proses bisnis. Dengan demikian, diskusi tentang laju inovasi dapat berjalan beriringan dengan pembahasan mengenai cara menjaga teknologi tetap aman.

Christian menyoroti bahwa serangan siber semakin marak, sementara lingkungan teknologi informasi di perusahaan kian kompleks. Berbagai aplikasi, infrastruktur, perangkat, dan layanan digital saling terhubung, sehingga pengelolaan serta pemantauan keamanan menjadi tantangan yang terus berkembang. Pada saat yang sama, AI menambah dimensi baru dalam lanskap tersebut. Teknologi ini dapat digunakan untuk mendukung pertahanan, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan dalam aktivitas berbahaya. Kondisi itu mendorong lebih banyak perusahaan untuk berinvestasi dalam penguatan sistem keamanan siber, agar mampu mengantisipasi ancaman dan merespons insiden dengan lebih baik.

Menurut pandangan tersebut, semakin canggih dan kompleks sebuah sistem, semakin besar pula perhatian yang perlu diberikan pada kemungkinan kerentanannya. Risiko ini tidak hanya melekat pada sistem berbasis AI, tetapi juga dapat muncul pada teknologi lain, terutama ketika beragam komponen terhubung dan dikelola dalam skala besar. Karena itu, inovasi perlu diimbangi dengan solusi keamanan siber yang sesuai, proses evaluasi berkala, dan tata kelola yang jelas. Perusahaan perlu memahami aset serta alur datanya, menerapkan kontrol akses yang tepat, dan memastikan pemantauan berjalan konsisten. Langkah-langkah tersebut membantu mengurangi celah yang dapat dimanfaatkan penyerang, sekaligus mendukung penggunaan teknologi secara lebih terukur. Penekanan pada fondasi keamanan bukan berarti menolak kemajuan, melainkan memastikan bahwa penerapan teknologi berlangsung dengan kesiapan yang memadai dan risiko yang dikelola secara bertanggung jawab.

Serangan siber tidak selalu berawal dari satu jalur yang sama. Pelaku dapat memanfaatkan proses login yang lemah, kredensial yang dicuri, konfigurasi yang keliru, maupun celah pada aplikasi dan infrastruktur. Akses awal yang tampak sederhana pun dapat berkembang menjadi gangguan yang lebih luas apabila tidak terdeteksi dan ditangani dengan cepat. Karena itu, organisasi perlu memahami bahwa permukaan serangan mencakup berbagai komponen yang saling terhubung, bukan hanya perangkat yang terlihat paling penting.

Risiko juga dapat muncul melalui sistem backdoor, baik yang sengaja ditanam oleh penyerang maupun yang tertinggal akibat pengelolaan sistem yang kurang memadai. Setelah memperoleh akses, pelaku dapat berupaya bergerak ke lingkungan lain, mencuri informasi, atau mengubah data. Database menjadi salah satu sasaran bernilai tinggi karena menyimpan informasi operasional, pelanggan, dan bisnis. Jika perlindungan hanya diarahkan pada satu titik, misalnya akses pengguna, jalur lain yang kurang terlindungi masih dapat dimanfaatkan. Pemantauan dan pengendalian perlu diterapkan secara berlapis agar organisasi memiliki peluang lebih baik untuk mengenali aktivitas yang tidak wajar.

Atas pertimbangan tersebut, Virtus berupaya melengkapi portofolio layanan keamanannya agar perlindungan dapat menjangkau beragam sisi lingkungan teknologi. Pendekatan ini penting karena kebutuhan setiap organisasi berbeda, sementara satu solusi belum tentu mampu menutup seluruh celah atau menangani setiap jenis ancaman. Layanan yang saling melengkapi dapat membantu menjaga proses autentikasi, sistem, jaringan, aplikasi, serta aset informasi, dengan tetap menyesuaikan perlindungan pada risiko yang dihadapi.

Baca juga: Transaksi Emas Digital Melonjak, Bappebti Tekankan Literasi dan Keamanan | Bima Arya Tekankan Peran Humas dalam Menghubungkan Kebijakan Pemerintah dan Masyarakat