Karhutla Berulang, Penanganan Dipusatkan di Tujuh Provinsi Prioritas

oleh -35 Dilihat
oleh
Karhutla Berulang, Penanganan Dipusatkan di Tujuh Provinsi Prioritas

Kabupaten Ogan Komering Ilir | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda sejumlah wilayah Indonesia. Peristiwa ini bukan kali pertama terjadi dalam beberapa tahun terakhir, terutama ketika kondisi cuaca kering, tutupan lahan mudah terbakar, dan aktivitas pembukaan lahan meningkatkan risiko munculnya titik api. Karhutla dapat berkembang cepat dan meluas, sehingga penanganannya memerlukan pemantauan berkelanjutan, koordinasi lintas instansi, serta respons yang disesuaikan dengan karakteristik setiap daerah.

Luas area yang terbakar tidak selalu sama dari tahun ke tahun. Perubahannya dipengaruhi oleh berbagai faktor, lain durasi musim kemarau, curah hujan, kondisi vegetasi, jenis lahan, dan efektivitas pencegahan di lapangan. Karena itu, data mengenai sebaran kebakaran menjadi dasar penting untuk menentukan wilayah yang membutuhkan perhatian lebih besar. Informasi tersebut juga membantu pemerintah menyesuaikan pengerahan personel, peralatan pemadaman, pemantauan udara, dan langkah pencegahan agar penanganan dapat dilakukan secara lebih terarah.

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan yang dikutip pada 13 Oktober 2026, terdapat tujuh provinsi yang menjadi prioritas penanganan. Wilayah itu meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi. Data hingga Juli 2026 memberikan gambaran mengenai sebaran luas karhutla di masing-masing provinsi prioritas tersebut. Sebaran itu menunjukkan bahwa penanganan perlu mempertimbangkan kondisi regional, bukan hanya jumlah kejadian pada satu lokasi. Rincian luas area yang terbakar di tujuh provinsi tersebut menjadi dasar untuk melihat wilayah dengan kebutuhan pengendalian paling mendesak, sekaligus mendukung penyusunan langkah pencegahan pada periode berikutnya.

Perkembangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan masih menunjukkan situasi yang perlu diwaspadai. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Senin malam, 12 Oktober 2026, luas area yang terbakar di kedua provinsi tersebut mencapai 343,55 hektare. Angka itu menggambarkan bahwa kebakaran belum sepenuhnya terkendali, terutama ketika kondisi cuaca, vegetasi kering, dan angin berpotensi memperluas titik api.

Dampak karhutla tidak hanya terlihat dari luasan lahan terdampak, tetapi juga pada penurunan kualitas udara di wilayah sekitar. BNPB mencatat kualitas udara di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan telah masuk kategori berbahaya. Kondisi tersebut berisiko mengganggu kesehatan masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta warga yang memiliki gangguan pernapasan. Asap kebakaran juga dapat mengurangi aktivitas luar ruang dan menghambat mobilitas masyarakat.

Gangguan akibat asap turut tercermin pada jarak pandang di bandar udara. Di Kalimantan Tengah, jarak pandang dilaporkan turun hingga 0,2 kilometer. Sementara itu, di Sumatera Selatan, jarak pandang berada pada kisaran 0,3 hingga 7 kilometer, bergantung pada lokasi dan perubahan konsentrasi asap. Kondisi ini dapat memengaruhi keselamatan penerbangan serta kelancaran operasional bandara. Perkembangan di kedua provinsi tersebut menjadi gambaran penting mengenai dampak karhutla yang berulang, sebelum penanganan dan langkah mitigasi di masing-masing wilayah diuraikan lebih lanjut.

Pada 11 Oktober 2026, penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah masih berlangsung di sejumlah wilayah. Berdasarkan dashboard informasi penanganan karhutla Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), luas lahan yang terbakar mencapai 64,8 hektare dan tersebar di 49 lokasi kebakaran. Dari total tersebut, petugas telah menyelesaikan pemadaman pada 54 hektare di 38 lokasi. Sementara itu, 10,8 hektare di 11 lokasi masih menjadi sasaran operasi lanjutan.

Upaya pemadaman sejauh ini dilakukan melalui operasi darat dengan mengerahkan personel dan peralatan ke lokasi terdampak. Operasi udara belum dapat dijalankan karena jarak pandang di wilayah tersebut rendah. Kondisi ini membatasi efektivitas pengerahan pesawat untuk pemantauan maupun pembasahan titik api. Karena itu, petugas masih mengandalkan penanganan langsung dari darat, sekaligus melakukan pemantauan terhadap area yang berpotensi mengalami perluasan kebakaran.

BNPB juga mencatat 3.908 titik panas di Kalimantan Tengah, dengan 74 titik di antaranya berada pada tingkat kepercayaan tinggi. Data tersebut menjadi salah satu dasar dalam menentukan prioritas pemantauan dan pengerahan sumber daya. Dampak karhutla dilaporkan meluas ke 11 kabupaten/kota, sehingga koordinasi pemerintah daerah, petugas lapangan, dan unsur terkait terus diperlukan untuk mempercepat penanganan.

Selain pemadaman langsung, pemerintah menjalankan operasi modifikasi cuaca sebagai langkah pendukung. Operasi tersebut menghasilkan hujan lokal di Kabupaten Katingan, Kotawaringin Barat, dan Murung Raya. Hujan di sejumlah wilayah itu diharapkan membantu membasahi lahan serta mengurangi potensi munculnya titik api baru. Namun, perkembangan kondisi tetap dipantau karena perubahan cuaca, angin, dan tingkat kekeringan lahan dapat memengaruhi penyebaran karhutla.

Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan masih berlanjut. Berdasarkan pemantauan terbaru, luas lahan yang terbakar mencapai 278,75 hektare. Dari jumlah tersebut, sebanyak 271,85 hektare telah berhasil dipadamkan, sedangkan 6,90 hektare lainnya masih berada dalam penanganan. Kondisi ini berdampak pada delapan kabupaten/kota sehingga membutuhkan koordinasi lintas instansi dan pengerahan sumber daya secara terarah.

Pemantauan juga mencatat 1.991 titik panas di wilayah Sumatera Selatan, dengan 121 titik berada pada tingkat kepercayaan tinggi. Sejumlah titik tersebut menjadi perhatian karena berpotensi memicu perluasan kebakaran, terutama di kawasan dengan vegetasi mudah terbakar dan akses pemadaman yang terbatas. Water bombing belum dapat dilakukan karena jarak pandang yang rendah. Oleh sebab itu, penanganan dilanjutkan melalui operasi modifikasi cuaca untuk membantu mengurangi potensi pertumbuhan titik api.

Pada 12 Oktober 2026, operasi modifikasi cuaca dilaksanakan satu sorti dengan membawa 800 kilogram natrium klorida. Sementara itu, akumulasi operasi pada 9-11 Oktober 2026 mencapai empat sorti dengan total 3.600 kilogram natrium klorida. Pelaksanaan operasi tersebut menjadi bagian dari upaya untuk memengaruhi kondisi atmosfer dan mendukung proses pemadaman di wilayah terdampak. Patroli udara serta pemadaman lanjutan tetap direncanakan untuk memastikan titik api yang tersisa dapat segera ditangani.

BNPB merekomendasikan penyekatan, pemadaman, dan pendinginan secara terukur, disertai pengerahan personel, peralatan, serta sumber air ke lokasi prioritas. Armada pemadaman perlu dioptimalkan, sementara jarak pandang dan kondisi atmosfer harus dipantau secara berkala. Kesiapsiagaan water bombing juga perlu ditingkatkan di Ogan Komering Ilir, Banyuasin, Muara Enim, dan Musi Banyuasin. Di sekitar permukiman, kesiapsiagaan satuan tugas darat harus diperkuat untuk mengantisipasi perluasan kebakaran dan melindungi masyarakat.

Baca juga: Penanganan Karhutla di Enam Provinsi Menyisakan 639,23 Hektare Lahan Terbakar | Langkah Pemerintah Mempercepat Penanganan Karhutla di Sejumlah Provinsi | Pemerintah Belum Tetapkan Karhutla sebagai Bencana Nasional, Penanganan Berlanjut di Enam Provinsi